Sabtu, 07 Juli 2012

Kritik Cinta


Kali ini, izinkan aku bicara tentang sesuatu yang menjadi roh setiap zaman: cinta.
Cinta itu memerdekakan, bukan membelenggu, meski kemerdekaan tak harus bebas, dan memang tak sepenuhnya bebas, sebab merdeka memang tidak sama dengan bebas. Jika pecinta merasa terbelenggu sebab kekasihnya, hakikatnya bukan cinta, sebab kalau disebut cinta, dalam belenggu pun seorang pecinta tetap (merasa) merdeka.

Cinta yang dewasa, bagiku adalah cinta yang kaku, cinta yang membelenggu, dan bukan cinta yang apa adanya. Seringkali cinta dewasa penuh atribut tetek-bengek, sebab intinya bukan cinta, tapi egoisme. Ego yang hanya ingin diri bahagia, entah orang lain. Merujuk “cinta dewasa” suami istri, yang bicara bukan lagi perasaan yang mendalam, tapi kebutuhan. Kebutuhan akan ekonomi, gengsi, politik, atau yang lain. Pertahanan atas retak-tidaknya suatu bahtera keluarga bukan cinta itu sendiri, melainkan norma, tanggungjawab atas generasi, dan (atau) segala hal diluar cinta. Padahal semua itu sering berupa kepalsuan. Dan kepalsuan selalu memunggungi esensi cinta itu sendiri.

Sementara cinta yang apa adanya itu, selain memerdekakan, juga memuliakan—meski kemuliaan bukan jadi tujuan. Percontohan cinta yang apa adanya sudah ada saat Saat Hawa turun ke bumi, dan Adam mengikutinya. Sebab bagi Adam, lebih baik tinggal di bumi dengan cinta tulus sang Hawa, dari pada di surga tanpa cinta. Dan dari sinilah era manusia sebagai khalifah dimulai, dengan cinta.

Cinta dewasa jelas bukanlah cinta yang diajarkan Adam dan Hawa dulu. Sebab kata dewasa sendiri mengandung makna bahwa ia sudah tak lagi natural. Dan yang tidak natural, berarti sudah ternodai. Noda yang berasal dari ambisi, konstruk budaya, hegemoni, atau semua hal yang artifisial dan duniawi. Sementara cinta yang natural itu ukhrowi. Dan karenanya, ia abadi.

Mencintai bukan berarti membiarkan sang kekasih bebas, atau malah membelenggunya. Kadang seseorang memang butuh kebebasan, tapi disatu sisi tetap butuh pegangan. Jika pecinta bisa menyelaraskan keduanya, maka cintanya memang memerdekakan. Dalam keselarasan, tak berarti pecinta musti berfikir keras, agar bagaimana terhindar dari kesalahan, tapi cukup dengan perasaan yang mendalam, bahwa sesuatu harus dilakukan. Dan jika apa yang dilakukan salah, pecinta harus membenahi untuk selanjutnya, dengan cinta.

Dalam cinta, rasa saling percaya sekali-kali boleh disingkirkan. Sebab tanpa itu, tak kan ada yang disebut cemburu, dan tanpa cemburu, cinta itu tidak ada. Cemburu adalah salah satu tiang cinta, sebab cinta memang tak bisa berdiri sendiri.

Begitulah kira-kira pendapatku tentang cinta sejak setahun belakangan ini. Dan yang perlu diingat, cinta yang saya rumuskan ini hakikatkan bagian dari konstruk budaya, oleh karenanya, tulisan ini tidaklah natural. Tapi kau tak usah ragu, cinta itu hakikatnya bukan di tulisan ini. Tapi di hatiku. Dan hatiku hanya untukmu.

Salam.
Dalam remang senja Jakarta bulan Juli
2012

Tidak ada komentar: