Selasa, 22 Maret 2011

Perenungan


Sang waktu semena-mena mengadiliku ketika kurenungi segala apa yang aku perbuat. Dan aku tak mungkin mengelak. Buat apa? Toh hal itu sudah terjadi?

Aku pun membiarkan. Mungkin inilah satu dari sekian mahkamah keadilan yang masih tersisa. Waktu tak bisa dibohongi, kecuali ingatan kita yang kian lemah, atau mental kita yang mulai tak waras.

Dua puluh dua tahun, kakiku menginjak di pelataran bumi. Harusnya aku mengerti seluk-beluknya. Tapi, mungkin aku terlalu ambisius jika menginginkan hal itu. Karena sesungguhnya, aku bahkan tak tahu apa-apa. Mungkin juga tak berhak untuk tahu.

Sifat yang lazim ada pada setiap manusia: ingin tahu. Selalu begitu! Bahkan keingintahuan itu menjadi salah satu syarat wajib bagi siapa saja yang ingin disebut manusia. Entah kalau orang gila. Mungkin dia kelewat ingin tahu, tapi kemampuannya tak mendukung, sehingga ia gila. Dan aku tak tahu kemampuanku seperti apa demi menopang keingintahuanku yang sebegini besar. Dan aku tak tahu pula apakah aku takut gila atau tidak.

Sejak kecil, ibuku mengajariku akan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masalah. Dengan tindakan-tindakannya. Dengan kasih sayangnya. Bukan dengan omongan-omongannya, karena terkadang aku tak tahan dengan omelan-omelan ibu yang sering kali tak dapat aku tahan. Tapi omelan itulah yang ternyata kini aku rindu. Rasanya, di dunia tanpa omelan, seperti dunia yang beku, dingin, memuakkan. Aku ingin kata-kata yang berapi-api, meski menyambarku dan membuatku berang.

Aku merasa apa yang dilakukan ibuku selama ini terhadapku adalah manifrstasi dari rasa sayangnya padaku yang sangat tulus tanpa tanding. Ah, dunia manusia memang aneh. Orang-orang yang lembut dalam ucap, tak jarang kejam dalam sikap. Begitu pula sebaliknya. Pengalaman mengajarkanku seperti itu sejak aku mulai bisa meraba perasaan manusia, juga perasaan kecilku.

Ketika masa laluku terbentang dalam angan, aku belajar menyadari bahwa apa yang selama ini aku alami, seringkali aku merasa tak siap. Dan keputusan yang aklu lakukan saat itu, kuanggap tolol untuk kunilai saat ini. Memang runyam. Dalam bahasa sejarawan, disebut anakronisme (apa pula itu?).

Wajah-wajah yang aku dapati dari setiap gelombang zaman, kurasa adalah wajah-wajah kegetiran dan kegamangan nasib manusia. Juga nasibku. Mungkin setiap manusia sengaja Tuhan ciptakan seolah diujung tanduk. Manusia diuji seberapa jauh ia dapa mnyeimbangkan diri agar tak terjatuh dalam kubangan, atau tertusuk tanduk itu sendiri.
Apakah aku sudah terpelanting keluar?

Rasa-rasanya sudah berkali-kali aku terjerumus, berkali-kali pula aku mencoba bangkut, atau mencari tanduk baru untuk aku jadikan pijakan kehidupan. Ah, rupanya aku masih dikehendaki untuk tidak terpelanting dari dunia selamanya.

Tentang anganku yang membentang ini, aku mencoba mengejanya kata demi kata, lembar demi lembar. Barangkali ada yang merah, bopeng-bopeng, maafkan. Kekotoran tak selamanya jelek. Dan aku mencoba memahami semua ini dengan pertama-tama memaafkan diri sendiri yang terlanjur goyah, dan tahu tentang secuil dunia, meski masih diperdebatkan kredibilitasku. Salam.

15 Maret 2011

Tidak ada komentar: