Minggu, 27 Oktober 2013

Pembacaan Reflektif (1)

Bermula dari obrolan para kawan yang gelisah. Dengan naïf, mereka tak sabar hendak melakukan sesuatu. Mungkin ide-ide konyol macam revolusi, atau heroisme dalam berbagai bentuk. Yang penting tak tenggelam dalam jalannya sejarah…

Kapitalisme makin menguat. Korban baru terus berjatuhan. Jatuh dalam arti mati secara fisik, menderita, atau kematian dalam hidup. Gerak tubuh dan hasrat sudah terkodifikasi dalam kotak-kotak yang tersediakan. Saat kau hendak keluar dari kungkungan kotak itu, sudah ada kotak luar sana yang bakal menampungmu untuk kembali mengkerngkengmu. Kau melawan dengan beringas, dan kemudian kau serahkan kemerdekaanmu dengan sukarela untuk menjadi budak kembali. Apa salah?

Dan negara hanya organisasi yang dulu saat dibentuk hendak menjadi negasi atas penindasan. Tapi kini kemudian juga tunduk, bertekuk lutut dan malah memperteguh penindasan antar manusia itu. Kau bisa lihat sendiri bagaimana bahkan di negara yang katanya paling demokratispun menghabisi sekian jalan lain, jalan alternative diluar yang tersedia. Disini kau bakal mengerti mengapa zaman raja-raja tak beda jauh dengan zaman demokrasi saat ini. raja-raja tak menghendaki kewibawaannya digerogoti, sementara system demokrasi yang kita anut saat ini, yang menjunjung kebebasan, bahkan menghabisi kita untuk mengimpikan jalan lain yang manusiawi, dan mengatakan bahwa yang terjadi saat ini salah total.

Kau bisa saja berteriak lantang melawan. Ayo, lawanlah yang menurutmu melenceng dari yang kau idealkan. Kau diberi kebebasan, bahkan disediakan mimbar untukmu. Tapi kau akan tahu, dalam sebentar saja teriakanmu akan jadi cerita konyol, lelucon, hiburan, yang kemudian malah menguatkan system yang kau lawan. Disini kau akan kelelahan. Kau akan putus asa sampai mati. Mengapa demikian? Ada hal yang barangkali kau lupakan. Kau, bahkan cara berfikirmu saja sudah menggunakan cara berfikir mereka. Kau tak pernah berfikir diluar system ini, sehingga perlawananmu bukan menjadi suatu negasi. Kau telah mati sejak dalam fikiran. Kau robot yang digerakkan system itu untuk membenahinya agar tidak ada yang rusak. Dan saat kau coba berfikir diluar system itu, kau akan dianggap irrasional. Kau juga ditinggalkan. Rasional atau irrasional ditentukan apakah itu menguatkan system atau tidak. Rasio menjadi rezim yang sedemikian dingin menggerogoti kemanusiaan.


Itu bukan pesimisme. Itu kenyataan. Lalu bagaimana menghadapi? Mari, kita telaah satu-satu mengapa hal sedemikian terjadi.

Rabu, 24 April 2013

ISLAM DAN RISALAH PERLAWANAN




Oleh: A Taufiq*

Islam, awalnya lahir sebagai antitesa dari sistem jahiliyah Arab abad ketujuh masehi. Dan sistem jahiliyah adalah sistem dimana kemiskinan dan pemiskinan,kebodohan dan pembodohan, ketidakadilan dan penindasan, dominasi dan subordinasi, juga sekian varian dari dehumanisasi, sangat mapan. Islam lahir bukan sekedar memberitahu siapa Tuhan, tapi lebih dari itu, membawa tauhid sebagai pijakan untuk memutarbalikkan sistem jahiliyah itu.

Tauhid mengakui hanya Tuhan-lah yang di atas manusia, sementara derajat manusia sama. Menjadikan manusia diatas manusia lain, sama halnya menuhankan manusia, dan itu syirik. Dan syirik adalah penentangan puncak dari tauhid. Maka, perilaku syirik, dalam Islam, adalah dosa yang tak dapat terampuni. Balasannya neraka selamanya!

Kita bisa bayangkan sewaktu Nabi Muhammad menyampaikan risalah tauhid ke publik, maka sudah dapat dipastikan siapa yang paling getol menentang. Dan sejarah mencatat sederet penentang itu dari kalangan orang-orang elit yang diuntungkan oleh struktur sosial dalam sistem jahiliyah, semisal Abu Lahab dan Abu Jahal. Mereka tentu tidak terima saat kebahagiaannya dalam menikmati madu penindasan terusik. Posisi mereka yang mulanya dijunjung tinggi dalam masyarakat kemudian oleh Islam dianggap sama derajatnya dengan budak dan orang-orang biasa lainnya. Maka mereka pun melakukan berbagai cara dalam membujuk agar Nabi menghentikan dakwahnya, menyingkirkan Nabi, memboikot Nabi dan pengikutnya, sampai yang terakhir mengobarkan perang. Dan Nabi mengajak pengikutnya untuk melawan bukan hanya sekedar dengan kata-kata, tapi sekaligus dengan senjata yang kemudian marak disebut jihad fi sabilillah.

Seandainya Nabi hanya sekedar mengabarkan siapa Tuhan, tapi tidak merombak sistem jahiliyah, maka akan sangat mudah diterima oleh kalangan elit tadi. Apa susahnya sekedar menyembah Tuhan, asalkan Tuhan tidak ikut campur dalam urusan ekonomi politiknya. Asalkan Tuhan malah bisa dijadikan legitimasi untuk mengokohkan posisinya.
Tapi memang bukan untuk itu Nabi diturunkan. Melainkan sebagai rahmat bagi semesta, rahmatan lil-alamin. Pembawa kabar gembira dengan cinta dan kebenaran, sekaligus pembawa ancaman bagi mereka yang menindas. Maka, rahmatan lil-alamin tentu mengharusnya perombakan total atas sistem yang menindas dan mengalienasi, lalu mengembalikan manusia ke fitrah semula, sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi.

Dari sini kita membaca bahwa ajaran Islam sudah sangat revolusioner sejak lahir. Tapi sayang, dalam perjalanannya, pengawalan atas ke-revolusioner-an Islam, pelan tapi pasti, tenggelam kembali dalam lautan zaman. Islam sepeninggal Nabi kian hari kian tereduksi ajaran-ajaran sosialnya, ajaran-ajaran emansipasi dan perlawanannya, dan semakin menyempit seolah hanya mengurusi soal bagaimana menyembah Tuhan yang baik dan benar tanpa banyak tahu mengapa Tuhan harus disembah dan konsekuensi lanjutan dari penyembahan itu.

Maka, wajar kalau kemudian kita melihat banyak sekali umat Islam yang taat sembahyang, umroh dan haji berkali-kali, tapi korupsinya semakin menjadi-jadi.  Ditambah lagi banyak sekali umat islam yang taat dan tampak “religius” tapi diam melihat penindasan yang begitu massif atas manusia oleh manusia, seolah itu bukan tanggung jawabnya sebagai umat muslim. Bagaimana nasib petani yang sampai sekarang tidak diurusi pemerintah, yang mengalami ketergantungan mulai dari peralatan kerja, pembibitan, pupuk, dan distribusi penjualan hasil panennya, tidak banyak yang tahu. Bahkan di beberapa daerah yang digusur tanahnya oleh kapitalis, sementara mereka yang memberontak malah ditembaki militer. Bagaimana nasib buruh sekarang? Apakah sudah ada jaminan sosial dan perlindungan hukum buat mereka? Bagaimana nasib nelayan? Nasib kaum gelandangan? Tidak banyak yang tahu, apalagi berani membantu berteriak melawan sistem neo-jahiliyah ini. Dimana teriakan perlawanan kaum muslim religius yang kiai dan yang haji itu sebagaimana dicontohkan Nabi, para sahabat dan jihadis masa silam? Hmm… sepi.

Selain itu, saya sesungguhnya menyayangkan kepada banyak kalangan muslim yang malah sibuk bertengkar sendiri saat diterpa isu fundamentalisme yang berujung terorisme yang sengaja digulirkan dari Barat. Beberapa kalangan mengklaim diri sebagai Islam moderat, Islam cinta damai, sambil mengikuti Barat dengan mengutuki saudara mereka yang distigma fundamentalis-teroris. Dan pengutukan itu kemudian menjadi massif dalam seminar-seminar, pelatihan-pelatihan yang memang mendapat kucuran dana dari yang berkepentingan.

Saya tak bermaksud membela kaum fundamentalis dan apalagi teroris. Tapi apa yang kaum pengaku moderatis-liberalis lakukan dalam turut serta ramai-ramai mengutuki mereka sesungguhnya malah melupakan tugas urgen yang diemban umat islam dalam perombakan tatanan sosial yang menindas.

Terorisme lahir dari sebuah keputusasaan dalam menghadapi lawan yang teramat kuat. Perilaku teroris ingin menunjukkan diri bahwa dirinya masih ada, dan perlawanan sengawur apapun nyatanya masih berlanjut. Nah, sialnya tak jarang yang juga memanfaatkannya untuk melancarkan aksinya dalam menindas lebih dalam dari kalangan dominan ke kalangan yang lebih lemah. Kita bisa melihat kepongahan AS dalam memporak-porandakan Afganistan dan Irak atas nama perang melawan terorisme. Padahal kalau kita telisik lebih jauh,ada misi yang lebih besar di baliknya. Yaitu pengerukan kekayaan alam dan liberalisasi pasar. Ini penjajahan bung!

Apa yang harus dilakukan?
Nabi Muhammad yang mati-matian membawa risalah perdamaian sekaligus perlawanan itu harus kita hormati dan perjuangannya harus kita lanjutkan dalam konteks lokasi dan zaman yang berbeda-beda.

Sebagai pemuda muslim, kita harus melakukan pembacaan situasi saat ini secara tajam atas realita sosial yang ada. Bagaimana sistem yang sedang berlangsung. Siapa yang diuntungkan dari sistem ini dan siapa yang dilemahkan. Bagaimana hubungan antara masyarakat tempat kita berpijak dengan masyarakat dunia secara global. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga kemiskinan masih saja merajalela di negara kita meskipun kekayaan alam kita sangat besar tapi malah dikuasai kapitalis asing. Islam yang kita anut seperti apa sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tetapi sangat lemah dalam melakukan gerakan perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi kapitalis. Kekuatan dan kelemahan kita seperti apa, lalu keuntungan dan ancaman bagi kita apa.

Kita harus saling menyadarkan, saling menasihati dalam perjuangan menegakkan kebenaran, untuk kemudian mengobarkan risalah perlawanan dalam Islam untuk menggoyang kemapanan sistem neo-jahiliyah ini. Kita harus bersabar dan konsisten dalam menyusun strategi dan taktik dalam melakukan gerakan-gerakan sosial terutama dari bawah untuk menguatkan posisi mereka yang selama ini terlemahkan oleh sistem. Dengan pendidikan yang mencerdaskan dan organisasi, misalnya. Kita, bersama mereka, kaum mustadh’afien, yang terlemahkan, harus bersama-sama berjuang membebaskan diri, dengan memutarbalikkan sistem lama dengan sistem baru yang berpijak pada inti ajaran Islam, yaitu Tauhid, dimana posisi manusia sama, dan hanya Tuhan yang diatas.

Dengan begitu, tanggungjawab kita sebagai pemeluk agama Islam tertunaikan secara lebih kaffah, yaitu meneguhkan kembali Islam yang seperti semula sebagai risalah perlawanan. Mari berjihad, dan kibarkan bendera merah, bendera perjuangan, bendera perlawanan!

*Penulis aktif di Jenar Society (JESOS) Yogyakarta

Sabtu, 19 Januari 2013

19 Januari 2013


Kita tak mesti begini, aku tau maksud dan maumu. Lupakan. Segalanya terlanjur lebur menjadi lempung. Dan hujan terus mendera, petir terus menyerbu, badai tak usai-usai. Biarkan aku terdiam dulu. Dan menikmati tikaman sepi. Juga gelap yang datang. Gigil dalam pekat barangkali mampu membunuh bara dalam dadaku. Lalu biarkan aku jadi beku. Tak usah risau, tak selamanya tujuan dan jalan kita sama. Dan tak usah terlalu berharap bahwa esok kita akan bersama. Sebab harapan, selain menghidupi, juga memenjara. Dan kau, juga aku, tak pernah mau terpenjara kecuali oleh hati masing-masing.

Aku teringat dalam gerimis dulu saat kau bilang sesuatu yang  tak jua kumengerti, dan selamanya mungkin tak dapat kumengerti. Lalu kuanggap ketidakmengertian adalah hal yang wajar, dari hati yang tak sama, dan tak pernah sama. Tapi bukankah kita seiring?, tanyamu. Iya, dan iringan tak mesti menyertakan hati, dan tak jua pasti memahami.

Hidup memang tak sepelik yang sempat kita ributkan dulu. Cuma jalan hidup ini kadang tak mampu kita tangkap maksudnya secara utuh. Dan kita sempat tertawa dalam hal ini. Juga tawa kita yang sesumbang itu, tak sempat kuingat. Ego kadang menelanjangi kita dari baju kemanusiaan menjadi binatang kembali. Lupakah kau soal yang dikatakan kakek tua dulu dalam lintasan kendaraan yang lalu lalang tak jelas arah tapi kosong?

Ya, ya, sudahlah. Aku hanya ingin diam. Dan tak mau mengabarkan padamu soal rasaku yang terdalam. Sebab dalam kemunafikanku, aku juga toh masih mengharapkanmu. Sedalam-dalam harapan.