Selasa, 31 Juli 2012

Aku dan Buku (2)

Di perpus IAIN, spektrum bacaanku sangat luas, tak terbatas suatu tema tertentu. Mulai dari buku-buku agama, sosial, politik, filsafat, sastra, astronomi, mistik, dan lain-lain, sampai soal fasion dan menu masakan di majalah femina, kubacai semua. Jadi, praktis tidak ada yang kupelajari secara mendalam. Hanya baca, baca, dan baca. Entah ada yang nyangkut di otak apa enggak. Jika buku itu jendela dunia, kubayangkan diriku terpana oleh sekian jendela yang terbuka dengan pemandangan diluar yang berbeda-beda. Aku melongok ke tiap jendela itu, tapi tak ada yang bertahan lama. Sebentar di satu jendela, lalu pindah ke jendela lain. Hingga aku menemukan satu jendela yang menurutku pas dan mantab saat itu: sastra.

Semester tiga, aku mulai menyukai sastra. Awalnya aku menganggap sastra itu bacaan sampah. Tapi pandanganku yang seperti itu gugur saat aku membaca tiga novel: Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Syirazi; Jalan Sunyi Seorang Penulis karya Muhidin M Dahlan; dan tentu saja Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Maka, mulai saat itu aku selalu membaca karya sastra. Entah novel atau cerpen. Tapi koleksi buku-buku sastra tak banyak di perpus IAIN Sunan Ampel. Maka, aku terpaksa mencarinya diluar.

Perjumpaanku dengan sastra memperpuruk kuliahku. Aku mulai melupakan tujuanku di Surabaya untuk apa. Aku terlalu asyik dengan sastra. Sebab dengan sastra, imajinasiku disulut untuk hidup, mimpiku diperjelas, keberanianku dikobarkan. Dan rupanya aku salah arah. Aku menyesal sebab ini yang mengharuskanku memperbaiki kuliahku di tahun berikutnya.

Sebab hausku akan bacaan sastra, aku mulai blusukan di toko-toko buku. Toko buku loakan semisal Kampoeng Ilmu, atau toko buku tenar semisal Gramedia dan juga Togamas. Nah, yang terakhir inilah yang paling sering kukunjungi. Tepatnya Togamas yang letaknya di jalan Diponegoro depan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sebab selain letaknya dekat dengan domisiliku, juga memang tempatnya nyaman. Tidak punya uang pun bisa membaca disana. Maka tak jarang aku datang ke sana hanya untuk membaca. Paling banyak tentu membaca novel. Ah, aku jadi kangen suasana Togamas...

Kegandrunganku akan sastra mendorongku untuk mulai menulis. Aku mulai menulis tergolong telat memang. Yaitu setelah tiga tahun jadi mahasiswa. Dan itupun saat aku sudah “cuti” kuliah (biar kutuliskan soal ini di lain waktu). Aku mulai bercita-cita untuk jadi penulis. Dan dunia tulis-menulis itu memang tidak mudah ternyata. Aku merasa terseok-seok disini sampai saat ini.

29/07/12

Tidak ada komentar: