Selasa, 31 Juli 2012

Aku dan Buku (5)

Waktu itu bulan puasa 2010. Aku masih kerja sebagai kuli bangunan. Berjuang membebaskan diri dari lilitan hutang. Juga mengumpulkan bekal buat ke Jogja. Aku masih ingat, ketika suatu malam meminjam duit teman untuk pergi ke jogja tanpa bilang siapapun.

Dan esoknya aku izin tidak masuk kerja. Aku berangkat ke Jogja naik KA Sritanjung. Membawa satu pakaian seadanya, duit juga seadanya, peta Jogja, dan tentu saja buku. Di stasiun itulah buku yang kubawa menjadi teman terbaikku saat aku sudah capek ngobrol dengan penumpang lain. Aku memang benar-benar menenggelamkan diri dalam angan yang tertulis dalam tiap lembar buku yang kubaca. Lalu tertidur.

Tengah malam sampailah aku di Lempuyangan. Petaku kubuka, kucari arah UIN. Jalan kaki, kususuri jalanan Jogja yang lengang. Kota ini kurasa memang begitu nyaman. Senyaman jargon yang dipasang dimana-mana: Jogja berhati nyaman.

Singkat cerita, aku jadi mahasiswa UIN Jogja. Dan buku-buku tetap saja mengiringi hidupku. tapi di kota ini tak banyak buku yang kubeli. Sebab aku mengerti, bahwa hidup itu sendiri lebih penting daripada buku. Uangku yang pas-pasan tentu lebih baik kugunakan dulu untuk makan. Ya, begitulah.

Di kota ini, banyak mengajariku perihal kehidupan itu sendiri. Lebih dari sekedar buku-buku. Tapi bukan berarti aku meninggalkan buku. Aku masih tetap menggandrungi buku. Dan kebetulan di kota ini seringkali ada bazar buku. Dan aku jadi tersiksa karena lebih sering tak mampu beli. Ah, tak apa. Aku yakin, ini hanya sementara. Pada saatnya nanti aku yakin, bahwa aku bakal bisa memenuhi (minimal mengisi) tidak hanya hasratku sendiri atas buku-buku, tetapi juga hasrat orang lain, termasuk generasi yang senasib denganku. Ya, aku yakin itu.

29/07/12

Tidak ada komentar: