Oleh: A Taufiq*
Islam, awalnya lahir sebagai
antitesa dari sistem jahiliyah Arab abad ketujuh masehi. Dan sistem jahiliyah
adalah sistem dimana kemiskinan dan pemiskinan,kebodohan dan pembodohan, ketidakadilan
dan penindasan, dominasi dan subordinasi, juga sekian varian dari dehumanisasi,
sangat mapan. Islam lahir bukan sekedar memberitahu siapa Tuhan, tapi lebih
dari itu, membawa tauhid sebagai pijakan untuk memutarbalikkan sistem jahiliyah
itu.
Tauhid mengakui hanya Tuhan-lah
yang di atas manusia, sementara derajat manusia sama. Menjadikan manusia diatas
manusia lain, sama halnya menuhankan manusia, dan itu syirik. Dan syirik adalah
penentangan puncak dari tauhid. Maka, perilaku syirik, dalam Islam, adalah dosa
yang tak dapat terampuni. Balasannya neraka selamanya!
Kita bisa bayangkan sewaktu Nabi
Muhammad menyampaikan risalah tauhid ke publik, maka sudah dapat dipastikan
siapa yang paling getol menentang. Dan sejarah mencatat sederet penentang itu dari
kalangan orang-orang elit yang diuntungkan oleh struktur sosial dalam sistem
jahiliyah, semisal Abu Lahab dan Abu Jahal. Mereka tentu tidak terima saat
kebahagiaannya dalam menikmati madu penindasan terusik. Posisi mereka yang
mulanya dijunjung tinggi dalam masyarakat kemudian oleh Islam dianggap sama
derajatnya dengan budak dan orang-orang biasa lainnya. Maka mereka pun
melakukan berbagai cara dalam membujuk agar Nabi menghentikan dakwahnya,
menyingkirkan Nabi, memboikot Nabi dan pengikutnya, sampai yang terakhir
mengobarkan perang. Dan Nabi mengajak pengikutnya untuk melawan bukan hanya
sekedar dengan kata-kata, tapi sekaligus dengan senjata yang kemudian marak
disebut jihad fi sabilillah.
Seandainya Nabi hanya sekedar
mengabarkan siapa Tuhan, tapi tidak merombak sistem jahiliyah, maka akan sangat
mudah diterima oleh kalangan elit tadi. Apa susahnya sekedar menyembah Tuhan,
asalkan Tuhan tidak ikut campur dalam urusan ekonomi politiknya. Asalkan Tuhan
malah bisa dijadikan legitimasi untuk mengokohkan posisinya.
Tapi memang bukan untuk itu Nabi
diturunkan. Melainkan sebagai rahmat bagi semesta, rahmatan lil-alamin.
Pembawa kabar gembira dengan cinta dan kebenaran, sekaligus pembawa ancaman
bagi mereka yang menindas. Maka, rahmatan lil-alamin tentu
mengharusnya perombakan total atas sistem yang menindas dan mengalienasi, lalu
mengembalikan manusia ke fitrah semula, sebagai hamba Allah
dan sebagai khalifah di muka bumi.
Dari sini kita membaca bahwa ajaran
Islam sudah sangat revolusioner sejak lahir. Tapi sayang, dalam perjalanannya,
pengawalan atas ke-revolusioner-an Islam, pelan tapi pasti, tenggelam kembali
dalam lautan zaman. Islam sepeninggal Nabi kian hari kian tereduksi
ajaran-ajaran sosialnya, ajaran-ajaran emansipasi dan perlawanannya, dan semakin
menyempit seolah hanya mengurusi soal bagaimana menyembah Tuhan yang baik dan
benar tanpa banyak tahu mengapa Tuhan harus disembah dan konsekuensi lanjutan
dari penyembahan itu.
Maka, wajar kalau kemudian kita melihat banyak sekali umat Islam
yang taat sembahyang, umroh dan haji berkali-kali, tapi korupsinya semakin
menjadi-jadi. Ditambah lagi banyak sekali umat islam yang taat dan tampak
“religius” tapi diam melihat penindasan yang begitu massif atas manusia oleh
manusia, seolah itu bukan tanggung jawabnya sebagai umat muslim. Bagaimana
nasib petani yang sampai sekarang tidak diurusi pemerintah, yang mengalami
ketergantungan mulai dari peralatan kerja, pembibitan, pupuk, dan distribusi
penjualan hasil panennya, tidak banyak yang tahu. Bahkan di beberapa
daerah yang digusur tanahnya oleh kapitalis, sementara mereka yang memberontak
malah ditembaki militer. Bagaimana nasib buruh sekarang? Apakah sudah ada
jaminan sosial dan perlindungan hukum buat mereka? Bagaimana nasib nelayan?
Nasib kaum gelandangan? Tidak banyak yang tahu, apalagi berani membantu
berteriak melawan sistem neo-jahiliyah ini. Dimana teriakan perlawanan kaum
muslim religius yang kiai dan yang haji itu sebagaimana dicontohkan Nabi, para
sahabat dan jihadis masa silam? Hmm… sepi.
Selain itu, saya sesungguhnya
menyayangkan kepada banyak kalangan muslim yang malah sibuk bertengkar sendiri
saat diterpa isu fundamentalisme yang berujung terorisme yang sengaja
digulirkan dari Barat. Beberapa kalangan mengklaim diri sebagai Islam moderat,
Islam cinta damai, sambil mengikuti Barat dengan mengutuki saudara mereka yang
distigma fundamentalis-teroris. Dan pengutukan itu kemudian menjadi massif
dalam seminar-seminar, pelatihan-pelatihan yang memang mendapat kucuran dana
dari yang berkepentingan.
Saya tak bermaksud membela kaum
fundamentalis dan apalagi teroris. Tapi apa yang kaum pengaku
moderatis-liberalis lakukan dalam turut serta ramai-ramai mengutuki mereka
sesungguhnya malah melupakan tugas urgen yang diemban umat islam dalam
perombakan tatanan sosial yang menindas.
Terorisme lahir dari sebuah
keputusasaan dalam menghadapi lawan yang teramat kuat. Perilaku teroris ingin
menunjukkan diri bahwa dirinya masih ada, dan perlawanan sengawur apapun
nyatanya masih berlanjut. Nah, sialnya tak jarang yang juga memanfaatkannya
untuk melancarkan aksinya dalam menindas lebih dalam dari kalangan dominan ke
kalangan yang lebih lemah. Kita bisa melihat kepongahan AS dalam
memporak-porandakan Afganistan dan Irak atas nama perang melawan terorisme.
Padahal kalau kita telisik lebih jauh,ada misi yang lebih besar di baliknya.
Yaitu pengerukan kekayaan alam dan liberalisasi pasar. Ini penjajahan bung!
Apa yang harus dilakukan?
Nabi
Muhammad yang mati-matian membawa risalah perdamaian sekaligus perlawanan itu
harus kita hormati dan perjuangannya harus kita lanjutkan dalam konteks lokasi
dan zaman yang berbeda-beda.
Sebagai pemuda muslim, kita harus
melakukan pembacaan situasi saat ini secara tajam atas realita sosial yang ada.
Bagaimana sistem yang sedang berlangsung. Siapa yang diuntungkan dari sistem
ini dan siapa yang dilemahkan. Bagaimana hubungan antara masyarakat tempat kita
berpijak dengan masyarakat dunia secara global. Apa yang sesungguhnya terjadi
sehingga kemiskinan masih saja merajalela di negara kita meskipun kekayaan alam
kita sangat besar tapi malah dikuasai kapitalis asing. Islam yang kita anut
seperti apa sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tetapi sangat
lemah dalam melakukan gerakan perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi
kapitalis. Kekuatan dan
kelemahan kita seperti apa, lalu keuntungan dan ancaman bagi kita apa.
Kita harus saling menyadarkan,
saling menasihati dalam perjuangan menegakkan kebenaran, untuk kemudian
mengobarkan risalah perlawanan dalam Islam untuk menggoyang kemapanan sistem
neo-jahiliyah ini. Kita harus bersabar dan konsisten dalam menyusun strategi
dan taktik dalam melakukan gerakan-gerakan sosial terutama dari bawah untuk
menguatkan posisi mereka yang selama ini terlemahkan oleh sistem. Dengan
pendidikan yang mencerdaskan dan organisasi, misalnya. Kita, bersama mereka,
kaum mustadh’afien, yang terlemahkan, harus bersama-sama berjuang
membebaskan diri, dengan memutarbalikkan sistem lama dengan sistem baru yang
berpijak pada inti ajaran Islam, yaitu Tauhid, dimana posisi manusia sama, dan
hanya Tuhan yang diatas.
Dengan begitu, tanggungjawab kita sebagai pemeluk agama Islam
tertunaikan secara lebih kaffah, yaitu meneguhkan kembali Islam
yang seperti semula sebagai risalah perlawanan. Mari berjihad, dan
kibarkan bendera merah, bendera perjuangan, bendera perlawanan!
*Penulis
aktif di Jenar Society (JESOS) Yogyakarta