Assalamu alaikum wr wb.
Dik, aku senang membaca
tulisanmu yang berjudul “perubahanku.” Kau baru beranjak kelas 2 MA,
tapi sudah bisa berfikir semaju itu. Sesuatu yang tak pernah terfikirkan
olehku seusia itu.
Bagiku sendiri, memang kita harus
capet-cepat menyadari bahwa tujuan kita sekolah bukan untuk nilai
raport, ranking, juara, baik di mata guru, dan sekian hal-hal yang
“dangkal” lainnya. Tujuan sekolah yang seharusnya adalah mendidik kita
supaya cerdas lahir batin. Supaya kita menjadi manusia seutuhnya.
Manusia yang pantas jadi abdillah sekaligus khalifah di muka bumi.
Manusia yang tidak tercerabut dari realitas yang dihadapi masyarakat.
Biar
kukasih contoh pendidikan yang tercerabut dari realita ya. Begini, di
selatan desa kita ada sumber minyak, tahu Blok Cepu kan? Itu
menghasilkan sekian triliun tiap tahunnya. Tapi siapa yang menguasai?
Ternyata perusahaan asing yang bernama Exxon Mobile. Bukan negara.
Sementara rakyat di pinggir-pinggir kawasan itu masih saja hidup miskin,
tak banyak yang turut menikmatinya. Paling-paling hanya ada cipratan
sedikit beasiswa sudah langsung gidrangan. Padahal UUD 1945
Pasal 33 Ayat 3 menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
kemakmuran rakyat. Tapi nyatanya? Nol besar. Dan pendidikan kita apakah
mengajari hal ini? Tidak samasekali! Kita malah sering diajak debat
kusir dengan hal-hal yang gak mutu. Soal-soal tetek-bengek tentang
hal-hal furuiyah, misalnya.
Coba bayangkan kalau Blok Cepu
(dan tambang2 lain) itu dikuasai negara. Pasti negara cukup duit untuk
menggratiskan seluruh biaya pendidikan di Indonesia. Lha wong negara
kaya kok. Gak bakal ada seorang yang mengeluh sepertimu tentang sekolah
di MA yang tak kunjung gratis meski kampanye bupati dulu menjanjikan
gratis. Wajarlah, penguasa memang seringkali bulshit!
Nah,
kesadaran seperti itulah yang seharusnya ditanamkan sejak dini pada di
sekolah-sekolah. Agar tahu, apa yang sesungguhnya dihadapi masyarakat.
Kenapa Indonesia tidak maju-maju, ya salah satunya pendidikan yang ada
itu tidak mencerdaskan, tetapi membodohkan!
Aku melihat
gelagat pemberontakan darimu sangat menggebu untuk meraih kebebasan. Itu
bagus sebagai awalan. Tapi kamu juga harus mengerti, bahwa kebebasan
itu bukan segalanya. Yang terpenting, kebebasan itu juga harus diiringi
dengan pertanggungjawaban kita dalam menjaga hubungan kita dengan Allah
(hablun minallah), dengan manusia (hablun min an-nas), juga dengan alam
(hablun min al-alam). Ah, kau sudah besar, kau pasti sudah mengerti.
Oya,
cita-citamu yang tinggi itu perlu tahapan-tahapan yang harus kamu
kerjakan untuk meraihnya. Dan yakini, sebelum meminta sesuatu pada
Allah, persiapkan diri dulu agar kita pantas mendapatkannya. Sebab,
dengan begitu kita bakal benar-benar merasakan indahnya perjuangan.
Dalam
tulisanmu, kamu bilang sering membantah guru, mengabaikan peraturan,
sering telat masuk, kenapa? Apa hanya gara-gara cari sensasi atau males?
Jangan sering menyalahkan keadaan yang menurutmu sulit. Pemberontakan
itu sekali-kali tidak apa-apa, itu melatih keberanian berekspresi,
asalkan ada alasan yang benar. Aku percaya kamu pasti punya alasan itu.
Namun,
bagaimanapun tidak setujunya kita dengan guru, kita harus tetap hormat
padanya. Belajar yang rajin ya. Jangan seperti kakak.
Salam hangat dari jauh. Semoga Allah selalu menenggelamkan kita dalam lautan rahmatnya.
29/07/12
Kakakmu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar