Selasa, 31 Juli 2012

Puasaku

Puasa emang bikin aku susah mikir. Laper, gak bisa mikir. Habis buka, sama aja gak bisa mikir gara-gara kekenyangan. Makanya, nulis pun susah. Tapi, “kamu harus tetep nulis yank, apapun itu,” katanya suatu hari. Ya, ya, baiklah. Dia benar. Dan aku nurut. Lihat nih, sudah tiga baris! Hebat kan? :P

Terus terang, aku belum bisa merasakan nikmatnya puasa. Puasa itu, laper, haus. Seriuss (dobel “s”). Kalau ada yang bilang dia bisa menikmati indahnya puasa, aku salut, dan akan berguru suatu saat. Bahkan, saking tersiksanya waktu puasa, aku sempat berfikir untuk apa sih kita disuruh menyiksa diri begini? Apa benar puasa yang diajarkan Nabi dulu itu benar-benar seberat ini? Gak boleh makan, minum (juga onani), dalam waktu belasan jam? Atau jangan-jangan sebetulnya puasa itu hanya agar kita lebih fokus pada Allah? Kalau gitu gak harus tidak makan tidak minum seharian penuh dong? Yang penting kan menahan diri dari selain Allah?

Ssttt... itu dulu. Duluuu amat, waktu aku lagi suka-sukanya menggugat ajaran Tuhan. Sekarang sudah lain. Sudah capek. Sudah menyerah. Sebagai muslim, disuruh puasa ya puasa, disuruh zakat ya zakat, disuruh solat ya... (kadang gak solat juga sih). Tahu kenapa? Aku sudah tidak bisa lagi mencari alasan sesungguhnya dibalik semua “perintah Tuhan” itu! Hikmahnya, filosofinya, rasionalitasnya, relevansinya, signifikansinya. Aku sudah menyerahkan semua pada Tuhan. Ya, sebisa mungkin seluruh jiwa dan ragaku, setotal-totalnya, sekaffah-kaffahnya—maunya. Atau ini bentuk keputusasaan yang juga dilarang Tuhan? Terserahlah, kau maknai apa. Yang penting, hari ini nyatanya aku masih berpuasa. Dan barusan berbuka. Alangkah indahnya berbuka puasa itu. Apalagi kalau menunya enak. Lebih apalagi kalau sama... (sayangnya lagi jauh). Alhamdulillah ya Robb, Engkau memang Maha Pemurah!

Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ala rizqika afthortu, birahmatika ya arhamarrahimin.

24 Juli 2012 pukul 19:20 ·

Tidak ada komentar: