Selasa, 14 Oktober 2014

Ramai-ramai Menjemput Tragedi




I
Reformasi 1998, selain penanda kejatuhan rezim korup, juga bisa kita maknai sebagai kejatuhan kita sebagai bangsa. Sadar atau tidak, reformasi yang mengagungkan kebebasan itu ternyata bukan malah menyejahterakan rakyat, tapi malah menyesatkan rakyat untuk sekedar mengenali apa itu kesejahteraan bersama.
Rakyat kebanjiran informasi tentang apa saja, kecuali tentang kenyataan.
Kebebasan yang ada, disini diartikan sebagai penyingkapan tirai pemisah terhadap pasar global. Sehingga, kemudian lahir kebijakan-kebijakan rezim yang ramah bisnis. Bahkan struktur pemerintah yang dibentuk, juga sekian regulasi yang bergulir, memang untuk melayani pasar, bukan melayani rakyat. Lantas didengungkan ilusi, bahwa semakin pasar sehat, semakin rakyat sejahtera.
Ilusi macam itu kemudian disebarkan dimana-mana. Lewat media massa, kampus-kampus, partai politik, bahkan institusi keagamaan. Lalu rakyat menjadi sesat terhadap kenyataannya sendiri.
Ketersesatan mengenali kenyataan, mengenali posisi, adalah akar dari segala tragedi terhadap semua langkah yang akan diambil, semua solusi yang akan dijalani. Mereka yang secara gigih memperjuangkan nasib sendiri, juga nasib orang banyak, tak kan banyak merubah apa-apa selain merubah persepsinya saja.
Lantas pelan-pelan kita ternyamankan pada situasi yang ada di bibir jurang ini, hingga kita sadar bahwa kita tergelincir. Dan kesadaran itu terlambat, sebab kita semua sudah mati.
II
Mengaca sejarah, sesungguhnya kita pernah mengalami hal yang mirip sekali.
Mulanya zaman kompeni atau VOC (1602-1799). Setelah mampu menyingkirkan pribumi untuk masuk ke hutan-hutan dan pegunungan, lantas menutup semua jaringan dengan dunia luar, dan menguncinya rapat-rapat. Segala macam hubungan dengan dunia luar, dengan sendirinya terputus. Sehingga pribumi jadi tak pernah beranjak kemana-mana. Baik secara fisik maupun kesadaran.
Merosotnya kebudayaan nusantara juga menjadikan merosotnya akal budi hingga di telapak kaki. Pribumi semakin hari jadi semakin banyak melamun dan semakin sedikit mencipta. Semakin jauh dangan peradaban, semakin dekat dengan monyet.
Seiring pembubaran VOC, lantas pemerintahan Daendels (utusan Perancis,1808-1811) dan Rafless (Inggris, 1811-1818) juga semakin menggilas pribumi. Dan ketika Nusantara kembali di pangkuan kerajaan Belanda, kemudian dibentuklah pemerintahan jajahan, yang langsung dibawahi pemerintah Belanda. Maka jadilah Hindia-Belanda.
Perlawanan kemudian banyak berkobar. Di tanah Jawa, dalam kemerosotannya, perlawanan pribumi dipatahkan. Lantas pribumi dikerjapaksakan untuk memenuhi kemauan penjajah. Dalihnya membayar biaya perang yang dihabisakan pemerintah kolonial, akibat perlawanan yang mereka kobarkan. Kerjapaksa adalah bentuk perbudakan, sebab tenaga kerja tidak dihargai.
Hingga atas nama "kemanusiaan" kemudian kalangan liberal-etis teriak-teriak tentang penderitaan kaum pribumi. Lalu bergulirlah Agrarische Wet. Dan berbondong-bondonglah para investor menanamkan investasinya untuk membuka perusahaan-perusahaan perkebunan di Hindia-Belanda.
Lantas demi stabilitas ekonomi, kemudian mereka menelorkan politik balas budi. Antara lain sistem pengairan, persebaran penduduk, dan pendidikan. Pengairan untuk mengairi perkebunan, persebaran penduduk untuk mengatasi kuragnya tenaga kerja di perkebunan berpenduduk jarang, dan pendidikan untuk memberikan sedikit keterampilan untuk memperbaiki kualitas tenaga kerja baik untuk perusahaan maupun untuk mengisi kantong-kantong pemerintahan kolonial.
Pendidikan yang digalakkan kolonial inilah yang kemudian menghasilkan kesadaran baru bagi penduduk pribumi. Kesadaran tentak kedirian, tentang hak dan kewajiban. Lantas itu pula yang dijadikan senjata untuk mengusir kolonial.
Tapi sisa-sisa pengetahuan yang ditanamkan penjajah (Barat) tidaklah lenyap, melainkan berkembangbiak dalam bentuk yang paling baru.
III
Penetrasi keilmuan Barat, yang menjelma penjajahan budaya, menenggelamkan kedirian nusantara dalam lintasan sejarahnya. Saat kita hendak menjadi kesinambungan pengetahuan kita dengan nenek moyang, yang ada hanya pengetahuan-pengetahuan yang sudah terpoles oleh logika kolonial.
Kesadaran kolonial itulah yang kini terus berlanjut, dan sangat nampak dalam implementasi dalam ranah sosial. Misalnya adalah ketika rezim yang ada adalah rezim yang ramah bisnis. Sementara keramahan pada pasar itu, dalam lintasan sejarah nusantara, tidak pernah seiring dengan kesejahteraan rakyat. Kita bisa melihat, kian kemari, kemiskinan kian meningkat, jurang ketimpangan (rasio gini) semakin melebar. Sementara pemerintah tidak pernah menangani hal secara menyeluruh, dengan mencari akar persoalannya. Melainkan sekedar berusaha menangani luka-luka yang kian melebar semampunya, tanpa tahu mengapa bangsa kita terluka.
Mengobati luka dengan obat yang tidak sesuai, tentu bukan menyembuhkan, melainkan memperparah keadaan.
Lembah Gajah Wong, 13 Oktober 2014

*Penulis hanyalah gelandangan yang tidurnya numpang di emperan orang.

Kamis, 03 April 2014

Senyummu


Kau boleh bilang ini lebay. Tapi tak bisa kupungkiri, bahwa kemarin aku merasakan gempa dua kali. Gempa bumi, dan gempa di hati saat melihat senyummu. Ini susah kujelaskan. Mungkin aku terpukau dengan lesung pipimu. Atau mungkin terlena dengan kehangatan yang kau pancarkan. Tapi tetap saja rasanya bukan itu.  Sebab mungkin bukan karena senyummu belaka, tapi karena diriku sendiri yang merasa “ada sesuatu” di dalam sini.

Entahlah. Baru kali ini kurasakan kembali setelah lama sekali "rasa" itu kulupakan, kukubur. Dan kaulah yang membuat hasrat purba itu muncul kembali dari liang kuburnya.

Aku tahu kau bukan perempuan sempurna. Kau mungkin juga labil, rapuh. Kau tak secantik gadis dalam impianku. mungkin juga bukan tipeku. Tapi saat melihatmu, dekat denganmu, rasanya mendadak aku bahagia, dan ingin berbagi kebahagiaan ini padamu.

Mungkin aku kembali jatuh cinta. Dan kali ini aku tak bisa memendam, cinta itu butuh kuungkapkan. Semoga tidak terburu. Tapi aku memang tak peduli apakah kau (akan) berperasaan sama. 

Terimakasih, telah membuat rasaku kembali ada. Terimakasih telah membuatku kembali merasakan indahnya senja.

3 April 14