Jumat, 15 Oktober 2010

Fragmen Tepi Sungai

Malam membawa tubuhku terbujur di tepi sungai Kalimas. Tempat para tukang becak menyegarkan kembali tubuhnya yang basah-kuyup oleh keringat. Dan ikan-ikan kecil yang berkecipak di sela-sela bebatuan itu membuat hatiku terasa tenteram. Merasakan adanya energi yang mereka bagikan padaku.

Aku teringat masa lalu ketika kita bersama-sama memancing di sini. Kau barangkai masih ingat ketika kau mengejekku saat pertama kali yang kudapat dalam memancing itu bukan ikan, tetapi sepatu. Dan sepatu itu kulemparkan padamu hingga cairan yang berbau busuk itu mengguyur tubuhmu. Dan kau lari mengejarku untuk membalas. Dengan mudah kau mampu mendapatkanku karena aku memang aku lebih kecil darimu. Dan menceburkanku dalam sungai. Aku kelelap karena tak bisa berenang. Dan kau menolongku. Merelakan baju-celanamu basah kuyup bersama uangmu yang ada dalam saku.

Selanjutnya, kau pun mengajariku berenang. Kau kasih tahu aku tentang apa yang aku lakukan dengan tangan dan kakiku hingga sedetail-detailnya. Tapi aku masih susah untuk berenang. Hingga kau suruh aku memakan udang yang masih hidup. Katamu, dengan memakan udang, aku akan bisa cepat berenang dengan lincah. Aku menurut padamu. Aku sudah tak peduli lagi. Mungkin saat itu kau mempermainkanku karena jengkel padaku yang tak cepat-cebat bisa. Tapi kau tahu, setelah memakan udang itu, aku merasa ada energi lebih yang seolah selalu menyuruhku berenang tanpa kenal lelah. Tak pagi, tak siang, tak sore, tak malam. Aku berlatih berenang tak kenal waktu hingga seringkali aku kena damprat oleh orang tuaku. Dan kau selalu tertawa ketika kau kuceritai bagaimana aku dihukum ibu atau ayahku.

Setelah seminggu, tanpa kusadari rupanya aku pandai berenang. Aku sangat bahagia. Saat itu, aku menganggap bahwa apa yang kau suruhkan padaku untuk memakan udang itu adalah suatu resep yang sangat manjur agar seseorang bisa secara singkat pandai berenang. Aku bahkan bercerita padamu bahwa aku kini mampu menyeberangi sungai yang lebar itu dalam hitungan detik. Tapi saat itu kau hanya tersenyum sedikit. Dan dalam senyummu itu, kutemukan kegetiran yang kau tak mampu menutupi karena mungkin kegetiran yang kau alami tak sebanding dengan energi yang kau punya untuk membendungnya.

Semenjak itu, kau selalu murung dan malas berenang denganku meski aku memaksamu. Kau, entah kenapa, hanya duduk diam di tepi sungai tiap sore, dan hanya kadangkala melempar batu-batu kecil yang ada di sampingmu. Seolah ada yang ingin kau lepaskan dari dalam dirimu. Seolah ada sesuatu yang harus kaulempar bersama batu-batu kecil yang kau layangkan itu.

oleh Taufeeq Faiz pada 12 Oktober 2010 jam 2:20