Selasa, 31 Juli 2012

Kedai Kopi Jogja

Di Jogja, kedai atau cafe adalah tempat yang paling nyaman. Ada banyak sekali cafe disana. Mulai cafe untuk kalangan elit, sampai cafe untuk kaum jelata. Tapi yang dibahas disini adalah cafe yang terakhir.

Jamak diketahui, bahwa Jogja adalah kota pelajar, dimana kampus-kampus bertebaran dimana-mana. Dan rupanya cafe tak mau kalah. Dimana-mana cafe bermunculan. Cafe yang memang berniat menjaring sasaran konsumen utamanya adalah mahasiswa. Karena itu, cafe-cafe yang bermunculan itu menyediakan fasilitas senyaman dan selengkap mungkin, dengan harga sesuai dengan kocek mahasiswa. Wifi zone, layar lebar buat nonton bola, tempat duduk yang mantap untuk diskusi atau ngobrol ramai-ramai, dan sebagainya. Maka, tidak heran jika kau temukan suatu cafe yang terlihat elit, tapi harganya cukup murah meriah.

Blandongan adalah contoh yang paling tua dan populer, sebelum marak kedai lain. Selain cukup tua, cafe ini juga harganya lebih miring dibanding yang lain. Bayangkan, dengan hanya membawa Rp 5.000, kau bisa minum dua jenis, kopi dan teh. Atau kalau sangat mepet, kau bisa pinjem uang temanmu Rp 1.500, dan belilah teh hangat. Lalu kau bisa menikmatinya sampai malam. Bagi masyarakat (baca: mahasiswa) UIN Suka, terutama yang mengaku aktivis, hampir bisa dipastikan kalau dia mengenal cafe ini. Sebab hari-harinya seringkai dihabiskan di kedai kopi tersebut.

Selain Blandongan, cafe-cafe yang cukup popoler adalah Kebun Laras, Mato, Blackstone, Nusantara, dan masih banyak lagi. Rata-rata harganya sama, dengan fasilitas yang juga relarif sama. Terkadang di beberapa cafe malam menyediakan hiburan musik yang dilantunkan dari grup musik tertentu yang memang dipesan oleh pemilik cafe. Ini bisa dijumpai di cafe G’bol tiap malam minggunya.

Kebanyakan cafe-cafe yang ada selalu buka 24 jam. Kecuali Blandongan yang memang tradisinya selalu tutup tepat jam 00.00 WIB. Pada jam tutup itu, lampu-lampu bakal dimatikan, meskipun pelanggan masih ada yang nongkrong. Tapi, tak jarang aku melihat beberapa orang masih saja nongkrong sambil ngobrolin entah apa, sambil bergelap-gelapan. Mungkin terlalu asik, atau memang pembahasannya terlalu gawat untuk dilewatkan. Entahlah.

Semua cafe/kedai itu wifi zone. Sebab rupanya pelanggannya hampir semuanya mahasiswa, sehingga, sambil menikmati kopi, mereka bisa mengerjakan tugas, searching, atau sekedar mengarungi jejaring sosial.

Aku sendiri termasuk penikmat berbagai cafe. Awalnya hanya diajak temen, tapi lama-lama jadi kecanduan juga. Tidak afdhol rasanya jika dalam seminggu tidak ke cafe lebih dari dua kali.

Sementara ini, cafe yang sering saya kunjungi sama teman-teman adalah Blandongan, Blacstone, dan Kompleks Kebun Laras. Paling sering dengan teman-teman Arena atau KeMPeD. Disana kami bisa bercengkerama, berdiskusi, sharing, ngobrol ringan, becanda-ria, merayakan ulang tahun, atau sekedar mengisi waktu luang. Selain itu, kita juga sering main kartu domino atau remi. Atau hanya nonton bola sampai pagi!

31/07/12

Aku dan Buku (8)

Hubunganku dengan buku akhir-akhir ini terasa renggang. Aku sibuk dengan hal-hal lain yang seringnya tak ada kaitannya dengan buku. Tapi buku masih tetap pasokan utama terhadap wawasanku hingga kini. Entahlah, padahal wawasan dari buku sesungguhnya adalah wawasan dari sumber sekunder yang seringkali tereduksi oleh berbagai hal. Buku adalah dunia tersendiri yang lepas dari pengarangnya, lepas dari obyek asli yang tertulis. Buku adalah simulasi dari dunia yang ditandai tapi ia tak jarang berwajah lain dari kenyataan lapangan. Buku adalah produk pemikiran, imajinasi, serta konstruksi ulang atas realita yang ada. Buku adalah dunia ide, seberapa pun dekatnya terhadap kenyataan. Tetap, dia ide. Dan ide itu sekunder.

Sejak dulu aku pengen menulis buku, tapi belum juga terealisasi hingga kini, sementara teman-temanku sudah banyak yang menghasilkan karya, minimal skripsi. Aku belum memulai apa-apa dan belum tahu harus memulai apa-apa. Ini menyedihkan. Tapi ini memang kenyataan yang harus aku telan.

Memang, dalam perencanaan saja aku menemui kegagalan. Padahal gagal dalam perencanaan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Dan kegagalanku dalam merencanakan penulisan atas suatu karya, tentu berawal dari kegagalan dalam perencanaan. Kalau sudah begini, merumuskan apa yang kurang itu terasa mudah. Tapi mengerjakan yang susah.

Buku-buku yang aku baca, kenyataan-kenyataan yang aku alami, seharusnya tidak cukup hanya kujelaskan, kupaparkan, kumaknai. Aku merasa mengemban tugas untuk terut andil dalam perubahan atas kenyataan dari sistem yang nir-humanis dalam bermasyarakat. Entahlah, mungkin aku masih buta memandang kenyataan, tapi mataku bisa dengan jernih melihat, bahwa memang hidup ini harus berubah atau diubah. Dan restorasi harus dimulai. Sementara aku sudah janji untuk menempatkan diri sebagai aktor, bukan sebagai penonton. Itu pilihan yang membawa konsekuensi yang harus kuhadapi, serta aku tak boleh mengeluh karenanya. Aku harus ikhlas, ya, harus belajar menghadapi jalan ini seikhlas-ikhlasnya, betapapun terjal dan berdurinya jalan yang kulalui, asal keyakinan dan harapan tidak mati, aku merasa belum kalah. Aku tetap harus berjalan.

Di titik ini aku menjadi tahu, buku bukanlah sentral, tapi ia hanya komponen dari kehidupan. Maka, aku tak boleh seperti dulu yang tunduk dengan buku-buku. Aku harus melampaui fase itu, dimana akulah yang harus menundukkan buku, atau menciptakannya sesuai kemampuanku. Suatu kemampuan yang terikat dengan paradigma yang meski belum terlalu mapan, tapi ia sudah ada dalam alur fikirku. Ya, aku ternyata sudah punya paradigma, tanpa kusadari. Kau, sekarang bisa dengan mudah menjeneralirisir apa yang terlahir dariku, sampai paradigmaku dalam memaknai realitas ini bergeser.

Meski begitu, aku tetap mencintai buku!

31/07/12

Aku dan Buku (7)

Setahun di Jogja, hasratku atas sastra terasa memudar. Aku kian disibukkan dengan pergerakan. Entahlah pentingnya apa pergerakan itu. I just feel, this is my home. Pergerakan adalah rumahku. Wadah dimana aku merasa punya sesuatu yang berharga di saat tak ada lagi yang kupunya di sana. Entahlah. Ada rasa yang begitu mendalam saat aku bergabung di pergerakan. Padahal, di pergerakan itu aktivitasnya paling-paling hanya diskusi dan aksi. Tapi, tanpa kusadari, pergerakan punya andil besar dalam membentuk mindset-ku, paradigmaku tentang realitas hidup. Aku jadi lebih mengerti apa yang selama ini terjadi pada masyarakat. Mengapa Indonesia tidak sepernuhnya merdeka, mengapa persoalan-persoalan kemiskinan tak kunjung usai, dan seterusnya. Pergerakan pulalah yang menggiringku untuk menyukai sebagian buku dan menyingkirkan yang lain yang menurutku kurang perlu. Aku mulai selektif dan kritis dalam menerima informasi. Aku mulai belajar apa arti solidaritas. Aku mulai belajar lagi bagaimana menulis buku, dan apa yang mendesak untuk aku tulis.

Seperti tulisan sebelumnya, selama di Jogja memang aku sangat jarang beli buku. Sebab utama tentu keuanganku yang lebih sering kekurangan. Tapi membaca buku selalu menjadi kebutuhan keseharian, sekedar mengisi waktu luang, atau menjadi pelampiasan. Maka, buku-buku temankulah yang jadi sasaran. Ya, membaca bagiku seperti demonstrasi. Ia tak jarang hanya kujadikan latihan dan pelampiasan belaka. Niat menyampaikan penderitaan rakyat serta protes atas kebijakan pemerintah, juga usaha penyadaran pada masyarakat atas sistem yang menindas dan harus dirubah ini, memang ada di sanubariku. Tapi aku cukup tahu soal signifikansi dari gerakan demonstrasi itu sendiri. Apalagi jika hanya dilakukan oleh sekelompok kecil belaka dengan strategi yang konvensional dan tradisional. Demonstrasi tak jarang hanya menjadi ritual pelipur lara saat hati merasa tercabik-cabik merasakan penderitaan rakyat, juga penderitaan diri. Maka, aku berfikir harus ada strategi baru yang harus dilakukan dengan tujuan yang sama tapi dengan signifikansi yang lebih. Aku yakin ada banyak cara untuk itu yang salah satunya adalah menulis buku. Sebab dengan menulis, suara ini bisa terdengar lebih lama, juga lebih jauh.

Tapi, lagi-lagi aku masih dibingungkan dengan tema yang harus aku tulis. Apa yang sesungguhnya penting untuk kutulis? Apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini? Apa yang bisa kutuliskan? Apa yang bisa dan harus kulakukan dengan tulisan-tulisanku jika sudah ada yang kutulis? Itulah pertanyaan yang seringkali muncul. Dan aku belum bisa menjawabnya. Mungkin aku tak perlu menjawab, langsung kerjakan saja apa yang menurutku penting. Tapi sayang, ketika aku memulai mengerjakan sesuatu sebagai jawaban atas pertanyaanku diatas, fikiranku terasa mandeg. Aku hanya kembali membaca, membaca, dan membaca. Belum bisa beranjak lebih jauh dari itu.

Sampai disini aku kesal dengan diriku sendiri yang ternyata belum berdaya. Aku kesal sebab nyatanya aku tak bisa apa-apa selain mengkritik atau bahkan menghujati mereka yang menurutku menambah deretan kaum penindas. Aku ngilu sendiri. Dan di malam ini. Aku terpekur sendirian membacai tulisan-tulisan yang sempat kutorehkan entah sebagai curahan hati atau sebagai propaganda amatiran, dan aku masih malu. Kemampuanku tak sebesar ambisiku. Maafkan aku.

31/07/2012

Aku dan Buku (6)

Setahun di Jogja, tetap saja, bacaanku tidak ada yang fokus. Jurusanku Perbandingan Agama, tapi buku-buku yang kubaca seringnya malah tak ada hubungannya dengan studi agama-agama. Sementara buku-buku yang tentang perbandingan agama sudah mulai malas aku membacanya. Entahlah. Padahal dulu aku sangat tertarik dengan kajian ini waktu masih di Surabaya. Jadinya, studiku juga agak terlantar.

Namun, untungnya aku segera menyadari, bahwa pola membacaku yang tidak jelas ini harus kumenej. Sebab aku tak mau lagi mengulang kesalahan masa lalu. Maka, sejak setahun kemarin bacaanku kubatasi: kajian agama harus kuutamakan, dan kajian kiri (termasuk di dalamnya ekopol dan sejarah), dan bahasa inggris. Mungkin itu masih terlalu luas. Tapi itu sudah cukup terpola. Artiya, bagaimanapun, bacaanku memang harus mendukung kuliahku, dan wacana kiri sebagai pisau analisa. Sementara bahasa inggris bisa buat modal melanjutkan kuliah berikutnya. Tapi, buku-buku bahasa inggris sekalipun juga harus tentang dua tema di atas. Biar saling menunjang.

Selain membaca, aku mulai lebih intens menulis. Apalagi aku masuk UKM Pers. Pilihanku aktif di UKM ini awalnya tentu adalah pilihan pragmatis. Agar aku bisa tetap melatih diri untuk menulis, sebab di UKM Pers selalu membuat lingkungan yang kondusif untuk belajar menulis. Nah, dalam perjalanannya, ternyata tak semulus yang kubayangkan. Rasa malas untuk nulis sangat kuat. Aku sendiri seolah tak bisa menekannya. Aku pernah mensiasati agar tetap bisa nulis yaitu dengan nulis buku harian. Ya, cukup berjalan beberapa hari, tapi tak bertahan lama. Kembali catatan harianku kuterlantarkan. Tapi aku tak mau itu terjadi terus-menerus. Aku harus tetap menulis. Dan hingga kini rasanya sudah sedikit berhasil.

Keberhasilan menulis harian yang isinya hanya tentang curahan perasaan itu, sebetulnya menyedihkan. Sebab tak beranjak-beranjak ke fase yang lebih serius. Aku tetap saja kesulitan menulis tema-tema serius. Aku masih kesulitan membiasakan menulis opini, artikel, resensi, dan sebagainya. Paling-paling kalau misalnya nulis seperti itu, jangka waktunya sangat lama. Sebulan belum tentu bisa nulis serius. Dan aku sangat menyayangkan diri akan ketidakberdayaan diri dalam hal ini.

Maka, ketika aku sudah mentok tidak menulis, pelarianku pasti membaca, baca, baca. Aku terlalu sering ketika mau niat menulis jadi membaca. Membaca hanya kuanggap sebagai pengisi waktu luang—daripada bengong.

Namun aku berfikir, aku pasti bisa mengatasi. Memang butuh tahapan, dan gak serta-merta langsung bisa. Harus ada pengkondisian dulu. Dan itulah yang kini sedah kulakukan. Aku masih bekerja keras dalam hal ini. Sebab aku yakin, tanpa menulis, gagasan-gagasanku tak bakal tersampaikan.

30/07/12

Aku dan Buku (5)

Waktu itu bulan puasa 2010. Aku masih kerja sebagai kuli bangunan. Berjuang membebaskan diri dari lilitan hutang. Juga mengumpulkan bekal buat ke Jogja. Aku masih ingat, ketika suatu malam meminjam duit teman untuk pergi ke jogja tanpa bilang siapapun.

Dan esoknya aku izin tidak masuk kerja. Aku berangkat ke Jogja naik KA Sritanjung. Membawa satu pakaian seadanya, duit juga seadanya, peta Jogja, dan tentu saja buku. Di stasiun itulah buku yang kubawa menjadi teman terbaikku saat aku sudah capek ngobrol dengan penumpang lain. Aku memang benar-benar menenggelamkan diri dalam angan yang tertulis dalam tiap lembar buku yang kubaca. Lalu tertidur.

Tengah malam sampailah aku di Lempuyangan. Petaku kubuka, kucari arah UIN. Jalan kaki, kususuri jalanan Jogja yang lengang. Kota ini kurasa memang begitu nyaman. Senyaman jargon yang dipasang dimana-mana: Jogja berhati nyaman.

Singkat cerita, aku jadi mahasiswa UIN Jogja. Dan buku-buku tetap saja mengiringi hidupku. tapi di kota ini tak banyak buku yang kubeli. Sebab aku mengerti, bahwa hidup itu sendiri lebih penting daripada buku. Uangku yang pas-pasan tentu lebih baik kugunakan dulu untuk makan. Ya, begitulah.

Di kota ini, banyak mengajariku perihal kehidupan itu sendiri. Lebih dari sekedar buku-buku. Tapi bukan berarti aku meninggalkan buku. Aku masih tetap menggandrungi buku. Dan kebetulan di kota ini seringkali ada bazar buku. Dan aku jadi tersiksa karena lebih sering tak mampu beli. Ah, tak apa. Aku yakin, ini hanya sementara. Pada saatnya nanti aku yakin, bahwa aku bakal bisa memenuhi (minimal mengisi) tidak hanya hasratku sendiri atas buku-buku, tetapi juga hasrat orang lain, termasuk generasi yang senasib denganku. Ya, aku yakin itu.

29/07/12

Aku dan Buku (4)

Sekembali dari Jakarta, aku mau melanjutkan kuliahku lagi di Surabaya. Disana aku memang kembali ke kampus. Bertemu teman-teman sekelas, maupun seorganisasi. Tapi buku masih kunomorsatukan.

Kuliahku memang berantakan. Dan aku sangat kesulitan untuk menatanya kembali. Keadaan seperti ini berlangsung beberapa bulan. Sementara teman-temanku kini sudah mulai semester enam. Aku merasa tertinggal. Dan itu sesak rasanya. Apalagi kondisiku keuanganku habis. Hutangku mulai banyak. Sebab tak terasa uang simpananku ludes. Paling banyak tentu buat beli buku. Sementara buku-buku itu kurasa tak banyak menolongku untuk menunjang kuliahku. Aku merasa terpuruk.

Dalam konsisi seperti ini, aku menjadi lebih penyendiri dibanding sebelumnya. Aku menjadi sering merenung, melamun sendiri, keluyuran tidak jelas dari taman ke taman, menyusuri trotoar dan sungai. Dan aku mulai menulis kembali. Disinilah sajak-sajak kurasa mulai mengalir. Terkadang juga catatan-catatan tentang hidup, dan cerpen. Ya, aku memulai menulis cerpen lagi.

Tapi sayang, tulisanku memang tak layak untuk konsumsi publik sehingga kusimpan sendiri. Dan sebagian hilang entah kemana. Sementara aku butuh makan, butuh kembali menata kuliah. Maka, aku kerja. Tahu kau kerjaku apa? Jadi kuli bangunan. Menggarap sepanjang trotoar jalan Darmo dekat taman bungkul. Sebelumnya aku memang pernah jadi kuli bangunan selama sekitar sebulan, dan lebih pedih rasanya. Tapi aku tak ingin cerita tentang itu.

Menjadi kuli penggarap trotoar, rasanya bahagia juga. Daripada jadi pengangguran. Sebab, aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya makan dengan tetes keringat (yang benar-benar melelahkan). Aku bisa merasakan bagaimana rakyat kecil mencari hidup. Aku bisa bergaul dengan mereka dengan cukup akrab serta bisa menggali dan belajar dari pengalaman mereka. Aku cukup mengerti. Bahwa hidup ini memang keras. Tapi kita tak boleh hanya menggerutu, mengeluh atas keadaan. Yang patut kita lakukan adalah menjalani dengan sebaik-baiknya.

Waktu aku jadi kuli, rupanya tak menyurutkanku membaca buku. Aku tetap membaca. Juga, aku bahkan lebih sering menulis. Sebab saat aku kerja, inspirasi itu betapa melimpah...

Tapi hasil kerjaku tak lagi (sangat sayang) kalau hanya untuk kubelikan buku-buku seperti dulu. Aku mulai realistis dan mulai tahu sedikit tentang apa yang harus kuprioritaskan. Maka, saat itu yang menurutku prioritas adalah melanjutkan kuliah. Hingga aku menemukan kampus lagi untuk kuliahku: UIN Jogja.

Ya, Jogja, izinkan aku menginjakkan kakiku di tubuhmu. Izinkan aku mencercap sukmamu. Izinkan aku menyelami kedalaman liku-likumu.

Aku datang, sambutlah!

29/07/12

Aku dan Buku (3)

Kegandrunganku dengan buku berlanjut ketika aku kerja di Jakarta. Di toko buku “Bukafe: Bookstore and Cafe” namanya. Aku kerja sebagai OB, lalu Staf Administrasi. Di sana aku merasa senang dan otomatis kerasan, sebab banyak sekali buku-buku yang ada. Apalagi toko ini memang sengaja didesain agar para pelanggan cafe itu bisa sekaligus belajar/membaca. Bukunya tak usah dibeli gak masalah. Makanya, banyak buku-buku yang memang tidak disegel. Selain itu, ruang bacanya nyaman. Sehingga, tiap kali aku istirahat dari kerja, sudah bisa dipastikan bakal baca buku. Kalau dulu lagi gandrung sastra, sekarang mulai meluas lagi. Entahlah. Aku memang tak pernah bisa fokus mempelajari sesuatu. Semuanya ingin kupelajari, sehingga jadinya dangkal semua. Aku memang kesulitan menentukan skala prioritas. Mana tema-tema yang prioritas untuk kubaca, mana yang bisa ditunda, itu kesulitanku.

Paling sering aku baca buku menjelang tidur. Buku memang jadi pengantar tidurku. Tanpa baca, rasanya aku kesulitan untuk tidur. Nah, ini penyakit baruku. Juga, seingkali aku baca buku sambil beol. Dan rupanya ini bikin kecanduan juga. Tiap aku beol, rasanya kurang afdol tanpa baca buku. Entahlah, ini baik apa tidak. Cuma baru-baru ini saja aku sudah jarang beol sambil baca. Smsan atau hanya main2 hape sudah jadi gantinya.

Sekalilagi, bagiku kerja di toko buku itu sangat bermanfaat. Sebab langsung atau tidak, sadar atau tidak, tentu kehidupanku bakal sangat dekat dengan buku, dan sudah bisa dipastikan aku tiap hari bakal baca. Dan dengan baca, wawasan terasa bertambah. Di toko buku ini aku mulai mengenal banyak karya-karya besar. Aku mengenal banyak tokoh-tokoh besar seperti Pramoedya Ananta Toer dan sekian tokoh lainnya. Aku mulai tahu tentang perseteruan dalam belantara sastra antara Manikebu vs Lekra, antara Realisme Sosialis vs Humanisme Universal.

Akibatnya, aku merasa berbeda dalam memandang segala sesuatu dari sebelumnya. Ya, aku merasa ada yang berbeda. Dan aku puas dengan itu. Makanya, aku sangat berterimakasih pada pemiliknya.

Namun, sayangnya selama aku jadi pekerja di toko buku, hasrat menulisku memang mengalami kondisi terlemah. Aku tidak pernah menulis lagi. Hanya baca, dan baca. Aku cukup sedih akan hal ini. Tapi saat itu memang rasanya benar-benar susah untuk menulis. Hingga aku kembali lagi ke Surabaya.

29/07/12

Aku dan Buku (2)

Di perpus IAIN, spektrum bacaanku sangat luas, tak terbatas suatu tema tertentu. Mulai dari buku-buku agama, sosial, politik, filsafat, sastra, astronomi, mistik, dan lain-lain, sampai soal fasion dan menu masakan di majalah femina, kubacai semua. Jadi, praktis tidak ada yang kupelajari secara mendalam. Hanya baca, baca, dan baca. Entah ada yang nyangkut di otak apa enggak. Jika buku itu jendela dunia, kubayangkan diriku terpana oleh sekian jendela yang terbuka dengan pemandangan diluar yang berbeda-beda. Aku melongok ke tiap jendela itu, tapi tak ada yang bertahan lama. Sebentar di satu jendela, lalu pindah ke jendela lain. Hingga aku menemukan satu jendela yang menurutku pas dan mantab saat itu: sastra.

Semester tiga, aku mulai menyukai sastra. Awalnya aku menganggap sastra itu bacaan sampah. Tapi pandanganku yang seperti itu gugur saat aku membaca tiga novel: Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Syirazi; Jalan Sunyi Seorang Penulis karya Muhidin M Dahlan; dan tentu saja Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Maka, mulai saat itu aku selalu membaca karya sastra. Entah novel atau cerpen. Tapi koleksi buku-buku sastra tak banyak di perpus IAIN Sunan Ampel. Maka, aku terpaksa mencarinya diluar.

Perjumpaanku dengan sastra memperpuruk kuliahku. Aku mulai melupakan tujuanku di Surabaya untuk apa. Aku terlalu asyik dengan sastra. Sebab dengan sastra, imajinasiku disulut untuk hidup, mimpiku diperjelas, keberanianku dikobarkan. Dan rupanya aku salah arah. Aku menyesal sebab ini yang mengharuskanku memperbaiki kuliahku di tahun berikutnya.

Sebab hausku akan bacaan sastra, aku mulai blusukan di toko-toko buku. Toko buku loakan semisal Kampoeng Ilmu, atau toko buku tenar semisal Gramedia dan juga Togamas. Nah, yang terakhir inilah yang paling sering kukunjungi. Tepatnya Togamas yang letaknya di jalan Diponegoro depan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sebab selain letaknya dekat dengan domisiliku, juga memang tempatnya nyaman. Tidak punya uang pun bisa membaca disana. Maka tak jarang aku datang ke sana hanya untuk membaca. Paling banyak tentu membaca novel. Ah, aku jadi kangen suasana Togamas...

Kegandrunganku akan sastra mendorongku untuk mulai menulis. Aku mulai menulis tergolong telat memang. Yaitu setelah tiga tahun jadi mahasiswa. Dan itupun saat aku sudah “cuti” kuliah (biar kutuliskan soal ini di lain waktu). Aku mulai bercita-cita untuk jadi penulis. Dan dunia tulis-menulis itu memang tidak mudah ternyata. Aku merasa terseok-seok disini sampai saat ini.

29/07/12

Aku dan Buku (1)

Kembali aku membayang masalalu, masa di Surabaya. Khususnya hubunganku dengan buku.

Sampai lulus SMA tak banyak buku-buku yang bisa kubaca. Sebab memang di sekolahku tak ada perpustakaan. Dan beli buku sendiri adalah hal yang tidak mungkin. Sebab selain tidak punya cukup uang, juga bakal kesusahan nyari toko buku. Paling-paling yang ada hanya penjual buku-buku pelajaran. Atau buku-buku tentang ajaran-ajaran islam. Jadi, praktis aksesku terhadap buku-buku itu sangat terbatas. Padahal aku tergolong haus baca. Aku merasa tersiksa sebab ini.

Lulus dari SMA aku memaksakan diri kuliah di Surabaya, di IAIN Sunan Ampel, jurusan Psikologi. Ah, betapa bahagianya rasanya jadi mahasiswa. Apalagi disana tersedia perpustakaan yang menurutku sangat besar. Buku-buku yang tersedia sangat melimpah. Maka, melihat buku-buku itu rasa hausku akan bacaan bakal kulampiaskan disini. Dan benar, hampir tiap hari aku mengunjungi perpustakaan. Bahkan dapat dikatakan sampai lupa bergaul dengan kawan-kawan. Kalau tak ada jam kuliah, bisa dipastikan aku masuk perpustakaan. Untuk baca, baca, baca, atau terkadang nonton film dokumenter. Tak jarang aku dari pagi hingga sore di perpus. Mandi di sini, solat di sini, terkadang tidur (atau tertidur) juga disini. Aku benar-benar menjadi penghuni tetap perpustakaan.

Kegilaanku akan buku itu kian hari kian menjauhkanku dari pergaulan, juga dari kuliahku sendiri. Aku kian sibuk dengan buku-buku yang temanya seringkali tidak ada hubungannya dengan psikolagi. Bahkan aku kian malas untuk belajar psikologi, kecuali psikologi sosial. Mungkin ini disebabkan dosen-dosen yang mengajar psikologi sangat memuakkan. Kaku, tidak menarik, tidak melatih keberanian mahasiswa selain malah memupuk rasa takut, serta membunuh mimpi dan imajinasi. Dan sialnya, itu semua membuatku malas untuk membaca buku-buku psikologi.

Semester dua aku mulai jarang masuk kuliah, dan lebih rajin ke perpustakaan. Tak jarang aku bolos kuliah hanya gara-gara membaca buku di perpus. Bagiku, itu lebih menarik saat itu. Aku merasa lebih mendapat ilmu disana, dan buku-buku adalah guruku. Maka, praktis kuliahku mulai kacau, tapi aku abai. Entahlah, waktu itu aku tak berfikir panjang. Aku hanya ingin melampiaskan hasrat bacaku. Sebab di buku, aku mulai merajut mimpi, dan mimpi itu jadi semakin jelas rasanya. Hal yang sungguh tak kudapatkan di kelas psikologi.

Itulah awal perjumpaanku secara lebih intens dengan buku.

29/07/12

Surat untuk Adik

Assalamu alaikum wr wb.

Dik, aku senang membaca tulisanmu yang berjudul “perubahanku.” Kau baru beranjak kelas 2 MA, tapi sudah bisa berfikir semaju itu. Sesuatu yang tak pernah terfikirkan olehku seusia itu.

Bagiku sendiri, memang kita harus capet-cepat menyadari bahwa tujuan kita sekolah bukan untuk nilai raport, ranking, juara, baik di mata guru, dan sekian hal-hal yang “dangkal” lainnya. Tujuan sekolah yang seharusnya adalah mendidik kita supaya cerdas lahir batin. Supaya kita menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang pantas jadi abdillah sekaligus khalifah di muka bumi. Manusia yang tidak tercerabut dari realitas yang dihadapi masyarakat.

Biar kukasih contoh pendidikan yang tercerabut dari realita ya. Begini, di selatan desa kita ada sumber minyak, tahu Blok Cepu kan? Itu menghasilkan sekian triliun tiap tahunnya. Tapi siapa yang menguasai? Ternyata perusahaan asing yang bernama Exxon Mobile. Bukan negara. Sementara rakyat di pinggir-pinggir kawasan itu masih saja hidup miskin, tak banyak yang turut menikmatinya. Paling-paling hanya ada cipratan sedikit beasiswa sudah langsung gidrangan. Padahal UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Tapi nyatanya? Nol besar. Dan pendidikan kita apakah mengajari hal ini? Tidak samasekali! Kita malah sering diajak debat kusir dengan hal-hal yang gak mutu. Soal-soal tetek-bengek tentang hal-hal furuiyah, misalnya.

Coba bayangkan kalau Blok Cepu (dan tambang2 lain) itu dikuasai negara. Pasti negara cukup duit untuk menggratiskan seluruh biaya pendidikan di Indonesia. Lha wong negara kaya kok. Gak bakal ada seorang yang mengeluh sepertimu tentang sekolah di MA yang tak kunjung gratis meski kampanye bupati dulu menjanjikan gratis. Wajarlah, penguasa memang seringkali bulshit!

Nah, kesadaran seperti itulah yang seharusnya ditanamkan sejak dini pada di sekolah-sekolah. Agar tahu, apa yang sesungguhnya dihadapi masyarakat. Kenapa Indonesia tidak maju-maju, ya salah satunya pendidikan yang ada itu tidak mencerdaskan, tetapi membodohkan!

Aku melihat gelagat pemberontakan darimu sangat menggebu untuk meraih kebebasan. Itu bagus sebagai awalan. Tapi kamu juga harus mengerti, bahwa kebebasan itu bukan segalanya. Yang terpenting, kebebasan itu juga harus diiringi dengan pertanggungjawaban kita dalam menjaga hubungan kita dengan Allah (hablun minallah), dengan manusia (hablun min an-nas), juga dengan alam (hablun min al-alam). Ah, kau sudah besar, kau pasti sudah mengerti.

Oya, cita-citamu yang tinggi itu perlu tahapan-tahapan yang harus kamu kerjakan untuk meraihnya. Dan yakini, sebelum meminta sesuatu pada Allah, persiapkan diri dulu agar kita pantas mendapatkannya. Sebab, dengan begitu kita bakal benar-benar merasakan indahnya perjuangan.

Dalam tulisanmu, kamu bilang sering membantah guru, mengabaikan peraturan, sering telat masuk, kenapa? Apa hanya gara-gara cari sensasi atau males? Jangan sering menyalahkan keadaan yang menurutmu sulit. Pemberontakan itu sekali-kali tidak apa-apa, itu melatih keberanian berekspresi, asalkan ada alasan yang benar. Aku percaya kamu pasti punya alasan itu.

Namun, bagaimanapun tidak setujunya kita dengan guru, kita harus tetap hormat padanya. Belajar yang rajin ya. Jangan seperti kakak.

Salam hangat dari jauh. Semoga Allah selalu menenggelamkan kita dalam lautan rahmatnya.

29/07/12
Kakakmu

Biar Doa yang Menyambungkan Kita

... dan kau menuduhku melupakanmu. Tapi kadang tuduhanmu benar seiring aku teramat jarang menyapamu, atau membalas sapamu. Tapi bagiku, kau tidak sepenuhnya benar. Sebab seringkali dalam diam, aku merindukanmu. Dalam hening, aku mendoakanmu. Mungkin itu kurang bagimu, kau menuntut lebih. Tapi aku tidak bisa, meski janjiku dulu tak kan pernah melupakanmu.

Ah, barangkali kau merasakan sesuatu yang teramat lain dari diriku. Ya ya, seperti ungkapmu baru-baru ini. Aku senang. Rupanya aku bisa berubah. Dan perubahan ini kuharap menuju lebih baik. Pun harapku padamu, sejak lambaian terakhirmu, lambaian perpisahan.

Ada kalanya aku mengharapkanmu kembali. Tapi luka terlanjur mendalam. Dan aku tak mau mengulang. Padahal aku telah lama bersusah payah mengubur kenangan itu. Tapi kau terkadang sekelebat tetap membayang. Entah untuk apa.

Aku berdoa padamu untuk kebahagiaanmu. Aku memang rindu padamu, tepatnya rindu pada kenangan bersamamu. Tapi aku tahu. Kenangan tak bakal mengulang dirinya. Dan bagiku, kau adalah masalalu. Saat aku bertemu denganmu, kurasa segalanya terlanjur menjadi sangat lain. Dan aku tak lagi punya rasa denganmu. Apakah kau merasakan hal yang sama?

Kuharap kau melupakanku. Atau jika kesulitan, sini, biar kuajari bagaimana melupakanku. Kita memang harus meniti jalan masing-masing. Aku dengan kekasihku. Dan kau dengan kekasihmu. Takdir tak mengizinkan kita bersama.

Maka, biarlah hanya doa ini yang menyambungkan kita.

27/07/2012

Puasaku

Puasa emang bikin aku susah mikir. Laper, gak bisa mikir. Habis buka, sama aja gak bisa mikir gara-gara kekenyangan. Makanya, nulis pun susah. Tapi, “kamu harus tetep nulis yank, apapun itu,” katanya suatu hari. Ya, ya, baiklah. Dia benar. Dan aku nurut. Lihat nih, sudah tiga baris! Hebat kan? :P

Terus terang, aku belum bisa merasakan nikmatnya puasa. Puasa itu, laper, haus. Seriuss (dobel “s”). Kalau ada yang bilang dia bisa menikmati indahnya puasa, aku salut, dan akan berguru suatu saat. Bahkan, saking tersiksanya waktu puasa, aku sempat berfikir untuk apa sih kita disuruh menyiksa diri begini? Apa benar puasa yang diajarkan Nabi dulu itu benar-benar seberat ini? Gak boleh makan, minum (juga onani), dalam waktu belasan jam? Atau jangan-jangan sebetulnya puasa itu hanya agar kita lebih fokus pada Allah? Kalau gitu gak harus tidak makan tidak minum seharian penuh dong? Yang penting kan menahan diri dari selain Allah?

Ssttt... itu dulu. Duluuu amat, waktu aku lagi suka-sukanya menggugat ajaran Tuhan. Sekarang sudah lain. Sudah capek. Sudah menyerah. Sebagai muslim, disuruh puasa ya puasa, disuruh zakat ya zakat, disuruh solat ya... (kadang gak solat juga sih). Tahu kenapa? Aku sudah tidak bisa lagi mencari alasan sesungguhnya dibalik semua “perintah Tuhan” itu! Hikmahnya, filosofinya, rasionalitasnya, relevansinya, signifikansinya. Aku sudah menyerahkan semua pada Tuhan. Ya, sebisa mungkin seluruh jiwa dan ragaku, setotal-totalnya, sekaffah-kaffahnya—maunya. Atau ini bentuk keputusasaan yang juga dilarang Tuhan? Terserahlah, kau maknai apa. Yang penting, hari ini nyatanya aku masih berpuasa. Dan barusan berbuka. Alangkah indahnya berbuka puasa itu. Apalagi kalau menunya enak. Lebih apalagi kalau sama... (sayangnya lagi jauh). Alhamdulillah ya Robb, Engkau memang Maha Pemurah!

Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ala rizqika afthortu, birahmatika ya arhamarrahimin.

24 Juli 2012 pukul 19:20 ·

Minggu, 08 Juli 2012

Kawan, Menjadi Mahasiswa Itu...

Assalamu alaikum dan salam sejahtera semuanya.

Selamat ya. Kalian kini sudah menjadi mahasiswa diantara banyak sekali mereka yang tak lolos jadi mahasiswa. Saya kasih tahu, menjadi mahasiswa yang ber-IP tinggi, lulus cepat dan disayang dosen, itu mudah. Cukup turuti kata dosen, atau sesekali membantah biar kelihatan pantas dan hebat, lalu rajin kuliah, kerjakan tugas, patuhi kode etik, sopan santun, lupakan ajakan seriormu saat OPAK, dan jangan pernah ikut-ikutan acara yang aneh-aneh, apalagi demonstrasi, lebih apalagi yang anarkis. Dijamin: IP-mu bakal bisa yang tertinggi di dunia kampus dan lulus tercepat, dan namamu saat wisuda nanti akan harum sebagai mahasiswa teladan. Dengan begitu, kamu (katanya) bakal mudah ngelanjutin S2, juga mudah mencari kerja. Lalu ortumu bakalan bangga denganmu, begitu pula pacarmu. Mudah bukan?

Namun, kami punya pandangan lain. Menjadi mahasiswa, sesungguhnya, tak semudah yang diatas. Mahasiswa bukan lagi siswa, itu semua orang tahu. Kata seniormu dalam OPAK, bahwa mahasiswa adalah Agent of Change, Agent of Social Control, itu benar. Awal mula pergerakan yang nantinya menjadikan Indonesia merdeka itu yang merintis para mahasiswa, yup, tidak salah lagi, itu kenyataan sejarah. Tapi coba seniormu tanya balik, apakah mereka sudah melakukan hal itu? Atau, minimal apa yang sudah mereka lakukan selama ini yang sudah berani-beraninya neriakin kamu, mentang-mentang kamu masih Maba?

Kawan, menjadi mahasiswa berarti memasuki kehidupan baru, dengan tanggungjawab baru. Di kampus, kalian bakal menemui banyak hal yang sangat berharga, juga banyak yang sampah. Jangan mudah kaget, apalagi terhanyut oleh segala sesuatu yang kelihatannya “wah.” Tugas mahasiswa adalah mendidik diri dan sesama supaya benar-benar menjadi manusia—inilah sesungguhnya fungsi pendidikan. Sementara menjadi manusia itu mengemban dua tugas, sebagai abdillah, dan sebagai khalifatillah (nanti kita diskusikan soal ini lebih lanjut). Dan menurut Ibnu Khaldun, manusia tak bisa hidup sendiri, dia harus berbaur dengan masyarakat. Oleh karenanya, ada perintah Tuhan dalam Alquran supaya saling menasihati dalam menegakkan kebenaran, dan menasihati supaya menetapi kesabaran—jika kebenaran susah ditegakkan (QS. Al-Nashr). Atau kamu punya pendapat lain?

Kami bakal senang jika kalian kritis, lebih-lebih terhadap kami, yang masih juga seperti kalian, sama-sama mencari ilmu dan jatidiri, sama-sama mencari makna hidup. Maka, jika kalian tertarik, bergabunglah bersama kami di forum Lingkar Studi Pembebasan. Memang, di sana tidak banyak mendapat ilmu seperti dari dosen, sebab semuanya mahasiswa dengan kemampuan rata-rata, tapi disana kalian bisa mengasah gagasan kalian masing-masing, kalian bebas bereksplorasi ide-ide serta bagaimana membumikan ide-ide kalian itu. Dan kami menunggumu. Hai makhluk-makhluk mulia, jangan hinakan dirimu dengan membatasi ruang-gerak dan kebebasan berfikirmu.
Jadilah manusia merdeka dan Selamat bergabung dengan kami.


Ahmad Taufiq
Koordinator Lingkar Studi Pembebasan UIN Sukijo
CP: 087739012875

Sabtu, 07 Juli 2012

Kritik Cinta


Kali ini, izinkan aku bicara tentang sesuatu yang menjadi roh setiap zaman: cinta.
Cinta itu memerdekakan, bukan membelenggu, meski kemerdekaan tak harus bebas, dan memang tak sepenuhnya bebas, sebab merdeka memang tidak sama dengan bebas. Jika pecinta merasa terbelenggu sebab kekasihnya, hakikatnya bukan cinta, sebab kalau disebut cinta, dalam belenggu pun seorang pecinta tetap (merasa) merdeka.

Cinta yang dewasa, bagiku adalah cinta yang kaku, cinta yang membelenggu, dan bukan cinta yang apa adanya. Seringkali cinta dewasa penuh atribut tetek-bengek, sebab intinya bukan cinta, tapi egoisme. Ego yang hanya ingin diri bahagia, entah orang lain. Merujuk “cinta dewasa” suami istri, yang bicara bukan lagi perasaan yang mendalam, tapi kebutuhan. Kebutuhan akan ekonomi, gengsi, politik, atau yang lain. Pertahanan atas retak-tidaknya suatu bahtera keluarga bukan cinta itu sendiri, melainkan norma, tanggungjawab atas generasi, dan (atau) segala hal diluar cinta. Padahal semua itu sering berupa kepalsuan. Dan kepalsuan selalu memunggungi esensi cinta itu sendiri.

Sementara cinta yang apa adanya itu, selain memerdekakan, juga memuliakan—meski kemuliaan bukan jadi tujuan. Percontohan cinta yang apa adanya sudah ada saat Saat Hawa turun ke bumi, dan Adam mengikutinya. Sebab bagi Adam, lebih baik tinggal di bumi dengan cinta tulus sang Hawa, dari pada di surga tanpa cinta. Dan dari sinilah era manusia sebagai khalifah dimulai, dengan cinta.

Cinta dewasa jelas bukanlah cinta yang diajarkan Adam dan Hawa dulu. Sebab kata dewasa sendiri mengandung makna bahwa ia sudah tak lagi natural. Dan yang tidak natural, berarti sudah ternodai. Noda yang berasal dari ambisi, konstruk budaya, hegemoni, atau semua hal yang artifisial dan duniawi. Sementara cinta yang natural itu ukhrowi. Dan karenanya, ia abadi.

Mencintai bukan berarti membiarkan sang kekasih bebas, atau malah membelenggunya. Kadang seseorang memang butuh kebebasan, tapi disatu sisi tetap butuh pegangan. Jika pecinta bisa menyelaraskan keduanya, maka cintanya memang memerdekakan. Dalam keselarasan, tak berarti pecinta musti berfikir keras, agar bagaimana terhindar dari kesalahan, tapi cukup dengan perasaan yang mendalam, bahwa sesuatu harus dilakukan. Dan jika apa yang dilakukan salah, pecinta harus membenahi untuk selanjutnya, dengan cinta.

Dalam cinta, rasa saling percaya sekali-kali boleh disingkirkan. Sebab tanpa itu, tak kan ada yang disebut cemburu, dan tanpa cemburu, cinta itu tidak ada. Cemburu adalah salah satu tiang cinta, sebab cinta memang tak bisa berdiri sendiri.

Begitulah kira-kira pendapatku tentang cinta sejak setahun belakangan ini. Dan yang perlu diingat, cinta yang saya rumuskan ini hakikatkan bagian dari konstruk budaya, oleh karenanya, tulisan ini tidaklah natural. Tapi kau tak usah ragu, cinta itu hakikatnya bukan di tulisan ini. Tapi di hatiku. Dan hatiku hanya untukmu.

Salam.
Dalam remang senja Jakarta bulan Juli
2012

Jumat, 06 Juli 2012

POLITIK DAN PEMERINTAHAN ISLAM ZAMAN NABI MUHAMMAD


Oleh: Ali Mahmudov
 
PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah
Merujuk pada Al Qur’an, Islam tidak menganjurkan pada pemeluknya untuk membentuk negara, tetapi Islam mengajarkan bagaimana membentuk masyarakat (civil society atau ummat) dalam merumuskan tatanan masyarakat yang ideal dan beradab. Bentuk pemerintahan dan sistem politik  Islam adalah merupakan konsekuensi sekunder dari civil society[1]. Dalam tatanan masyarakat sipil, hal yang paling fundamental mempengaruhi  perubahan sosial adalah faktor ekonomi.[2] Faktor ini pula yang mempengaruhi kelahiran agama Islam dalam masyarakat Arab, bahkan sistem politik yang lahir dalam Islam hanyalah cerminan dari kondisi ekonomi waktu itu.[3]
Agama dan masyarakat Arabia abad ke tujuh mencerminkan realitas-realitas kesukuan semenanjung ini. Suku-suku Badui mengikuti gaya hidup pastoral dan nomadic dari satu wilayah ke wilayah lain untuk mencari air dan padang rumput bagi ternak-ternak - domba dan unta – mereka. Bentang daratan ini juga ditandai dengan kota-kota dan desa-desa oasis. Diantara yang terkemuka adalah Makkah, pusat perdagangan dan jual beli, serta Yatsrib (Madinah) sebuah perkampungan pertanian yang penting. Sumber-sumber kehidupan utama disini adalah penggembalaan ternak, pertanian, perdagangan dan penyerobotan. Peperangan antar suku adalah kegiatan yang sudah berumur lama yang diatur dengan tata-cara dan aturan main yang jelas. Misalnya, penyerobotan dianggap illegal selama empat bulan suci untuk haji. Tujuan penyerobotan adalah untuk merampas ternak suku-suku Badui musuhnya dengan korban minimum. Tujuan akhirnya adalah untuk memperlemah, dan pada akhirnya untuk menyerap suku-suku mereka dengan kemerosotannya dalam status “dibawah kekuasaan” atau “klien”. [4]
Masyarakat kesukuan Arabia  dengan Badui serta etos polities menjadi konteks bagi lahirnya Islam. Sama pentingnya, periode ini ditandai dengan ketegangan-ketegangan dan persoalan yang menyertai perubahan dalam sebuah masyarakat tradisional. Sebab ini adalah periode ketika kota-kota seperti Makkah dan madinah mengalami kemakmuran dan mengalihkan banyak orang dari kehidupan nomadic ke kehidupan menetap. Munculnya Makkah sebagai pusat dagang mempercepat awal orde politik, social dan ekonomi yang baru. Kekayaan baru, munculnya oligarkhi dagang baru dalam suku Quraisy, menajamnya pemisahan antar kelas social, melebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin mengguncang system nilai  kesukuan Arab dan keamanan social sebagai pandangan hidupnya.[5] Kondisi obyektif masyarakat yang eksploitatif itulah yang menjadi titik tumpu pergerakan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. [6]

Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah tentang kondisi obyektif masyarakat Arab yang mendasari kelahiran Agama dan politik Islam diatas, maka makalah ini hanya akan dibatasi dalam membahas tentang :
1.      Bagaimana bentuk politik dan pemerintahan Islam pada masa Nabi Muhammad?


POLITIK ISLAM ZAMAN NABI MUHAMMAD
Kebanyakan masyarakat merasa dan mengetahui bahwa hubungan antara agama dan politik dalam Islam sudah sangat jelas. Yaitu bahwa antara keduanya terkait erat secara tidak terpisahkan. Agama adalah wewenang pemangku syariah yaitu  nabi Muhammad melalui wahyu dari Tuhan. Sedangkan politik adalah wewenang kemanusiaan, sepanjang menyangkut masalah teknis structural dan procedural. Dalam hal ini peran ijtihad manusia sangat besar.
Persoalan penting antara bidang agama dan bidang politik (atau bidang duniawi manapun) ialah bahwa dari segi etis, khususnya dari segi tujuan yang merupakan jawaban atau pertanyaan “untuk apa” tidak dibenarkan terlepas dari pertimbangan nilai-nilai keagamaan. Atas dasar adanya pertimbangan nilai-nilai keagamaan itu diharapkan tumbuh kegiatan politik bermoral tinggi. Inilah makna bahwa politik tidak bias dipisahkan dari agama. Tetapi dalam susunan formalnya atau struktur praktis dan teknisnya, politik adalah wewenang manusia melalui pemikiran rasionalnya. da lam hal inilah politik dapat dibedakan dari agama. Maka dalam segi structural dan procedural politik  itu, dunia islam sepanjang sejarahnya mengenal berbagai variasi dari masa ke masa dan dari kawasan ke kawasan tanpa satupun dari variasi itu dipandang secara doctrinal paling absah. 

Bentuk Politik dan Pemerintahan di Madinah
Hubungan antara agama dan politik pada zaman Nabi Muhammad terwujud dalam masyarakat Madinah. Muhammad selama sepuluh tahun di kota hijrah itu telah tampil sebagai penerima berita suci dan seorang pemimpin masyarakat politik. Dalam menjalankan peran sebagai seorang nabi, beliau adalah seorang yang tidak boleh dibantah karena mengemban mandat. Sedangkan dalam menjalankan peran sebagai kepala Negara, beliau melakukan musyawarah – sesuai dengan perintah Tuhan – yang dalam musyawarah itu beliau tidak jarang mengambil pendapat orang lain dan meninggalkan pendapatnya sendiri.[7]
Sejarah mencatat bahwa kota hijrah nabi adalah sebuah lingkungan oase yang subur  dan dihuni oleh orang-orang pagan dari suku utama Aus dan Khazraj, dan juga orang-orang yahudi dari suku-suku utama bani Nadzir, Bani Qoinuqo, Bani Quraizhah. Kota ini awalnya adalah bernama Yatsrib lalu diubah oleh nabi menjadi Madinah. [8] Madinah yang digunakan oleh Nabi untuk menukar nama kota hijrah beliau itu kita menangkapnya sebagai isyarat langsung bahwa ditempat baru itu hendak mewujudkan suatu masyarakat yang teratur sebagaimana sebuah masyarakat. Maka sebuah konsep Madinah adalah pola kehidupan social yang sopan, yang ditegakkan atas dasar kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh pada peraturan atau hukum yang berlaku. [9]
Kalau menganalisis sejarah, system pemerintahan yang dibentuk oleh nabi Muhammad adalah bercorak system Teodemokratis, disatu sisi tatanan masyarakat harus berdasarkan pada hukum-hukum yang mana hukum tersebut berdasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa waktu itu. Disisi lain bentuk pemerintahan dan tatanan social dirumuskan lewat proses musyawarah yang dilakukan secara bersama suku-suku yang ada dalam masyarakat Madinah. Bila dikontekskan dengan system pemerintahan sekarang, bentuk struktur tatanan pemerintahan terdiri dari Eksekutiv, yudikatif dan legislative. Eksekutiv dimana kepala pemerintahan dipegang oleh Nabi Muhammad, begitupun dalam mahkamah  konstitusi dan hukum semua ditentukan oleh Nabi sebagai pengambil kebijakan selain dalam masalah menentukan bentuk tatanan masyarakat yang menyangkut pluralitas warga Negara Madinah. Dalam ranah legislativ, setiap suku yang ada di Madinah mempunyai persamaan hak dalam menyampaikan pendapat dalam menentukan tatanan social masyarakat seperti dalam menciptakan konstitusi Piagam Madinah.   
Dalam membiayai pemerintahan nabi mengambil zakat (zakat fitrah dan zakat maal) untuk umat muslim, serta mengambil Jizyah dari non muslim yang ada dalam masyarakat Madinah. Selain lewat militer[10], konsolidasi pemerintahan yang dilakukan oleh Nabi juga menggunakan diplomasi dan lewat perkawinan politik.[11] Sebagai pusat pemerintahan Nabi menggunakan masjid sebagai ruang publik. Pada awalnya masjid adalah bangunan yang mengekspresikan cita-cita awal Islam. Batang- batang pohon yang menyangga atap, sebiah batu menandai kiblat dan Nabi berdiri di salah satu tiang penyangga untuk berkhotbah. Juga terdapat sebuah halaman tempat umat Islam bertemu dan membiocarakan semua persoalan ummat baik dalam tataran politik, social, militer, dan agama. Muhammad dan istri-istrinya tinggal dibilik-bilik kecil. Disekeliling halaman. Tidak seperti gereja Kristen yang terpisah dari aktivitas keduniaan dan hanya digunakan untuk peribadatan, tidak ada kegiatan yang dikecualikan dari masjid. Dalam visi Al Qur’an tidak ada dikotomi antara yang sacral dan yang profan, antara agama, politik, seksualitas dan ibadah. Seluruh kehidupan berpotensi menjadi suci dan harus dibawa kepada kesucian. Tujuannya adalah tauhid (mengesakan), integrasi seluruh kehidupan dalam satu masyarakat yang akan memberikan perasaan dekat dengan yang satu, yaitu Tuhan. [12]
Bagaimana Nabi Muhammad mempraktikkan Demokrasi dalam menjalankan roda pemerintahannya?  Sudah sering diungkapkan bahwa Muhammad akan selal berpedoman pada Al Qur’an dalam memutuskan sesuatu. Akan tetapi apabila ada perkara yang belum diatur dalam Al Qur’an tidak jarang Nabi mengajak Musyawarah sahabat-sahabatnya. Tentu saja kalau kita kaitkan dengan konteks Negara modern yang jauh lebih kompleks seperti sekarang, proses musyawarah yang dijalankan pada zaman Nabi sebenarnya secara secara substantive tidak berbeda dengan dengan apa yang diperlihatkan dengan proses politik sekarang, yaitu apa yang kita kenal dengan representative democracy, karena kita juga memahami bahwa Nabi dalam melakukan musyawarah tidak melibatkan segenap warga masyarakat yang telah memiliki “political franchise”, akan tetapi musyawarah yang melibatkan para sahabat yang tentu saja sangat berpengaruh dalam lingkungan masyarakat.[13]
 
Tatanan Ekonomi dalam masyarakat tauhid
Islam lahir pada awal kelahirannya bukan hanya kritik terhadap relijiusitas masyarakat arab yang menyembah berhala pada waktu itu tetapi merupakan gerakan ekonomi. Islam dengan Al Qur’an sangat menentang struktur social yang tidak adil dan menindas yang secara umum melingkupi kota makkah sebagai tempat asal mula Islam. Bagi orang yang memperhatikan Al Qur’an secara teliti, keadilan untuk golongan masyarakat lemah merupakan ajaran Islam yang sangat pokok. Al Quran mengajarkan pada umat Islam untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan dan dalam Al Quran keadilan merupakan bagian integral dari ketakwaan.[14] Takwa dalam Islam bukan Cuma dalam tataran ritualistic namun sangat terkait erat dengan keadilan ekonomi dan social.
Al Quran bukan saja menentang penimbunan harta (dalam arti tidak disumbangkan untuk fakir miskin, janda-janda, dan anak yatim) namun juga menentang kemewahan dan tindakan yang menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan diri sementara banyak sekali orang yang miskin dan membutuhkan. Kedua tindakan tersebut adalah kejahatan dan merusak keseimbangan social. Maka keadilan didalam Al Quran bukan hanya berarti norma hukum namun juga keadilan distribusi pendapatan. Keseimbangan social hanya dapat dijaga bila kekayaan social dimanfaatkan secara merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penumpukan kekayaan dan penggunaan yang tidak sebagaimana mestinya tidak akan dapat menjaga keseimbangan tersebut dan akan berujung kehancuran. Jika orang mengkaji Al Quran sebagai sumber ajaran Islam. Ia akan banyak sekali menjumpai ayat tentang konsep keadilan distributive tersebut. Misalnya ada ayat yang berbunyi “dan manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang diusahakan” (Al Quran 23:84). Ungkapan ini adalah penentangan secara langsung terhadap system kapitalisme  karena yang menjadi pemilik sebenarnya adalah produsen, bukan pemilik alat produksi. [15]
Nabi sangat memperhatikan berbagai malpraktek dalam perdagangan dan perniagaan.satu penolakan yang tegas adalah penolakan terhadap spekulasi. Sebenarnya sangat banyak masalah dalam masyarakat industrial atau niaga yang berasal dari praktek-praktek spekulasi yang membuka jalan untuk meraih keuntungan dengan cepat. Semua praktek ini ditentang tegas dalam Al Quran. Dilarang menjual buah yang belum masak dan belum dipetik karena tidak diketahui jumlahnya, juga tidak boleh menjual bayi hewan dalam kandungan, tidak boleh mengurangi dan melebihkan takaran dalam jual beli, inilah prinsip-prinsip yang perdagangan yang diatur dalam Islam. [16]
Konsep tauhid dalam Islam bukan hanya berimplikasi pada tataran teologis tentang pengesaan Tuhan dengan segala tata cara ritualnya, tetapi juga berimplikasi pada tatanan masyarakat dan secara otomatis berpengaruh pada sistem ekonomi. Dalam Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tujuannya adalah untuk saling mengenal, dan tidak ada perbedaan stratifikasi social dalam Islam kecuali dalam hal ketakwaan. Islam menginginkan bentuk system ekonomi sosialistis yang tidak ada kepemilikan alat produksi mutlak oleh seseorang.[17] Semua praktek yang mengarah pada eksploitasi sesama manusia termasuk industry dan perniagaan yang tidak adil dianggap sebagai riba. [18] Dakwah Nabi pada waktu periode Makkah adalah merupakan kritik terhadap system merkantilisme dan akumulasi kekayaan yang dilakukan oleh elit-elit Quraisy sehingga mengakibatkan hancurnya kode etik kesukuan yang berasaskan solidaritas dan egalitarianism berganti menjadi system untung rugi dan eksploitasi.  


KESIMPULAN

Islam adalah agama yang natural dimana factor kelahirannya sangat dipengaruhi oleh kondisi social ekonomi pilitik yang ada. Muhammad tidak pernah menetapkan sistem pemerintahan dalam Islam tetapi hal itu diserahkan pada ummat Islam itu sendiri. Disatu sisi sistem masyarakat yang hendak dibangun oleh Islam mempunyai implikasi langsung terhadap corak politik dan bentuk pemerintahan yang dibentuk. Di sisi lain hal yang ingin dibangun oleh Islam adalah civil society yang mana setiap warga Negara berhak mendapat keadilan dalam hukum, ekonomi, politik dan kesetaraan dalam hubungan social. Di zaman nabi Muhammad sistem pemerintahan ketika merujuk pada piagam madinah terdiri dari Eksekutif, Yudikatif, dan legislative, dimana bidang Eksekutif dan yudikatif dipegang oleh Nabi secara langsung, sementara legislative diserahkan pada setiap suku dengan konsep musyawarah. Sistem kesetaraan dalam Islam berimplikasi pada sistem Ekonomi yang hendak dibangun oleh Nabi yaitu ekonomi yang tidak ada unsure eksploitatif dan akumulatif yang nantinya melahirkan riba. Konsep ekonomi ini adalah kritik terhadap sistem merkantilis yang dibentuk oleh elit Quraisy  Makkah. Dalam sistem ekonomi Islam setiap manusia mendapatkan dari hasil kerjanya dan setiap Muslim harus menafkahkan kelebihan hartanya dari kebutuhan pokoknya.


DAFTAR PUSTAKA

Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009.
Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia : Uraian Analitis, Kronologis, Naratif dan Komparatif, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.
Bernard Lewis, Islam Liberalisme Demokrasi: membangun sinergi warisan sejarah, doktrin dan konteks global, Jakarta : Paramadina, 2002.
John L. Esposito, Islam Warna Warni : Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus, Jakarta : Paramadina, 2004.
Karen Armstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008.
Niel Robinson, Pengantar Islam Koprehensif, Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2001
Zainab Al Khudhairi, Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun, Bandung : Penerbit Pustaka, 1995.
Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, vol.1, no 1, juli-desember 1998.


[1][1] Zaman sebelum Islam datang selain masyarakatnya yang buta huruf, mereka terkungkung dalam paradigma kesukuan dan sangat sulit untuk memahami suku yang lain. Setiap suku mempunyai berhala sendiri dan seluruh kehidupannya dikendalikan oleh tahayul yang dikempangkan oleh pandangan dunia kesukuannya masing-masing. Posisi wanita tidak dihargai dan menurut tatanan masyarakat  waktu itu dianggap sebagai beban hidup. Banyak sekali kasus tentang bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Dalam tataran ekonomi banya sekali kesenjangan yang disebabkan oleh sistem oligarkhi perdagangan. Banyak sekali budak yang dipekerjakan tanpa upah, anak-anak yatim, janda dan fakir miskin dalam percaturan sosial terpinggirkan karena tidak adanya akses ekonomi. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009...hal 42-43.
[2] Ada satu teks penting yang terdapat dalam muqaddimah yang menguraikan pentingnya aspek ekonomi dalam kehidupan manusia dan perkembangannya. Teks tersebut menyatakan bahwa “ perbedaan keadaan berbagai generasi timbul karena perbedaan pendapatan dan penghidupan mereka. Tolong menolong yang dilakukan masyarakat dimaksudkan untuk menghasilkan keperluan hidup...” Dari teks diatas tampak Ibnu Khaldun berpendapat bahwa aspek ekonomi dan kegiatan berproduksi yang menentukan watak kehidupan sosial. Zainab Al Khudhairi, Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun, Bandung : Penerbit Pustaka, 1995...hal 119. 
[3] Masyarakat makkah waktu itu dirundung ketegangan karena harta benda hanya terkonsentrasi pada beberapa orang dan tidak adanya keadilan distribusi ekonomi. Berkat munculnya kelas yang berpengaruh (seperti Abu Jahal, Abu lahab, Abu Syufyan) yakni kelas borjuis merkantilis di makkah benteng kesukuan itu akhirnya pecah dan hubungan produksi antar suku berganti menjadi sistem ekonomi merkantilis yang didasarkan atas tukar-menukar barang kemudian diikuti oleh ekonomi pastoral yang telah disebutkan dalam Al Qur’an. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009..hal 92.
[4] John L. Esposito, Islam Warna Warni : Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus, Jakarta : Paramadina, 2004….hal 7.
[5] Dampak dari kondisi social ini bersifat akumulatif dan pada ,masa Nabi Muhammad akumulasi kekuatan spiritual di Arabia siap meledak. Tetapi kekuatan itu tidak akan menemukan salurannya jika Muhammad tidak lahir untuk mengarahkannya. Sebaliknya, seandainya Muhammad dilahirkan sebelum Arabia matang, maka visi, tekad, dan kebijaksanaanya mungkin tidak akan menang. Salah satu perintah khusus dalam menyikapi kondisi masyarakat Arab saat itu adalah yang kaya dan kuat harus mengasihi yang miskin dan lemah – misalnya anak yatim dan janda. Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia : Uraian Analitis, Kronologis, Naratif dan Komparatif, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007…hal 477. 
[6] Muhammad lahir di Makkah pada tahun 570 M, sebuah kota dagang dan bisnis penting yang terletak diantara bukit-bukit Arab pada rute perdagangan dari yaman ke syria dan dari Abessinia ke Iraq. Sebagian besar penduduknya termasuk suku Quraisy yang terbagi dalam puluhan suku. Pada tahun 610 M, ketika Muhammad berusia 40 tahun, beliau mulai menerima wahyu. Ia diutus untuk mengingatkan kaumnya agar meninggalkan berhala dan ketamakan, dan menganjurkan kaumnya untuk menyembah Allah. Pada tahun 622, karena perlawanan terhadap  dakwahnya yang terus meningkat dan ancaman terhadap hidupnya, belia hijrah ke Madinah dimana beliau sudah banyak pengikut. Dua pertiga populasi Madinah berasal dari dua suku Arab, Aus dan Khazraj, yang gabungan dari keduanya terdiri dari delapan suku. Dengan tambahan ada suku Yahudi. Sebagian besar populasi Arab menyambut kedatangan Nabi Muhammad, melihat beliau sebagai pemimpin yang bisa menyelesaikan perpecahan dalam masyarakat madinah. Meskipun orang-orang muslim yang berhijrah bersamanya berasal dari beberapa suku yang berbeda, orang Madinah melihat mereka berasal dari suku yang sama dengan Nabi menjadi pemimpinnya. Posisi beliau kemudian menjadi pemimpin militer . sesudah pertempuran kecil dengan orang Makkah, pada perang Badar tahun 624, Uhud tahun625, dan Khandaq tahun 627 beliau berhasil menaklukkan Makkah tahun 630. Pada akhir tahun yang sama beliau memimpin ekspedisi ke Tabuk dalam perjalanan beliau menjamin keselamatan dan keamananmasyarakat Yahudi dan Kristen sebagai balasan atas pembayaran pajak perkapita yang dikenal sebagai Jizyah. Tahun 632 M Nabi Muhammad wafat. Niel Robinson, Pengantar Islam Koprehensif, Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2001, hal 30-33.
[7] Konsep musyawarah dalam Islam awal tidak bias dilepaskan dari kondisi obyektif masyarakat pada waktu itu dimana ada proses transisi dari masyarakat badui yang primitive dan solidaritas kesukuannya sangat kuat menuju fase masyarakat feudal yang patron klien. Setiap suku di wakili oleh elit yang berpengaruh, sistem musyawarah ini nantinya beralih pada sistem feodalisme murni pada zaman dinasti Umayyah sampai abad 19 dalam Islam. Factor perkembangan sejarah dan Masyarakat ini sangat berpengaruh pada tatanan politik dan pemerintahan yang berlaku pada dunia islam sepanjang sejarah, mulai dari masyarakat Badui yang komunal primitive sampai dengan masyarakat feudal dan sistem kapitalistis. Peralihan dari sistem kerajaan menuju sistem demokratis tidak lepas dari perkembangan masyarakat kapitalistis liberal yang melingkupi sejarah umat Islam.
[8] Yang sangat menarik perhatian dari sudut pemikiran politik ialah tindakan nabi mengganti kota ini menjadi madinah. Tindakan nabi ini bukanlah kebetulan. Dibaliknya terkandung makna yang luas dan mendalam yang dalam kontrasnya terhadap pola kehidupan politik jazirah Arabia dan sekitarnya adalah fundamental dan revolusioner. Secara istilah perkataan Madinah berarti kota. Perkataan itu tidak jauh dari asal makna kebahasaan atau etimologisnya yang dapat ditelusuri dari asal makna semitiknya yaitu “d-y-n” dengan makna dasar “patuh” dalam tafsir dana-yadinu. Dari kata itu pula perkataan agama adalah “din” suatu perkataan yang mengacu pada sikap patuh. Sebab system atau rangkaian ajaran yang disebut agama itu berintikan tuntutan  kepatuhan pada sesuatu yang dipandang mutlak. Nurkholis madjid, Jurnal Paramadina, vol.1, no 1, juli-desember 1998…hal 51. 
[9] Madinah juga mempunyai makna “kota”, dan bentuk masyarakat ini sangat mirip dengan bentuk masyarakat Yunani yang disebut dengan Polis dimana setiap warga Negara mempunyai hak yang sama dalam politik dan setara didepan hukum.
[10] Di Madinah, korban pertama dari politik militer Islam adalah tiga kabilah Yahudi, yaitu Bani Qoinuqo, Bani Nadzir dan Bani Quraidzah, yang sebelumnya bertekad menghancurkan Muhammad dan yang masing-masing bersekutu dengan Makkah. Mereka mempunyai pasukan yang kuat dan jelas menjadi ancaman bagi umat Islam karena wilayah mereka memungkinkan mereka bergabung dengan pasukan pengepung dari Makkah atau menyerang ummat dari belakang. Ketika bani Qoinuqo melancarkan pemberontakan yang gagal melawan Nabi tahun 625 M, mereka diusir dari Madinah, sesuai dengan adat Arab. Muhammad mencoba menenangkan Bani Nadzir dan membuat perjanjian khusus dengan mereka. Akan tetapi ketika Nabi mengetahui rencana mereka membunuh dirinya, mereka juga diusir dan bergabung dengan pemukiman Yahudi Khaibar dan menggalang dukungan bagi Abu Syufyan dari suku-suku Arab utara. Bani Nadzir terbukti makin berbahaya setelah berada diluar Madinah. Maka ketika Bani Quraidzah memihak Makkah dalam perang Khandaq, ketika ummat Islam berada diambang kehancuran, Muhammad tidak mau berbelas kasihan lagi. Sekitar 700 laki-laki bani Quraidzah dibunuh dan para wanita serta anak-anak dijual dan dijadikan budak. Karen Armstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008…hal 28-29.
[11] Banyaknya Istri Muhammad sering kali dianggap cabul oleh Barat. Akan tetapi keliru jika membayangkan Nabi larut dalam kesenangan seksual seperti sebagian penguasa Islam dikemudian hari. Di Makkah, Muhammad tetap bermonogami, hanya menikah dengan Khadijah, meskipun poligami sudah lumrah di Arabia. Khadijah lebih tua dari Muhammad, tetapi melahirkan enam orang anak Muhammad dan hanya empat perempuan yang masih hidup. Saat dia membangun suku super barunya, dia sangat ingin sangat ingin menjalin hubungan perkawinan dengan sahabat terdekat untuk mempererat hubungan mereka. Istri yang sangat disayangi oleh Nabi adalah Aisyah, putrid Abu Bakar, dan Nabi juga menikahi Hafsah, putri Umar bin Khattab. Dia juga menikahkan dua putrinya dengan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib. Sebagian istrinya adalah wanita yang cukup berumur, yang tidak mempunyai pelindung atau mempunyai hubungan dengan kepala suku yang menjadi sekutu-sekutu ummat. Nabi sering mengajak salah satu Istrinya dalam ekspedisi-ekspedisi, konsultasi dan mempertimbangkan saran mereka dengan serius. Dalam satu kesempatan, istrinya yang paling pandai, Ummu Salamah, membantunya mencegah pembangkangan. Karen Armstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008…hal 19-20.
[12] Karen Armstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008…hal 18.
[13] Bernard Lewis, Islam Liberalisme Demokrasi: membangun sinergi warisan sejarah, doktrin dan konteks global, Jakarta : Paramadina, 2002. .hal 123.
[14] Al quran 5:8
[15] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009..hal 57-61.
[16] Seperti yang disebutkan oleh ayat Al Quran : “celakalah orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, menuntut takaran sepenuhnya. Tetapi bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi takarannya. Apakah mereka mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan pada hari yang dahsyat?” Q.S  83: 1-5.
[17] Sejarah Islam mencatat bahwa pada waktu kaum Imigran (muhajirin) Makkah sampai ke Madinah, Nabi Muhammad mempersaudarakan mereka dengan orang-orang Ansor. Dan orang-orang Ansor lalu membagikan harta benda mereka pada kaum muhajirin yang tidak mempunya harta. Selain itu banyak sekali ayat-ayat yang mengatur tentang kepemilikan harta benda dan melarang terhadap akumulasi kekayaan. Misalnya dalam surat al Maun dan al humazah ayat 1-4.  Masyarakat kapitalis barat sekarang yang didasarkan pada struktur yang menindas dan eksploitatif hidup makmur dengan merampas sumber-sumber ekonomi Negara dunia ketiga untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan standar hidup yang tinggi. Konsumerisme barat adalah pangkal dari ketimpangan ekonomi dunia. Sebaliknya system ekonomi sosialis bias menghambat konsumerisme. System ekonomi sosialis ini menekankan pada produksi barang-barang untuk mencukupi kebutuhan pokok bukan produks untuk mencukupi kebutuhan  barang-barang mewah.
[18] Kritik Islam ini juga mengarah pada system dalam masyarakat industrial modern, semua praktek monopoli, kartel dan pengawasan multi nasional terhadap pasar harus diperlakukan sebagai riba. Semua ini jelas bagi orang yang paham ekonomi industrial bahwa penghapusan bunga atau memberlakukan Bank bebas bunga tidak akan menyelesaikan substansi persoalan monopoli atau  ekonomi yang dikontrol oleh perusahaan multi nasional. System ekonomi yang seperti ini hanya akan mengakibatkan kerugian dalam tataran masyarakat. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009..hal 68.