Rabu, 10 Agustus 2011

pengin jadi nabi?

dulu waktu masih ngaji di pondok [masih ingusan kalo gak salah] aku iri dengan manusia yang bernama muhammad. kok bisa-bisanya itu loh dia yang dipilih tuhan jadi nabi akhir zaman. kok kenapa bukan aku?
enak kayaknya jadi nabi. udah dijamin pasti masuk surga [belum ada ceritanya nabi akan masuk neraka]. habis gitu jadi raja di madinah. enak bener deh pokoknya.
tapi setelah kupikir-pikir, gak enak juga ya. pasti nabi muhammad sekarang jengkel ketika ajaran-ajarannya disalahgunakan dan tidak dipahami dan dijalankan sebagaimana mestinya. capek deh.

Islam Sesat

aku capek membahas tentang ini. biarkan mengalir saja. nanti juga bakal ketahuan siapa yang benar dan siapa yang salah. tak ada gunanya membahasnya. lebih baik makan, kenyang deh perut.

asal nulis

daripada nganggur gak jelas, aku menulis sesuatu [yang gak jelas pula].
bla bla bla
rasa2nya duniaku membosankan. aku ingin keluar. pergi entah kemana. kesuatu tempat yang tak seorangpun pernah ke sana. tapi dimana dan ngapain?
inget dulu waktu di surabaya. bosen di rumah atau di kampus, pergi jalan-jalan ke taman2. atau ke stasiun2 tanpa tujuan. kadang hanya demin dengerin penyanyi stasiun di ruang tunggu. gak jelas.



hari2 tak penting

gak da yang perlu ditulis hari-hari ini. semua kegiatanku selama seminggu bisa kukategorikan tidak penting. dan aku gak tau harus ngapain.

Selasa, 09 Agustus 2011

Poligami


Bagi kebanyakan laki-laki, dalil tentang halalnya poligami, sudah pasti akan disetujui, karena dalil itu memang menguntungkan mereka. Tetapi kalau misalnya ada dalil tentang dibolehkannya poliandri, sudah pasti mereka akan dengan tegas menolak. Dengan alasan apapun!

Dan kenyataanya, di dalam ajaran Islam, poligami diperbolehkan. Dalil inilah yang membuat ajaran Islam dianggap diskriminatif oleh sebagian kalangan. Dan seolah-olah Tuhan lebih membela laki-laki dibanding perempuan.

Padahal jika kita mau mencermati secara mendalam, kita akan mengerti, bahwa sebuah dalil tidak muncul dengan sendirinya, melainkan ada sesuatu yang melatarbelakangi. Istilah Arabnya ada asbabun nuzul. Dan dalil tentang halalnya poligami tak luput dari kultur masyarakat Arab di abad tujuh masehi yang masih jahiliyah. Di masa itu, masyarakat Arab jahiliyah sangat memandang rendah terhadap eksistensi perempuan. Perempuan dianggap hanya “setengah manusia.” Perempuan hanyalah budak yang harus melayani kebutuhan laki-laki. Maka sangat wajar jika di zaman itu, poligami tanpa batas sudah menjadi tradisi yang sangat mengakar.

Nabi Muhammad turun di dunia dengan misi membawa rahmat bagi seluruh alam. Membawa bendera humanisme. Sementara tradisi yang ada disekitar Nabi, sangatlah melukai kemanusiaan. Termasuk poligami tanpa batas, karena dianggap sangat mendiskreditkan perempuan.

Nabi Muhammad memimpin untuk terjadinya revolusi. Dan poligami tanpa batas, tak luput dari serangan revolusi tersebut. Poligami yang mulanya dilestarikan tanpa batas itu, zaman Nabi dibatasi hanya empat. Itupun harus adil!

Mungkin sebagian kita bertanya, mengapa Nabi hanya membatasi poligami, tidak menghapusnya sekalian? Jawabannya tentu situasi dan kondisi zaman itu dianggap belum memungkinkan. Di tengah masyarakat yang sudah terbiasa menganggap rendah perempuan, tentu mereka tidak akan terima jika kedudukan perempuan langsung disejajarkan dengan para laki-laki.

Lagipula, zaman itu adalah zaman dimana perang selalu berkecamuk. Dan setiap perang, selalu membawa korban. Karena yang turun di medan mayoritas laki-laki, maka otomatis yang mati tentu kaum laki-laki. Karenanya, jika diukur secara statistik, perbandingan antara laki-laki begitu tajam. Maksudnya perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Dan inilah yang menjadikan berbagai macam persoalan bagi perempuan.

Karena itulah, poligami di zaman itu merupakan solusi yang paling pas dalam mengatasi permasalahan di atas. Dan ini sudah sesuai dengan misi turunnya Islam di dunia.

Lain halnya jika poligami dilakukan di Indonesia abad dua puluh satu. Secara statistik, pebandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 107:106 (lihat BPS). Lebih banyak laki-laki dibanding perempuan. Lalu apakah dalil halalnya poligami masih relevan jika diterapkan di Indonesia abad ini?
Maka, wahai kaum perempuan, sadarlah. Selama ini kalian telah dibohongi bahwa katanya perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1: 2, atau bahkan ada yang bilang 1:7 sehingga secara statistik, poligami memang dibenarkan. Bukalah data Badan Pusat Statistik. Nanti kau pasti akan tercengang melihatnya. Jangan biarkan kaummu selamanya tertindas!

Surabaya, 29-30 Mei 2010

Zina!

Suatu hari temanku menanyakan padaku tentang mengapa zina itu haram, padahal zina itu selain nikmat juga manusiawi? Lalu jika tidak boleh, untuk apa gunanya Tuhan ciptakan alat kelamin bagi manusia?
Lalu kujawab dengan meniru para Kiai bahwa zina itu diharamkan karena merusak keturunan. Karena menyebabkan ketidak-harmonisan kehidupan berkeluarga. Menimbulkan barbagai macam penyakit dan sebagainya. Allah menciptakan alat kelamin demi mempertahankan keberadaan manusia dari kepunahan dengan berkembang biak. Dan karena itulah Allah mengatur cara agar alat kelamin itu tidak disalahgunakan manusia, yaitu dengan menghalalkan pernikahan. Dengan begitu, hal-hal yang sifatnya banyak sekali mudlaratnya seperti keterangan diatas, bisa terminimalisir.

Akan tetapi pertanyaan temanku tidak sampai di situ saja. Tetapi berlanjut begini. Zaman sekarang ini sudah banyak sekali ditemukan alat agar orang yang melakukan hubungan intim tidak bisa hamil. Dengan memakai kondom, misalnya. Selain itu, banyak juga suami atau istri—jika mereka sudah berkeluarga—yang secara terang-terangan rela membiarkan pasangannya menggaet pasangan lain karena ia sendiri juga melakukan begitu. Bukankan jika pelarangan atas zina karena merusak keturunan dan disharmonisasi keluarga sudah tidak relevan, karena akibat buruk dari zina itu sendiri sudah terselesaikan?

Dan saya pun kemudian terdiam. Bahkan dalam hati berkata: iya juga ya?

***

Bulan lalu saya mendengar hiruk-pikuk berita tentang pro-kontra atas nikah siri, secret married. Satu kubu ada yang mengatakan bahwa nikah siri itu dibolehkan secara agama. Ada dalilnya di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Dan itu merupakan jalan keluar bagi para lelaki atau perempuan yang kebelet kawin tapi kondisinya dirasa belum memungkinkan. Daripada zina, begitu pasalnya.

Satu kubu lagi beranggapan bahwa nikah siri hanyalah semacam perzinaan bertopeng dalil agama. Jika ditilik dari akibat nikah siri, maka sudah sangat banyak mudlaratnya. Terutama yang dikorbankan adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, nikah siri sering digunakan oleh para lelaki hidung belang untuk melakukan poligami, agar istrinya tidak tahu.

Islam, selalu rahmatan lil-alamin. Dari situ dapat diketahui bahwa jika ada suatu ajaran yang malah sifatnya merusak kemanusiaan, maka hakikatnya itu bukan ajaran Islam. Atau jika memang hal itu dibenarkan dalam kitab suci, hal itu sifatnya bukanlah mengikat untuk segala zaman. Ajaran itu sifatnya temporer, menyesuaikan zaman dan tempat dimana ajaran itu diaplikasikan. Selain itu, ada pula dalil yang secara nyata mengharamkan adanya nikah siri. Maka, oleh sebab semua itulah, pemerintah yang berkewajiban melindungi warganya, harus mengeluarkan undang-undang secara tegas bahwa nikah siri sudah merupakan tindak pidana.

Saya sendiri kurang tahu tentang dalil-dalil kitab suci yang membenarkan maupun yang menyalahkan adanya nikah siri. Yang saya tahu hanyalah bahwa ternyata zina sendiri sudah mempunyai topeng yang bermacam-macam. Ada yang betopeng poligami, ada yang bertopeng nikah siri, bahkan ada pula yang digunakan sebagai tangga spiritual dalam ajaran-ajaran yang nyeleweng dan dianggap sesat.

***

Saya pernah jalan-jalan ke sebuah tempat prostitusi paling tenar di Surabaya. Dolly namanya. Mulanya saya sedang ngopi dengan seorang teman. Waktu itu saya sedang stress berat. Kami pun ngomong ngalor-ngidul tentang apa saja yang akhirnya tak disangka-sangka berujung pada bahasan soal PSK. Dan ia punya ide untuk mengajak saja pergi melihat-lihat tempat prostitusi tersebut. Saya setuju. Maka berangkatlah kami segera setelah meninggalkan kedai kopi tersebut.

Saya ingin meneliti tentang seluk-beluknya. Dan setelah sampai di sana, fuih, ternyata indah sekali pemandangannya. Di sepanjang jalan, terdapat rumah yang berjendela kaca lebar-lebar sehingga terlihat jelas apa yang ada di dalam jajaran rumah tersebut. Dan di dalamnya ada wanita-wanita setengah telanjang yang berpose menggiurkan. Apalagi lampu-lampu yang dinyalakan berwarna kuning kemerah-merahan sehingga membuat suasana semakin eksotis, eh salah erotis.

Dan di depan rumah-rumah kaca itu banyak sekali lelaki yang ditugaskan mencari mangsa. Marketing, mungkin itulah tugasnya. Mereka selalu merayu-rayu setiap lelaki yang lewat untuk “mampir sebentar.” Termasuk saya pun tak luput dari rayuannya.

“Delapan lima (maksudnya delapanpuluh lima ribu), Mas, parkir gratis. Dijamin aman, sehat, dan steril. Tinggal pilih. Tuh, lihat sendiri.” Sambil menunjuk wanita-wanita setengah telanjang di atas sofa dalam rumah kaca tadi.

Tapi sayang, selain tidak punya duit dan keadaan saya memang tidak bernafsu sama sekali karena stress, saya juga sebisa mungkin masih menuruti ajaran agama. Maka jadilah saya di sana hanya melihat-lihat. Mungkin kalau waktu itu saya tidak sedang stress, sebagai lelaki normal, saya akan terangsang (merangsang). Untungnya saya sedang “tidak normal.” Ya sudah. Hasrat saya datar-datar saja.

Baiklah, dari cerita itu dapat saya simpulkan bahwa, ternyata perzinaan, meskipun agama melarang keras, tetap masih mewarnai kehidupan manusia. Dan yang masih belum saya ketahui adalah, mengapa pemerintah tidak melarang hal seperti itu ya? Apakah juga jangan-jangan agama sudah tidak punya taring lagi? Ada pendapat?

Surabaya, 29 May 2010

Melukis dan Mematung. Haram???


Dulu aku suka sekali menggambar. Entah tumbuhan, entah gunung, sungai, laut, kuda, ayam dan tak luput juga manusia. Nah, waktu aku sedang asyik-asyiknya menggambar kuda, tiba-tiba aku dikagetkan seseorang yang menepuk punggungku.

“Haram!” katanya.


“Kau mau menandingi ciptaan Tuhan?” Timpalnya lagi dengan ganas. Aku pun diam. Aku tahu ia seniorku sekaligus ustadzku dalam pondok pesantren. Aku tak mungkin membantah. Tapi, dalam hati aku bertanya-tanya, apakah benar menggambar itu dilarang Tuhan? Belum sempat kutanyakan pada pengurus itu, rupanya ia langsung mengkhotbahiku.


“Kamu tahu kalau nabi kita melarang keras untuk menggambar makhluk bernyawa?” 


Aku diam.


“Dalam hadits shohih Muslim, dikatakan bahwa nabi pernah berkata ‘orang yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah seorang pelukis.’ Ingat, pelukis itu sama dengan pematung, sama-sama menandingi Allah dalam menciptakan makhluk bernyawa. Mereka itu, nanti akan dipaksa untuk menghidupkan lukisan atau patungnya. Kalau tidak bisa, mereka disiksa, dicambuk, dirantai, dibakar.


Kamu mau!” nadanya keras, menyeramkan.

Aku tetap diam. Bulu kudukku merinding. Iih, kejam amat Allah itu. Takut disaingi pula, begitu pikirku.


Dan setelah itu, praktis aku tak pernah lagi menggambar, apalagi menggambar makhluk bernyawa. Aku jadi takut disiksa Allah, seperti yang ada dalam hadits itu.


Seminggu kemudian, ketika aku iseng-iseng membaca buku kumpulan hadits, aku dikejutkan lagi oleh hadits yang berbunyi begini “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung.” Wah, benar juga ya apa kata seniorku itu, gumamku. Tapi, apa benar, Islam melarang menggambar?


Pertanyaan itu cukup menggangguku. Dan, jika mengingat khotbah-khotbah kiaiku, aku, sebagai muslim, harus mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Alqur’an dan Hadits. Dan aku sebisa mungkin untuk melaksanakan ajaran Qur’an-Hadits itu. Tetapi, mengapa hanya menggambar saja dilarang?


Hingga suatu hari, aku membaca sejarah-sejarah yang berkaitan tentang peradaban Islam, juga sejarah-sejarah bangsa Arab. Mulai karya orang-orang Indonesia sendiri; karya ilmuwan timur tengah, seperti Mohammad Arkoun; hingga karya terjemahan orang-orang Barat; Karens Amstrong, misalnya. Dan di situ, aku baru mengerti tentang tradisi dan budaya bangsa Arab, yang tentunya, sedikit banyak, berpengaruh terhadap ajaran-ajaran Islam. Ini suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Misalnya, dalam Alquran, mengapa Alqur’an itu turun secara berangsur-angsur, mengapa harus ada kejadian-kejadian dulu yang mendahului turunnya sebuah ayat. Mengapa harus ada asbabun nuzul dalam Al-qur’an dan asbabul wurud dalam hadits?


Bolehlah, orang-orang berapologi, bahwa Tuhan telah merancang semuanya. Oke! Tetapi, apakah aku harus mengikuti ajaran-ajaran yang turun di padang pasir dengan ciri khasnya itu, sementara aku sendiri lahir dan menempati daerah sejuk bernama Indonesia?


O ya, lupa. Kembali ke topik. Aku membaca sejarah Arab pra-islam, atau sering disebut sejarah Arab jahiliyah. Dan dari situ, kuketahui bahwa, dalam ranah budaya Arab jahiliyah, perupaan dalam bentuk patung tak bisa dipisahkan dengan media penyembahan. Hampir setiap ada patung, kalau tak boleh mengatakan semuanya, merupakan tempat penyembahan. Sedangkan Islam turun ke ranah kehidupan untuk menghancurkan segala media kemusyrikan di seluruh permukaan bumi, dengan atau tanpa kekerasan. Dan, menyembah patung adalah syirik. Maka, wajib dihancurkan.


Patung, di masa itu, bukanlah untuk sebuah kreasi seni, seperti yang kita jumpai sekarang di jalan-jalan dan museum-museum di seluruh Indonesia. Maka, wajar saja kalau waktu itu diharamkan. Namun sekarang, apakah masih relevan pelarangan membuat patung yang tujuannya seni? Ya, masih jadi polemik.


Akan tetapi, jika kita mencari pembenaran tentang seni dalam ajaran Islam, aku yakin, sia-sia belaka. Lha, Islam lahirnya di Arab kok. Sedangkan jazirah Arab sendiri tidak berpotensi untuk berseni. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan peradaban Mesir kuno, Euphrat, Mekong, Gangga dan, apalagi Romawi-Yunani. Ya, dalam hal apapun. Baik itu seni lukis, seni bangunan, atau pun seni musik, kecuali seni sastra. Memang, bangsa Arab, lumayan terkenal dalam hal sastra. Bahkan, dalam ceritanya, jika ada syair-syair yang terunggul dan terindah akan diabadikan dengan tulisan emas dan digantungkan di dinding Ka’bah. Maka, kemudian terkenal dengan sebutan *al-mu’allaqat* (syair-syair yang digantungkan).


Namun, itu pun tak lepas dari perdebatan lagi. Hal, ini tertera jelas dalam karya Thaha Husain yang berjudul *Fi al-Syi’ir al-Jahily,* yang mengatakan bahwa syair-syair jahiliyah yang terkenal itu sebetulnya hanyalah *intihad* alias bohong. Syair-syair itu sebenarnya bukan berasal dari zaman Jahiliyah. Itu hanyalah propaganda orang-orang Arab yang tujuannya memuji dan mengunggulkan kebesaran bangsanya.


So, jika zaman itu, Islam melarang praktik perupaan yang berupa pelukisan dan pematungan, itu sudah sesuai. Karena, pelukisan dan pematungan dalam ranah peradaban bangsa Arab jahiliyah lebih dekat dengan praktik dan media kemusyrikan daripada kesenian. Maka, jika zaman sekarang, kita banyak menemukan patung-patung dan gambar-gambar, asalkan bukan untuk media kemusyrikan, bagiku sendiri tidak apa-apa alias TIDAK HARAM!!!
 

28 January 2010

20 januari 2010


Di sela-sela sang waktu tak kenal lelah untuk melaju, dunia terus menyempit. Hewan dan tumbuhan mulai punah satu demi satu. Hukum alam tak bisa dihindari. Jargon Herbert Spencer, Survival of The Fittest, tak pernah mundur dari ranah kehidupan walau sejengkal. Kemenangan, entah apapun bentuknya, selalu memihak kaum yang kuat. Kuat dalam apapun, baik jahat maupun baik.

Orang-orang, dengan sendirinya semakin sadar, bahwa hukum rimba itu selalu berlaku, meski tak pernah dilegalkan oleh manusia--entah karena lupa ataupun malu. Dan aku, sebagai manusia, mau tidak mau, tetap terseret dengan arus dunia yang penuh intrik itu. Dan sepertinya aku memang tak siap. Hal inilah yang membuatku merasa lemah, inferior complex tanpa alasan yang jelas. Uhhh...

Dunia semakin panas. Dan Tuhan semakin lama semakin ditinggalkan. Para pendewa rasio selalu berdalih, kekuasaan Tuhan maupun kebesaranNya, ada pada manusia. Dan bagiku, meski kulihat ada kejanggalan disana, sedikit demi sedikit aku setuju. Apakah aku mulai menafikan Tuhan? Tidak! tak pernah.


Mimpi


Dulu, dalam gelap malam, yang kuharap hanya mimpi indah. Dan harapanku selalu terkabul. Karenanya setiap bangun dari mimpi, aku selalu merasa bahagia, merasa fresh dan entah rasa apalagi; meski kebanyakan mimpiku yang kuanggap indah itu tak bisa benar-benar aku ingat pagi harinya.
Mimpi, bagiku sendiri adalah sebuah lautan tanpa dasar. Semakin kutenggelamkan diriku dalam mimpi, semakin indah rasanya hidup ini. Ah...apakah hidup memang selalu berawal dari mimpi?

Namun, akhir-akhir ini aku tak lagi merasanyama dan bahagia dalam mimpi-mimpiku. Juga entah kenapa aku tak tahu. Mungkin hanya pantulan jiwa. Semakin gelap jiwa ini, semakin suram pula mimpi ini. Apakah itu salah?

18 Januari 2010

Entah Apa at Surabaya


Jika kau sedang bersedih, pergilah keTaman Mayangkara, letaknya di depan ex-Museum Mpu Tantular depan KBS. Duduklah di bawah tugu-monumen-patung yang terletak di tengah taman itu dan menghadaplah ke selatan, karena akan ada seseorang yang datang dari balik rerumputan dan bunga-bunga itu dengan senyumanuntuk mu. Ia akan memberimu Es Oyen, Rujak Buah, atau cemilan-cemilan lain yang pasti kamu suka. Karena ia membawakan untukmu dengan sentuhan kasih sayang. Dan kesedihanmu dalam sekejap akan terhapuskan.

Jika engkau sedang gundah gulana, pergilah engkau ke tepi sungai Kalimas, letaknya dari DTC terus keutara. Susurilah sebelah timur tepi sungai itu dari utara ke selatan, atau sebaliknya. Jika engkau telah lelah, istirahatlah di kursi-kursiyang memang telah disediakan oleh Pemkot. Pandanglah kecipak air, atau kerlip cahaya yang ia pantulkan dari sinar matahari atau lampu-lampu perkampungan. Renungilah apa yang sesungguhnya membuatmu gundah gulana. Mintalah pertolongan pada Tuhanmu suatu petunjuk. Maka dalam sekejap, akan datang padamu seseorang yang mengajakmu berbicara tentang gundah gulanamu dan ia akan menuntunmu menuju ketenteraman yang kau inginkan.

Jika engkau sedang muak, jutek, boring,atau jengkel pada alam sekitarmu; pergilah ke stasiun Wonokromo. Belilah karcis peron. Duduklah di kursi tunggu. Kau akan lihat orang-orang datang dan pergi. Ada yang membawa bertas-berkoper barang-barangnya, adapula yang hanya membawa dirinya seorang. Ada yang naik kereta ekonomi, adapula yang naik kereta kelas atas. Ada yang menunggu lama di kursi tunggu, ada pula yang langsung dapat kereta. Di sela-sela semua itu, akan ada seorang perempuan yang memainkan piano sambil mendendangkan beberapa lagu kehidupan. Darinya kau akan tahu bahwa rupanya Stasiun KA pun ikut memberitahu kita bagaimana hakikat hidup. Ya, begitulah hidup di dunia.

Atau pula jika kau ingin melihat sisilainmu sendiri, kau bisa melihatnya di belakang gedung Jatim Ekspo sebelah selatan. Di tempat seperti itulah kita akan berakhir.

Ha ha ha....