Sekembali dari Jakarta,
aku mau melanjutkan kuliahku lagi di Surabaya. Disana aku memang kembali
ke kampus. Bertemu teman-teman sekelas, maupun seorganisasi. Tapi buku
masih kunomorsatukan.
Kuliahku memang berantakan. Dan aku sangat kesulitan untuk menatanya kembali. Keadaan seperti ini berlangsung beberapa bulan. Sementara teman-temanku kini sudah mulai semester enam. Aku merasa tertinggal. Dan itu sesak rasanya. Apalagi kondisiku keuanganku habis. Hutangku mulai banyak. Sebab tak terasa uang simpananku ludes. Paling banyak tentu buat beli buku. Sementara buku-buku itu kurasa tak banyak menolongku untuk menunjang kuliahku. Aku merasa terpuruk.
Dalam konsisi seperti ini, aku menjadi lebih penyendiri dibanding sebelumnya. Aku menjadi sering merenung, melamun sendiri, keluyuran tidak jelas dari taman ke taman, menyusuri trotoar dan sungai. Dan aku mulai menulis kembali. Disinilah sajak-sajak kurasa mulai mengalir. Terkadang juga catatan-catatan tentang hidup, dan cerpen. Ya, aku memulai menulis cerpen lagi.
Tapi sayang, tulisanku memang tak layak untuk konsumsi publik sehingga kusimpan sendiri. Dan sebagian hilang entah kemana. Sementara aku butuh makan, butuh kembali menata kuliah. Maka, aku kerja. Tahu kau kerjaku apa? Jadi kuli bangunan. Menggarap sepanjang trotoar jalan Darmo dekat taman bungkul. Sebelumnya aku memang pernah jadi kuli bangunan selama sekitar sebulan, dan lebih pedih rasanya. Tapi aku tak ingin cerita tentang itu.
Menjadi kuli penggarap trotoar, rasanya bahagia juga. Daripada jadi pengangguran. Sebab, aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya makan dengan tetes keringat (yang benar-benar melelahkan). Aku bisa merasakan bagaimana rakyat kecil mencari hidup. Aku bisa bergaul dengan mereka dengan cukup akrab serta bisa menggali dan belajar dari pengalaman mereka. Aku cukup mengerti. Bahwa hidup ini memang keras. Tapi kita tak boleh hanya menggerutu, mengeluh atas keadaan. Yang patut kita lakukan adalah menjalani dengan sebaik-baiknya.
Waktu aku jadi kuli, rupanya tak menyurutkanku membaca buku. Aku tetap membaca. Juga, aku bahkan lebih sering menulis. Sebab saat aku kerja, inspirasi itu betapa melimpah...
Tapi hasil kerjaku tak lagi (sangat sayang) kalau hanya untuk kubelikan buku-buku seperti dulu. Aku mulai realistis dan mulai tahu sedikit tentang apa yang harus kuprioritaskan. Maka, saat itu yang menurutku prioritas adalah melanjutkan kuliah. Hingga aku menemukan kampus lagi untuk kuliahku: UIN Jogja.
Ya, Jogja, izinkan aku menginjakkan kakiku di tubuhmu. Izinkan aku mencercap sukmamu. Izinkan aku menyelami kedalaman liku-likumu.
Aku datang, sambutlah!
29/07/12
Kuliahku memang berantakan. Dan aku sangat kesulitan untuk menatanya kembali. Keadaan seperti ini berlangsung beberapa bulan. Sementara teman-temanku kini sudah mulai semester enam. Aku merasa tertinggal. Dan itu sesak rasanya. Apalagi kondisiku keuanganku habis. Hutangku mulai banyak. Sebab tak terasa uang simpananku ludes. Paling banyak tentu buat beli buku. Sementara buku-buku itu kurasa tak banyak menolongku untuk menunjang kuliahku. Aku merasa terpuruk.
Dalam konsisi seperti ini, aku menjadi lebih penyendiri dibanding sebelumnya. Aku menjadi sering merenung, melamun sendiri, keluyuran tidak jelas dari taman ke taman, menyusuri trotoar dan sungai. Dan aku mulai menulis kembali. Disinilah sajak-sajak kurasa mulai mengalir. Terkadang juga catatan-catatan tentang hidup, dan cerpen. Ya, aku memulai menulis cerpen lagi.
Tapi sayang, tulisanku memang tak layak untuk konsumsi publik sehingga kusimpan sendiri. Dan sebagian hilang entah kemana. Sementara aku butuh makan, butuh kembali menata kuliah. Maka, aku kerja. Tahu kau kerjaku apa? Jadi kuli bangunan. Menggarap sepanjang trotoar jalan Darmo dekat taman bungkul. Sebelumnya aku memang pernah jadi kuli bangunan selama sekitar sebulan, dan lebih pedih rasanya. Tapi aku tak ingin cerita tentang itu.
Menjadi kuli penggarap trotoar, rasanya bahagia juga. Daripada jadi pengangguran. Sebab, aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya makan dengan tetes keringat (yang benar-benar melelahkan). Aku bisa merasakan bagaimana rakyat kecil mencari hidup. Aku bisa bergaul dengan mereka dengan cukup akrab serta bisa menggali dan belajar dari pengalaman mereka. Aku cukup mengerti. Bahwa hidup ini memang keras. Tapi kita tak boleh hanya menggerutu, mengeluh atas keadaan. Yang patut kita lakukan adalah menjalani dengan sebaik-baiknya.
Waktu aku jadi kuli, rupanya tak menyurutkanku membaca buku. Aku tetap membaca. Juga, aku bahkan lebih sering menulis. Sebab saat aku kerja, inspirasi itu betapa melimpah...
Tapi hasil kerjaku tak lagi (sangat sayang) kalau hanya untuk kubelikan buku-buku seperti dulu. Aku mulai realistis dan mulai tahu sedikit tentang apa yang harus kuprioritaskan. Maka, saat itu yang menurutku prioritas adalah melanjutkan kuliah. Hingga aku menemukan kampus lagi untuk kuliahku: UIN Jogja.
Ya, Jogja, izinkan aku menginjakkan kakiku di tubuhmu. Izinkan aku mencercap sukmamu. Izinkan aku menyelami kedalaman liku-likumu.
Aku datang, sambutlah!
29/07/12
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar