Senin, 28 Februari 2011

Mengintip Syi'ah Sebagai Potensi Konflik (Perspektif Historis dan Sosial Budaya)


a. Gambaran Umum Syi’ah
 
Pada dasarnya, Syi’ah murni lahir karena masalah politik, yaitu tentang siapa pengganti pemimpin umat muslim pasca wafat Nabi Muhammad saw. Dan Syi’ah adalah mereka yang bersikukuh berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lah pengganti Nabi.
Puncak kristalisasi kelompok Syi’ah terjadi pada peristiwa tahkim (arbitrase) 37H/657M, antara delegasi Ali yang saat itu sebagai khalifah dengan delegasi Muawiyah sebagai oposisi. Arbitrase ini dimenangkan oleh Muawiyah sehingga kekuasaan diambil-alih oleh Muawiyah. Kelompok pendukung Ali, sesudah arbitrase malah pecah menjadi dua. Pertama mereka yang keluar dari barisan Ali, kemudian disebut Khawarij. Dan yang kedua adalah mereka yang tetap setia pada Ali. Yang kedua inilah kemudian populer dengan sebutan Syi’ah.
Setidaknya ada dua faktor yang berpotensi pada konflik horizontal Syi’ah vis a vis Sunni. Pertama, sejarah. Memori kolektif golongan Syi’ah adalah selama ini mereka dizalimi oleh golongan Islam lain. Sekedar menyebutkan dua contoh paling fenomenal yaitu naiknya Abu Bakar sebagai pengganti Nabi dianggap sebagai perampasan hak Ali. Dan kedua, pembantaian Imam Husain bin Ali dan para Ahlul Bait di lembah Karbala oleh Khalifah Yazid bin Muawiyah.
Kedua, doktrin atau ajaran. Doktrin yang ada di Syi’ah, menjadi sangat berbeda dengan Sunni akibat adanya justifikasi dari ulama-ulamanya. Ulama Syi’ah, dalam sepanjang sejarahnya, tentu mencari justifikasi atas apa yang diyakini oleh golongannya. Sehingga ajaran Syi’ah menjadi sangat lain dengan Sunni meskipun dalam hal ushuliyyah (aqidah) relatif tidak berbeda.

b. Syi’ah di Indonesia
Syi’ah masuk Indonesia lewat kaum Alawiyin (ahlul bait) dari Hadramaut, Yaman. Oleh karenanya, wajar jika penganut Syi’ah mayoritas orang Arab Alawiyin.
Mayoritas muslim di Indonesia adalah Sunni bermadzhab Syafi’i. Sedangkan antara ajaran Syi’ah dan Sunni ada jarak yang begitu jauh dan sulit dijembatani. Hal itu terjadi karena ada ajaran-ajaran Syi’ah yang memang bertentangan dengan Sunni. Namun, selama ini MUI belum memfatwakan sesat pada aliran Syi’ah meskipun ada sebagaian muslim yang menganggap Syi’ah itu aliran sesat.
Tahun 1980an, muncul komunitas  Syi’ah non-Arab yang kini diorganisir oleh IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) yang kini dikepalai oleh Prof. Djalaluddin Rachmat, berpusat di Bandung. Selain itu muncul pula komunitas Syi’ah lulusan Qom, Iran yang memang lebih berorientasi fiqih dan mengklaim sebagai representasi dari Syi’ah yang sesungguhnya.
 Sementara ini, respon dari kalangan Sunni di Indoneisia setidaknya ada empat golongan. 1) Mereka yang menerima secara penuh golongan Syi’ah, seperti di kalangan kampus yang ada di Bandung dan Yogyakarta. 2) Mereka yang hanya menerima Syi’ah sebagai keyakinan individual dan menolak penyebaran ajarannya di tengah komunitas Sunni, seperti di Banjarmasin dan Martapura, Kalsel. 3) Mereka yang menentangnya secara terbuka, seperti yang terjadi di Bangil Pasuruan dan Pekalongan. 4) Mereka yang acuh tak acuh terhadap aliran ini.
Dari sudut pandang ketertiban umum, selama ini belum terdeteksi adanya ancaman riil berbentuk teror dari Syi’ah. Yang ada malah reaksi dari sebagian golongan Sunni yang menentang keras Syi’ah di Indonesia. Seperti kasus penyerangan dan pembakaran Ponpes Al-Hadi, Batang, tahun 2000; demonstrasi anti-Syi’ah di Bangil, Pasuruan tahun 2007; dan penyerangan terhadap golongan Syi’ah di NTB tahun 2008.
Doktrin imamah dalam Syi’ah tentu membuat golongan ini mempunyai ambisi politik yang kuat. Tetapi, karena di Indonesia Syi’ah masih sangat minim anggota, tentu tak terlalu berpengaruh dalam kancah perpolitikan. Lagi pula, Syi’ah yang ada di Indonesia lebih moderat dan selalu mewacanakan taqribul-l-madzahib, atau pendekatan antar madzhab. Tujuannya agar mereka tidak dianggap sesat oleh kelompok mayoritas Sunni di sini.
Selain resisten terhadap golongan Sunni, antar Syi’ah pun ada persaingan. Yaitu komunitas Syi’ah ahlul bait dan Syi’ah non ahlul bait. Ditambah satu lagi, alumni Qom, Iran, yang membentuk golongan Syi’ah tersendiri.
Penelitian dalam buku ini membuktikan, bahwa klaim dari beberapa Organisasi Syi’ah bahwa anggotanya sekitar 3,5 juta sampai 5 juta cenderung bombastis. Faktanya, berdasarkan riset, hanya sekitar 300.000 orang.

c. Poin Ajaran Syi’ah yang perlu diperhatikan
  • Imamah, satu dari sekian perbedaan doktrin yang paling prinsipil dengan Sunni. Imamah artinya kepemimpinan, yang merupakan poros dari segala aspek kehidupan anggota.
  • Taqiyah, ajaran yang mewajibkan pengikutnya untuk menyembunyikan keyakinannya di tengah komunitas lain. Demi menyelamatkan diri.
  • Nashiby, doktrin tentang musuh-musuh Ali dan ahlul bait. Mereka yang mengangkat Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, adalah Nashiby. Oleh karenanya, mereka musuh. Dalam hal ini, Sunni sangat bertentangan dengan Syi’ah karena Sunni mengakui ketiga Khalifah tersebut.


Tabel Perbedaan Mendasar antara Sunni dengan Syi’ah




No
Item
Sunni
Syi’ah
1
Rukun Iman
1. Allah
1. Tauhid
2. Malaikat
2. Nubuwwah
3. Kitab
3. Imamah
4. Rasul
4. Keadilan
5. Hari Akhir
5. Al-ma'ad (hari kebangkitan)
6. Takdir

2
Rukun Islam
1. Sahadat
1. Sholat
2. Sholat
2. Zakat
3. Zakat
3. Puasa
4. Puasa
4. Haji
5. Haji
5. Al-Wilayah (otoritas pemimpin)
3
Sahadat
Dua item. Keesaan Allah dan kenabian Muhammad.
Tiga item. Keesaan Allah, kenabian Muhammad dan ke-imaman Ali
4
Tiga khalifah sebelum Ali
Diakui
Tidak diakui (diposisikan sebagai musuh ahlul bait, keturunan Nabi)
5
Taqiyah (menyembunyikan keyakinan, pura-pura)
Diposisikan sebagai siasat melakukan kebohongan
Prinsip yang wajib dilakukan
6
Nikah Mut'ah
Haram
Halal
7
Kota Suci
Makkah, Madinah, Yerussalem
Makkah, Madinah, Yerussalem dan Karbala (tempat dibantainya imam Husain dan ahlul bait oleh penguasa Bani Umayyah, Yazid bin Muawiyah

Minggu, 27 Februari 2011

Hidup



Tak terasa
airku menerobos liku meander
dengan terseok
merayap
menyerok tanah-debu
menggusur ilalang
membuang waktu

tapi biarlah
biar ceritaku tahu
bahwa ia berhulu dari keabadian
bermuara pada keabadian

Klasifkasi Hadits Berdasarkan Kualitasnya

Pembagian Haditst Berdasakan Kualitas

Berdasarkan kualitas hadits dibagi menjadi tiga yaitu: hadits shohih, hasan dan dhoif. Untuk keterangan lebih lengkapnya akan dipeparkan sebagai berikut.


A. Hadits Sahih

Hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yng bersih dari cacat, hadits yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Menurut Ibnu shalah “Hadits shahih adalah hadits musnad yang sanadnya bersambung dengan diriwayatkan oleh orang yang adil, dhabith (kemampuan
intelektual) dari oran yang adil dan dhabith pula hingga akhir sanad dan tidak mengandung syadz dan illat.” Sedangkan menurut Iman al – nawawi “Yaitu hadits hadits yang bersambung sanadnyadengan diriwayatkan oleh orang – orang yang adil serta dhabith tanpa adanya syadz dan illat.”

Dari beberapa definisi diatas maka hadits shahih dapat di definisikan sebagai berikut:
“Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabith dari yan
semisal dari pertama hingga akhir tanpa syadz dan illat.”

Ciri –Ciri Hadits Shah

ih
  1. Besambung sanadnya, yakni setiap perawi menerima hadits tersebut secara langsung dari erawi terdekatnya, dari awal hingga akhir sanad.
  2. Para perawinya bersifat adil. Pengertian adil disini adalah orang muslim, baligh, berakal sehat, tidak fasiq, dan tidak rusak kepribadiannya.
  3. Para perawinya bersifat dhabit. Seorang perawi dikatakan dhabit apabila mamiliki daya ingatan dengan sempurna terhadap hadits yang diriwayatkannya.
  4. Tidak syadz (janggal). Syadz adalah hadits yang bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat atau tsiqqah.
  5. Tidak terdapat illat. Illat berarti cacat atau penyakit, keburukan dari kesalahan baca yang merusak keshahihan hadits tersebut.

Derajat Hadits Shahih
Hadits shahih mempunyai beberapa tingkatan menurut tinggi dan rendahnya keshahihan di dalam sanadnya. Secara berurutan derajat / tingkatan shahih adalah:
  1. Hadits yang disepakati oleh imam Bukhari dan Imam Muslim (muttafaq ‘alaih)
  2. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari
  3. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh imam muslim
  4. Hadits yang sesuai dengan syarat imam bukhari namun tidak diriwayatkan olehnya.
  5. Hadits yang sesuai dengan syarat imam muslim namun tidak diriwayatkan olehnya.
  6. Hadits yang diriwayatkan oleh imam ahli hadits namun tidak sesuai dengan syarat imam bukhari dan imam muslim

B. Hadits Hasan

Menurut bahasa hasan adalah sifat musyabbihat dari al-husn, yang berarti al – jamal (baik), sesuatu yan disenangi oleh nafsu. Menurut istilah terdapat beberapa definisi, diantaranya:
  1. Al khaththabi: “Hadits yang diketahui mekhrojnya dan para perawinya terkenal.”
  2. At tirmidzi: “Hadits yang diriwayatkan dari dua arah (jalur), dan para perawinya tidak ada yang tertuduh dusta, tidak mengandung syadz yan menyalahi hadits – hadits shahih.”
  3. Ibnu hajar: “Khabar ahad yang dinukilkan melalui perawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya dengan tanpa berillat dan syadz disebut hadits shahih, namun bila kekuatan ingatannya kurang sempurna disebut hasan lidzatih.”
Dari semua definisi di atas maka hadits hasan adalah :
“Hadits yang bersambung sanadnya dengan riwayat orang yang adil dan kurang sempurna ke dhabitannya, demikian itu hingga akhir sanadnya tanpa adanya syadz dan illat.”

Ciri-ciri hadits hasan adalah:
  1. Para perawinya adil.
  2. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih.
  3. Sanadnya bersambung.
  4. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya.
  5. Tidak ada cacat atau illat.

Tingkatan Hadits Hasan

Sebagaimana hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tinkatan – tingkatan sesuai dengan kualitas perawi dalam sanadnya. Tingkatan tertinggi hadits hasan adalah hadits yan diriwayatkan oleh bahz bin hakim dari ayahnya dari kakeknya, ‘amir bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ibnu ishaq dari al – taymy. Setelah itu hadits – hadits yang masih diperselisihkan ‘ulama tentang keshahihan dan kehasanannya.


C. Hadits Dhaif

Hadits daif menurut bahasa berarti hadits yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits daif : “Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.

Contoh hadits dhaif
“Barang siapa menghimpun untuk ummatku empat puluh hadits dari perkara agamanya, maka allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam golongan ahli figh dan ulama.”


Tingkatan Hadits Dhaif

Tingkatan hadits dhaif yan paling tinggi yaitu yang diriwayatkan dari sahabat yang mendengar langsung kemudian dari sahabat yang melihat tapi tidak dapat mendengarnya, kemudian dari sahabat dari 2 masa, kemudian hadits dari 2 orang pandai, kemudian seseorang yang tinggal dengan gurunya, kemudian dari orang yang mengutip dari setiap orang.


__________________________________________________________________________________
Rujukan


Endang Soetari AD, Ilmu Hadits, Bandung: Amal Bakti Press 1997
Mahmud Tohan dalam Taisir Mustalah Hadits
Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, terj: Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushulul Hadits: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama 1998
————-, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-‘Ilmu li al-Malayin 1977
————-, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr 1981
Nuruddin Itr ter: Mujiyo, Ulum Hadits, Bandung: Remaja Rosdakarya 1997
————, Manhaj fi Ulum al-Hadits, Damaskus: Dar al-Fikr 1998
Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra 1999

http://qyonglee.multiply.com/journal/item/15
http://www.contohmakalah.co.cc/2009/07/pembagian-hadist-dari-segi-kuantitas.html#ixzz13PaDKups
Makalah, Skripsi, Karya Ilmiyah, Artikel, Bisnis Online
Under Creative Commons License: Attribution Share Alike

DINASTI FATIMIYAH


A. Profil Dinasti Fathimiyah


Di Tunisia tahun 909, sekelompok golongan Syi’ah Ismailiyah dari Afrika Utara mendirikan sebuah Dinasti. Namanya Dinasti Fathimiyah atau Fathimiyun (bahasa Arab الفاطميون). Nama yang berasal dari nama putri Rasulullah: Fathimah. Dinasti ini didirikan ketika kondisi Dinasti Abbasiyah di Baghdad melemah dan tidak mampu lagi mengatur daerah kekuasaannya karena terlalu luas.

Kelompok Syi’ah Ismailiyah Afrika Utara itu sendiri adalah sebuah pergerakan yang merupakan cabang dari kelompok Syi’ah, yang mengakui enam Imam pertama Syi’ah, tetapi berselisih mengenai Imam ketujuh dengan Syiah Islamiyah pada umumnya.

Penelusuran tentang awal terbententuknya kelompok ini belum begitu jelas, selain hanya diketahui bahwa kelompok ini merupakan kelompok Syiah yang menyempal. Mereka mengimani bahwa Ismail bin Ja’far lah Imam yang ketujuh, bukan yang lain. Karena itu, ketika khalifah-khalifah Abbasiyah mengadakan penyelidikan, maka mereka terpaksa meninggalkan Salamiyah, kota kecil di wilayah Hammah, Syria, menuju Afrika Utara. Di sinilah mereka mulai melancarkan propaganda politik untuk memperoleh dukungan rakyat.

Keberhasilan kelompok tersebut dalam mempengaruhi masyarakat tak lepas dari propagandis-propagandis yang dipimpin oleh seorang orator handal Ismailiyah bernama Abu Abdullah al-Syi’i. Propaganda mereka meliputi: perbaikan ekonomi dan sosial, janji tentang munculnya al-Mahdi yang akan membebaskan rakyat dari penindasan dan ketidakadilan, menyatakan bahwa mereka akan lebih dekat kepada Nabi dari pada Dinasti Ummayyah dan Abbasiyah.

Selanjutnya gerakan ini memperoleh banyak dukungan sehingga mampu mengusir Dinasti Aghlabi dari Afrika Utara dan menjadi penguasa. Abu Abdullah mengundang Ubaidillah yang mereka klaim sebagai al-Mahdi dan Januari 910 menjabat sebagai Amirul Mukminin. Dengan dimikian resmilah berdiri sebuah dinasti baru yang bernama Dinasti Fathimiyah dengan Ubaidillah al-Mahdi sebagai khalifah pertama.

Kekhalifahan Ubaidillah itu menjadi semakin kuat ketika berkoalisi dengan suku-suku Barbar—yang masih keturunan Bani Umaiyah—yang memang sejak dulu mempunyai dendam politik terhadap Dinasti Abbasiyah yang sunni yang dalam hal ini termanifestasi dalam kerajaan satelitnya: Dinasti Aglabiyah di Sijilmasah, Tunisia. Dendam politik itu dimulai sejak pembantaian yang dilakukan Dinasti Abbasiyah terhadap Dinasti Umayah yang berarti kehancuran Dinasti Umaiyah Timur. Itulah alasan mengapa Tunisia dijadikan basis untuk membangun kekuasaan dunia Islam baru, guna menandingi hegemoni Dinasti Abbasiyah.

Namun, walaupun berambisi untuk mengalahkan kekuasaan Daulah Abbasiyah, Dinasti Fathimiyah tidak menyerang Baghdad, mereka malah terus meningkatkan propaganda dan berusaha untuk menduduki Mesir yang akhirnya menoreh keberhasilan dengan dikuasainya Fustat (tahun 969). Penyerbuan terhadap Mesir ini dipimpin oleh Jauhar atas perintah Khalifah al-Mu’iz. Segera setelah itu, dia menyatakan Mesir sebagai benteng kekuatan Ismailiyah.

Selanjutnya, fokus politik Dinasti Fathimiyah adalah mendirikan ibu kota baru yang terletak di Fusfat bagian Utara, yang kemudian mereka namai al-Qahirah (Kairo), yang berarti sang penakluk. Sejak itu penampilan Fusfat semakin cemerlang dan mampu menjadi pesaing Kota Baghdad sebagai pusat peradaban maupun pemerintahan di Timur Tengah. Disamping itu, dinasti ini juga berupaya untuk menyebar luas ideologoi Fathimiyah ke Palestina, Syiria dan Hijaz.

Keberadaan Dinasti Fathimiyah berbeda dengan dinasti-dinasti kecil lainnya. Dinasti Fathimiyah mengklaim diri sebagai kekhalifahan yang memegang pimpinan politik dan spritual tertinggi. Mereka tidak mengaku bagian dari Abbasiyah, mereka melepaskan diri dari Baghdad, tidak hanya dari segi politik, tetapi juga faham keagamaan. Sementara dinasti-dinasti kecil lainnya walaupun secara politik melepas dari dinasti Abbasiyah, namun tetap terikat dalam arti sama-sama sunni. Inilah yang membedakan Dinasti Fathimiyah dengan dinasti-dinasti lokal lainnya.

Khalifah-khalifah yang memimpin Dinasti Fathimiyah ada 14 orang yang itu:
  1. Abu Muhammad Abdullah (Ubaidillah) al-Mahdi billah (910-934). Pendiri.
  2. Abu Muhammad al-Qa’im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-946)
  3. Abh ?ahir Ismail al-Mansur bi-llah (946-953)
  4. Abu Tamim Ma’add al-Mu’izz li-Din Allah (953-975) Mesir ditaklukkan semasa pemerintahannya.
  5. Abu Mansur Nizar al-’Aziz bi-llah (975-996)
  6. Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996-1021)
  7. Abu Hasan Ali al-Zahir li-I’zaz Din Allah (1021-1036)
  8. Abu Tamim Ma’add al-Mustansir bi-llah (1036-1094)
  9. Al-Musta’li bi-llah (1094-1101) pertikaian atas suksesinya menimbulkan perpecahan Nizari.
  10. Al-Amir bi-Ahkam Allah (1101-1130) Penguasa Fatimiyah di Mesir setelah tak diakui sebagai Imam oleh tokoh Ismailiyah Mustaali Taiyabi.
  11. Abd al-Majid al-Hafiz (1130-1149)
  12. Al-Zafir (1149-1154)
  13. Al-Faiz (1154-1160)
  14. Al-Adid (1160-1171)

Sebagai catatan penting, Dinasti Fathimiyah ini hanya sampai khalifah kedelapan yang memperlihatkan eksistensi politik dan kekuasaannya, selebih dari itu, keberadaannya hanya sebagai dinasti lemah.


B. Kemajuan Dinasti Fathimiyah

Selama kurun waktu 262 tahun, tercatat Dinasti Fatimiyah telah mencapai kemajuan yang pesat terutama pada masa Al-Muiz, Al-Aziz dan Al-hakim kota Kairo sebagai ibukota. Al-Muiz terkenal dengan tiga tiga kebijakannya, yaitu pembaruan di bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama. Di bidang administrasi, ia mengangkat seorang menteri (wazir) untuk melaksanakan tugas kenegaraan. Di bidang ekonomi, ia memberikan gaji khusus kepada tentara, personalia istana dan pejabat pemerintahan lainnya. Di bidang agama, di Mesir didirikan empat lembaga peradilan, dua untuk mazhab Sy’iah dan dua lagi untuk Sunni. Ini memperlihat kerukunan dua aliran di Dinasti Fathimiyah.

Setelah itu, Al-Aziz memunculkan program baru dengan mendirikan masjid, istana, jembatan dan kanal-kanal. Sehingga Dinasti Fathimiyah akhirnya dikenal dengan kekuatan maritim yang tangguh. Kenyataannya, mereka berhasil membangun pertahanan maritim dan menjadi pusat perdagangan laut ketimbang menyebarluaskan ajaran dan ideologi mereka.

Sementara itu, pada masa Khalifah al-Hakim, mendirikan Dar al-Hikmah, sebuah lembaga pusat pengkajian dan pengajaran ilmu kedokteran dan astronomi. Ia juga mendirikan Dar al-Hikmah, sebuah lembaga dengan jutaan buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013, al-Hakim membentuk majelis ilmu pengetahuan di istana sebagai tempat berkumpulnya para ilmuwan untuk berdiskusi. Pada masa ini, muncul Ibnu Yunus (958-1009), seorang astronom besar yang menemukan pendulum dan alat ukur waktu. Karyanya, Zij al-Alibar al-Hakimi diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Temuan Ibnu Yunus kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Al-Nabdi dan Hasan Haitani (965-1039), seorang astronom, fisikawan dan opoteker.

Dinasti Fathimiyah juga terkenal dengan toleransi beragamanya. Para penguasa Fathimiyah tidak mencoba melakukan tekanan agar penganut sunni menyeberang ke Syi’ah Ismailiyah. Mereka juga sangat menghargai kemerdekaan agama Kristen maupun Yahudi. Satu-satunya pengecualian adalah pada pasa khalifah al-Hakim, karena ia melakukan pembantaian terhadap penganut agama Kristen, menghancurkan gereja, membunuhi anjing serta mengharamkan jenis makanan tertentu. Di samping itu, ia memproklamirkan sebagai Tuhan dan ia dianggap gila. Inilah titik awal dan alasan terjadinya perang dingin dan meletus menjadi perang Salib nantinya.

Kebijakan-kebijakan cemerlang di atas lah yang akhirnya mengantarkan Mesir menjadi pusat peradaban maupun pemerintahan di Timur Tengah, menyaingi Baghdad, ibukota Daulah Abbasiyah.

Selain itu, Mesir juga menjadi pusat pengembangan intelektual dan keilmuan dengan keberadaan Universitas al-Azhar di Kairo (tahun 970). Pada awal didirikan hingga dua abad kemudian al-Azhar telah memainkan peranan penting, sebagai pusat propaganda ajaran Ismailiyah oleh Dinasti Fathimiyah, Sampai nanti Salahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir dan menjadikan Sunni sebagai mazhab pengganti Syi’ah. Meskipun begitu, Kairo tetap mampu menjadi pusat pendidikan Islam terbesar Dunia Islam.

Secara umum kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang:
  1. Kemajuan dalam hubungan perdagangan dengan Dunia non Islam, termasuk India dan negeri-negeri Mediterania yang Kristen.
  2. Kemajuan di bidang seni, dapat dilihat pada sejumlah dekorasi dan arsitektur istana.
  3. Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan ditandai dengan dibangunnya Universitas Al–Azhar. Universitas ini semula hanyalah masjid yang didirikan oleh al-Saqili pada tanggal 17 Ramadlan (970 M) sebagai pusat kajian yang kemudian baru dikembangkan sebagai Universitas. Nama Al–Azhar sendiri diambil dari al-Zahra, julukan Fatimah, putri Nabi SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, imam pertama Syi’ah. Selain itu ada Dar al-Hikmah (Hall of Science), yang bangun atas inspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad.
  4. Di bidang ekonomi, baik sektor pertanian, perdagangan maupun industri.
  5. Di bidang keamanan.


C. Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fathimiyah

Kemunduran yang dialami Dinasti Fathimiyah dimulai dengan masa al-Hakimyang ditandai dengan sifat ganjil. Ia menghancurkan Gereja Suci di Yerusalem. Ia juga secara umum menyatakan diri sebaga Tuhan, sebuah klaim yang menimbulkan polemik yang dahsyat di kalangan ummat Islam dan ia dipaksa mencabut pernyataan tersebut. Inilah akhirnya menjadi akar melemahnya dukungan politik terhadap kepemimpinannya, Sehingga pada tahun 1094 terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh panglima militer, al-Afzal Sahinsyah.

Sementara itu, terjadi kekacauan sekitar permasalahan suksesi di masa pemerintahan khalifah al-Musta’ali. Nizar, putera Musta’ali yang tertua dihukum penjara hingga meninggal, namun pengikut Nizar mengakuti bahwa Nizar masih hidup. Ini menimbulkan kekacauan dan melahirkan dua kubu yang saling bersaing, yaitu kubu Must’aliyah dan kubu Nizariyah.

Konflik antara Nizariyah dan Musta’aliyah menimbulkan cabang baru Islamiyah. Putra Al-Musta’ali yang bernama al-Amir menggantikan ayahnya sebagai penguasa di Mesir masih berusia anak-anak, al-Amir akhirnya menjadi korban pembunuhan pada tahun 1130. Sepeninggal al-Amir, Dinasti Fathimiyah semakin mengalami kemunduran. Pada saat itu, timbul pertentangan paham keagamaan antara kalangan penguasaan dengan mayoritas masyarakat yang menganut Sunni. Sejumlah kelompok kecil mengikuti imam mereka masing-masing dan mengabaikan klaim penguasa Fathimiyah.

Pada masa pemerintah al-Adid, Dinasti Fathimiyah mendapat kesulitan untuk menahan masuk tentara salib ke Mesir. Maka pada khalifah al-Adid meminta bantuan kepada Nurddin Zanki. Nurddin akhirnya mengutuskan Shalahuddin al-Ayubi yang membawa tentara ke Mesir untuk menghalau tentara Salib. Karena keberhasilannya, di diangkat menjadi menteri di Mesir.

Namun khalifah al-Adid amat tua untuk memimpin dan tekanan politik makin tinggi, sementara keberhasilan Shalahuddin al-Ayubi membuat dukungan atasnya menjadi khalifah sangat kuat. Pada akhirnya, Shalahuddin al-Ayubi bisa menjadi khalifah dan mengakhiri Dinasti Fathimiyah. Kepemimpin Shalahuddin al-Ayubi mengubah corak kekuasaan sebelumnya Syi’ah beralih ke Sunni. Sehingga dengan begitu, berakhirlah Dinasti Fathimiyah.

Jogja-Jakarta 2010-2011

A Taufiq


Rujukan

Buku
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo, 1995
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008
Philip K Hitti, History of The Arabs, Bandung: Serambi 2008
Cyrel Glase, Ensiklopedia Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002
G. E. Boswort, Dinasti-Dinasti Islam, judul Asli, The Islamic Dynasties oleh Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1993
Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2002
Abu Su’ud, Islamogy, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Ummat Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Zaenal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979
M. Natsir Arsyad, Ilmuwan, Muslim Sepanjang Sejarah, Bandung: Mizan, 1990
Josoef Sou’eb, Sejarah Dahulah Abbasiyah II, Jakarta: Bulan Bintang, 1977

Website
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Mahdi_Ubaidillah&action=edit
http://www.eramuslim.com
http://stit1a08.blogspot.com/2009/03/sejarah-peradaban-islam.html
http://www.surya.co.id/04/05/2010

Mengintip Kelahiran Syariat

Berbicara tentang syariat, mula-mula memang harus membicarakan tempat dan waktu “Bayi Syariat” itu terlahir. Siapa ibunya. Siapa penyusu dan pengasuhnya. Di mana pula ia dibesarkan. Seperti apa lingkungan yang membentuk karakternya hingga ia menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Mulanya yang kita bicarakan adalah tanah gersang bernama Mekkah. Meskipun selama ini penduduk Mekkah pra Islam dikategorikan sebagai zaman jahliyah (kebodohan), tapi kenyataannya peradaban di sana tergolong maju, tertama dalam hal perdagangan. Bahkan, Mekkah adalah tempat transit jalur perdagangan internasional antara Ethiopia sebelah barat, Yaman sebelah Selatan, Persia sebelah timur, dan Bizantium sebelah utara.

Hanya saja, saat itu kemanusiaan kurang dihargai. Penindasan, ketidakadilan, perbudakan, ketimpangan sosial, merajalela di sana. Dan Islam, hadir di sana sebagai risalah pembebasan atas semua itu.

Mungkin sudah didesain oleh Sang Maha Skenario. Dari salah satu kabilah yang paling eksis di tanah gurun itu, lahirlah bayi yang kemudian hari diketahui bernama: Muhammad.

Muhammad bukanlah Dewa atau malaikat. Muhammad bukanlah “makhluk suci tanpa noda.” Muhammad bukanlah “duplikat Tuhan.” Ia tak lain dari manusia biasa yang lahir dari rahim seorang wanita. Ia punya kemampuan terbatas seperti halnya manusia-manusia yang pernah ada di dunia. Ia butuh makan. Ia butuh menyalurkan hasrat biologisnya. Ia butuh segala hal yang dibutuhkan manusia untuk menopang hidupnya.

Kelahiran Muhammad sebagai makhluk biologis, tidak ada yang terlampau istimewa di sana. Kalaupun ada, itu hanyalah keistimewaan posisinya sebagai cucu seorang bangsawan penjaga Ka’bah: Abdul Muthallib.

Ketika Muhammad masih kanak-kanak, ia sudah menjadi Yatim-Piatu. Sehingga sejak usia delapan tahun, yang menjadi pengasuhnya adalah Pamannya.

Melihat situasi sosial masyarakatnya yang menyedihkan itulah yang menjadikan Muhammad merenung, mengasingkan diri dalam goa. Dan dalam perenungan itu, Allah mengutus Jibril menyampaikan wahyu padanya.

Iqra’! bacalah! Begitu wahyu pertama turun. Bukan kebetulan jika Allah menurunkan wahyu pada Muhammad untuk membaca. Membaca masyarakat dengan akal sehat dan hati nurani. Dengan rasionalisme dan empirisme. Apa yang kini sedang dialami oleh masyarakat sekitarnya, menjadikan Muhammad berfikir, bahwa situasi seperti ini memang harus diubah. Revolusi harus segera dimulai.

Wahyu pertama, menandai bahwa Muhammad kini menjadi seorang utusan Allah. Pembawa misi risalah pembebasan: Islam. Risalah pembebasan tersebut adalah “bayi syariat” yang memang harus dirawat, disusui, agar berkembang menjadi sempurna.

Dalam usaha membebaskan masyarakatnya, tak jarang Nabi mendapatkan banyak sekali rintangan dan perlawanan dari mereka yang merasa dirugikan kepentingannya. Sang penindas merasa jengah, saudagar kaya merasa kekayaannya terancam digerogoti.


Ah, itu dulu lah….bersambung besuk. aku sibuk.

Sabtu, 26 Februari 2011

Sapaku-curhatku (untuk keluarga J2 '07)


Kawan, aku ingin menyapamu kembali setelah jarak seolah membekukan komunikasi kita. Dan untuk mencairkan suasana, aku ingin bercerita sesuatu. Izinkanlah....

Ketika pertama kali aku tergabung dalam keluarga J2 '07 tiga setengah tahun lalu, aku merasa kaku untuk bersahabat dengan kalian. Aku minder. Sehingga aku pun kurang begitu erat bersahabat dengan kalian. Dan keadaan itu diperparah lagi dengan adanya rasa "berbeda" pada karakterku dengan karakter kalian semua sehingga membuatku terpinggir atau meminggirkan diri.

Mungkin dengan sikapku yang seperti itu, ada sebagian di antara kalian yang menganggap bahwa aku terlalu tertutup, angkuh, sok, keras kepala dan sebagainya, aku terima. Karena kenyataannya memang begitu. Tapi saat itu pula aku juga tahu, bahwa mayoritas kalian menginginkan adanya persaudaraan yang tanpa membeda-bedakan.

Kawan, terkadang apa yang kita jalani, tidak sesuai rasanya dengan hati nurani kita. Ini bukan soal salah benar atau baik buruk. Tapi soal jalan hidup. Dan yang kualami saat itu ketika bergabung bersama kalian, aku merasa tak betah. Bukan masalah hubunganku dengan kalian, tapi masalahnya adalah tentang studiku. Dan akhirnya aku memutuskan pergi.

Setidaknya selama satu setengah tahun, aku intensif bergaul dengan kalian. Dan selama itu pula aku merasa mendapat banyak hal, meski pergaulanku dengan kalian tergolong minim. Maafkan aku jika aku kurang menjiwai dalam pergaulan itu. Aku memang harus lebih banyak belajar untuk itu.

Oya, tiga setengah tahun lalu sudah lewat. Sekarang kalian mulai mempersiapkan kelulusan. Artinya, kalian akan dihadapkan pada kehidupan nyata setelah sekian lama mencecap ilmu dari kampus. Sementara aku masih mahasiswa. Dan masih butuh waktu agak lama lagi untuk menyusul keterlambatanku atas kalian.

Setelah kalian lulus, aku ingin berpesan kepada kalian, tapi jangan artikan ini menggurui. Ketika pertama kali aku memasuki gerbang IAIN, aku membaca baliho yang terpampang di sana dengan pesan Nabi kita "Khairunnas anfauhum linnas." Entah baliho itu sekarang masih ada atau tidak, aku tak tahu. Tapi sedikit banyak aku yakin, bahwa pesan yang tertulis itu akan menancap di hati kita masing-masing. Meski terkadang sulit untuk melakukannya.

Ah, aku terlalu banyak berkata-kata.Tapi dengan itu semua, aku masih ingin dianggap sebagai keluarga kalian, meskipun kita memang jarang bertemu.

Kawan, lewat surat-curhat ini aku menyapa kalian. Semoga apa yang kita alami bersama dulu, menjadi bermanfaat untuk menghadapi masa depan kita. Aku ingin bersaudara. Dan persaudaraan ini abadi dalam selimut kasih sayang Allah Subhanahu wata'ala.


Jakarta, 26 Feb 2011

A Taufeq

Partai Gombal UIN Turut Mewarnai Pemilwa 2011

Menjelang diselenggarakan Pemilwa UIN Sunan Kalijaga, sekawanan mahasiswa yang tergabung dalam SMK alias Sekawanan Mahasiswa Kecewa karena kemarin partainya tidak lolos verifikasi, kini berniat mendirikan partai lagi. Partai ini tak butuh secara legal diakui Mendagri. Jadi verifikasi tak lagi diperlukan.

Mula-mula, partai itu bernama Partai Golput Mahasiswa. Sesuai dengan namanya, partai ini akan mengklaim seluruh suara tidak sah maupun yang tidak bersuara. Suara tidak sah meliputi mereka yang datang ke bilik suara tetapi tidak memberikan hak suaranya, entah karena tidak mencoblos, atau mencoblos lebih dari satu partai. Sedangkan yang tidak bersuara adalah mereka yang tidak datang ke bilik suara. Alasannya beragam. Ada yang tidak hadir karena urusan pribadi, misalnya sibuk dengan urusan lain sehingga tidak sempat meluangkan waktunya. Ada yang acuh tak acuh terhadap Pemilwa sehingga mereka menganggapnya tidak penting. Ada pula yang karena alasan politik, misalnya mereka yang tidak puas dengan kinerja Student Government (SG) sebelumnya sehingga mereka dengan sadar memboikot Pemilwa.

Dengan menggabungkan seluruh suara tidak sah dan yang tidak bersuara, Partai ini diyakini akan meraup suara mayoritas. Bahkan salah seorang yang sudah siap menjadi salah satu deklaratornya yakin jika partai ini akan menembus 80 persen bahkan 90 persen suara. Tak penting apakah anggotanya memilih bergabung dengan partai ini atau hanya diklaim saja oleh para deklaratornya.

Meskipun SMK ini yakin bahwa partainya sudah pasti menang, tetapi mereka tidak puas kalau mereka hanya diam saja sambil menghitung jari, menaksir-naksir jumlah anggotanya. SMK ini ingin bergerak. Paling tidak SMK memberi penyadaran bagi calon anggotanya tentang pentingnya memboikot Pemilwa. Agar SG yang selama ini berkuasa terketuk hatinya. Paling tidak bau-bau tirani golongan mayoritas mulai dibersihkan agar demokratisasi berjalan sehat.

Tapi rupanya setelah berdebat berjam-jam di kantin, Partai Golput Mahasiswa ini gagal didirikan. Pasalnya, Partai Golput selain dianggap strategi basi, juga terkesan kurang berseni. Wajar, karena SMK ini rata-rata tergila-gila dengan seni. Akhirnya setelah mereka bertengger di kantin dari pagi sampai sore dengan hanya ditemani beberapa cangkir kopi dan beberapa batang rokok saja (maklum harga makanan di kantin memang mahal) itu, disepakati bahwa partai baru itu bernama Partai Gombal UIN. Visi dan misinya “menggombali seluruh masyarakat (bukan hanya mahasiswa) UIN.”

Strategi untuk menggalang anggota sebanyak-banyaknya, setiap anggotanya diwajibkan untuk menggombali siapapun yang bernaung di kampus ini. Bahkan kalau perlu tukang sapu pun harus digombali. Khusus untuk anggota yang tingkat ke-gombalannya tak lagi diragukan, partai ini memberi amanat agar mereka menyelundup pada setiap partai yang ada. Wabilkhusus untuk partai besar yang kini berkuasa dan berlaku tiran.

Oya, guna menghindari bentrokan sesama anggota, partai ini memberi kebebasan bagi setiap anggotanya untuk mengklaim diri dengan dengan menggombali orang lain maupun diri sendiri bahwa ia adalah ketuanya. Akhirnya, dia yang paling pandai menggomballah yang paling berhak menduduki ketua. Karena semua anggotanya maupun dirinya sendiri sudah berhasi ia gombali.

Partai ini oleh para anggotanya, dianggap suatu terobosan fenomenal dalam menanggapi kebijakan-kebijakan SG maupun birokrasi kampus. Asal pandai menggombali lawan, semua masalah menjadi beres. Selain itu, partai ini dianggap mampu mengobati kekecewaan mereka selama ini, sehingga dengan berdirinya partai ini, SMK sudah tak perlu lagi untuk dipertahankan. Karena kekecewaan itu sudah dikubur dengan gombalan-gombalan yang kini nyaris menjadi ideologi.

Oleh karenanya, jika saudara melihat beberapa mahasiswa, dosen, satpam, tukang sapu, maupun birokrasi kampus sehari-harinya menggombal; berarti separuh misi partai ini berhasil. Maka, wahal gombal-gombal UIN, berjuanglah!


Jakarta, 26 Februari 2010

Opik

Jumat, 25 Februari 2011

Menyambut Pemilwa 2011


Salah satu topik yang paling mengemuka menjelang pemilwa bulan depan adalah soal siapa atau golongan mana yang nantinya berkuasa. Tentu dengan segala iklim politik yang melingkupinya. Mulai pendaftaran parpol mahasiswa, pembentukan KPU, hingga pemilwa itu diselenggarakan.

Mayoritas mahasiswa UIN Sunan Kalijaga percaya bahwa hasrat untuk berpolitik di kampus ini lebih tinggi dibanding dengan kampus-kampus lain yang ada di Jogja. Sejarah membuktikan, setiap pemilwa diadakan, masing-masing golongan ingin menjadi penguasa. Karenanya, iklim setiap pemilwa selalu panas. 

Sekilas Sejarah
Contoh paling panas adalah pemilwa tahun 2005. Ketika itu, KPU hanya melososkan calon pasangan tunggal dari koalisi Bintang Sembilan. Sehingga pasangan calon yang diusung oleh partai lain yang merasa dijegal, tidak terima dan menganggap KPU tidak independen dan karenanya semua kebijakannya tidak sah. Bahkan, PSI (Partai Solidaritas IAIN) yang merupakan partai tertua di kampus ini mengambil sikap untuk menarik diri dari kancah pemilwa. Hal ini dilakukan demi memboikot jalannya pemilwa yang dianggap menghianati amanat mahasiswa.

Namun, rupanya KPU bergeming. Pemilwa dengan calon pasangan tunggal pun tetap dijalankan. Karena menurut KPU, proses didiputuskannya calon pasangan tunggal sudah sangat demokratis. Sehingga tidak perlu lagi meninjau ulang keputusannya.

Ketika hari H pemilwa itu diselenggarakan, ternyata kubu koalisi Perubahan melakukan aksi protes jalanan. Bahkan aksi protes ini berlanjut pada pengobrak-abrikan beberapa kotak suara ketika pemilwa berlangsung. KPU merasa dilecehkan. Bentrok antar mahasiswa terjadi. Sampai-sampai polisi yang harus turun tangan meleraikannya. 

Selain itu, LPM Arena yang saat itu turut berpartisipasi dalam mengontrol jalannya pemilwa, dituding telah memanas-manasi situasi. Kru-kru yang bernaung di dalamnya dianggap memiliki kepentingan politik tersendiri dalam ajang pertarungan kekuasaan tersebut. Independensi pers ini dipertanyakan. Kemudian diintimidasi agar tidak menerbitkan hasil beritanya. Dan ujungnya, pada malam hari, sekelompok orang tak dikenal merusak kantor Arena.

Itu adalah sejarah. Dalam salah satu flm documenternya UKM JCM (Jamaah Cinema Mahasiswa), film documenter itu berjudul Cermin yang Pecah. Univesitas sebagai sebagai pencerminan Negara, telah berantakan tak karu-karuan.

Kondisi Saat Ini
Iklim politik saat ini tidak sepanas dulu. Buktinya baliho dan spanduk dari berbagai partai yang dulu besar-besar, kini relative tidak ada. Kecuali spanduk yang dipasang KPU yang isinya menghimbau mahasiswa agar berpartisipasi dalam pemilwa.  Selebaran-selebaran partai pun relative minim, meskipun ada satu-dua partai yang menyebarkan pamfletnya di seluruh kampus.

Semakin melempemnya mahasiswa dalam pertarungan kepentingan kekuasaan saat ini, tentu disebabkan beberapa factor. Pertama, kebijakan kampus yang sengaja meminimalisir animo politik mahasiswa. Tampak jelas dengan kebijakan-kebijakan yang digulirkan pihak birokrasi yang memang didesain agar mahasiswa lebih fokus pada pelajaran di kelas. Ada kewajiban presensi 75%, pembuatan pagar di mana-mana agar keliaran mahasiswa dikendalikan, dan sebagainya yang merupakan kebijakan warisan kepemimpinan Amin Abdullah selama dua periode (tahun 2003-2010).

Kedua, apatisme mahasiswa mulai menjalar pada mayoritas mahasiswa. Rata-rata mahasiswa saat ini selalu ingin cepat lulus dengan IP yang memuaskan. Sehingga aktivitas-aktivitas yang dirasa tidak member manfaat pada peningkatan IP dan kecepatan lulus, akan semakin ditinggalkan. Masalah kedua ini terutama adalah akibat dari masalah yang pertama: kebijakan kampus.

Melihat kondisi di atas, pemilwa Maret nanti, diperkirakan tingkat golput mahasiswa akan meningkat dibanding pemilwa sebelumnya—terlepas dari selebaran gelap yang memprovokasi mahasiswa untuk memboikot pemilwa. Karena selain produk dari Pemilwa sebelumnya yang menghasilkan Pemerintahan Mahasiswa yang berupa SEMA dan DEMA, kiprahnya dipertanyakan; mahasiswa saat ini juga tidak mau repot-repot mengurusi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi IP mereka. 

Artinya, tantangan bagi KPU saat ini adalah bagaimana agar bisa menarik mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Untuk itu perlu usaha keras dari KPU, misalnya ndividu-individu yang ada di dalam KPU benar-benar inependen, tidak lagi mambawa bendera masing-masing partai. Sedangkan bagi Pemerintah Mahasiswa yang nanti berhasil dibentuk, harus mampu melaksanakan program-programnya agar dapat dirasakan bagi seluruh mahasiswa yang ada. Dengan itu, kebijakan-kebijakan yang akan digulirkan oleh pihak birokrasi kampus yang jika sekiranya dirasa merugikan mahasiswa akan dapat dibendung oleh jajaran Pemerintah Mahasiswa. Tidak seperti DEMA, SEMA saat ini yang hanya mengembik saja terhadap kebijakan kampus.

Namun, jika hal itu tak pernah terjadi, mahasiswa sekarang memang tak butuh lagi yang namanya SEMA, DEMA, BEM dan sebagainya. Bubarkan saja semuanya.

Jakarta, 26 Februari 2011
Opik

Minggu, 06 Februari 2011

Ibu, di mana kau sembunyikan mataharimu?

(by: Opik)

Ibu,
masih terngiang betul dongengmu menjelang malam
tentang laut-laut yang enggan bergelombang
ada mutiara abadi
maka kulebarkan layar perahuku
mengarung, melintang
tapi kabut membutakan mataku
badai merobek layar perahukuku
dan gelombang membabat tubuhku

Ibu,
masih jelas kurekam dongengmu
tentang dewi kehidupan
yang bermahkotakan bunga tulip
di taman abadi
maka kubentangkan sayapku
membawakan mawar
tapi jalan-jalan meretak
bumiku memanas
jalan ini sudah ada yang melalui
aku menggigil
mawar itu berjatuhan bersama air mataku

Ibu
masih terngiang betul dongengmu menjelang malam
kala itu, rembulan cemburu akan sinarmu
katamu
di ufuk barat,
akan ada dunia abadi
dengan bertaburan bunga-bunga
dan tarian peri cinta
maka kutapakkan kakiku
namun angin menuntunku
menuju gundukan tanah pilu
bertaburan bunga kemboja
apakah ini tempat sembunyimu?

ah, Ibu, kemana engkau pergi
bangaimana aku harus mencarimu
tidakkah kau ingin kembali membuat cemburu dewi malam di mataku dengan dongengmu
tidakkah kau ingin melihat anakmu melelapkan tidurnya di pelukmu

Ibu,
ini sungguh gelap
di mana kau sembunyikan mataharimu?
Atau mataku yang kini memang telah membuta?

Jogja, 07 Oktober 2010