Rabu, 27 Juli 2011

Catatan untuk PNS

Catatan ini sengaja saya tulis dengan sentimentil—anti mental PNS. Tapi jangan salahkan saya secara apriori, karena catatan ini merupakan reaksi dari kelakuan PNS itu sendiri. Tentu tidak semuanya, karena generalisasi dalam ilmu sosial selalu salah. Tapi yang penting bukan salah atau benar, karena salah-benar hanya milik Tuhan. Saya akan sangat bahagia jika ada seseorang yang membaca lalu menanggapi, entah itu mendukung atau menghujat. Dukungan dan hujatan hanya persoalan bagaimana kita bersikap.

PNS memang breksek, seperti Polisi, TNI atau Politisi di Republik Indonesia. Cobalah kau tanya apa kerjaannya, ia pasti menjawab: melayani masyarakat. Dan ketika kau butuh dilayani, semisal membuat KTP, dia akan bilang: mana uangmu? Makin banyak uang makin cepat jadinya. Itu secuplik gambaran.

Seperti strata kepangkatannya, kebrengsekan PNS juga berjenjang. Mulai kelas teri sampai kelas kakap. Kelas teri biasanya dihuni oleh mereka yang I-A dan yang paling kakap biasanya kelas IV-E. Jamak diketahui, secara umum, hierarki di dalam birokrasi Indonesia dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu golongan kepangkatan dan jabatan struktural. Golongan kepangkatan PNS dimulai dari Golongan I-A, dan berakhir dengan golongan pangkat tertinggi, yaitu IV-E. Selain golongan kepangkatan, hierarki disusun berdasarkan jabatan struktural, yang dinyatakan dengan eselonisasi, mulai dari Eselon IV (paling rendah) hingga Eselon I (tertinggi).

Tak usah menganalisis mereka dengan teori birokrasi Weberian atau Marxian. Karena analisis itu memerlukan logika orang besar, sedangkan membahas PNS akan terlalu mulia dengan menyertakan takoh-tokoh diatas. Mbok Jamu, Tukang Becak, Om Ojek, semuanya sudah tahu tanpa harus berteori. Mereka itu gila hormat, sampai-sampai Rakyat Kecil yang bicara dengannya harus menunduk takut dan bicara dengan bahasa “tingkat dewa.” Aduh, aduh.

Bapak Asuh saya PNS, kelas IV-E. Tapi ia mewanti-wanti saya untuk tidak jadi PNS. Loh kok? Mungkin dia takut kalau sejak masih muda, saya akan bermimpi untuk jadi PNS. Jadi menurut dia hanya “bermimpi” untuk jadi PNS saja sudah akan berimbas buruk pada mental anak muda. Tahu sendirilah sebabnya.

Jadi, akupun jadi sinis juga kalau ngelihat PNS, apalagi ditambah-tambahi banyak fakta tentang keburukan dan kebrengsekannya, tambah antipati. Seperti tulisan ini.

Namun, saya masih banyak berharap dengan PNS agar mental dan prilakunya dirubah. Itu saja. Dan tulisan ini dimaksudkan agar mereka mau berubah. Bahwa mereka digaji pemerintah itu adalah uang hasil keringat rakyat banyak, jangan dikibuli terus dan jangan malas bekerja untuk Rakyat.


Jakarta

Quo Vadis KMPD? (1)


Mau kemana KMPD? Saya rasa pertanyaan ini perlu dilontarkan kembali ditengah kebingungan warga KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi) sendiri dan masyarakat tempat bersinggung. Sebagai warga KMPD, saya kurang tahu tentang asal-usulnya. Ia seolah-olah ada dengan sendirinya tanpa asal-usul yang jelas. Ketika saya tanyakan kepada pendahulu, jawabnya juga kurang memuaskan, karena dia sendiri juga kurang tahu. Tahu-tahu, saya sudah menjadi warga KMPD dan ketika banyak orang tanya tentang KMPD saya kasih tahu suka-suka saya. Dan kata banyak warga KMPD: ya, seperti itulah KMPD.

Ini jelas membingungkan. Bagi diri saya pribadi, maupun bagi orang yang mau tahu tentangnya. Maka, di sini saya ingin membahas tentang organisasi yang tiba-tiba menjadikan saya gandrung itu. Sumbernya dari penceritaan kawan-kawan pendahulu, kawan-kawan yang masih aktif, orang-orang dulu yang pernah bersinggungan, baik sebagai kawan maupun lawan, dan dari beragam dokumentasi—yang sangat minim itu.

Tentu akan ada banyak kesalahan. Tapi kesalahan tersebut tentu bukan kesalahan saya pribadi, tapi kesalahan-kesalahan kawan-kawan pendahulu yang gagal memberi pengetahuan pada saya dan juga kesalahan-kesalahan kawan-kawan yang masih aktif sekarang. Ya, saya maafkan kesalahan kalian semua. (hahaha)

Ada dua pendekatan yang saya gunakan disini. Pertama KMPD secara structural. Kedua, KMPD secara kultural. Secara structural, KMPD sudah mengalami beberapa kali transformasi. Pada mulanya KMPD dilahirkan di tengah situasi Rezim Orba yang sangat mengekang nalar kritis. Persisnya pasca digulirkannya NKK/BKK (tahun 1980-an) oleh rezim. Peraturan tersebut membawa dampak pada macetnya gerakan mahasiswa, sehingga mahasiswa yang merasa gelisah, membentuk semacam perkumpulan diskusi-diskusi “klandestin” dengan nama-nama yang “aneh-aneh.” Seperti Kelompok Diskusi (KS) Palagan, Lingkaran, Menghitung Bintang, dan seterusnya. KS-KS itu lebih bisa diandalkan daripada Organisasi Mahasiswa Cipayungan (Pokoknya yang berada dalam naungan KNPI).

Dari KS-KS itulah kemudian lahir Komite-Komite aksi (KA) dengan tujuan agar apa yang didiskusikan selama ini tidak hanya sekedar onani pengetahuan, sementara kian hari pemerintah semakin sewenang-wenang. Dan KMPD adalah salah satu dari Komite Aksi yang berdomisili di sekitar IAIN Sunan Kalijaga. Karena komite aksi, maka wajar jika saat itu kerjaannya ya aksi terus. Bahkan tiap minggu bisa 10 kali saat itu.

Pasca Reformasi ’98, terbentuklah Front Perjuangan Pemuda Indonesia, sering disingkat FPPI. FPPI inilah yang kemudian dijadikan payung oleh banyak sekali KA-KA yang sifatnya local dan independen—dalam artian tidak berada di bawah naungan KNPI. KMPD pun, oleh banyak pengurusnya, diikutkan atau ditransformasikan ke dalam tubuh FPPI tersebut. Dan tentunya KMPD menjadi semacam “lokus” dari FPPI yang ada di IAIN Sunan Kalijaga. Proses transformasi itu ternyata bukan hal yang mudah. Banyak sekali anggotanya yang tidak mau di-FPPI-kan. Konflik pun terjadi. Hingga sekarang banyak alumni KMPD yang tetap tidak mau mengakui dirinya sebagai bagian dari FPPI. Barangkali karena FPPI itu “merah”. Sedangkan KMPD suka kiri sedikit hijau.

Setelah KMPD menjadi bagian dari FPPI, rupanya banyak pula perubahan yang ada di dalamnya. KMPD semakin merah. Sementara yang tidak setuju tadi memilih keluar dari KMPD dan menganggapnya disoriented. Ini mirip perpecahan Partai Sosialis Syahrir dan Musso dulu.
Selain hal di atas, secara structural pun berubah signifikan. Kepala Suku, sebagai pemimpin tertinggi KMPD, menjadi bawahan FPPI Kota yang berada di bawah Pimpinan Nasional FPPI.
Bersambung….

Taufiq,
Jakarta 27 July 2011

Selasa, 26 Juli 2011

Catatan tentang Film Dokumenter dari KontraS


1. Seni Ditating Zaman
Oleh: Putu Oka Sukanta Lilik Munafidah Hendro Sutono
Film dokumenter yang berkisah tentang seniman-seniman eks-Lekra yang tetap terus berkarya meski mendapat tekanan dari rezim Orba.
Seperti diketahui, Tahun 1955-1965, kiprah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berperan gagah dalam mengdihupkan karya-karya revolusioner dengan haluan “realisme sosialis.” Lekra memang sejak awal berjargon “Politik sebagai Panglima.” Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan. Sementara kebudayaan tanpa politik, lumpuh. Politik yang dimaksud di sini bukan semata-mata politik praktis seperti apa yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya—terutama kaum Manikebuis. Politik adalah kebijaksanaan untuk mengatur rakyat agar rakyat sejahtera.
Lekra—dalam film ini—disebutkan tentang hubungannya dengan PKI. Apakah Lekra underbow PKI atau bukan, masih pro-kontra. Namun, sejak peristiwa 1965, seniman-seniman Lekra ditangkapi oleh rezim. Banyak yang dipenjara, dibuang, dibunuh. Semua itu tanpa proses pengadilan. Mereka yang tergabung dalam organisasi-organisasi yang underbow Lekra, mengalami nasib yang tragis dibawah rezim Orba. Hal ini disebabkan, siapapun yang bernaung dibawah Lekra dianggap Komunis, atau simpatisan PKI.
Film ini mengisahkan para seniman, sastrawan, dan pekerja-pekerja kebudayaan yang masih terus tergerak untuk tetap berkarya, meskipun hak-hak mereka dibatasi. Selain itu, film ini juga menceritakan tentang “Prahara Budaya 1965” dan pertarungan antara Kaum Manikebuis dengan jargonnya “seni untuk seni” dan Pekerja budaya Lekra dengan “seni untuk Rakyat.”
Begitulah kira-kira.

2. Plantungan
Film dokumenter Plantungan durasi 46 menit berkisah soal penderitaan dan kekuatan perempuan tahanan Orba di kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp ini bekas Rumah Sakit lepra.
Seperti banyak ditulis sejarawan, semisal Hermawan Sulistyo dan Asvi Marwan Adam, peristiwa politik tahun 1965 di Indonesia diperkirakan menelan korban jutaan jiwa. Mereka yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dibunuh, dihilangkan dengan paksa, serta ditahan dan dipenjara tanpa proses pengadilan. Di antara mereka, banyak perempuan yang menjadi korban.
Sekitar 500 perempuan ditahan di Plantungan (Kendal, Jawa Tengah). Di sana Komnas Perempuan menemukan setidaknya dua kasus kehamilan karena kekerasan seksual (Komnas Perempuan)
Film ini disutradarai oleh Fadillah Vamp Saleh dan Putu Oka Sukanta. Film ini mendokumentasikan kekerasan yang dialami beberapa perempuan korban/survivor peristiwa politik 1965. Film ini diproduksi oleh Lembaga Kreativitas Kemanusiaan, sebuah lembaga yang didirikan oleh seniman dan keluarga eks tahanan politik. Plantungan mengungkapkan kehidupan perempuan di dalam tahanan dengan berbagai tekanan dan kekerasan yang mereka alami, salah satunya adalah eksploitasi seksual.

3. Tji Durian
Masih Seputar Korban Peristiwa 1965. Film ini mencoba merajut kembali serpih-serpih pemahaman yang tersisa tentang bagaimana rumah-kantor milik kepala rumah tangga Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakjat), Oey Hay Djoen di Jl Tjidurian no 19, cikini yang dirampas, diduduki, kemudian dijual ke pihak lain oleh aparat negara Orde Baru. Sekarang telah berubah menjadi gedung mewah bertingkat dengan fungsinya yang baru pula. Perampasan gedung dan penguburan ingatan berlangsung secara terstruktur dan sistematis oleh penguasa Orde Baru, sehingga terjadi kesenjangan dalam lintas perjalanan sejarah negeri ini.
Dikisahkan pula, seperti Film Senin Ditating Zaman, tentang kiprah Lekra masa lalu yang begitu gagah mengawal jalannya revolusi lewat kesenian dan kebudayaan. Selain itu, ada banyak statemen pekerja-pekerja seni Lekra yang merasa betah berproses di Lekra. Dan dalam proses itu dikatakan, tidak ada indokrinasi di sana. Tetapi memang benar-benar balajar berjuang demi rakyat lewat jalur kebidayaan.

Sutradara: Lasja Susatyo dan M. Abduh Aziz
Produser : M. Abduh Aziz, dan Putu Oka Sukanta

Senori, Tuban (Sekelumit Catatan)


Setelah lama meninggalkan kampung itu, rasanya aku ingin menulis tentangnya. Ya, Senori. Senori adalah salah satu kecamatan yang terletak di ujung paling barat daya kabupaten Tuban. Sebuah daerah yang lumayan subur. Tapi sayang, ketika aku beranjak dewasa, daerah irigasi mulai rusak parah, sehingga seringkali petani harus gagal panen.

Daerah ini tak banyak ditulis di media cetak, atau online. Padahal kalau ditelisik secara mendalam, daerah ini punya banyak potensi. Nah, aku jadi teringat satu takoh, namanya Mbah Abul Fadhol. Beliau tergolong orang besar dengan berbagai karya. Tapi sayang, warga ini banyak yang melupakannya. Tapi bukan itu yang ingin aku tulis di sini. Tulisan ini hanya gambaran kasar saja tentang daerah ini.

Demografi
Mata pencaharian penduduk mayoritas buruh tani, petani gurem, petani, pedagang. Lalu PNS. Rata-rata tergolong daerah minus. Dalam artian, pengasilannya mayoritas dibawah 10 ribu perhari. Pengangguran juga banyak. Bahkan tak jarang pemuda-pemuda hura-hura di sini karena mereka menganggur.

Pendidikan
Daerah ini banyak sekali pesantren-pesantren. Pengaruh kiai hingga saat ini masih kuat. Mungkin orang masih banyak yang beranggapan bahwa apa yang dikatakan kiai pasti benar. Karena kata-kata kiai selalu berdasarkan ajaran Islam. Ya, kecuali mereka yang “abangan.” Oleh karenanya, banyak juga anak-anak dari luar Senori yang mondok di daerah ini. Biasanya sambil sekolah formal.

Penduduknya sebagian besar hanya mengenyam SD. Itu yang sudah tua-tua, bapak-bapak atau ibu-ibu. Yang muda-muda mulai ada perbaikan tingkat pendidikan. Bahkan lulusan sarjana kini mulai menjamur.

Lembaga pendidikan formal juga lumayan banyak. Sekedar menyebut nama, yang paling besar adalah Yayasan Sunnatunnur. Pengelolaannya lumayan kuno dan seolah-olah ada semacam oligarki kepemimpinan di sana. Dan pemimpinnya para kiai. Pokoknya, agak susah jika ada orang yang ingin jadi guru di sini, tapi dia bukan kerabat atau orang yang dekat dengan kiai.

Politik
Karena mayoritas NU, maka bisa ditebak, partai yang dominan adalah PPP dan PKB. Bahkan pasca-reformasi 1998 hingga Gus Dur lengser, pendukung kedua partai ini saling cekcok. Malah ada juga yang sesame tetangga cekcok gara-gara yang satu PPP yang satu PKB.

Tapi kini masyarakat sudah mulai jenuh dengan partai-partaian. Mereka tahu, kalau ternyata mereka hanya dijadikan permainan politik belaka. Oleh kiainya sendiri sekalipun. Makanya, ketika kiai yang awalnya diikuti secara fanatik, kemudian terjuan ke politik praktis biasanya pengikutnya akan berangsur menurun.

Ekonomi
Hanya ada satu pasar di Senori. Letaknya di sebelah barat laut dari perempatan senori. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Pon dan Kliwon (hari pertama dan ketiga penanggalan Jawa kuno). Jadi bukanya dua kali tiap lima hari.

Barang-barang yang dijual di Pasar itu lumanyan beragam. Tapi yang paling banyak adalah sembako.
Makanan di warung-warung daerah ini tergolong sangat murah. Bahkan sampai saat ini ada yang masih menjual sepiring 1.500 rupiah.

Karena mayoritas pekerjaan penduduknya buruh tani, maka mayoritas mereka miskin.

Birokrasi Pemerintahan
Ada kantor kecamatan yang lumayan bagus. Tapi sayang, pegawai-pegawainya (para PNS itu loh) tak sebagus kantornya. Banyak dari mereka yang datang telat. Selain itu, seringkali jika ada penduduk yang mau mengurus surat-surat pasti akan dimintai “fulus pelancar.” Banyak tetangga saya yang mengeluhkan kalau mau membuat KTP harus membayar 20-25 ribu rupiah. Dan oleh pegawainya, hal itu dianggap sudah wajar.

Ada satu kantor Polisi di sana: Polsek Senori. Tapi, tahu sendirilah. Penduduk masih menganggap kalau polisi itu tidak ada gunanya—atau malah bikin ribut saja. Ini juga harap dimaklumi, karena oknum-oknum yang ada gendut-gendut, pertanda hidup mapan dan tak terlalu mengurusi warganya. Yang paling diurusi yang hanya soal duitnya saja. Cobalah tanya warga di sana, pasti pamor polisi itu jelek. Tapi, kayaknya mereka sudah mulai memperbaiki kelakuan yang demikian itu. Semoga saja menjadi lebih baik.

Untuk TNI, saya tak ingin bicarakan di sini. Soalnya saya gak begitu tahu kerjaannya. Yang saya tahu, mereka itu nganggur.

Untuk birokrasi desa, ruwet. Kayaknya, masih juga banyak korupsi, tapi sayang banyak warga gak tahu. Itu saja dulu dari saya. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat.

Jakarta, 26 Juli 2011
Taufiq


Senin, 25 Juli 2011

Dilema


Ya, dilema itu selalu ada. Kadang menghantui diri setiap saat. Dilema, bagiku sendiri akan selalu memaksa seseorang untuk dewasa. Karena dalam setiap dilema, selalu saja ia membawa harap dan luka. Yang luka itu memang hal yang wajib.

Dalam menghadapi dilema, bagiku memutuskan mengambil satu jalan dengan cepat itu lebih baik. Resiko belakangan. Daripada terus menunda-nunda. Karena dilema yang tertunda, lama-kelamaan akan menjadi mahadilema yang sering berakibat fatal bagi yang mengalami.

Setelah memutuskan mengambil satu jalan, gak usah lihat kebelakang dan jangan ada penyesalan, atau malah meratapi pilihan. Pilihan itu sudah terjadi. Kalaupun ada luka, itu juga sudah terjadi. Maka, jalani saja jalan itu, meski dengan luka. Untuk kedepan, bagaimana cara menyembuhkan luka itu. Itu saja.

Mungkin itulah yang bisa kukatakan. Karena aku pernah mengalami dilema. Dan luka yang dibawa, masih tersisa hingga kini.

Fenomena Inflasi Menjelang Ramadhan


Analisis Kasar

Mayoritas masyarakat Indonesia akan melaksanakan puasa Ramadhan pada awal Agustus 2011 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jelang ramadhan, pasar lebih dini memberi “alarm” agar masyarakat bersiap akan adanya gelombang inflasi.

Kalau kita bicara normative, seharusnya puasa menjadikan harga-harga sembako turun, karena orang yang berpuasa makannya lebih sedikit, karena siangnya dilarang makan. Akan tetapi kenyataanya, lain. Orang yang berpuasa inginnya menu yang special, setelah seharian menahan lapar dan haus. Karena itulah, wajar jika dalam bulan tersebut tingkat kerakusan bertambah.

Gejala naiknya “rakus” social itulah yang membuat permintaan tidak seimbang dengan suplai barang yang dibutuhkan. Dan itulah penyebab inflasi.

Gak tahulah. Pokonya gitu. Aku bingung. Menthok sampai situ analisisku.

Minggu, 24 Juli 2011

Buat Diri


Mulai memanajemen waktu lagi. Bikin jadwal buat diri. Bikin target mingguan. Sudah terlalu lama aku tak bisa mengatur diri. Dan ini tak bisa dibiarkan terus-menerus. Nafsu, rasa malas, harus aku tundukkan.  Harus. Harus. Harus!!!