Tidak masuk kuliah adalah strategi alteratif untuk mengendorkan
dan menyusun ulang saraf-saraf otak yang sehari-hari udah sedemikian ruwet
karena mata kuliah (selanjutnya disebut makul) dan model pengajaran
yang—keduanya—tidak bermutu. Mutu makul terletak pada bagaimana makul itu
bisa—minimal memancing kita untuk—menemukan solusi atas sekian persoalan yang
dihadapi umat manusia. Makul yang dihasilkan oleh beberapa elit yang didalamnya
ada semacam indoktrinasi untuk mempertahankan kepentingan elit birokrat sudah
pasti tidak bermutu. Dan itu nyata adanya dan bahkan dijadikan panutan oleh
sekian mahasiswa tanpa mengkritisi makul itu terlebih dahulu. Bukankah makul
yang demikian malah menjadikan mereka seperti budak?
Model pengajaran, selain ditentukan oleh sistem, faktor
dosen disini sangat berpengaruh. Dosen yang progresif-revolusioner dan
berfikiran terbuka, pasti akan mendidik mahasiswa seperti apa yang ia idealkan. Segala cara akan
dia lakukan untuk mendidik mahasiswa agar benar-benar menjadi generasi yang
bisa dijadikan tumpuan harapan masyarakat untuk memperbaiki kondisi bangsa yang
sedang sakit parah ini. Dia pasti menghargai kemerdakaan fikir mahasiswa untuk
mengutarakan pendapatnya. Dia menghidupkan jiwa-jiwa pemberontak yang ada dalam
diri mahasiswa, bukan menekan atau membunuhnya. Sebab, dia tahu, hanya dengan
cara demikian dia akan bisa mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi manusia yang
sesungguhnya, bukan menjadi robot. Tentu jiwa pemberontak itu akan dia arahkan demi membongkar
sekian kebuntuan dan sekian persoalan yang bertebaran dan tak terselesaikan,
bukan membiarkannya lepas tanpa arahan.
Sementara
dosen yang sejak awal sudah mentahbiskan dirinya—sadar atau tidak—sebagai budak-budak terdidik, juga akan
mengajak mahasiswa untuk beramai-ramai menjadi budak. Mereka pasti menyuruh
mahasiswa untuk taat aturan kampus meskipun aturan itu tidak rasional, untuk rajin
masuk kelas meskipun dikelas hanya bengong, tidak boleh ngantuk meskipun cara
mengajarnya memang membuat ngantuk, dan sebagainya. Disini nyata-nyata
ketakutan itu diorganisir sehingga mahasiswanya pun banyak sekali yang
kehilangan keberaniannya untuk sekedar berfikir kritis. Hakikatnya, dosen yang
demikian itu tidaklah pantas disebut dosen. Lebih pantas jika disebut sebagai
“budak terdidik” yang bertopeng dosen untuk mendapat gaji dari kampus.
Dua hal di atas, yakni mutu makul dan model pengajaran, jika
sudah sedemikian parah, maka kita wajib mencari jalan alternatif. Jalan alternatif
ini bukan mengajak kita untuk lari dari masalah, tapi mengajak kita untuk
keluar dari frame umum untuk kembali memikirkan dan mengetahui apa yang sesungguhnya
kita lakukan selama ini. Apakah kita selama ini sadar atau tidak saat kuliah
berlangsung. Ada banyak sekali jalan alternatif. Salah satunya dengan memboikot
jalanya perkuliahan yang dianggap tidak bermutu. Boikot itu dilakukan
sekali-dua kali agar dosen pun berfikir apakah cara mengajar dia bermutu atau
tidak. Biarkan dia introspeksi, sementara kita juga mencoba memikirkan
bagaimana kita mensiasati model perkuliahan yang memerdekakan.
Dalam rangka memboikot mata kuliah itu, alangkah bagusnya
kalau kita ramai-ramai ke kantin, sambil berdiskusi sesuka hati tentunya
tentang persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dan mencoba mencari
solusinya sesuai dengan jurusan kuliah yang kita ambil. Hitung-hitung belajar membumikan teori-teori
yang selama dikelas terjejalkan di otak kita.
Mengambil
langkah diatas, memang berefek. Maka, alangkah indahnya tidak masuk
kuliah jika demikian...
(Kantin, Februari 2012)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar