Kegandrunganku dengan buku berlanjut ketika aku kerja di Jakarta. Di
toko buku “Bukafe: Bookstore and Cafe” namanya. Aku kerja sebagai OB,
lalu Staf Administrasi. Di sana aku merasa senang dan otomatis kerasan,
sebab banyak sekali buku-buku yang ada. Apalagi toko ini memang sengaja
didesain agar para pelanggan cafe itu bisa sekaligus belajar/membaca.
Bukunya tak usah dibeli gak masalah. Makanya, banyak buku-buku yang
memang tidak disegel. Selain itu, ruang bacanya nyaman. Sehingga, tiap
kali aku istirahat dari kerja, sudah bisa dipastikan bakal baca buku.
Kalau dulu lagi gandrung sastra, sekarang mulai meluas lagi. Entahlah.
Aku memang tak pernah bisa fokus mempelajari sesuatu. Semuanya ingin
kupelajari, sehingga jadinya dangkal semua. Aku memang kesulitan
menentukan skala prioritas. Mana tema-tema yang prioritas untuk kubaca,
mana yang bisa ditunda, itu kesulitanku.
Paling sering aku
baca buku menjelang tidur. Buku memang jadi pengantar tidurku. Tanpa
baca, rasanya aku kesulitan untuk tidur. Nah, ini penyakit baruku. Juga,
seingkali aku baca buku sambil beol. Dan rupanya ini bikin kecanduan
juga. Tiap aku beol, rasanya kurang afdol tanpa baca buku. Entahlah, ini
baik apa tidak. Cuma baru-baru ini saja aku sudah jarang beol sambil
baca. Smsan atau hanya main2 hape sudah jadi gantinya.
Sekalilagi,
bagiku kerja di toko buku itu sangat bermanfaat. Sebab langsung atau
tidak, sadar atau tidak, tentu kehidupanku bakal sangat dekat dengan
buku, dan sudah bisa dipastikan aku tiap hari bakal baca. Dan dengan
baca, wawasan terasa bertambah. Di toko buku ini aku mulai mengenal
banyak karya-karya besar. Aku mengenal banyak tokoh-tokoh besar seperti
Pramoedya Ananta Toer dan sekian tokoh lainnya. Aku mulai tahu tentang
perseteruan dalam belantara sastra antara Manikebu vs Lekra, antara
Realisme Sosialis vs Humanisme Universal.
Akibatnya, aku
merasa berbeda dalam memandang segala sesuatu dari sebelumnya. Ya, aku
merasa ada yang berbeda. Dan aku puas dengan itu. Makanya, aku sangat
berterimakasih pada pemiliknya.
Namun, sayangnya selama
aku jadi pekerja di toko buku, hasrat menulisku memang mengalami kondisi
terlemah. Aku tidak pernah menulis lagi. Hanya baca, dan baca. Aku
cukup sedih akan hal ini. Tapi saat itu memang rasanya benar-benar susah
untuk menulis. Hingga aku kembali lagi ke Surabaya.
29/07/12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar