Hubunganku dengan buku
akhir-akhir ini terasa renggang. Aku sibuk dengan hal-hal lain yang
seringnya tak ada kaitannya dengan buku. Tapi buku masih tetap pasokan
utama terhadap wawasanku hingga kini. Entahlah, padahal wawasan dari
buku sesungguhnya adalah wawasan dari sumber sekunder yang seringkali
tereduksi oleh berbagai hal. Buku adalah dunia tersendiri yang lepas
dari pengarangnya, lepas dari obyek asli yang tertulis. Buku adalah
simulasi dari dunia yang ditandai tapi ia tak jarang berwajah lain dari
kenyataan lapangan. Buku adalah produk pemikiran, imajinasi, serta
konstruksi ulang atas realita yang ada. Buku adalah dunia ide, seberapa
pun dekatnya terhadap kenyataan. Tetap, dia ide. Dan ide itu sekunder.
Sejak dulu aku pengen menulis buku, tapi belum juga terealisasi hingga kini, sementara teman-temanku sudah banyak yang menghasilkan karya, minimal skripsi. Aku belum memulai apa-apa dan belum tahu harus memulai apa-apa. Ini menyedihkan. Tapi ini memang kenyataan yang harus aku telan.
Memang, dalam perencanaan saja aku menemui kegagalan. Padahal gagal dalam perencanaan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Dan kegagalanku dalam merencanakan penulisan atas suatu karya, tentu berawal dari kegagalan dalam perencanaan. Kalau sudah begini, merumuskan apa yang kurang itu terasa mudah. Tapi mengerjakan yang susah.
Buku-buku yang aku baca, kenyataan-kenyataan yang aku alami, seharusnya tidak cukup hanya kujelaskan, kupaparkan, kumaknai. Aku merasa mengemban tugas untuk terut andil dalam perubahan atas kenyataan dari sistem yang nir-humanis dalam bermasyarakat. Entahlah, mungkin aku masih buta memandang kenyataan, tapi mataku bisa dengan jernih melihat, bahwa memang hidup ini harus berubah atau diubah. Dan restorasi harus dimulai. Sementara aku sudah janji untuk menempatkan diri sebagai aktor, bukan sebagai penonton. Itu pilihan yang membawa konsekuensi yang harus kuhadapi, serta aku tak boleh mengeluh karenanya. Aku harus ikhlas, ya, harus belajar menghadapi jalan ini seikhlas-ikhlasnya, betapapun terjal dan berdurinya jalan yang kulalui, asal keyakinan dan harapan tidak mati, aku merasa belum kalah. Aku tetap harus berjalan.
Di titik ini aku menjadi tahu, buku bukanlah sentral, tapi ia hanya komponen dari kehidupan. Maka, aku tak boleh seperti dulu yang tunduk dengan buku-buku. Aku harus melampaui fase itu, dimana akulah yang harus menundukkan buku, atau menciptakannya sesuai kemampuanku. Suatu kemampuan yang terikat dengan paradigma yang meski belum terlalu mapan, tapi ia sudah ada dalam alur fikirku. Ya, aku ternyata sudah punya paradigma, tanpa kusadari. Kau, sekarang bisa dengan mudah menjeneralirisir apa yang terlahir dariku, sampai paradigmaku dalam memaknai realitas ini bergeser.
Meski begitu, aku tetap mencintai buku!
31/07/12
Sejak dulu aku pengen menulis buku, tapi belum juga terealisasi hingga kini, sementara teman-temanku sudah banyak yang menghasilkan karya, minimal skripsi. Aku belum memulai apa-apa dan belum tahu harus memulai apa-apa. Ini menyedihkan. Tapi ini memang kenyataan yang harus aku telan.
Memang, dalam perencanaan saja aku menemui kegagalan. Padahal gagal dalam perencanaan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Dan kegagalanku dalam merencanakan penulisan atas suatu karya, tentu berawal dari kegagalan dalam perencanaan. Kalau sudah begini, merumuskan apa yang kurang itu terasa mudah. Tapi mengerjakan yang susah.
Buku-buku yang aku baca, kenyataan-kenyataan yang aku alami, seharusnya tidak cukup hanya kujelaskan, kupaparkan, kumaknai. Aku merasa mengemban tugas untuk terut andil dalam perubahan atas kenyataan dari sistem yang nir-humanis dalam bermasyarakat. Entahlah, mungkin aku masih buta memandang kenyataan, tapi mataku bisa dengan jernih melihat, bahwa memang hidup ini harus berubah atau diubah. Dan restorasi harus dimulai. Sementara aku sudah janji untuk menempatkan diri sebagai aktor, bukan sebagai penonton. Itu pilihan yang membawa konsekuensi yang harus kuhadapi, serta aku tak boleh mengeluh karenanya. Aku harus ikhlas, ya, harus belajar menghadapi jalan ini seikhlas-ikhlasnya, betapapun terjal dan berdurinya jalan yang kulalui, asal keyakinan dan harapan tidak mati, aku merasa belum kalah. Aku tetap harus berjalan.
Di titik ini aku menjadi tahu, buku bukanlah sentral, tapi ia hanya komponen dari kehidupan. Maka, aku tak boleh seperti dulu yang tunduk dengan buku-buku. Aku harus melampaui fase itu, dimana akulah yang harus menundukkan buku, atau menciptakannya sesuai kemampuanku. Suatu kemampuan yang terikat dengan paradigma yang meski belum terlalu mapan, tapi ia sudah ada dalam alur fikirku. Ya, aku ternyata sudah punya paradigma, tanpa kusadari. Kau, sekarang bisa dengan mudah menjeneralirisir apa yang terlahir dariku, sampai paradigmaku dalam memaknai realitas ini bergeser.
Meski begitu, aku tetap mencintai buku!
31/07/12
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar