Gema takbir mengiringi malam hari
raya kurban. Esoknya, jemaah muslim siap-siap solat Id. Lalu menyembelih hewan
kurban bagi yang punya duit lebih dan rela berkurban. Motif: ada pada hati
masing-masing. Yang jelas, ada yang menyembelih sapi, ada yang kambing, ada ayam,
juga tak kalah banyak yang menyembelih perasaan.
Dalam tiap khotbah sholat Id,
selalu saja dikoar-koarkan cerita yang itu-itu saja. Ibrahim disuruh Tuhan
menyembelih anaknya, Ismael. Sang anak pun rela dijadikan objek sembelihan. Tapi rupanya Tuhan“punya perasaan” sehingga menggantinya dengan
kambing yang dilempar dari surga. Maka, jadilah ajaran menyembelih anak menjadi
menyembelih binatang. Dan di akhir prosesi sembelih-sembelihan itu ditutup
dengan takbir. Begitulah cerita bertabur metafor itu kira-kira.
Mari kita cermati cerita purba
itu. Pertama, ketundukan Ibrahim atas
perintah Tuhan. Perintah menyembelih anak—yang ia sayangi pula—adalah perintah
yang tidak rasional dan tidak manusiawi. Tapi Ibrahim mau melaksanakan. Kedua, Ismael, yang dijadikan obyek,
juga tunduk pada sang Ayah atas nama perintah Tuhan. Suatu kepercayaan tanpa
batas yang termasuk jenis kegilaan nomor duabelas (barangkali). Ketiga, mengapa harus binatang yang
dijadikan pengganti?
Dalam memahami perintah atau
wahyu Tuhan, kadang rasionalitas musti kita sisihkan. Ada sekian kompleksitas
yang tak bakal terpecahkan jika kita hanya menggunakan rasio. Karena bakal
sia-sia atau memakan waktu yang teramat panjang—dan tak ditemukan solusi pula.
Maka, penyerahan total, dalam hal ini sangat diperlukan. Penyerahan yang tak
memerlukan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu. Ah, sayang, rasa-rasanya
zaman ini “penyerahan total” itu tak lagi berlaku.
Tentang penyembelihan pada
binatang, kita patut bertanya: mengapa harus binatang yang disembelih untuk
berkorban? Bukankah manusia saat ini lebih “binatang” daripada binatang itu
sendiri? Kalau begitu, bukankah kita yang seharusnya disembelih lebih dulu?
Karena itu, kawan. Kami dari
SolipeD tidak menuntut apa-apa dalam selebaran ini. Cuma mau berkaca dan
berkata: MARI MENYEMBELIH DIRI!
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu
Akbar.
La Ilaha Illallahu Allahu Akbar.
Allahu Akbar Walillahilhamd.
Yogyakarta, 06 November
2011/
10 Dzulhijjah 1432
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar