Di perpus IAIN, spektrum bacaanku sangat luas, tak terbatas suatu
tema tertentu. Mulai dari buku-buku agama, sosial, politik, filsafat,
sastra, astronomi, mistik, dan lain-lain, sampai soal fasion dan menu
masakan di majalah femina, kubacai semua. Jadi, praktis tidak ada yang
kupelajari secara mendalam. Hanya baca, baca, dan baca. Entah ada yang
nyangkut di otak apa enggak. Jika buku itu jendela dunia, kubayangkan
diriku terpana oleh sekian jendela yang terbuka dengan pemandangan
diluar yang berbeda-beda. Aku melongok ke tiap jendela itu, tapi tak ada
yang bertahan lama. Sebentar di satu jendela, lalu pindah ke jendela
lain. Hingga aku menemukan satu jendela yang menurutku pas dan mantab
saat itu: sastra.
Semester tiga, aku mulai menyukai
sastra. Awalnya aku menganggap sastra itu bacaan sampah. Tapi
pandanganku yang seperti itu gugur saat aku membaca tiga novel:
Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Syirazi; Jalan Sunyi Seorang
Penulis karya Muhidin M Dahlan; dan tentu saja Laskar Pelangi karya
Andrea Hirata. Maka, mulai saat itu aku selalu membaca karya sastra.
Entah novel atau cerpen. Tapi koleksi buku-buku sastra tak banyak di
perpus IAIN Sunan Ampel. Maka, aku terpaksa mencarinya diluar.
Perjumpaanku
dengan sastra memperpuruk kuliahku. Aku mulai melupakan tujuanku di
Surabaya untuk apa. Aku terlalu asyik dengan sastra. Sebab dengan
sastra, imajinasiku disulut untuk hidup, mimpiku diperjelas,
keberanianku dikobarkan. Dan rupanya aku salah arah. Aku menyesal sebab
ini yang mengharuskanku memperbaiki kuliahku di tahun berikutnya.
Sebab
hausku akan bacaan sastra, aku mulai blusukan di toko-toko buku. Toko
buku loakan semisal Kampoeng Ilmu, atau toko buku tenar semisal Gramedia
dan juga Togamas. Nah, yang terakhir inilah yang paling sering
kukunjungi. Tepatnya Togamas yang letaknya di jalan Diponegoro depan
Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sebab selain letaknya dekat dengan
domisiliku, juga memang tempatnya nyaman. Tidak punya uang pun bisa
membaca disana. Maka tak jarang aku datang ke sana hanya untuk membaca.
Paling banyak tentu membaca novel. Ah, aku jadi kangen suasana
Togamas...
Kegandrunganku akan sastra mendorongku untuk
mulai menulis. Aku mulai menulis tergolong telat memang. Yaitu setelah
tiga tahun jadi mahasiswa. Dan itupun saat aku sudah “cuti” kuliah (biar
kutuliskan soal ini di lain waktu). Aku mulai bercita-cita untuk jadi
penulis. Dan dunia tulis-menulis itu memang tidak mudah ternyata. Aku
merasa terseok-seok disini sampai saat ini.
29/07/12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar