Selasa, 31 Juli 2012

Surat untuk Adik

Assalamu alaikum wr wb.

Dik, aku senang membaca tulisanmu yang berjudul “perubahanku.” Kau baru beranjak kelas 2 MA, tapi sudah bisa berfikir semaju itu. Sesuatu yang tak pernah terfikirkan olehku seusia itu.

Bagiku sendiri, memang kita harus capet-cepat menyadari bahwa tujuan kita sekolah bukan untuk nilai raport, ranking, juara, baik di mata guru, dan sekian hal-hal yang “dangkal” lainnya. Tujuan sekolah yang seharusnya adalah mendidik kita supaya cerdas lahir batin. Supaya kita menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang pantas jadi abdillah sekaligus khalifah di muka bumi. Manusia yang tidak tercerabut dari realitas yang dihadapi masyarakat.

Biar kukasih contoh pendidikan yang tercerabut dari realita ya. Begini, di selatan desa kita ada sumber minyak, tahu Blok Cepu kan? Itu menghasilkan sekian triliun tiap tahunnya. Tapi siapa yang menguasai? Ternyata perusahaan asing yang bernama Exxon Mobile. Bukan negara. Sementara rakyat di pinggir-pinggir kawasan itu masih saja hidup miskin, tak banyak yang turut menikmatinya. Paling-paling hanya ada cipratan sedikit beasiswa sudah langsung gidrangan. Padahal UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Tapi nyatanya? Nol besar. Dan pendidikan kita apakah mengajari hal ini? Tidak samasekali! Kita malah sering diajak debat kusir dengan hal-hal yang gak mutu. Soal-soal tetek-bengek tentang hal-hal furuiyah, misalnya.

Coba bayangkan kalau Blok Cepu (dan tambang2 lain) itu dikuasai negara. Pasti negara cukup duit untuk menggratiskan seluruh biaya pendidikan di Indonesia. Lha wong negara kaya kok. Gak bakal ada seorang yang mengeluh sepertimu tentang sekolah di MA yang tak kunjung gratis meski kampanye bupati dulu menjanjikan gratis. Wajarlah, penguasa memang seringkali bulshit!

Nah, kesadaran seperti itulah yang seharusnya ditanamkan sejak dini pada di sekolah-sekolah. Agar tahu, apa yang sesungguhnya dihadapi masyarakat. Kenapa Indonesia tidak maju-maju, ya salah satunya pendidikan yang ada itu tidak mencerdaskan, tetapi membodohkan!

Aku melihat gelagat pemberontakan darimu sangat menggebu untuk meraih kebebasan. Itu bagus sebagai awalan. Tapi kamu juga harus mengerti, bahwa kebebasan itu bukan segalanya. Yang terpenting, kebebasan itu juga harus diiringi dengan pertanggungjawaban kita dalam menjaga hubungan kita dengan Allah (hablun minallah), dengan manusia (hablun min an-nas), juga dengan alam (hablun min al-alam). Ah, kau sudah besar, kau pasti sudah mengerti.

Oya, cita-citamu yang tinggi itu perlu tahapan-tahapan yang harus kamu kerjakan untuk meraihnya. Dan yakini, sebelum meminta sesuatu pada Allah, persiapkan diri dulu agar kita pantas mendapatkannya. Sebab, dengan begitu kita bakal benar-benar merasakan indahnya perjuangan.

Dalam tulisanmu, kamu bilang sering membantah guru, mengabaikan peraturan, sering telat masuk, kenapa? Apa hanya gara-gara cari sensasi atau males? Jangan sering menyalahkan keadaan yang menurutmu sulit. Pemberontakan itu sekali-kali tidak apa-apa, itu melatih keberanian berekspresi, asalkan ada alasan yang benar. Aku percaya kamu pasti punya alasan itu.

Namun, bagaimanapun tidak setujunya kita dengan guru, kita harus tetap hormat padanya. Belajar yang rajin ya. Jangan seperti kakak.

Salam hangat dari jauh. Semoga Allah selalu menenggelamkan kita dalam lautan rahmatnya.

29/07/12
Kakakmu

Tidak ada komentar: