Jumat, 06 Juli 2012

Tangis Musim Kemarau

Kelanjutan http://opik324.blogspot.com/2011/03/hujan-dan-tangisanku.html

Di jalanan. Tak ada mendung. Tak ada gerimis. Tak ada lagi rinai hujan yang mengguyur mukaku, membasuh airmata dan lukaku saat airmataku terpaksa berlinang. Tetapi, itu hanya andai, kawan. Karena tak mungkin aku menangis di tengah jalan di siang benderang ini. Yang aku lakukan hanya menjerit dalam hati—hanya dalam hati. Dan itu yang membuatku tambah sesak. Sang hujan, sahabatku waktu menumpahkan segala curahan hatiku, kini harus hengkang karena kemarau sudah menggantikan posisinya.

Lagi-lagi tentang sedih—ah, rasa itu.

Aku menumpahkan kesedihanku pada kata-kata yang kutulis. Suatu bentuk kristalisasi—agar rasa sedih itu tak kan meleleh dan meluber ke mana-mana. Ya, menulis kesedihan tak lain dari mengkristalkannya, dan suatu saat nanti bisa kembali aku tengok kristal-kristal itu. Entah untuk aku tangisi kembali, atau untuk aku tertawakan—aku belajar menertawakan tragedi yang menimpaku sendiri.

Terkadang aku menuliskan kesedihan itu dalam selembar kertas, kemudian kertas itu kejadikan mainan, semacam “replika kapal terbang”. Lalu kulayangkan kapal terbang itu dari ketinggian, hinga seolah kesedihanku ikut melayang entah kemana. Terkadang juga kujadikan perahu. Dan kulabuhkan perahu itu bersama kesedihanku. Mengalir, mengikuti air. Tapi, lagi-lagi dua hal itu sebetulnya hanyalah pengandaian. Seperti dalam kisah fiksi dalam cerpen.* Karena kenyataannya, aku tak pernah melakukan hal itu. Aku terlalu sayang pada kristal-kristal kesedihanku untuk aku lenyapkan begitu saja.

Aku ingin memahat prasasti. Dan itu berarti aksi untuk keabadian.** Tapi entah nanti Kristal-kristal itu akan berbicara padaku tentang keberadaannya dengan sebenarnya atau tidak, aku tidak tahu. Aku hanya tahu, saat ini aku sedang menumpahkan kesedihanku….

Barito 14 Juli 2010
taufeq


*Baca cerpen Heru Kurniawan: Tiga Surat untuk Bunga, terbit di Batam Pos 13 Januari 2008
**Ingat petuah Pramoedya Ananta Toer?

Tidak ada komentar: