Jumat, 06 Juli 2012

Indahnya Tidak Masuk Kuliah


Tidak masuk kuliah adalah strategi alteratif untuk mengendorkan dan menyusun ulang saraf-saraf otak yang sehari-hari udah sedemikian ruwet karena mata kuliah (selanjutnya disebut makul) dan model pengajaran yang—keduanya—tidak bermutu. Mutu makul terletak pada bagaimana makul itu bisa—minimal memancing kita untuk—menemukan solusi atas sekian persoalan yang dihadapi umat manusia. Makul yang dihasilkan oleh beberapa elit yang didalamnya ada semacam indoktrinasi untuk mempertahankan kepentingan elit birokrat sudah pasti tidak bermutu. Dan itu nyata adanya dan bahkan dijadikan panutan oleh sekian mahasiswa tanpa mengkritisi makul itu terlebih dahulu. Bukankah makul yang demikian malah menjadikan mereka seperti budak?

Model pengajaran, selain ditentukan oleh sistem, faktor dosen disini sangat berpengaruh. Dosen yang progresif-revolusioner dan berfikiran terbuka, pasti akan mendidik mahasiswa seperti apa yang ia idealkan. Segala cara akan dia lakukan untuk mendidik mahasiswa agar benar-benar menjadi generasi yang bisa dijadikan tumpuan harapan masyarakat untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang sakit parah ini. Dia pasti menghargai kemerdakaan fikir mahasiswa untuk mengutarakan pendapatnya. Dia menghidupkan jiwa-jiwa pemberontak yang ada dalam diri mahasiswa, bukan menekan atau membunuhnya. Sebab, dia tahu, hanya dengan cara demikian dia akan bisa mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, bukan menjadi robot. Tentu jiwa pemberontak itu akan dia arahkan demi membongkar sekian kebuntuan dan sekian persoalan yang bertebaran dan tak terselesaikan, bukan membiarkannya lepas tanpa arahan.  

Sementara dosen yang sejak awal sudah mentahbiskan dirinya—sadar atau tidak—sebagai budak-budak terdidik, juga akan mengajak mahasiswa untuk beramai-ramai menjadi budak. Mereka pasti menyuruh mahasiswa untuk taat aturan kampus meskipun aturan itu tidak rasional, untuk rajin masuk kelas meskipun dikelas hanya bengong, tidak boleh ngantuk meskipun cara mengajarnya memang membuat ngantuk, dan sebagainya. Disini nyata-nyata ketakutan itu diorganisir sehingga mahasiswanya pun banyak sekali yang kehilangan keberaniannya untuk sekedar berfikir kritis. Hakikatnya, dosen yang demikian itu tidaklah pantas disebut dosen. Lebih pantas jika disebut sebagai “budak terdidik” yang bertopeng dosen untuk mendapat gaji dari kampus.

Dua hal di atas, yakni mutu makul dan model pengajaran, jika sudah sedemikian parah, maka kita wajib mencari jalan alternatif. Jalan alternatif ini bukan mengajak kita untuk lari dari masalah, tapi mengajak kita untuk keluar dari frame umum untuk kembali memikirkan dan mengetahui apa yang sesungguhnya kita lakukan selama ini. Apakah kita selama ini sadar atau tidak saat kuliah berlangsung. Ada banyak sekali jalan alternatif. Salah satunya dengan memboikot jalanya perkuliahan yang dianggap tidak bermutu. Boikot itu dilakukan sekali-dua kali agar dosen pun berfikir apakah cara mengajar dia bermutu atau tidak. Biarkan dia introspeksi, sementara kita juga mencoba memikirkan bagaimana kita mensiasati model perkuliahan yang memerdekakan.

Dalam rangka memboikot mata kuliah itu, alangkah bagusnya kalau kita ramai-ramai ke kantin, sambil berdiskusi sesuka hati tentunya tentang persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dan mencoba mencari solusinya sesuai dengan jurusan kuliah yang kita ambil. Hitung-hitung belajar membumikan teori-teori yang selama dikelas terjejalkan di otak kita.

Mengambil langkah diatas, memang berefek. Maka, alangkah indahnya tidak masuk kuliah jika demikian...


(Kantin, Februari 2012)

Tidak ada komentar: