... dan kau menuduhku melupakanmu. Tapi kadang tuduhanmu benar
seiring aku teramat jarang menyapamu, atau membalas sapamu. Tapi bagiku,
kau tidak sepenuhnya benar. Sebab seringkali dalam diam, aku
merindukanmu. Dalam hening, aku mendoakanmu. Mungkin itu kurang bagimu,
kau menuntut lebih. Tapi aku tidak bisa, meski janjiku dulu tak kan
pernah melupakanmu.
Ah, barangkali kau merasakan sesuatu
yang teramat lain dari diriku. Ya ya, seperti ungkapmu baru-baru ini.
Aku senang. Rupanya aku bisa berubah. Dan perubahan ini kuharap menuju
lebih baik. Pun harapku padamu, sejak lambaian terakhirmu, lambaian
perpisahan.
Ada kalanya aku mengharapkanmu kembali. Tapi
luka terlanjur mendalam. Dan aku tak mau mengulang. Padahal aku telah
lama bersusah payah mengubur kenangan itu. Tapi kau terkadang sekelebat
tetap membayang. Entah untuk apa.
Aku berdoa padamu untuk
kebahagiaanmu. Aku memang rindu padamu, tepatnya rindu pada kenangan
bersamamu. Tapi aku tahu. Kenangan tak bakal mengulang dirinya. Dan
bagiku, kau adalah masalalu. Saat aku bertemu denganmu, kurasa segalanya
terlanjur menjadi sangat lain. Dan aku tak lagi punya rasa denganmu.
Apakah kau merasakan hal yang sama?
Kuharap kau
melupakanku. Atau jika kesulitan, sini, biar kuajari bagaimana
melupakanku. Kita memang harus meniti jalan masing-masing. Aku dengan
kekasihku. Dan kau dengan kekasihmu. Takdir tak mengizinkan kita
bersama.
Maka, biarlah hanya doa ini yang menyambungkan kita.
27/07/2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar