Selasa, 31 Juli 2012

Aku dan Buku (6)

Setahun di Jogja, tetap saja, bacaanku tidak ada yang fokus. Jurusanku Perbandingan Agama, tapi buku-buku yang kubaca seringnya malah tak ada hubungannya dengan studi agama-agama. Sementara buku-buku yang tentang perbandingan agama sudah mulai malas aku membacanya. Entahlah. Padahal dulu aku sangat tertarik dengan kajian ini waktu masih di Surabaya. Jadinya, studiku juga agak terlantar.

Namun, untungnya aku segera menyadari, bahwa pola membacaku yang tidak jelas ini harus kumenej. Sebab aku tak mau lagi mengulang kesalahan masa lalu. Maka, sejak setahun kemarin bacaanku kubatasi: kajian agama harus kuutamakan, dan kajian kiri (termasuk di dalamnya ekopol dan sejarah), dan bahasa inggris. Mungkin itu masih terlalu luas. Tapi itu sudah cukup terpola. Artiya, bagaimanapun, bacaanku memang harus mendukung kuliahku, dan wacana kiri sebagai pisau analisa. Sementara bahasa inggris bisa buat modal melanjutkan kuliah berikutnya. Tapi, buku-buku bahasa inggris sekalipun juga harus tentang dua tema di atas. Biar saling menunjang.

Selain membaca, aku mulai lebih intens menulis. Apalagi aku masuk UKM Pers. Pilihanku aktif di UKM ini awalnya tentu adalah pilihan pragmatis. Agar aku bisa tetap melatih diri untuk menulis, sebab di UKM Pers selalu membuat lingkungan yang kondusif untuk belajar menulis. Nah, dalam perjalanannya, ternyata tak semulus yang kubayangkan. Rasa malas untuk nulis sangat kuat. Aku sendiri seolah tak bisa menekannya. Aku pernah mensiasati agar tetap bisa nulis yaitu dengan nulis buku harian. Ya, cukup berjalan beberapa hari, tapi tak bertahan lama. Kembali catatan harianku kuterlantarkan. Tapi aku tak mau itu terjadi terus-menerus. Aku harus tetap menulis. Dan hingga kini rasanya sudah sedikit berhasil.

Keberhasilan menulis harian yang isinya hanya tentang curahan perasaan itu, sebetulnya menyedihkan. Sebab tak beranjak-beranjak ke fase yang lebih serius. Aku tetap saja kesulitan menulis tema-tema serius. Aku masih kesulitan membiasakan menulis opini, artikel, resensi, dan sebagainya. Paling-paling kalau misalnya nulis seperti itu, jangka waktunya sangat lama. Sebulan belum tentu bisa nulis serius. Dan aku sangat menyayangkan diri akan ketidakberdayaan diri dalam hal ini.

Maka, ketika aku sudah mentok tidak menulis, pelarianku pasti membaca, baca, baca. Aku terlalu sering ketika mau niat menulis jadi membaca. Membaca hanya kuanggap sebagai pengisi waktu luang—daripada bengong.

Namun aku berfikir, aku pasti bisa mengatasi. Memang butuh tahapan, dan gak serta-merta langsung bisa. Harus ada pengkondisian dulu. Dan itulah yang kini sedah kulakukan. Aku masih bekerja keras dalam hal ini. Sebab aku yakin, tanpa menulis, gagasan-gagasanku tak bakal tersampaikan.

30/07/12

Tidak ada komentar: