Selasa, 31 Juli 2012

Aku dan Buku (7)

Setahun di Jogja, hasratku atas sastra terasa memudar. Aku kian disibukkan dengan pergerakan. Entahlah pentingnya apa pergerakan itu. I just feel, this is my home. Pergerakan adalah rumahku. Wadah dimana aku merasa punya sesuatu yang berharga di saat tak ada lagi yang kupunya di sana. Entahlah. Ada rasa yang begitu mendalam saat aku bergabung di pergerakan. Padahal, di pergerakan itu aktivitasnya paling-paling hanya diskusi dan aksi. Tapi, tanpa kusadari, pergerakan punya andil besar dalam membentuk mindset-ku, paradigmaku tentang realitas hidup. Aku jadi lebih mengerti apa yang selama ini terjadi pada masyarakat. Mengapa Indonesia tidak sepernuhnya merdeka, mengapa persoalan-persoalan kemiskinan tak kunjung usai, dan seterusnya. Pergerakan pulalah yang menggiringku untuk menyukai sebagian buku dan menyingkirkan yang lain yang menurutku kurang perlu. Aku mulai selektif dan kritis dalam menerima informasi. Aku mulai belajar apa arti solidaritas. Aku mulai belajar lagi bagaimana menulis buku, dan apa yang mendesak untuk aku tulis.

Seperti tulisan sebelumnya, selama di Jogja memang aku sangat jarang beli buku. Sebab utama tentu keuanganku yang lebih sering kekurangan. Tapi membaca buku selalu menjadi kebutuhan keseharian, sekedar mengisi waktu luang, atau menjadi pelampiasan. Maka, buku-buku temankulah yang jadi sasaran. Ya, membaca bagiku seperti demonstrasi. Ia tak jarang hanya kujadikan latihan dan pelampiasan belaka. Niat menyampaikan penderitaan rakyat serta protes atas kebijakan pemerintah, juga usaha penyadaran pada masyarakat atas sistem yang menindas dan harus dirubah ini, memang ada di sanubariku. Tapi aku cukup tahu soal signifikansi dari gerakan demonstrasi itu sendiri. Apalagi jika hanya dilakukan oleh sekelompok kecil belaka dengan strategi yang konvensional dan tradisional. Demonstrasi tak jarang hanya menjadi ritual pelipur lara saat hati merasa tercabik-cabik merasakan penderitaan rakyat, juga penderitaan diri. Maka, aku berfikir harus ada strategi baru yang harus dilakukan dengan tujuan yang sama tapi dengan signifikansi yang lebih. Aku yakin ada banyak cara untuk itu yang salah satunya adalah menulis buku. Sebab dengan menulis, suara ini bisa terdengar lebih lama, juga lebih jauh.

Tapi, lagi-lagi aku masih dibingungkan dengan tema yang harus aku tulis. Apa yang sesungguhnya penting untuk kutulis? Apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini? Apa yang bisa kutuliskan? Apa yang bisa dan harus kulakukan dengan tulisan-tulisanku jika sudah ada yang kutulis? Itulah pertanyaan yang seringkali muncul. Dan aku belum bisa menjawabnya. Mungkin aku tak perlu menjawab, langsung kerjakan saja apa yang menurutku penting. Tapi sayang, ketika aku memulai mengerjakan sesuatu sebagai jawaban atas pertanyaanku diatas, fikiranku terasa mandeg. Aku hanya kembali membaca, membaca, dan membaca. Belum bisa beranjak lebih jauh dari itu.

Sampai disini aku kesal dengan diriku sendiri yang ternyata belum berdaya. Aku kesal sebab nyatanya aku tak bisa apa-apa selain mengkritik atau bahkan menghujati mereka yang menurutku menambah deretan kaum penindas. Aku ngilu sendiri. Dan di malam ini. Aku terpekur sendirian membacai tulisan-tulisan yang sempat kutorehkan entah sebagai curahan hati atau sebagai propaganda amatiran, dan aku masih malu. Kemampuanku tak sebesar ambisiku. Maafkan aku.

31/07/2012

Tidak ada komentar: