Selasa, 22 Maret 2011

Barito 10; a Shattered Memoir!

Kucoba merajut serpih-serpih pengalamanku denganmu yang tercecer, dan mengikatnya dalam tulisan ini sekenanya. Dalam hal ini khususnya tentang komunitas kita yang kini secara fisik aku tinggalkan.

Barito 10, itulah nama komunitas yang tak pernah kusangka aku memasukinya. Dan tak pernah kusangka pula, dengan cepat, aku memisahkan diri. Meski sesun...gguhnya berbisah itu hanya masalah jarak atau ruang, tapi setiap jarak selalu membawa pengaruh akan kedekatan. Apalagi jika komunitas itu namanya berdasarkan tempat.

Ya, di Barito 10, sebelum aku belajar banyak hal di sana, biarlah aku mengurai bagaimana awalnya, bagaimana pula kelanjutannya.

Ketika aku lulus SMA, aku tak pernah menyangka kalau aku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai mimpiku saat itu. Tapi beberapa orang membuat mimpi itu jadi nyata, meski dalam prosesnya seringkali sangat memuakkan.

Ya, tentu kau tahu siapa-siapa yang kumaksud. Tak usah kusebut satu persatu.

Aku teringat, ketika aku pertama kali memasuki Barito 10. Ada dunia lain di sana. Setidaknya bagiku yang memang minim pergaulan. Dan dunia lain itu, kucoba memahami dengan segenap kesadaranku. Dan melaluinya bersama.

Kau teramat ramah bagiku. Teramat baik pula. Bahkan padaku yang notabene belum kenal sebelumnya. Mungkin setelah aku memasuki komunitas itu, kau langsung menganggapku keluargamu. Baiklah. Aku hargai iktikadmu. Aku berusaha pula untuk berbaik-baik padamu.

Di antara kita yang sebelumnya ada jarak yang begitu jauh, saat itu terasa kabur. Masa lalu tak terlalu penting buat diperdebatkan. Masalalu kita, hanyalah pijakan mengapa kita harus bersama.

Delapan orang. Angkatan kita yang pertama. Aku termasuk angkatan pertama itu. Kedelapan orang itu diklaim begitu saja sebagai santri. Ah, sebutan itu kurasa tak pantas kita sandang. Apalagi aku yang tak pernah menetap secara resmi sebagai alumni Pondok Pesantren.

Kalian bertujuh adalah alumni Madrasah Aliyah (MA), sedangkan aku alumnus SMA. Tentu dalam proses belajar, aku sangat berbeda dengan kalian. Kalian lebih ditekankan pada pengetahuan agama. Sedangkan aku pengetahuan umum. Pengetahuan sosial terutama, karena itu jurusanku. Meskipun aku sebenarnya juga sangat menyukai ilmu pasti. Entah itu Kimia, Fisika, Astronomi, Geologi dsb. Selain itu kalian adalah anak Pesantren, sedangkan aku tidak. Aku hanyalah anak yang tiap hari setelah sekolah harus bekerja. Kadang menggembala kambing, kadang pula bekerja di sawah.

Background kita yang berbeda itulah yang kurasa ada kesenjangan yang begitu jauh di antara kita. Tapi, rupanya sebagian dari kalian tak mempersoalkan hal itu. Aku sangat berterima kasih.
Dan waktu terus berjalan. Menapaki tiap inci kehidupan kita bersama. Kadang membawa sepoi, kadang badai. Kadang mendung, lalu gerimis bermahkota pelangi. Dan pengalaman pergaulan yang kita bina selama ini tak luput pula terhadap terjangan-terjangan badai itu.

Kita masing-masing mempunyai prinsip. Entah kita bisa merumuskan prinsip itu atau tidak. Dan prinsip setiap orang, tentu akan menjadi dasar pijakan orang itu untuk menapakkan kaki. Ada yang berprinsip, yang penting damai. Ada pula yang berprinsip, kalau memang harus konflik, mengapa tidak? Dan lain sebagainya.

Prinsip yang masing-masing kita pegang, pasti akan melahirkan gesekan-gesekan. Dan kita berusaha mencari persamaan kepentingan dari prinsip itu. Persamaan nasib, sama-sama perantau penuntut ilmu misalnya. Tapi terkadang memang ada perbedaan antara kita yang mengharuskan kita untuk berdiri tegak, ngotot, untuk mempertahankan apa yang kita kehendaki. Dan hubungan pun menjadi tegang, renggang. Kita yang mulanya berpadu jadi terpolarisasi secara alami. Itu wajar. Dan gontok-gontokan pun tetaplah kuanggap wajar. Baik hanya dalam hati, lesan, maupun sikap dan perbuatan.

Saat itu, karena ke-kuper-an-ku sebelumnya, aku seolah terseret-seret kemana-mana. Aku tak bisa memahami kalian. Aku tak tahu bagaimana dalam satu keluarga saja sudah sebegini kacau. Yang satu menuduh yang lain amoral, dan yang dituduh menuduh sok suci. Apa yang musti saya lakukan di tengah dua arus yang saling bertentangan ini?

Karena saat itu aku ingin tetap merangkul semuanya, oleh sebagian kalian menganggap aku oportunistis, pengecut. Ya Allah, apakah benar? Aku mengevaluasi diriku. Mungkin ada benarnya tuduhan itu. Dan tak apa, aku memang harus merubah jika sikap itu sangat tidak baik.

Pembelajaran hidup yang sesungguhnya memang terkadang sangatlah pahit. Kita sudah berusaha memperbaiki diri, membenarkan yang salah dari diri kita. Lalu terkadang kita merasa bahwa kita sudah baik, dan yang lain tidak baik dan tidak benar sesuai ajaran yang kita anut. Akhirnya, kita susah menerima “yang lain” itu.

Ilmu yang kita pelajari selama ini, dalam kehidupan seringkali tak bisa diterapkan. Teori terpaksa harus dimentahkan. Kehidupan nyata punya sejarahnya sendiri yang sangat lain dengan dunia ide yang dicekokkan pada kita. Mungkin begitulah yang dapat aku tangkap tentang pembelajaran ini.

Kalian, barangkali akan tertawa mengingat masa lalu yang pernah kita lewati bersama. Mengapa kita begitu tolol saat itu? Membesar-besarkan suatu masalah yang tak penting ketika kita pikir ulang saat ini? Ah, anakronisme itu….

Aku hanya ingin memaparkan secuil memori yang masih sempat aku tangkap. Aku kesulitan mendeteksi dendam dan budi yang yang kita semat hingga sekarang. Tapi mungkin tak terlalu perlu untuk aku ungkap. Ya, baiklah. Pembahasanku kuloncat.

Kita telah dewasa. Atau tengah beranjak dewasa—tak pasti. Dan dalam proses pendewasaan bersama itu, kita pernah menangis, tertawa, bersedih, bercanda dan semua-muanya. Kita terkadang iri dengan masa lalu. Masa yang bahagia dan sengsara. Kenapa dulu kita tidak melakukan hal yang lebih baik menurut kita saat ini? Ah, tak usah berandai-andai atau berkhayal—terutama aku sendiri yang suka berkhayal. Apa yang kita perbuat, bukan untuk kita banggakan atau ratapi. Tak usah terpaku pada masa lalu. Apakah kalian setuju? Jika tidak, ungkapkan padaku. Aku akan coba memahamimu dari sudut yang paling hening dalam diriku. Ah, lebay….

Ya ya… aku terkejut ketika ternyata aku terpental dari Barito 10 sebelum waktunya. Mungkin lebih tepatnya meminggirkan diri, mementalkan diri. Ada sesuatu yang membuatku harus lari. Entah karena meninggalkan sesuatu, atau ingin menggapai sesuatu. Yang jelas, serta merta kuanggap tepat keputusanku ini. Dan senja pun mengiringi perpisahanku denganmu, dengan kalian.

Ada satu hal yang sangat mengganjal di sini yang ingin kuungkapkan juga. Tentang hal yang sejatinya sepele, main-main. Tapi saat itu, mungkin hingga sekarang, kau menganggapnya sangat serius. Tentang ucapanku, tentang puisiku suatu kali untukmu. Kenapa kau tertawa? Ah, kenapa kau menangis malam itu….

Duniaku dulu sebegitu gelap. Berkawan dan berkeluarga yang seharusnya menjadi penerang, ternyata belum mampu juga menerangi kelamnya pandangan batinku. Maka aku pergi. Membawa entah luka entah harap. Membawa tangis akan kegagalanku mengiringimu, dalam keluarga kita.

Itulah sebagian memori dan perenungannya yang sepotong-potong dan tak sistematis masih dapat aku tangkap tentang hubungan kita. Sengaja tak ku tulis tentang angkatan baru—angkatan setelah kita. Juga mereka yang begitu jauh dan begitu penting terhadap kehidupan keluarga kita. Biarlah… mereka punya sejarah sendiri.

Aku ingin mengakhiri kata-kata ini. Semoga kita dapat bertemu kembali di alam damai. Maafkan aku atas semuanya. Terima kasih.

Jakarta, 14-15 Maret 2011
Taufiq

Tidak ada komentar: