Selasa, 31 Juli 2012

Aku dan Buku (3)

Kegandrunganku dengan buku berlanjut ketika aku kerja di Jakarta. Di toko buku “Bukafe: Bookstore and Cafe” namanya. Aku kerja sebagai OB, lalu Staf Administrasi. Di sana aku merasa senang dan otomatis kerasan, sebab banyak sekali buku-buku yang ada. Apalagi toko ini memang sengaja didesain agar para pelanggan cafe itu bisa sekaligus belajar/membaca. Bukunya tak usah dibeli gak masalah. Makanya, banyak buku-buku yang memang tidak disegel. Selain itu, ruang bacanya nyaman. Sehingga, tiap kali aku istirahat dari kerja, sudah bisa dipastikan bakal baca buku. Kalau dulu lagi gandrung sastra, sekarang mulai meluas lagi. Entahlah. Aku memang tak pernah bisa fokus mempelajari sesuatu. Semuanya ingin kupelajari, sehingga jadinya dangkal semua. Aku memang kesulitan menentukan skala prioritas. Mana tema-tema yang prioritas untuk kubaca, mana yang bisa ditunda, itu kesulitanku.

Paling sering aku baca buku menjelang tidur. Buku memang jadi pengantar tidurku. Tanpa baca, rasanya aku kesulitan untuk tidur. Nah, ini penyakit baruku. Juga, seingkali aku baca buku sambil beol. Dan rupanya ini bikin kecanduan juga. Tiap aku beol, rasanya kurang afdol tanpa baca buku. Entahlah, ini baik apa tidak. Cuma baru-baru ini saja aku sudah jarang beol sambil baca. Smsan atau hanya main2 hape sudah jadi gantinya.

Sekalilagi, bagiku kerja di toko buku itu sangat bermanfaat. Sebab langsung atau tidak, sadar atau tidak, tentu kehidupanku bakal sangat dekat dengan buku, dan sudah bisa dipastikan aku tiap hari bakal baca. Dan dengan baca, wawasan terasa bertambah. Di toko buku ini aku mulai mengenal banyak karya-karya besar. Aku mengenal banyak tokoh-tokoh besar seperti Pramoedya Ananta Toer dan sekian tokoh lainnya. Aku mulai tahu tentang perseteruan dalam belantara sastra antara Manikebu vs Lekra, antara Realisme Sosialis vs Humanisme Universal.

Akibatnya, aku merasa berbeda dalam memandang segala sesuatu dari sebelumnya. Ya, aku merasa ada yang berbeda. Dan aku puas dengan itu. Makanya, aku sangat berterimakasih pada pemiliknya.

Namun, sayangnya selama aku jadi pekerja di toko buku, hasrat menulisku memang mengalami kondisi terlemah. Aku tidak pernah menulis lagi. Hanya baca, dan baca. Aku cukup sedih akan hal ini. Tapi saat itu memang rasanya benar-benar susah untuk menulis. Hingga aku kembali lagi ke Surabaya.

29/07/12

Tidak ada komentar: