Sabtu, 19 Januari 2013

19 Januari 2013


Kita tak mesti begini, aku tau maksud dan maumu. Lupakan. Segalanya terlanjur lebur menjadi lempung. Dan hujan terus mendera, petir terus menyerbu, badai tak usai-usai. Biarkan aku terdiam dulu. Dan menikmati tikaman sepi. Juga gelap yang datang. Gigil dalam pekat barangkali mampu membunuh bara dalam dadaku. Lalu biarkan aku jadi beku. Tak usah risau, tak selamanya tujuan dan jalan kita sama. Dan tak usah terlalu berharap bahwa esok kita akan bersama. Sebab harapan, selain menghidupi, juga memenjara. Dan kau, juga aku, tak pernah mau terpenjara kecuali oleh hati masing-masing.

Aku teringat dalam gerimis dulu saat kau bilang sesuatu yang  tak jua kumengerti, dan selamanya mungkin tak dapat kumengerti. Lalu kuanggap ketidakmengertian adalah hal yang wajar, dari hati yang tak sama, dan tak pernah sama. Tapi bukankah kita seiring?, tanyamu. Iya, dan iringan tak mesti menyertakan hati, dan tak jua pasti memahami.

Hidup memang tak sepelik yang sempat kita ributkan dulu. Cuma jalan hidup ini kadang tak mampu kita tangkap maksudnya secara utuh. Dan kita sempat tertawa dalam hal ini. Juga tawa kita yang sesumbang itu, tak sempat kuingat. Ego kadang menelanjangi kita dari baju kemanusiaan menjadi binatang kembali. Lupakah kau soal yang dikatakan kakek tua dulu dalam lintasan kendaraan yang lalu lalang tak jelas arah tapi kosong?

Ya, ya, sudahlah. Aku hanya ingin diam. Dan tak mau mengabarkan padamu soal rasaku yang terdalam. Sebab dalam kemunafikanku, aku juga toh masih mengharapkanmu. Sedalam-dalam harapan.