Kali ini, izinkan aku
bicara tentang sesuatu yang menjadi roh setiap zaman: cinta.
Cinta itu memerdekakan,
bukan membelenggu, meski kemerdekaan tak harus bebas, dan memang tak sepenuhnya
bebas, sebab merdeka memang tidak sama dengan bebas. Jika pecinta merasa
terbelenggu sebab kekasihnya, hakikatnya bukan cinta, sebab kalau disebut
cinta, dalam belenggu pun seorang pecinta tetap (merasa) merdeka.
Cinta yang dewasa, bagiku
adalah cinta yang kaku, cinta yang membelenggu, dan bukan cinta yang apa
adanya. Seringkali cinta dewasa penuh atribut tetek-bengek, sebab intinya bukan
cinta, tapi egoisme. Ego yang hanya ingin diri bahagia, entah orang lain. Merujuk
“cinta dewasa” suami istri, yang bicara bukan lagi perasaan yang mendalam, tapi
kebutuhan. Kebutuhan akan ekonomi, gengsi, politik, atau yang lain. Pertahanan atas
retak-tidaknya suatu bahtera keluarga bukan cinta itu sendiri, melainkan norma,
tanggungjawab atas generasi, dan (atau) segala hal diluar cinta. Padahal semua
itu sering berupa kepalsuan. Dan kepalsuan selalu memunggungi esensi cinta itu
sendiri.
Sementara cinta yang apa
adanya itu, selain memerdekakan, juga memuliakan—meski kemuliaan bukan jadi
tujuan. Percontohan cinta yang apa adanya sudah ada saat Saat Hawa turun ke
bumi, dan Adam mengikutinya. Sebab bagi Adam, lebih baik tinggal di bumi dengan
cinta tulus sang Hawa, dari pada di surga tanpa cinta. Dan dari sinilah era
manusia sebagai khalifah dimulai, dengan cinta.
Cinta dewasa jelas
bukanlah cinta yang diajarkan Adam dan Hawa dulu. Sebab kata dewasa sendiri
mengandung makna bahwa ia sudah tak lagi natural. Dan yang tidak natural,
berarti sudah ternodai. Noda yang berasal dari ambisi, konstruk budaya, hegemoni,
atau semua hal yang artifisial dan duniawi. Sementara cinta yang natural itu
ukhrowi. Dan karenanya, ia abadi.
Mencintai bukan berarti
membiarkan sang kekasih bebas, atau malah membelenggunya. Kadang seseorang
memang butuh kebebasan, tapi disatu sisi tetap butuh pegangan. Jika pecinta
bisa menyelaraskan keduanya, maka cintanya memang memerdekakan. Dalam keselarasan,
tak berarti pecinta musti berfikir keras, agar bagaimana terhindar dari
kesalahan, tapi cukup dengan perasaan yang mendalam, bahwa sesuatu harus
dilakukan. Dan jika apa yang dilakukan salah, pecinta harus membenahi untuk
selanjutnya, dengan cinta.
Dalam cinta, rasa saling
percaya sekali-kali boleh disingkirkan. Sebab tanpa itu, tak kan ada yang
disebut cemburu, dan tanpa cemburu, cinta itu tidak ada. Cemburu adalah salah
satu tiang cinta, sebab cinta memang tak bisa berdiri sendiri.
Begitulah kira-kira
pendapatku tentang cinta sejak setahun belakangan ini. Dan yang perlu diingat,
cinta yang saya rumuskan ini hakikatkan bagian dari konstruk budaya, oleh
karenanya, tulisan ini tidaklah natural. Tapi kau tak usah ragu, cinta itu
hakikatnya bukan di tulisan ini. Tapi di hatiku. Dan hatiku hanya untukmu.
Salam.
Dalam remang senja
Jakarta bulan Juli
2012
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar