Kapitalisme makin menguat. Korban baru terus berjatuhan. Jatuh
dalam arti mati secara fisik, menderita, atau kematian dalam hidup. Gerak tubuh
dan hasrat sudah terkodifikasi dalam kotak-kotak yang tersediakan. Saat kau hendak
keluar dari kungkungan kotak itu, sudah ada kotak luar sana yang bakal
menampungmu untuk kembali mengkerngkengmu. Kau melawan dengan beringas, dan
kemudian kau serahkan kemerdekaanmu dengan sukarela untuk menjadi budak
kembali. Apa salah?
Dan negara hanya organisasi yang dulu saat dibentuk hendak
menjadi negasi atas penindasan. Tapi kini kemudian juga tunduk, bertekuk lutut
dan malah memperteguh penindasan antar manusia itu. Kau bisa lihat sendiri
bagaimana bahkan di negara yang katanya paling demokratispun menghabisi sekian
jalan lain, jalan alternative diluar yang tersedia. Disini kau bakal mengerti
mengapa zaman raja-raja tak beda jauh dengan zaman demokrasi saat ini.
raja-raja tak menghendaki kewibawaannya digerogoti, sementara system demokrasi
yang kita anut saat ini, yang menjunjung kebebasan, bahkan menghabisi kita
untuk mengimpikan jalan lain yang manusiawi, dan mengatakan bahwa yang terjadi
saat ini salah total.
Kau bisa saja berteriak lantang melawan. Ayo, lawanlah yang
menurutmu melenceng dari yang kau idealkan. Kau diberi kebebasan, bahkan
disediakan mimbar untukmu. Tapi kau akan tahu, dalam sebentar saja teriakanmu
akan jadi cerita konyol, lelucon, hiburan, yang kemudian malah menguatkan system
yang kau lawan. Disini kau akan kelelahan. Kau akan putus asa sampai mati. Mengapa
demikian? Ada hal yang barangkali kau lupakan. Kau, bahkan cara berfikirmu saja
sudah menggunakan cara berfikir mereka. Kau tak pernah berfikir diluar system ini,
sehingga perlawananmu bukan menjadi suatu negasi. Kau telah mati sejak dalam
fikiran. Kau robot yang digerakkan system itu untuk membenahinya agar tidak ada
yang rusak. Dan saat kau coba berfikir diluar system itu, kau akan dianggap
irrasional. Kau juga ditinggalkan. Rasional atau irrasional ditentukan apakah
itu menguatkan system atau tidak. Rasio menjadi rezim yang sedemikian dingin
menggerogoti kemanusiaan.
Itu bukan pesimisme. Itu kenyataan. Lalu bagaimana
menghadapi? Mari, kita telaah satu-satu mengapa hal sedemikian terjadi.
.jpg)