Jumat, 15 Oktober 2010

Fragmen Tepi Sungai

Malam membawa tubuhku terbujur di tepi sungai Kalimas. Tempat para tukang becak menyegarkan kembali tubuhnya yang basah-kuyup oleh keringat. Dan ikan-ikan kecil yang berkecipak di sela-sela bebatuan itu membuat hatiku terasa tenteram. Merasakan adanya energi yang mereka bagikan padaku.

Aku teringat masa lalu ketika kita bersama-sama memancing di sini. Kau barangkai masih ingat ketika kau mengejekku saat pertama kali yang kudapat dalam memancing itu bukan ikan, tetapi sepatu. Dan sepatu itu kulemparkan padamu hingga cairan yang berbau busuk itu mengguyur tubuhmu. Dan kau lari mengejarku untuk membalas. Dengan mudah kau mampu mendapatkanku karena aku memang aku lebih kecil darimu. Dan menceburkanku dalam sungai. Aku kelelap karena tak bisa berenang. Dan kau menolongku. Merelakan baju-celanamu basah kuyup bersama uangmu yang ada dalam saku.

Selanjutnya, kau pun mengajariku berenang. Kau kasih tahu aku tentang apa yang aku lakukan dengan tangan dan kakiku hingga sedetail-detailnya. Tapi aku masih susah untuk berenang. Hingga kau suruh aku memakan udang yang masih hidup. Katamu, dengan memakan udang, aku akan bisa cepat berenang dengan lincah. Aku menurut padamu. Aku sudah tak peduli lagi. Mungkin saat itu kau mempermainkanku karena jengkel padaku yang tak cepat-cebat bisa. Tapi kau tahu, setelah memakan udang itu, aku merasa ada energi lebih yang seolah selalu menyuruhku berenang tanpa kenal lelah. Tak pagi, tak siang, tak sore, tak malam. Aku berlatih berenang tak kenal waktu hingga seringkali aku kena damprat oleh orang tuaku. Dan kau selalu tertawa ketika kau kuceritai bagaimana aku dihukum ibu atau ayahku.

Setelah seminggu, tanpa kusadari rupanya aku pandai berenang. Aku sangat bahagia. Saat itu, aku menganggap bahwa apa yang kau suruhkan padaku untuk memakan udang itu adalah suatu resep yang sangat manjur agar seseorang bisa secara singkat pandai berenang. Aku bahkan bercerita padamu bahwa aku kini mampu menyeberangi sungai yang lebar itu dalam hitungan detik. Tapi saat itu kau hanya tersenyum sedikit. Dan dalam senyummu itu, kutemukan kegetiran yang kau tak mampu menutupi karena mungkin kegetiran yang kau alami tak sebanding dengan energi yang kau punya untuk membendungnya.

Semenjak itu, kau selalu murung dan malas berenang denganku meski aku memaksamu. Kau, entah kenapa, hanya duduk diam di tepi sungai tiap sore, dan hanya kadangkala melempar batu-batu kecil yang ada di sampingmu. Seolah ada yang ingin kau lepaskan dari dalam dirimu. Seolah ada sesuatu yang harus kaulempar bersama batu-batu kecil yang kau layangkan itu.

oleh Taufeeq Faiz pada 12 Oktober 2010 jam 2:20

Selasa, 28 September 2010

Jejak


Mencoba mengenali tiap jengkal kehidupan
terang dan kelamnya
padi dan ilalangnya
gurun dan oasenya
duri dan bunganya
pahit dan manisnya

mencoba bercerita dengan rendah hati
tahu lebih dulu bahwa pengalihan fakta ke kata pada hakikatnya akan gagal
tahu lebih dulu bahwa pengalihan kata ke makna hanya berjuta persepsi tinggal

fakta kabur entah kemana
dan makna tak lagi mau berlindung dalam ketiak kata
makna yang menghambar

tapi aku akan tetap bercerita
meski satu ayat yang kupunya
dengarlah dengan hati
karena bunga hakikatnya ada di mana-mana
termasuk di lidah-lidah para pecundang

taufeeq
Jakarta
29 September 2010

Di situlah aku menantimu!

Engkau telah mengajariku bagaimana memahat sejarah
Lewat nyanyian merdu yang tiap senja kaudendang
Lewat tatapan mata, untaian kata dan tarian pena
Tapi aku belum mengerti bahasamu

Engkau menabuh lonceng
Menulis prasasti
Menghimpun serakan patung-patung yang kemarin kau cipta dengan benjolan sana-sini yang ternyata lebur hanya oleh angin malam yang datang tiba-tiba
Engkau menghentak bumi
Menawarkan idealisme dan realisme
Tapi aku belum mengerti bahasamu

Selama kutub kita bersebarangan
Dan arah yang tak pernah menuju satu titik

Ada sekian persepsi yang melahirkan kontroversi tapi bukan berarti harus kita adili

Dan warna-warna
Tak pernah memaksa berseragam

Dan hatiku dan hatimu yang selalu bersisipan
Membuat diri harus belajar arti sabar dan menerima
Bahwa hijaumu dan merahku, tak lebih dari bulu-bulu yang bertebaran entah kemana
Meski yakinku Satu
Grafitasi selalu ada—selalu menang

Di situlah aku menantimu!


Barito 11 Juli 2010
A Taufeq

Senin, 27 September 2010

Sejarah Utopis itu Bernama Republik Damai

Aku ingin menulis sejarah. Tapi bukan tentang perebutan kekuasaan. Bukan tentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan pula tentang peperangan dan darah.

Aku ingin menulis sejarah. Tentang sebuah negeri yang damai sentosa. Tentang keadilan dan kemanusiaan yang dijunjung setinggi langit. Tentang perdamaian abadi. Dan sejarah itu akan kuberi judul: Republik Damai.

Aku teringat akan perkataan Ben Anderson tentang imagined community. Tapi bukan berarti aku ingin memaparkannya. Aku hanya ingin membuat frasa lain yang sedikit mirip. Ia bernama Imagined History. Dilihat dari frasanya saja sudah kontradiktif. Tapi aku tetap ingin mengabadikannya. Dalam bentuk buku-buku. Atau prasasti-prasasti. Agar generasiku tahu, bahwa leluhurnya pernah membayangkan sebuah cita-cita yang akan dibangun secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Agar generasiku tahu, bahwa leluhurnya memberikan tongkat estafet padanya yang berbentuk sebuah harapan yang disandarkan di pundaknya.

Berlembar-lembar kertas aku persiapkan di atas mejaku. Rencananya tulisan itu sangat panjang. Akan memenuhi perpustakaan standar dunia. Dan pulpen yang ada di tangan sejak tadi mulai mencoret-coret lembar kertas yang pertama aku ambil. Tertulislah awal paragraph.
“Republik Damai adalah sebuah negeri yang….”

Macet. Entah kenapa tiba-tiba pulpenku berhenti seiring bayanganku tentang republic itu terbentur kenyataan. Aku tak habis pikir. Imagined History yang ingin aku abadikan melebur begitu saja dalam angan-angan kelam. Selebihnya kosong. Dan dalam kekosongan itu muncul beragam kenyataan yang mengerikan.

Berjuta janji palsu, intrik-intrik para politisi yang lebih mirip tikus berebut pindang, KKN merajalela dan sampah dalam arti konotatif maupun denotative, yang kesemuanya itu membuatku muak.

Aku palingkan mukaku dari kertas. Menghadap tanah. Tanah yang haus darah para pejuang sewaktu merebut dari tangn penjajah. Hatiku ngilu.

Repulik Damai yang ingin kuabadikan itu, sebatas utopia. Sayang, utopia tempatnya bukan di dunia kita, dunia para muggle dengan segala sayap dan akarnya.

Tapi, apakah utopia itu sama sekali tak ada gunanya?

Sesungguhnya, setiap orang berhak untuk berandai-andai. Meski itu tak dapat dikategorikan sebagai Sejarah. Karena memang belum ada yang namanya Sejarah Andai-Andai. Tapi aku tetap memaksa.


Taufeeq
Jakarta 27 September 2010

Badai Kehidupan

Ia percaya bahwa hujan ternyata bisa turun tanpa didahului mendung. Titik-titik air yang membuat hati menjadi tenteram itu kini menjumpainya. Dan ia membiarkannya menggenang dan mengalir. Sampai pada sebuah muara yang ia beri nama sendiri: kebahagiaan.

Ia sedang bahagia. Hujan lebih dulu datang sebelum ia melihat galau awan. Pelangi-pelangi turut memperindah cakrawala hidupnya. Entahlah, semenjak ia mampu merasakan cinta, ia tak begitu mengerti mengapa hatinya begitu bahagia.

Tapi rupanya tak ada satu hal pun di dunia ini yang tak berubah. Begitu pula halnya dengan apa yang ia rasakan. Tsunami kebahagiaan yang dulu meluap-luap hingga pantai-pantai hatinya kini terasa hambar. Padam dengan riba-tiba oleh sesuatu yang ia sendiri tak begitu mengerti. Mungkin hujan tak turun lagi. Mungkin mendung mulai berdatangan bersama petir-petir yang haus darah manusia. Tapi ia tak begitu yakin. Yang ia yakini hanya satu: ia sedang galau.

“Ah, inikan yang orang-orang sebut Badai?” renungnya dalam hati.
Dan benar, dilihat dari kedahsyatannya, itu memang badai. Hanya saja badai itu tak pernah tampak nyata meski ia sangat bisa merasakannya.

Barangkali, dalam setiap liku jalan hidup, selalu saja ada yang bernama badai. Sebetulnya ia ingin abaikan saja badai itu, tapi tak pernah bisa. Badai selalu hadir menyapa. Badai memang harus dihadapi, entah dengan lemah lembut, atau dengan perang. Itu hanya cara. Yang terpenting ialah, badai memang harus dihadapi, bukan dihindari.

Kawanku....

Kawanku, padamu aku ingin menyandarkan wajahku pada bahumu, kala titik-titik airmataku tak lagi mampu kubendung. Aku ingin kau menenangkanku saat jiwaku semakin terguncang oleh coretan-coretan kelam yang memenuhi kanvas sejarah manusia. Dan itu tampak nyara di depan mataku.

Sesungguhnya sudah lama sekali aku ingin lari dari dunia. Tapi kemana? Aku masih takut mati. Takut doktrin-doktrin yang diajarkan para kiyai tentang kematian yang katanya sangat menyakitkan. Dan doktrin-doktrin menakutkan itu terlanjur merasuki seluruh syaraf otakku. Lagi pula, lari dari dunia adalah istilah lain dari rasa putus asa, adalah istilah lain dari pengingkaran terhadap segala karunia. Pernah aku berhari-hari menenggelamkan diriku dalam dunia khayalan, dunia yang kuciptakan sendiri dari gelembung-gelembung utopia yang bertebaran dalam otakku. Tapi dunia itu dengan mudah sekali hancur saat aku terbentur sebuah kenyataan yang sulit untuk aku terima.

Mungkin kau pernah memergokiku berhari-hari di depan computer. Entah nonton film, dengerin music, baca-baca, atau menulis sesuatu. Yang pasti, semua itu kulalukan agar aku melupakan kengerian kehidupan yang menghantuiku. Tapi sayang, semakin aku lari, semakin aku dikejar-kejar. Aku sudah tak tahan.

Kawanku, aku ingin kau membantuku menenangkan diri. Aku ingin kau membuatku merasa tak pernah ketakutan menatap wajah dunia. Maaf, jika masih bergantung denganmu. Tanpamu, aku merasa tidak ada.

Aku masih mengingatmu!

Namamu barangkali sudah pudar dari memoriku. Entahlah. Rupanya, setelah dulu aku sangat ketakutan karena tak bisa melupakanmu, kini rasanya menjadi lain. Mungkin aku sudah bosan, mungkin kau bertindak sesuatu agar aku bisa dengan mudah melupakanmu, atau mungkin juga fikiranku mulai menerima bahwa dunia memang tak selebar daun kelor. Aku tak begitu tahu. Yang aku tahu, ternyata aku bisa dengan rela menghapus namamu sedikit demi sedikit. Tak bisa langsung memang. Tapi bukankah hidup ini adalah sebuah proses, seperti perkenalanku denganmu?

Bagiku, kau memang memabukkan. Mata yang seharusnya mampu menangkap keindahan secara riil ini seolah menjadi rabun. Lebih dari itu, hati yang seharusnya mampu menangkap sekian hikmah dari elemen hidup ini tertutup olehmu. Di fikiranku yang ada hanya kau, kau, dan kau. Sempat aku berfikir, apakah aku menjadi gila? Ternyata kata orang-orang: tidak! Cinta memang membuat orang seolah menjadi gila. Dan kaulah orang yang pertamakali membuatku sedikit mengerti tentang arti mencintai.

Namun, tak sepenuhnya aku ingin menghapus namamu—karena memang tak bisa. Dan tulisan ini adalah satu dari sekian bukti bahwa kau masih terpatri dalam hatiku. Eksistensimu, bagiku masih ada meski tidak dominan seperti dulu. Kuharap kau mengerti. Kuharap kau memahami. Seperti halnya aku berusaha memahamimu, memahami jalanmu. Setiap orang punya sikap, punya jalan yang tak seorangpun berhak memaksakan. Meski akhirnya sikap dan pilihan itu akan berujung penyesalan.


Jakarta Selatan

taufeeq
Catatan ringkas yang terselip dalam memori masa SMA.

Sabtu, 25 September 2010

Pulkam (sebuah catatan jalanan)

SB Turi

Hujan. Dengan berbagai proses yang membuat dadakku sesak, aku sampai di pintu gerbong paling belakang kereta jelata. Aku duduk merenung, seperti biasa.

Kereta berangkat. Aku menekuri jejak lindasan roda kereta. Aku tak mau peduli pada orang-orang yang ada dalam gerbong. Entah penumpang, entah pedagang asong. Aku sudah jemu melihat ketidak-adilan dan penindasan. Aku bosan melihat rintihan para jelata. Melihat gerak-gerik mereka membuat jiwaku tersiksa, yang pasti hanya berujung pengutukanku pada pemerintah, bahkan pada takdir Tuhan. Yups, hanya mengutuk. Tak lebih. Tentang nasib mereka, tentang nasibku sendiri. Aku tak mau lagi melihat kenyataan. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku dalam khayalan.

Tapi petugas pemeriksa karcis membuyarkan khayalanku. Kuserahkan karcis yang kubeli tigaribu dengan berdiri antre 15m dua jam lalu. Dan di belakangnya kulihat nenek tua menjual nasi, kripik tempe, tahu, kacang…. Aku tak membeli. Aku hanya tersenyum menggeleng. Aku tak punya cukup uang untuk membeli. Akhirnya ia pergi.

Sawah berlarian. Juga pohon-pohon, semak belukar, sampah, dan masa laluku yang terpahat dalam memori yang seolah abadi. Dan aku tertidur, tenggelam dalam bayanganku.

Pucuk!


Kereta kembali berjalan. Aku tersadar bahwa aku sudah sampai separo perjalanan. Dan kemiskinan itu, penindasan itu, ketidak-adilan itu tetap mnyiksa jiwaku. Dan aku tak berdaya. Tapi, akankah aku terus tak berdaya menerima kenyataan dan mengubahnya?

Masa lalu adalah mimpi gelap yang terlewati. Masa depan adalah misteri yang belum tentu ada. Dan masa kini adalah karunia bagi setiap orang. Ya, tentu setiap orang tahu bahwa dibalik karunia selalu ada kutukan. Semacam konsekuensi dari karunia. Dan aku memang seperti orang yang mengangkangi dua hal itu. Karunia sekaligus kutukan. Tapi aku tak mengerti arti kedua-duanya.

Dan semak-belukar itu mengacak-acak lamunanku kembali. Ia memanggil-manggil meminta perhatian. Tapi bukan padanya perhatianku tertuju. Aku sibuk dengan khayalanku sendiri. Tentang ilusi-ilusi yang menjelma sebuah kehidupan bermasyarakat nan damai sejahtera. Utopis!

Tapi bukankah ada hal-hal yang dapat dipetik manfaatnya dari setiap utopia?

Bojonegoro!


Akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa hidup selalu berakhir. Entah manis, entah tragis; tergantung nasib. Dan nasibku kini seolah menggantung dan melayang terbang bersama khayalanku yang tak jelas arahnya. Mungkin menuju Tuhan, mungkin pula menuju setan—yang keduanya sama-sama tidak kelihatan.

Dan kaki ini terus melakukan tugasnya membawa tubuhku memasuki labirin perkampungan. Tak terasa airmataku bertumpah, melihat gersang tanahku, gersang jiwaku.


Surabaya-Jakarta
26 September 2010

Taufeeq

Jumat, 24 September 2010

(untitled)

Ia menangisi gundukan tanah tempat ibunya dikuburkan setelah setahun yang lalu pergi ke alam jauh. Ia ingin ibunya mendengarkan keluh-kesahnya seperti dulu waktu kecil. Ia ingin dielus kepalanya dengan kasih sayang. Ia ingin meminta ibunya menceritakan hal-hal yang membuatnya kembali tenang dan tidur nyeyak setelah seharian bergejolak. Tapi kini hal itu tidak akan ia dapatkan kembali.

Ia memeluk batu nisannya. Meneteskan air mata. Menjerit dalam hati. Menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada. Tentang cita-cita yang gagal untuk ia capai. Tentang mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan. Tentang cinta sejati yang tak pernah ia temui. Dan ia tahu, tak mungkin ada jawaban lagi seperti dulu.

“Baiklah ibu, aku kembali. Doakan aku bahagia, sebagaimana kudo’akan kau agar bahagia selalu di sana” pamitnya disaksikan dedaunan yang berguguran. Seolah ibunyalah yang menaburkan dedaunan itu. Dan daun-daun yang menimpa punggungnya ia rasakan seperti sentuhan tangan ibu dengan penuh kelembutan. Dan hatinya kembali tenang.

Mendung yang menutup matahari kini menurunkan gerimisnya. Mengiringinya pulang dari makam. Membasahi rambut dan punggungnya. Dan ia tidak berlari seperti biasanya. Lari karena takut basah. Ia mencoba meresapi tiap titik gerimis yang menimpa. Titik gerimis yang menembus pori-pori, darah-daging, dan menyentuh hati.

Mungkin, beginilah realita. Realita akan terasa indah jika benar-benar dinikmati tiap lekuk-relungnya. Dan ia kini benar-benar menikmati tiap lekuk hidupnya.

Ia bahagia. Ia sangat bahagia di perjalanan itu. Ia tak lagi merasakan sakit pada kakinya oleh kerikil-kerikil yang berhamburan. Ia tak lagi merasakan hatinya yang berlubang-lubang. Ia sangat tenang.

Tapi petir datang menyambarnya di tengah jalan. Membuatnya dengan sekejap menyusul ibunya….


Surabaya, 23 June 2010
a. taufeq

Genjer-genjer

Kejadian ini sudah lama—beberapa tahun yang lalu, di Jakarta. Pada mulanya adalah ketidaksengajaan. Kutemukan lagu itu waktu mencari sesuatu yang berbau kiri di Youtube. Aku dengarkan lagunya—dengan sabar. Aneh, asing. Aku mengalami déjà vu. Padahal aku belum pernah mendengar sebelumnya. Aku mencoba meresapi lagu itu. Sepertinya bahasa jawa—tapi sekilas aku tak faham, padahal aku orang jawa. Dan benar, setelah kucari-cari keterangan tentang lagu itu di internet, lagu itu pernah dilarang oleh rezim Orba karena dianggap trademark PKI. Tapi aku tak ingin membahas tentang itu.

Aku cermati baik-baik tiap bait lagu itu. Menurutku, isinya tidak berbahaya. Ia hanya menceritakan tentang gulma, namanya rumput genjer-genjer, biasanya mengganggu tanaman padi—setahuku di kampung. Dan gulma itu diambil oleh orang-orang desa untuk dijual atau dimasak. Itu saja. Tak lebih. Barangkali karena saking melaratnya orang-orang desa sehingga tidak mampu membeli lauk-pauk. Dan genjer-genjer dijadikan alternatif. Ya, mungkin lagu ini semacam pembelaan terhadap orang susah dengan menunjukkan kepedihan realita. Pada pemerintah tentunya.

Waktu itu bulan ramadhan. Malam hari, aku selalu mendengarkan lagu itu. Tak puas-puas. Yang aku dengarkan adalah versi Bing Slamet. Seperti yang ada dalam soundtrack film Gie, produksi Miles yang sempat tenar beberapa tahun lalu. Aku menyukainya. Aku bahkan terlarut dalam setiap bait lagu itu.
Dari bait pertama, akulah seolah-olah orang yang memetik gulma itu. Aku juga si Tole. Aku yang menjual dan memasaknya. Entahlah, mendengar lagu itu, aku merasa pulang kampung. Aku kembali bergelut dengan padi seperti waktu kecil. Aku mencerabuti gulma-gulma yang mengganggunya. Sambil bermain rumput dan ikan-ikanan pastinya. He he….

Dan sampai saat ini, aku masih suka mendengar lagu itu. Indah. Mungkin kau bilang aku simpatisan PKI sehingga menganggap lagu itu indah. Tak pa-pa. Toh tak terpengaruh juga dengan perasaanku. Ini bukan urusan politik—praktis. This…, just music! Aku benci politik. Seperti aku membenci Mie goreng—instan. Mereka berdua sama-sama membuatku muak. Dulu memang aku suka, tapi tidak sekarang. Mungkin nanti bisa berubah suka kembali. Tapi rasa-rasanya, sangat mungkin kemungkinannya.

Ada lagi satu kejadian. Menurutku aneh. Waktu di kampung, saya main gitar-gitaran sama seorang sahabat, Sifa’ namanya. Dan kebetulan kami menyanyi lagu Genjer-genjer, e e, ternyata dimarahi oleh orang-orang tua yang dengar. MasyaAllah. Betapa suksesnya indoktrinasi Soeharto dalam meracuni masyarakat.

Sampai di sini aku kehilangan ide mau menulis apa. Ya sudah. Saya akhiri saja tulisan ini. Gitu aja kok repot!

Oia, hampir lupa, saya rekomendasikan lagu itu buat kalian yang mau mendengar. Dan selamilah maknanya. Jika kau tak temukan keindahan di situ, kau sendiri yang harus membentuk keindahan itu. Bukankan memang begitu sejak dulu?

Surabaya, 15 Juli 2010
A taufeeq

Harapan Baru

Sengat panas matahari kota ini mulai turun. Jam dinding stasiun menunjukkan angka setengah empat, tanda kereta kereta api yang akan kutumpangi ini segera berangkat. Dan benar, masinis mulai menyalakan mesinnya. Terdengar berdesing-bising beriringan dengan bunyi sirine. Dan imbauan dari petugas stasiun lewat mikropon mulai berkoar-koar. Aku pun segera naik. Berebutan tempat dengan para penumpang lain. Maklum, ini kereta rakyat jelata.

Perlahan kereta ini mulai berjalan. Aku mencari-cari tempat duduk yang kosong. Ternyata tidak ada. Semua kursi penuh. Akhirnya aku duduk tepat di tengah pintu, di gerbong paling belakang. Kugelar koran bekas sebagai alas dudukku. Aku menghadap ke belakang sambil tanganku berpegangan pada gagang pintu. Kulihat rumah-rumah seolah berjalan menjauh dariku. Dan rel yang memanjang, seolah ia adalah jejakku. Jejak yang kutinggalkan untuk sebuah tempat yang kutuju. Aku seperti ditarik dari masa lampau, dan sepertinya aku tak rela sehingga kuperlukan untuk menengoknya, melambaikan tangan. Ah bayangan itu….

Di kota ini, keberadaanku seperti tak ada gunanya. Aku seperti tercampakkan dari laju kehidupan. Aku lebih mirip dengan parasit yang meng menghisap “darah-tulang” teman-temanku. Aku seperti sampah. Tak ada gunanya selain menyebar kebusukan ke setiap tempat di mana aku berpijak. Dan aku tak ingin hal itu terus berlanjut. Karena semua itulah, aku memutuskan pergi. Semoga keputusan ini adalah yang terbaik.
Aku ingin memulai sebuah kehidupan baru. Tapi bukan di kota ini—kota ini telah membuatku seperti terbuang percuma. Aku ingin suasana baru di mana aku akan memperbaiki segala hal yang pernah aku lakukan di masa lampau. Ini bukan sebuah pelarian dari masalah. Tapi lebih pada mencari pengharapan setelah harapan masa lampau kocar-kacir.

Stasiun demi stasiun terlewati. Entah berapa stasiun, aku tak menghitungnya secara rinci. Yang jelas, hari sudah mulai gelap. Malam seolah datang begitu saja tanpa permisi. Aku mulai kedinginan karena angin. Dan aku pakai jaketku yang sedari tadi hanya tersampir di bahuku. Ada pedagang asongan datang. Kopi kopi kopi, katanya. Aku membelinya. Aku memang penyuka kopi kelas berat. Tapi rokok tidak. Aku benci rokok. Seringkali aku mengumpat-umpat jika kulihat orang merokok di tempat umum. Tapi hanya dalam hati tentu. Seperti seorang lelaki yang ada di dekatku, waktu ia menatapku dan menawarkan rokoknya, aku hanya tersenyum mengangguk. Meski dalam hatiku mengumpat.

Suhu udara semakin dingin. Sambil menyeruput kopi, kurangkai sedikit demi sedikit ingatanku atas semua yang kulakukan di kota yang aku tinggalkan. Kurangkai setiap kesalahan-kesalahan yang menjadikan impianku waktu SMA kocar-kacir karena hanya menuruti perasaan. Dan kukristalkan pengalaman-pengalaman itu dengan menulisnya dalam buku harian yang selalu kubawa kemana-mana. Seperti saat ini. Aku sadar, aku mudah lupa. Karena itulah, menuliskan apa yang pernah aku alami, menjadi sebuah rutinitas harianku. Tentu dengan tujuan agar semua hal yang sempat singgah dalam memoriku tidak menguap begitu saja.

Kopiku habis. Tulisanku habis. Tapi anganku tiada habis-habisnya. Kubayangkan sebuah kehidupan baru yang lebih baik di kota yang aku tuju. Mimpi-mimpi. Ia datang dan pergi begitu saja. Ia selalu saja indah. Tapi sayang, kenyataan seringkali bertolak belakang dengan apa yang diimpikan. Seperti yang terjadi padaku saat ini. Dulu aku membayangkan bahwa kuliahku berjalan lancar, sambil bekerja di sebuah perusaahaan dengan gaji besar. Tapi mimpi itu tetap tinggal di awang-awang.

“Karcis!” ucap petugas kereta membuyarkan lamunanku. Kuserahkan sesobek kertas yang tadi kubeli dengan sabar mengantri sepanjang sepuluh meter.
Uh, Tuhan, maafkan aku jika masih mengeluh padaMu.

Juli-September 2010
Surabaya-Jogja-Jakarta