Jumat, 06 Juli 2012

Mari Menyembelih Diri!


Gema takbir mengiringi malam hari raya kurban. Esoknya, jemaah muslim siap-siap solat Id. Lalu menyembelih hewan kurban bagi yang punya duit lebih dan rela berkurban. Motif: ada pada hati masing-masing. Yang jelas, ada yang menyembelih sapi, ada yang kambing, ada ayam, juga tak kalah banyak yang menyembelih perasaan.

Dalam tiap khotbah sholat Id, selalu saja dikoar-koarkan cerita yang itu-itu saja. Ibrahim disuruh Tuhan menyembelih anaknya, Ismael. Sang anak pun rela dijadikan objek sembelihan. Tapi rupanya Tuhan“punya perasaan” sehingga menggantinya dengan kambing yang dilempar dari surga. Maka, jadilah ajaran menyembelih anak menjadi menyembelih binatang. Dan di akhir prosesi sembelih-sembelihan itu ditutup dengan takbir. Begitulah cerita bertabur metafor itu kira-kira. 

Mari kita cermati cerita purba itu. Pertama, ketundukan Ibrahim atas perintah Tuhan. Perintah menyembelih anak—yang ia sayangi pula—adalah perintah yang tidak rasional dan tidak manusiawi. Tapi Ibrahim mau melaksanakan. Kedua, Ismael, yang dijadikan obyek, juga tunduk pada sang Ayah atas nama perintah Tuhan. Suatu kepercayaan tanpa batas yang termasuk jenis kegilaan nomor duabelas (barangkali). Ketiga, mengapa harus binatang yang dijadikan pengganti?

Dalam memahami perintah atau wahyu Tuhan, kadang rasionalitas musti kita sisihkan. Ada sekian kompleksitas yang tak bakal terpecahkan jika kita hanya menggunakan rasio. Karena bakal sia-sia atau memakan waktu yang teramat panjang—dan tak ditemukan solusi pula. Maka, penyerahan total, dalam hal ini sangat diperlukan. Penyerahan yang tak memerlukan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu. Ah, sayang, rasa-rasanya zaman ini “penyerahan total” itu tak lagi berlaku.

Tentang penyembelihan pada binatang, kita patut bertanya: mengapa harus binatang yang disembelih untuk berkorban? Bukankah manusia saat ini lebih “binatang” daripada binatang itu sendiri? Kalau begitu, bukankah kita yang seharusnya disembelih lebih dulu?

Karena itu, kawan. Kami dari SolipeD tidak menuntut apa-apa dalam selebaran ini. Cuma mau berkaca dan berkata: MARI MENYEMBELIH DIRI!

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.
La Ilaha Illallahu Allahu Akbar.
 Allahu Akbar Walillahilhamd.


Yogyakarta, 06 November 2011/
10 Dzulhijjah 1432

Tidak ada komentar: