Di Jogja, kedai atau
cafe adalah tempat yang paling nyaman. Ada banyak sekali cafe disana.
Mulai cafe untuk kalangan elit, sampai cafe untuk kaum jelata. Tapi yang
dibahas disini adalah cafe yang terakhir.
Jamak diketahui, bahwa Jogja adalah kota pelajar, dimana kampus-kampus bertebaran dimana-mana. Dan rupanya cafe tak mau kalah. Dimana-mana cafe bermunculan. Cafe yang memang berniat menjaring sasaran konsumen utamanya adalah mahasiswa. Karena itu, cafe-cafe yang bermunculan itu menyediakan fasilitas senyaman dan selengkap mungkin, dengan harga sesuai dengan kocek mahasiswa. Wifi zone, layar lebar buat nonton bola, tempat duduk yang mantap untuk diskusi atau ngobrol ramai-ramai, dan sebagainya. Maka, tidak heran jika kau temukan suatu cafe yang terlihat elit, tapi harganya cukup murah meriah.
Blandongan adalah contoh yang paling tua dan populer, sebelum marak kedai lain. Selain cukup tua, cafe ini juga harganya lebih miring dibanding yang lain. Bayangkan, dengan hanya membawa Rp 5.000, kau bisa minum dua jenis, kopi dan teh. Atau kalau sangat mepet, kau bisa pinjem uang temanmu Rp 1.500, dan belilah teh hangat. Lalu kau bisa menikmatinya sampai malam. Bagi masyarakat (baca: mahasiswa) UIN Suka, terutama yang mengaku aktivis, hampir bisa dipastikan kalau dia mengenal cafe ini. Sebab hari-harinya seringkai dihabiskan di kedai kopi tersebut.
Selain Blandongan, cafe-cafe yang cukup popoler adalah Kebun Laras, Mato, Blackstone, Nusantara, dan masih banyak lagi. Rata-rata harganya sama, dengan fasilitas yang juga relarif sama. Terkadang di beberapa cafe malam menyediakan hiburan musik yang dilantunkan dari grup musik tertentu yang memang dipesan oleh pemilik cafe. Ini bisa dijumpai di cafe G’bol tiap malam minggunya.
Kebanyakan cafe-cafe yang ada selalu buka 24 jam. Kecuali Blandongan yang memang tradisinya selalu tutup tepat jam 00.00 WIB. Pada jam tutup itu, lampu-lampu bakal dimatikan, meskipun pelanggan masih ada yang nongkrong. Tapi, tak jarang aku melihat beberapa orang masih saja nongkrong sambil ngobrolin entah apa, sambil bergelap-gelapan. Mungkin terlalu asik, atau memang pembahasannya terlalu gawat untuk dilewatkan. Entahlah.
Semua cafe/kedai itu wifi zone. Sebab rupanya pelanggannya hampir semuanya mahasiswa, sehingga, sambil menikmati kopi, mereka bisa mengerjakan tugas, searching, atau sekedar mengarungi jejaring sosial.
Aku sendiri termasuk penikmat berbagai cafe. Awalnya hanya diajak temen, tapi lama-lama jadi kecanduan juga. Tidak afdhol rasanya jika dalam seminggu tidak ke cafe lebih dari dua kali.
Sementara ini, cafe yang sering saya kunjungi sama teman-teman adalah Blandongan, Blacstone, dan Kompleks Kebun Laras. Paling sering dengan teman-teman Arena atau KeMPeD. Disana kami bisa bercengkerama, berdiskusi, sharing, ngobrol ringan, becanda-ria, merayakan ulang tahun, atau sekedar mengisi waktu luang. Selain itu, kita juga sering main kartu domino atau remi. Atau hanya nonton bola sampai pagi!
31/07/12
Jamak diketahui, bahwa Jogja adalah kota pelajar, dimana kampus-kampus bertebaran dimana-mana. Dan rupanya cafe tak mau kalah. Dimana-mana cafe bermunculan. Cafe yang memang berniat menjaring sasaran konsumen utamanya adalah mahasiswa. Karena itu, cafe-cafe yang bermunculan itu menyediakan fasilitas senyaman dan selengkap mungkin, dengan harga sesuai dengan kocek mahasiswa. Wifi zone, layar lebar buat nonton bola, tempat duduk yang mantap untuk diskusi atau ngobrol ramai-ramai, dan sebagainya. Maka, tidak heran jika kau temukan suatu cafe yang terlihat elit, tapi harganya cukup murah meriah.
Blandongan adalah contoh yang paling tua dan populer, sebelum marak kedai lain. Selain cukup tua, cafe ini juga harganya lebih miring dibanding yang lain. Bayangkan, dengan hanya membawa Rp 5.000, kau bisa minum dua jenis, kopi dan teh. Atau kalau sangat mepet, kau bisa pinjem uang temanmu Rp 1.500, dan belilah teh hangat. Lalu kau bisa menikmatinya sampai malam. Bagi masyarakat (baca: mahasiswa) UIN Suka, terutama yang mengaku aktivis, hampir bisa dipastikan kalau dia mengenal cafe ini. Sebab hari-harinya seringkai dihabiskan di kedai kopi tersebut.
Selain Blandongan, cafe-cafe yang cukup popoler adalah Kebun Laras, Mato, Blackstone, Nusantara, dan masih banyak lagi. Rata-rata harganya sama, dengan fasilitas yang juga relarif sama. Terkadang di beberapa cafe malam menyediakan hiburan musik yang dilantunkan dari grup musik tertentu yang memang dipesan oleh pemilik cafe. Ini bisa dijumpai di cafe G’bol tiap malam minggunya.
Kebanyakan cafe-cafe yang ada selalu buka 24 jam. Kecuali Blandongan yang memang tradisinya selalu tutup tepat jam 00.00 WIB. Pada jam tutup itu, lampu-lampu bakal dimatikan, meskipun pelanggan masih ada yang nongkrong. Tapi, tak jarang aku melihat beberapa orang masih saja nongkrong sambil ngobrolin entah apa, sambil bergelap-gelapan. Mungkin terlalu asik, atau memang pembahasannya terlalu gawat untuk dilewatkan. Entahlah.
Semua cafe/kedai itu wifi zone. Sebab rupanya pelanggannya hampir semuanya mahasiswa, sehingga, sambil menikmati kopi, mereka bisa mengerjakan tugas, searching, atau sekedar mengarungi jejaring sosial.
Aku sendiri termasuk penikmat berbagai cafe. Awalnya hanya diajak temen, tapi lama-lama jadi kecanduan juga. Tidak afdhol rasanya jika dalam seminggu tidak ke cafe lebih dari dua kali.
Sementara ini, cafe yang sering saya kunjungi sama teman-teman adalah Blandongan, Blacstone, dan Kompleks Kebun Laras. Paling sering dengan teman-teman Arena atau KeMPeD. Disana kami bisa bercengkerama, berdiskusi, sharing, ngobrol ringan, becanda-ria, merayakan ulang tahun, atau sekedar mengisi waktu luang. Selain itu, kita juga sering main kartu domino atau remi. Atau hanya nonton bola sampai pagi!
31/07/12
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar