Selasa, 22 Maret 2011

Barito 10; a Shattered Memoir!

Kucoba merajut serpih-serpih pengalamanku denganmu yang tercecer, dan mengikatnya dalam tulisan ini sekenanya. Dalam hal ini khususnya tentang komunitas kita yang kini secara fisik aku tinggalkan.

Barito 10, itulah nama komunitas yang tak pernah kusangka aku memasukinya. Dan tak pernah kusangka pula, dengan cepat, aku memisahkan diri. Meski sesun...gguhnya berbisah itu hanya masalah jarak atau ruang, tapi setiap jarak selalu membawa pengaruh akan kedekatan. Apalagi jika komunitas itu namanya berdasarkan tempat.

Ya, di Barito 10, sebelum aku belajar banyak hal di sana, biarlah aku mengurai bagaimana awalnya, bagaimana pula kelanjutannya.

Ketika aku lulus SMA, aku tak pernah menyangka kalau aku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai mimpiku saat itu. Tapi beberapa orang membuat mimpi itu jadi nyata, meski dalam prosesnya seringkali sangat memuakkan.

Ya, tentu kau tahu siapa-siapa yang kumaksud. Tak usah kusebut satu persatu.

Aku teringat, ketika aku pertama kali memasuki Barito 10. Ada dunia lain di sana. Setidaknya bagiku yang memang minim pergaulan. Dan dunia lain itu, kucoba memahami dengan segenap kesadaranku. Dan melaluinya bersama.

Kau teramat ramah bagiku. Teramat baik pula. Bahkan padaku yang notabene belum kenal sebelumnya. Mungkin setelah aku memasuki komunitas itu, kau langsung menganggapku keluargamu. Baiklah. Aku hargai iktikadmu. Aku berusaha pula untuk berbaik-baik padamu.

Di antara kita yang sebelumnya ada jarak yang begitu jauh, saat itu terasa kabur. Masa lalu tak terlalu penting buat diperdebatkan. Masalalu kita, hanyalah pijakan mengapa kita harus bersama.

Delapan orang. Angkatan kita yang pertama. Aku termasuk angkatan pertama itu. Kedelapan orang itu diklaim begitu saja sebagai santri. Ah, sebutan itu kurasa tak pantas kita sandang. Apalagi aku yang tak pernah menetap secara resmi sebagai alumni Pondok Pesantren.

Kalian bertujuh adalah alumni Madrasah Aliyah (MA), sedangkan aku alumnus SMA. Tentu dalam proses belajar, aku sangat berbeda dengan kalian. Kalian lebih ditekankan pada pengetahuan agama. Sedangkan aku pengetahuan umum. Pengetahuan sosial terutama, karena itu jurusanku. Meskipun aku sebenarnya juga sangat menyukai ilmu pasti. Entah itu Kimia, Fisika, Astronomi, Geologi dsb. Selain itu kalian adalah anak Pesantren, sedangkan aku tidak. Aku hanyalah anak yang tiap hari setelah sekolah harus bekerja. Kadang menggembala kambing, kadang pula bekerja di sawah.

Background kita yang berbeda itulah yang kurasa ada kesenjangan yang begitu jauh di antara kita. Tapi, rupanya sebagian dari kalian tak mempersoalkan hal itu. Aku sangat berterima kasih.
Dan waktu terus berjalan. Menapaki tiap inci kehidupan kita bersama. Kadang membawa sepoi, kadang badai. Kadang mendung, lalu gerimis bermahkota pelangi. Dan pengalaman pergaulan yang kita bina selama ini tak luput pula terhadap terjangan-terjangan badai itu.

Kita masing-masing mempunyai prinsip. Entah kita bisa merumuskan prinsip itu atau tidak. Dan prinsip setiap orang, tentu akan menjadi dasar pijakan orang itu untuk menapakkan kaki. Ada yang berprinsip, yang penting damai. Ada pula yang berprinsip, kalau memang harus konflik, mengapa tidak? Dan lain sebagainya.

Prinsip yang masing-masing kita pegang, pasti akan melahirkan gesekan-gesekan. Dan kita berusaha mencari persamaan kepentingan dari prinsip itu. Persamaan nasib, sama-sama perantau penuntut ilmu misalnya. Tapi terkadang memang ada perbedaan antara kita yang mengharuskan kita untuk berdiri tegak, ngotot, untuk mempertahankan apa yang kita kehendaki. Dan hubungan pun menjadi tegang, renggang. Kita yang mulanya berpadu jadi terpolarisasi secara alami. Itu wajar. Dan gontok-gontokan pun tetaplah kuanggap wajar. Baik hanya dalam hati, lesan, maupun sikap dan perbuatan.

Saat itu, karena ke-kuper-an-ku sebelumnya, aku seolah terseret-seret kemana-mana. Aku tak bisa memahami kalian. Aku tak tahu bagaimana dalam satu keluarga saja sudah sebegini kacau. Yang satu menuduh yang lain amoral, dan yang dituduh menuduh sok suci. Apa yang musti saya lakukan di tengah dua arus yang saling bertentangan ini?

Karena saat itu aku ingin tetap merangkul semuanya, oleh sebagian kalian menganggap aku oportunistis, pengecut. Ya Allah, apakah benar? Aku mengevaluasi diriku. Mungkin ada benarnya tuduhan itu. Dan tak apa, aku memang harus merubah jika sikap itu sangat tidak baik.

Pembelajaran hidup yang sesungguhnya memang terkadang sangatlah pahit. Kita sudah berusaha memperbaiki diri, membenarkan yang salah dari diri kita. Lalu terkadang kita merasa bahwa kita sudah baik, dan yang lain tidak baik dan tidak benar sesuai ajaran yang kita anut. Akhirnya, kita susah menerima “yang lain” itu.

Ilmu yang kita pelajari selama ini, dalam kehidupan seringkali tak bisa diterapkan. Teori terpaksa harus dimentahkan. Kehidupan nyata punya sejarahnya sendiri yang sangat lain dengan dunia ide yang dicekokkan pada kita. Mungkin begitulah yang dapat aku tangkap tentang pembelajaran ini.

Kalian, barangkali akan tertawa mengingat masa lalu yang pernah kita lewati bersama. Mengapa kita begitu tolol saat itu? Membesar-besarkan suatu masalah yang tak penting ketika kita pikir ulang saat ini? Ah, anakronisme itu….

Aku hanya ingin memaparkan secuil memori yang masih sempat aku tangkap. Aku kesulitan mendeteksi dendam dan budi yang yang kita semat hingga sekarang. Tapi mungkin tak terlalu perlu untuk aku ungkap. Ya, baiklah. Pembahasanku kuloncat.

Kita telah dewasa. Atau tengah beranjak dewasa—tak pasti. Dan dalam proses pendewasaan bersama itu, kita pernah menangis, tertawa, bersedih, bercanda dan semua-muanya. Kita terkadang iri dengan masa lalu. Masa yang bahagia dan sengsara. Kenapa dulu kita tidak melakukan hal yang lebih baik menurut kita saat ini? Ah, tak usah berandai-andai atau berkhayal—terutama aku sendiri yang suka berkhayal. Apa yang kita perbuat, bukan untuk kita banggakan atau ratapi. Tak usah terpaku pada masa lalu. Apakah kalian setuju? Jika tidak, ungkapkan padaku. Aku akan coba memahamimu dari sudut yang paling hening dalam diriku. Ah, lebay….

Ya ya… aku terkejut ketika ternyata aku terpental dari Barito 10 sebelum waktunya. Mungkin lebih tepatnya meminggirkan diri, mementalkan diri. Ada sesuatu yang membuatku harus lari. Entah karena meninggalkan sesuatu, atau ingin menggapai sesuatu. Yang jelas, serta merta kuanggap tepat keputusanku ini. Dan senja pun mengiringi perpisahanku denganmu, dengan kalian.

Ada satu hal yang sangat mengganjal di sini yang ingin kuungkapkan juga. Tentang hal yang sejatinya sepele, main-main. Tapi saat itu, mungkin hingga sekarang, kau menganggapnya sangat serius. Tentang ucapanku, tentang puisiku suatu kali untukmu. Kenapa kau tertawa? Ah, kenapa kau menangis malam itu….

Duniaku dulu sebegitu gelap. Berkawan dan berkeluarga yang seharusnya menjadi penerang, ternyata belum mampu juga menerangi kelamnya pandangan batinku. Maka aku pergi. Membawa entah luka entah harap. Membawa tangis akan kegagalanku mengiringimu, dalam keluarga kita.

Itulah sebagian memori dan perenungannya yang sepotong-potong dan tak sistematis masih dapat aku tangkap tentang hubungan kita. Sengaja tak ku tulis tentang angkatan baru—angkatan setelah kita. Juga mereka yang begitu jauh dan begitu penting terhadap kehidupan keluarga kita. Biarlah… mereka punya sejarah sendiri.

Aku ingin mengakhiri kata-kata ini. Semoga kita dapat bertemu kembali di alam damai. Maafkan aku atas semuanya. Terima kasih.

Jakarta, 14-15 Maret 2011
Taufiq

Bersahabat denganmu

Mulanya tentang senja yang kemilau kemerahan. Lalu, “Hidup itu pilihan, dan pilihanku besahabat denganmu adalah pilihan yang tepat.” Itu katamu tempo hari, dengan simbol senyuman. Aku tak mengerti sesungguhnya apa yang kau sampaikan padaku. Tapi, aku mencoba menafsir katamu, dengan segenap ilmu yang kupunya.

Ilmu dalam pergaulan yang aku miliki memang teramat minm. Maklum, aku bukan orang yang pandai bergaul. Jiwa introvert dan inferior kompleksku seakan menghambatku untuk bergaul terlampau jauh dan luas. Aku lebih penyendiri. Tapi aku merasa berhak menafsir kata-katamu itu.

Kata-katamu kumaknai, bahwa kau mengungkapkan sesuatu dengan sadar, dan terikat oleh ruang dan waktu. Aku meragukan kata itu untuk selanjutnya. Mungkin makna kata itu akan cepat berubah setelah sekian waktu dan peristiwa yang kita alami bersama. Entah akan berubah lebih baik atau lebih buruk. Ya, siapa tahu. Ada sebagian manusia yang cepat sekali berubah. Dan kamu barangkali satu dari sekian itu. Meski dalam hal prinsipal, kau tetap bersikukuh terhadap prinsipmu. Aku pun dalam hal ini seperti engkau. Barangkali lebih parah. Tapi, apa toh arti semua itu.

Bersahabat, bagiku adalah suatu hal termulia yang pernah aku lihat. Kita disuruh Tuhan untuk bersahabat terhadap sesama, kukira bukanlah suatu perintah yang main-main. Kita manusia, hendaknya menganggap sesama manusia itu saudara. Jika ada yang tidak kita sukai dengan sebagian kita, entah bertentangan prinsip atau apa, lalu kita jadikan musuh, seharusnya tidak demikian. Sesama manusia tak berhak untuk saling memusuhi. Meski terkadang harus bersebrangan sehingga konflik pun tak bisa dihindari.

Dengan bersahabat, orang akan merasa bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi kejamnya dunia ini. Secara individu, manusia memang kecil. Berat rata-rata 60 kilogram, tinggi 160 cm. Bukankah itu hal yang kecil jika kita bandingkan dengan semesta yang kita naungi?

Ah, barangkali karena itulah, secara sadar, kita memerlukan sahabat. Dan perkataanmu yang memilihku sebagai sahabatmu, kumaknai sebuah iktikad baikmu yang harus aku terima dengan segenap jiwa dan kesadaranku. Jika ternyata kata-kata itu meluber karena sikap dan perilaku kita bertentangan, biarlah kata-katamu itu menjadi saksi, bahwa kita memang pernah beriktikad baik.

Hidup memang seperti senja. Ia indah, tapi fana. Sebentar, setelah senja, malam yang begitu gelap, kelam, akan dibentangkan oleh waktu secara pasti. Aku tak tahu apakah persahabatan kita akan mengalami gelapnya malam. Kalaupun iya, tak apa. Akan ada fajar di ujung sana yang akan kita alami. Semoga kehidupan kita ke depan menjadi lebih baik.

Aku, yang ingin menafsir semua ini, secara sadar menimang ucapmu untuk kujadikan dasar, bukan monumen mati. Aku sangat berbahagia ketika melihat ataupun hanya membayangkan senyummu.

Kutunggu kau diujung senja, di bawah jembatan Lempuyangan. Jogja.


15 Maret 2011

Perenungan


Sang waktu semena-mena mengadiliku ketika kurenungi segala apa yang aku perbuat. Dan aku tak mungkin mengelak. Buat apa? Toh hal itu sudah terjadi?

Aku pun membiarkan. Mungkin inilah satu dari sekian mahkamah keadilan yang masih tersisa. Waktu tak bisa dibohongi, kecuali ingatan kita yang kian lemah, atau mental kita yang mulai tak waras.

Dua puluh dua tahun, kakiku menginjak di pelataran bumi. Harusnya aku mengerti seluk-beluknya. Tapi, mungkin aku terlalu ambisius jika menginginkan hal itu. Karena sesungguhnya, aku bahkan tak tahu apa-apa. Mungkin juga tak berhak untuk tahu.

Sifat yang lazim ada pada setiap manusia: ingin tahu. Selalu begitu! Bahkan keingintahuan itu menjadi salah satu syarat wajib bagi siapa saja yang ingin disebut manusia. Entah kalau orang gila. Mungkin dia kelewat ingin tahu, tapi kemampuannya tak mendukung, sehingga ia gila. Dan aku tak tahu kemampuanku seperti apa demi menopang keingintahuanku yang sebegini besar. Dan aku tak tahu pula apakah aku takut gila atau tidak.

Sejak kecil, ibuku mengajariku akan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masalah. Dengan tindakan-tindakannya. Dengan kasih sayangnya. Bukan dengan omongan-omongannya, karena terkadang aku tak tahan dengan omelan-omelan ibu yang sering kali tak dapat aku tahan. Tapi omelan itulah yang ternyata kini aku rindu. Rasanya, di dunia tanpa omelan, seperti dunia yang beku, dingin, memuakkan. Aku ingin kata-kata yang berapi-api, meski menyambarku dan membuatku berang.

Aku merasa apa yang dilakukan ibuku selama ini terhadapku adalah manifrstasi dari rasa sayangnya padaku yang sangat tulus tanpa tanding. Ah, dunia manusia memang aneh. Orang-orang yang lembut dalam ucap, tak jarang kejam dalam sikap. Begitu pula sebaliknya. Pengalaman mengajarkanku seperti itu sejak aku mulai bisa meraba perasaan manusia, juga perasaan kecilku.

Ketika masa laluku terbentang dalam angan, aku belajar menyadari bahwa apa yang selama ini aku alami, seringkali aku merasa tak siap. Dan keputusan yang aklu lakukan saat itu, kuanggap tolol untuk kunilai saat ini. Memang runyam. Dalam bahasa sejarawan, disebut anakronisme (apa pula itu?).

Wajah-wajah yang aku dapati dari setiap gelombang zaman, kurasa adalah wajah-wajah kegetiran dan kegamangan nasib manusia. Juga nasibku. Mungkin setiap manusia sengaja Tuhan ciptakan seolah diujung tanduk. Manusia diuji seberapa jauh ia dapa mnyeimbangkan diri agar tak terjatuh dalam kubangan, atau tertusuk tanduk itu sendiri.
Apakah aku sudah terpelanting keluar?

Rasa-rasanya sudah berkali-kali aku terjerumus, berkali-kali pula aku mencoba bangkut, atau mencari tanduk baru untuk aku jadikan pijakan kehidupan. Ah, rupanya aku masih dikehendaki untuk tidak terpelanting dari dunia selamanya.

Tentang anganku yang membentang ini, aku mencoba mengejanya kata demi kata, lembar demi lembar. Barangkali ada yang merah, bopeng-bopeng, maafkan. Kekotoran tak selamanya jelek. Dan aku mencoba memahami semua ini dengan pertama-tama memaafkan diri sendiri yang terlanjur goyah, dan tahu tentang secuil dunia, meski masih diperdebatkan kredibilitasku. Salam.

15 Maret 2011

Catatan Jalanan

Kereta yang kutumpangi kemarin, adalah kendaraan yang paling tidak manusiawi dari seluruh kendaraan yang ada. Tapi aku tetap setia menumpang. Tipisnya ongkos tak mengizinkan aku menumpang kendaraan lebih layak.
Empat belas jam, aku berdiri. Kadang duduk di tengah lalu-lalang pedagang asongan. Lalu-lalang pula mereka melangkahiku. Dan aku tak bisa menghindari.
Ketika dulu aku sempat bilang bahwa aku sangat mencintai realita, betapapun pahitnya; sepertinya perkataan itu gugur seketika. Saat hatiku menangis karena terpaksa tertindas, terjepit dalam keramaian kereta Jelata ini. Dan sesungguhnya aku tak bisa menerima.
Mengapa harus ada diskriminasi?
Aku ingin seperti mereka yang menumpang kereta bisnis atau ekonomi. Atau bahkan pesawat terbang. Tapi dari mana ongkos kudapat?
Aku muak dengan keadaan. Aku muak dengan kenyataan. Aku harus merubah semua. Terutama haluanku sendiri.
Ada banyak hal yang mesti manusia lakukan demi mempertahankan hidupnya. Dan aku satu dari sekian manusia yang masih takut mati. Entahlah. Di kereta yang tak manusiawi ini, aku masih ingin bertahan. Meski dalam pengap, dalam sesak….


14 Maret 2011

Pemilwa UIN Suka 2011: Cermin yang Retak Berkali-kali

(Melengkapi Tulisan Sebelumnya)

Pemilwa UIN Suka kali ini kembali rusuh. Puncaknya saat salah satu mahasiswa menjadi korban. Kepalanya bocor. Entah karena jatuh atau kena bacok. Yang jelas saat dia protes tentang pelanggaran yang terjadi dalam proses Pemilwa, ia terlibat adu mulut. Lalu dikejar-kejar. Dikeroyok. Dan darah pun mengalir dari kepalanya.

Dalam sejarahnya, Pemilwa UIN Suka memang selalu panas. Paling tidak, tensi tiap golongan yang ingin menguasai kampus naik, dan meledak.


Pemilwa 2005

Kejadian paling parah selama ini adalah Pemilwa tahun 2005. Di mana bentrokan antar golongan tak terhindarkan. Yaitu antara golongan yang tergabung dalam Koalisi Untuk Perubahan (KUP), dengan Koalisi Bintang Sembilan (KBS).

KUP tidak terima terhadap kebijakan KPU saat itu yang hanya meloloskan calon pasangan tunggal dari KBS. Sementara pasangan calon lain tidak diloloskan.

Awalnya mereka protes pada KPU secara damai. Namun, KPU tetap bergeming. KPU menganggap bahwa pelolosan calon pasangan tunggal itu sudah sesuai prosedur.

Menanggapi kebijakan KPU yang dirasa janggal itu, Partai Solidaritas IAIN (PSI) yang merupakan partai tertua di UIN Suka, mengundurkan diri dari kancah Pemilwa sebagai bentuk protes kekecewaannya. PSI menuding KPU telah meciderai demokrasi sekaligus mengkhianati mahasiswa. Pemilwa 2005 tidak layak untuk diikuti.

Protes KUP berlanjut. Demonstrasi digelar di depan Gedung Rektorat, dengan tuntutan agar Rektorat membubarkan KPU dan membentuk kembali KPU baru yang lepas dari “bau-bau bendera golongan.” Namun, Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) menjawab bahwa Rektorat tidak ingin mencampuri independensi mahasiswa. Agenda Pemilwa pun tetap dilanjutkan. 

Hingga tibalah hari “H” pemilihan presiden, yang memang hanya dari pasangan tunggal. Namun, protes KUP tidak berhenti. Pada hari itu KUP menggelar demonstrasi kembali. Parahnya, KUP merebut kotak suara yang ada di beberapa Fakultas, kemudian menghambur-hamburkan surat suara itu di jalanan.

Pihak KPU tidak terima. Ketika KUP mau menyerbu kotak suara di Fakultas Ushuludin, KPU yang saat itu memang didominasi oleh aktivis PMII, melawan KUP. Maka terjadilah bentrokan massal. Batu, botol-botol dan kursi-kursi, melayang. Satpam tak mampu melerai. Hingga polisi lah yang turun tangan.

Pasca bentrokan tersebut, pada malam hari, kantor Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA dirusak. Kaca-kaca dipecahi. Motor dihancurkan. Para wartawannya diancam agar jangan menerbitkan berita tentang Pemilwa dalam Newsletter-nya: SliLit Arena, kalau tidak mau dibunuh. Maka setelah itu, terbitlah SliLit dengan hanya dua lembar Kertas kosong. Halaman depan hanya diisi Kru Redaksi dan tulisan: “Lembar Putih Ini Menandakan Kelamnya Demokrasi di UIN Suka.” Itu saja.

Pengrusakan tersebut, diduga karena selama itu Arena memang selalu mengkritisi Pemerintahan Mahasiswa. Pemberitaan yang memang panas bagi telinga mereka yang kursi kekuasaannya digoyang.

Situasi saat itu memang benar-benar mencekam. Demokrasi pecah berkeping-keping.

Begitu pula halnya dengan Pemilwa tahun 2007 dan 2009. Kekisruhan kembali terjadi. Namun pada kedua Pemilwa tersebut, masih tergolong damai.


Pemilwa 2011

Pemilwa kali ini kembali geger dengan memakan korban Hammanur (sering dipanggil Hamka), aktivis HMI, yang bocor kepalanya yang kemudian dia dibawa ke rumah sakit Bethesda. Entah apa penyebabnya. Menurut beberapa media Kompas Jogja, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Detik.com dan LPM Arena, ia dibacok. Tapi bukti-bukti yang kuat belum ditemukan, semisal bukti forensik atau bukti visual. Media-media yang memberitakan pembacokan itu, hanya mengungkapkan omongan pihak ketiga dan keberapa. Ini sangat disayangkan. Karena pemberitaan itu, jika tidak benar, tentu akan sangat merugikan almamater UIN Sunan Kalijaga sebagai Kampus Islam.

Namun, jika menelaah tentang proses berjalannya Pemilwa, memang terasa janggal. Tetapi, kejanggalan itu sudah tidak mengherankan lagi. Semisal kejanggalan awal saat Mendagri membuka pendaftaran partai yang dengan persyaratan sangat memberatkan organisasi minoritas. Sampai pada mahasiswa yang mencoblos dua kali di TPS.

Demokratisasi di UIN memang benar-benar tai kucing. Ibarat cermin, demokrasi yang ada saat ini telah pecah berkali-kali, berkeping-keping, hancur lebur. Entah sampai kapan.

Jakarta, 2011

Selasa, 15 Maret 2011

Vonis yang Terlanjur Aku Tulis

Setelah sekian tahun berlalu, aku baru mengerti tentang betapa egoisnya aku. Padahal ada banyak orang-orang yang antre di belakangku, dan aku hanya menyia-nyiakan waktuku belaka dengan bermain-main kesana dan kemari tanpa tujuan yang pasti. Tapi janji terlanjur kuucap, vonis terlanjur aku tulis. Aku tak bisa serta-merta mengundurkan langkahku dari apa yang aku jalankan untuk menyeberangi jembatan ini.

Mungkin inilah berkah yang sekaligus kutukan. Ketika tawa dan tangis berduyun-duyun meminta ruang untuk aku uangkapkan bersamaan. Dan ruangku hanya satu yang penuh sesak oleh perasaan-perasaan lain yang entah darimana datangnya. Dan kesemuanya tak pernah aku mengerti karena mereka datang tanpa permisi; aku sendiri tak pernah mau tahu apa dan siapa sesungguhnya mereka.

Aku tak begitu mengerti mengapa aku tak kunjung tahu apa yang sebenarnya sedang aku lakukan untuk diriku. Aku selalu terlambat tahu. Tapi apa yang kutulis kini telah menjadi prasasti yang butuh untuk kuselesaikan, bukan untuk kutinggalkan, meski aku tahu hal itu sungguh memakan waktu. Dan mereka yang sebenarnya antre di belakangku banyak yang tak sabar menunggu hingga ada beberapa yang putus asa dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Oh Tuhan, dosa apa lagi yang harus aku tanggung demi membayar nyawa mereka yang melayang akibat waktu yang aku sia-siakan.

Jurang yang aku lewati menjadi lebar kembali ketika aku menyatakan untuk menyeberang ulang jembatan lain yang aku bangun. Sementara jembatan lama telah rusak oleh kekejaman hujan, petir, panas, dan oleh ulahku sendiri. Maka biarlah, biarlah aku tanggung semua konsekuensiku sebagai kutukan atas sesuatu yang telah aku lakukan demi memanjakan egoku sendiri. Biarlah aku sendiri yang menanggung beban ini. Entah sebenarnya aku mampu atau tidak, itu urusan lain.

Malam ini begitu dingin; aku membujur kaku saat membayangkan begitu rumitnya kehidupan. Tanah-tanah yang kosong yang dulu belum pernah aku singgahi, kini menyeretku untuk kumasuki; seolah ia rela untuk aku injak-injak tengkuknya. Aku seketika menjadi buas saat mencium aroma tanah itu seperti anjing mencium aroma darah. Dan memang benar, tanah itu kini penuh dengan darah. Darah yang mengalir dari airmata orang-orang lemah yang dulu aku injak-injak. Kemudian darah itu menggumpal seolah ingin membalas dendam padaku. Aku berlari sekeras-kerasnya, tapi darah itu terlanjur masuk lewat setiap pori-poriku dan menguasai seluruh syaraf dan nadiku.

Dan kini, jembatan itu mulai tak tampak lagi tujuannya. Kabut-kabut gelap menyeruak dalam setiap ruang yang aku tatap. Dan waktu yang semakin terlihat keriput kini mengeluarkan taringnya yang selama ini tak pernah kuketahui ternyata ia sangat menakutkan. Aku gemetar. Ingin kuceburkan diriku dari jembatan itu, tapi sekali lagi janji terlanjur aku ucap; vonis terlanjur aku tulis. Aku tak ingin melukai mereka untuk yang kesekian kalinya.

Sleman, 12 Oktober 2010
Taufiq

Pulang....


Gerimis menuntunku pulang. Kaki melangkah tiap tapak dengan amat berat. Seolah meratapi tiap inci jalan yang aku lalui, air mataku berderai. Tuhan, mengapa kau jadikan alamku semelankolis ini?

Ibu menungguku. Mungkin dengan rindu segunung. Atau dengan rasa jengah penuh. Aku pasrah. Aku belajar menerima dan menghadapi kenyataan dengan segala keberanian yang tersisa.

Sejatinya bukan kelalaianku, kalau aku boleh membela. Nasib dan zaman pun tak perlu dicaci dan dikambing hitamkan. Tapi mau apa? Kenyataan telah memojokkan, mempersalahkanku. Dan aku memang harus hadapi. tanpa harus meratapi.

Hujan terlampau deras. Dan jiwaku luluh dalam pelukannya. Remuk! Bolehkan aku kembali? Meminta malamku yang dulu kau janjikan lewat dongengmu?

Duka terkadang menjadi abu. Gersang. Memilih diri menyingkir dari sentuhan embun, gerimis dan hujan. Tapi dukaku tak boleh selamanya menggersang. Ia harus kululuhkan dengan sisa-sisa gerimismu yang kini masih di negeri dongeng. Akan kubentuk ia menjadi monumen. Dan kuberi nama: kebahagiaan.

Ratapan tangisku dulu, hendak aku tenggelamkan dalam lautanmu. Doakan aku bisa. Doakan aku tabah. Doakan aku kuat. Doakan aku rela.

Dan aku pergi menemuimu. Membawa segudang lara yang kupendam. Untuk kujadikan senyuman termanis yang pernah aku perbuat. Dengan air mata.

Aku pulang. Pulang. Pulang....


Jogja, 07 Feb 2011

Jumat, 04 Maret 2011

A ra-aita al-ladzi yukadzdzibu bi al-hub?

Bukan pada Tuhan mereka aku memuja
Bukan pada Tuhan mereka aku menyembah
Bukan pada Tuhan mereka aku menyinta
Tapi hanya padamu, dewiku

Biarlah,
Biarkan orang-orang mengutukiku
Atas nama iman agama yang mereka dewakan
Tapi kau harus yakin
Bahwa Tuhan tak butuh dipuja-disembah-dicinta

Dan cintaku padamu yang melebihi segalanya
Lebih suci dari segala doktrin-iman-agama
Karena cintaku padamu
Adalah Dewa

//A ra-aita al-ladzi yukadzdzibu bi al-hub?//

Barito, 27 Juni 2010

“Di-bawah Pohon Rindang”


Malam itu, setelah dari mana-mana….
Aku berhentikan langkahku di DPR (dibawah pohon rindang). Dan pergi ke arah selatan. Ke tepi lapangan sebelah selatan. Duduk sendiri di situ. Tepatnya di huruf “E” dalam “BONEK” dari rerumputan yang dipangkasi membentuk relief. Menghadap arah utara. Memunggungi gedung Pascasarjana. Melihat luasnya lapangan. Deretan pepohonan. Lalu masjid dan menaranya. Dan gedung Jawa Pos yang megah.

Seperti sepi. Sepi benar. Atau mungkin hatiku yang tengah melayang.

Di bawah abadi ketenangan langit, keteduhan sinar rembulan, semilir sepoi ini membelai hatiku. Menyeretku ke suatu masa yang pernah kulalui di tempat ini bersamamu.

Ada banyak kenangan yang tak pernah terlupa.
Rerumputan yang segar ini, dulu aku bersamamu selalu tak pernah lekang menginjakinya. Juga pepohonan yang rimbun ini, menjadi saksi hidup yang bisu dari beragam aktifitasku denganmu mulai dari hal yang paling bahagia, hingga hal yang seolah mengharuskanku menitikkan air mata.

Aku tersenyum. Tersenyum sendiri—entah senyum apa. Aku teringat ketika kita bergerombol di sini. Berdiskusi, bercandaria, makan bersama, ngrujak bareng, merayakan ultahku atau ultahmu, hingga hal-hal yang tak perlu aku ceritakan di sini. Aku seolah kembali melihatmu yang menurutku setengah sinting. Entah kenapa. Mungkin aku sendiri yang paling sinting. Tapi hal ini tak usah dipikirkan, apalagi diperdebatkan. Semuanya saling memahami. Bahwa memang beginilah hidup. Beginilah realita.

Aku sendiri sesungguhnya sangat mencintai kenyataan, betapa pun pahitnya. Dan saat ini, aku mencoba merasakan tiap lekuk hidupku, dengan sesungguhnya, dengan sepenuhnya.

Aku tarik nafas panjang-panjang. Dan merebahkan tubuh ini beralaskan rerumputan.
Kudengar celotehmu. Kurasai ketulusan sentuhanmu.

Sepoi semakin kencang. Aku kedinginan. Tapi belum kuhiraukan. Karena aku belum meninggalkan jejak. Baiklah, kuambil kertas. Kutuliskan dua-tiga baris kata-kata. Dan kutinggalkan. Tepat di kepala huruf “E”. Jika besuk engkau ke tempat ini, kau akan temukan jejakku. Orang yang mungkin bagimu tidak terlalu penting, tapi ingin selalu mengenangmu.

Kawanku, di sini aku bicara dengan hati—benar-benar dengan hati. Bukan dengan kata-kata tak jelas seperti sebelumnya.

Opik
22 June 2010

Meng-Kuli-kan Diri


Hari ini aku ikut kerja tetanggaku sebagai kuli. Membangun trotoar sepanjang jalan Darmo. Lumayan sakit memang, tetapi pengangguran lebih sakit. Hidup menganggur adalah istilah lain dari parasit. Tiap hari mencecap darah dan tulang orang-orang terdekat. Hingga orang-orang itu sedikit demi sedikit mulai muak. Dan pada akhirnya, penghinaan akan mempecundangi persaudaraan atau persahabatan, entah penghinaan itu secara diam-diam atau terang-terangan.
Itulah yang yang sejatinya aku alami. Teori bahwa meminta bantuan pada manusia akan dihinakan oleh manusia terbukti. Entah itu saudara atau sahabat. Tentu tidak semuanya. Ada beberapa kawan yang mengetahui bagaimana temannya dalam kesusahan sehingga ia memahami dan secara tulus mengulurkan tangan. Untuk yang ini, aku menaruh rasa hormatku setinggi-tingginya. Tapi yang lebih banyak adalah mencibiri. Seperti sampah! Atau terkadang ada juga yang hanya menyindir, meskipun begitu, kau tahu, sangat menyakitkan. Hingga tanpa sadar dendam pun perlahan mulai bertimbulan.

Dan karena tak ingin rasa sakitku berlarut-larut, aku putuskan untuk menempuh jalan yang bagi sebagian orang dianggap sedikit gila ini. Sambil melupakan suatu dendam akibat hinaan yang sejatinya memang pantas aku terima.

Yach, di trotoar ini aku belajar satu hal dari para kuli. Mereka orang susah memang. Tapi bukan berarti mereka tidak bahagia. Ada segi-segi kebahagiaan yang tak kasat mata bagi orang-orang yang merasa dirinya berada di atas menara gading. Ada kebahagiaan model “lain” yang hanya mereka yang dapat merasakannya. Kau boleh bilang, ini hanyalah pembenaran atas jalan hidupku sendiri yang kini menyandang predikat kuli. Tak apa. Tapi aku yakin, jika kau sendiri merasakan bagaimana menjadi seorang kuli, kau tak perlu meratapi hidupmu yang sudah bersahabat dengan penderitaan. Kau tak perlu mempercepat seutas tali menggantung lehermu.

27 juli 2010

Taman Paradoks



Catatan ini lahir dari perut rembulan
dengan jerit sendu mengaduh
atas tikai
antara lirih panggilan Tuhan dan hingar-bingar nafsu

… dan hiruk pikuk manusia-manusia kota
di sebuah taman

semu
dan ia hanya bisa mengintip dibalik rerantingan
sepi
dan luka
ketika nurani meredup dengan mata menutup
dan sinar-sinar yang tak lagi meneduh

ada deru laut yang tak lagi terdengar
ada lonceng humanisme yang parau berdebu
sendirian, menuju liang maut
ada dayu lantunan azan yang koar-koar tak bermakna
“tapi tak usah kau risih kawan, bukankah itu biasa?”

ah, jagad…jagad….
kapan kau menutup usiamu
dan mengubur catatan ini dalam perutmu
agar tak terlalu lama merekam jejakku?

(Di salah satu kursi taman, ketika sinar rembulan tak lagi berani menerangi manusia dengan cahaya teduhnya, melainkan hanya mengintip malu di balik rerantingan pohon-pohon kota. Kulihat wajahnya tersenyum menitikkan air mata. Membuatku tak kuasa melihat diriku sendiri).

Opik
Surabaya, 17 June 2010

Hujan dan Tangisanku

Aku menyukai hujan saat aku keluyuran di tengah jalan. Biarpun basah kuyup, semua orang tak akan pernah mengerti jika di saat itu aku menangis. Aku menyukai hujan saat aku didera kesedihan. Dan menangis di tengah hujan adalah caraku menumpahkan rasa sedihku akan tekanan hidup. 

Langit yang murung, seolah teman setiaku. Hujan yang turun, kurasa lebih pada air mata langit yang tumpah, dan bukan air yang diserap dari laut. Dan mendung, memberi suasana tersendiri yang begitu melankolis, yang membuatku semakin akrab dengannya. 

Aku tak menyangka kalau sahabat terbaikku dalam kesedihan hanyalah hujan. Hujanlah yang seolah-olah selalu menjadi tempat curhatku. Bukan manusia, karena manusia tak mungkin dapat menampung seluruh rasa yang ada dalam hatiku. Dan tiap rintik hujan yang menimpa tubuhku, kurasakan sebagai ungkapan persahabatannya atasku. 

Terima kasih hujan. Terima kasih, kau telah menampung duka dan piluku di tengah dunia yang seolah tak peduli lagi padaku karena ulahku sendiri.
Terima kasih….


Surabaya, 29 May 2010
A Taufiq