Kita tak mesti begini, aku tau maksud dan maumu. Lupakan.
Segalanya terlanjur lebur menjadi lempung. Dan hujan terus mendera, petir terus
menyerbu, badai tak usai-usai. Biarkan aku terdiam dulu. Dan menikmati tikaman
sepi. Juga gelap yang datang. Gigil dalam pekat barangkali mampu membunuh bara
dalam dadaku. Lalu biarkan aku jadi beku. Tak usah risau, tak selamanya tujuan
dan jalan kita sama. Dan tak usah terlalu berharap bahwa esok kita akan
bersama. Sebab harapan, selain menghidupi, juga memenjara. Dan kau, juga aku,
tak pernah mau terpenjara kecuali oleh hati masing-masing.
Aku teringat dalam gerimis dulu saat kau bilang sesuatu
yang tak jua kumengerti, dan selamanya
mungkin tak dapat kumengerti. Lalu kuanggap ketidakmengertian adalah hal yang
wajar, dari hati yang tak sama, dan tak pernah sama. Tapi bukankah kita
seiring?, tanyamu. Iya, dan iringan tak mesti menyertakan hati, dan tak jua
pasti memahami.
Hidup memang tak sepelik yang sempat kita ributkan dulu.
Cuma jalan hidup ini kadang tak mampu kita tangkap maksudnya secara utuh. Dan
kita sempat tertawa dalam hal ini. Juga tawa kita yang sesumbang itu, tak
sempat kuingat. Ego kadang menelanjangi kita dari baju kemanusiaan menjadi
binatang kembali. Lupakah kau soal yang dikatakan kakek tua dulu dalam lintasan
kendaraan yang lalu lalang tak jelas arah tapi kosong?
Ya, ya, sudahlah. Aku hanya ingin diam. Dan tak mau
mengabarkan padamu soal rasaku yang terdalam. Sebab dalam kemunafikanku, aku
juga toh masih mengharapkanmu. Sedalam-dalam harapan.
.jpg)