Kembali aku membayang masalalu, masa di Surabaya. Khususnya hubunganku dengan buku.
Sampai lulus SMA tak banyak buku-buku yang bisa kubaca. Sebab memang di sekolahku tak ada perpustakaan. Dan beli buku sendiri adalah hal yang tidak mungkin. Sebab selain tidak punya cukup uang, juga bakal kesusahan nyari toko buku. Paling-paling yang ada hanya penjual buku-buku pelajaran. Atau buku-buku tentang ajaran-ajaran islam. Jadi, praktis aksesku terhadap buku-buku itu sangat terbatas. Padahal aku tergolong haus baca. Aku merasa tersiksa sebab ini.
Lulus dari SMA aku memaksakan diri kuliah di Surabaya, di IAIN Sunan Ampel, jurusan Psikologi. Ah, betapa bahagianya rasanya jadi mahasiswa. Apalagi disana tersedia perpustakaan yang menurutku sangat besar. Buku-buku yang tersedia sangat melimpah. Maka, melihat buku-buku itu rasa hausku akan bacaan bakal kulampiaskan disini. Dan benar, hampir tiap hari aku mengunjungi perpustakaan. Bahkan dapat dikatakan sampai lupa bergaul dengan kawan-kawan. Kalau tak ada jam kuliah, bisa dipastikan aku masuk perpustakaan. Untuk baca, baca, baca, atau terkadang nonton film dokumenter. Tak jarang aku dari pagi hingga sore di perpus. Mandi di sini, solat di sini, terkadang tidur (atau tertidur) juga disini. Aku benar-benar menjadi penghuni tetap perpustakaan.
Kegilaanku akan buku itu kian hari kian menjauhkanku dari pergaulan, juga dari kuliahku sendiri. Aku kian sibuk dengan buku-buku yang temanya seringkali tidak ada hubungannya dengan psikolagi. Bahkan aku kian malas untuk belajar psikologi, kecuali psikologi sosial. Mungkin ini disebabkan dosen-dosen yang mengajar psikologi sangat memuakkan. Kaku, tidak menarik, tidak melatih keberanian mahasiswa selain malah memupuk rasa takut, serta membunuh mimpi dan imajinasi. Dan sialnya, itu semua membuatku malas untuk membaca buku-buku psikologi.
Semester dua aku mulai jarang masuk kuliah, dan lebih rajin ke perpustakaan. Tak jarang aku bolos kuliah hanya gara-gara membaca buku di perpus. Bagiku, itu lebih menarik saat itu. Aku merasa lebih mendapat ilmu disana, dan buku-buku adalah guruku. Maka, praktis kuliahku mulai kacau, tapi aku abai. Entahlah, waktu itu aku tak berfikir panjang. Aku hanya ingin melampiaskan hasrat bacaku. Sebab di buku, aku mulai merajut mimpi, dan mimpi itu jadi semakin jelas rasanya. Hal yang sungguh tak kudapatkan di kelas psikologi.
Itulah awal perjumpaanku secara lebih intens dengan buku.
29/07/12
Sampai lulus SMA tak banyak buku-buku yang bisa kubaca. Sebab memang di sekolahku tak ada perpustakaan. Dan beli buku sendiri adalah hal yang tidak mungkin. Sebab selain tidak punya cukup uang, juga bakal kesusahan nyari toko buku. Paling-paling yang ada hanya penjual buku-buku pelajaran. Atau buku-buku tentang ajaran-ajaran islam. Jadi, praktis aksesku terhadap buku-buku itu sangat terbatas. Padahal aku tergolong haus baca. Aku merasa tersiksa sebab ini.
Lulus dari SMA aku memaksakan diri kuliah di Surabaya, di IAIN Sunan Ampel, jurusan Psikologi. Ah, betapa bahagianya rasanya jadi mahasiswa. Apalagi disana tersedia perpustakaan yang menurutku sangat besar. Buku-buku yang tersedia sangat melimpah. Maka, melihat buku-buku itu rasa hausku akan bacaan bakal kulampiaskan disini. Dan benar, hampir tiap hari aku mengunjungi perpustakaan. Bahkan dapat dikatakan sampai lupa bergaul dengan kawan-kawan. Kalau tak ada jam kuliah, bisa dipastikan aku masuk perpustakaan. Untuk baca, baca, baca, atau terkadang nonton film dokumenter. Tak jarang aku dari pagi hingga sore di perpus. Mandi di sini, solat di sini, terkadang tidur (atau tertidur) juga disini. Aku benar-benar menjadi penghuni tetap perpustakaan.
Kegilaanku akan buku itu kian hari kian menjauhkanku dari pergaulan, juga dari kuliahku sendiri. Aku kian sibuk dengan buku-buku yang temanya seringkali tidak ada hubungannya dengan psikolagi. Bahkan aku kian malas untuk belajar psikologi, kecuali psikologi sosial. Mungkin ini disebabkan dosen-dosen yang mengajar psikologi sangat memuakkan. Kaku, tidak menarik, tidak melatih keberanian mahasiswa selain malah memupuk rasa takut, serta membunuh mimpi dan imajinasi. Dan sialnya, itu semua membuatku malas untuk membaca buku-buku psikologi.
Semester dua aku mulai jarang masuk kuliah, dan lebih rajin ke perpustakaan. Tak jarang aku bolos kuliah hanya gara-gara membaca buku di perpus. Bagiku, itu lebih menarik saat itu. Aku merasa lebih mendapat ilmu disana, dan buku-buku adalah guruku. Maka, praktis kuliahku mulai kacau, tapi aku abai. Entahlah, waktu itu aku tak berfikir panjang. Aku hanya ingin melampiaskan hasrat bacaku. Sebab di buku, aku mulai merajut mimpi, dan mimpi itu jadi semakin jelas rasanya. Hal yang sungguh tak kudapatkan di kelas psikologi.
Itulah awal perjumpaanku secara lebih intens dengan buku.
29/07/12
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar