Masih ingatkah kawan tentang mahasiswa ushuluddin yang mengajak yuniornya untuk berdzikir bersama dengan mengucap “Anjinghu Akbar” dengan lantang? Bagaimana pendapatmu? Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu marah merasa Tuhanmu dihina? Apakah kamu juga akan ikut-ikutan para ulama yang mengkafirkan mahasiswa tersebut dan menghalalkan darahnya?
Apapun pendapatmu, aku menghargaimu asalkan pendapatmu memang benar-benar keluar dari nurani dan akal waras, bukan dari nafsu dan emosi belaka. Seorang hakim tak boleh memutuskan suatu perkara tatkala ia marah-marah, karena keputusannya sudah pasti tidak adil, tidak akan lurus. Mana mungkin bisa meluruskan sesuatu yang bengkok kalau dirinya sendiri sedang bengkok?
Bagaimanapun juga, apa yang disuarakan para mahasiswa itu bukanlah tanpa alasan. Entah alasannya itu terlalu naïf, atau terlalu konyol dengan hanya kesimpulan yang gegabah sekalipun. Akan tetapi saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa mahasiswa tersebut tidak bermaksud menghina Tuhan, menghina Allah dengan menyamakannya dengan anjing.
Mungkin ia menganggap, “Tuhan” maupun “Anjing” hanyalah sebuah nama. Keduanya hanyalah simbol, hanyalah bahasa. Dan bahasa tak lain dari bentukan budaya manusia. Karenanya, jika simbol dimain-mainkan, bukan berarti menyinggung esensi, substansi, atau yang disematkan simbol atasnya.
Terlalu naïf memang, jika teriakannya akan “Anjinghu Akbar” itu benar-benar atas tendensi seperti ini. Atas tendensi: hanyalah sebuah nama. Padahal mereka juga akan sangat marah jika ayah dan ibunya dihina, disamakan dengan anjing misalnya. Padahal ayah dan ibunya juga sebuah nama.
Simbol memang bukanlah substansi, bukanlah realita. Tetapi simbol bukanlah sesuatu yang lahir tanpa didasari realita. Dan itulah yang diterima masyarakat hingga saat ini. Maka jika sesuatu terjadi pada simbol tersebut, sudah pasti menurut masyarakat yang menyepakati adanya simbol itu, akan dianggap pula terjadi pada realita. Jika kau menyinggung nama “Tuhan” maka menurut anggapan masyarakat, kau pun sudah menyinggung Tuhan itu sendiri. Dan karena Tuhan terlanjur dimuliakan, kau pun dianggap menodai kemuliaannya. Dan itulah yang membuat sakit hati masyarakat. Kecuali jika kau hidup sendiri, tidak berada di tengah-tengah masyarakat.
Ada pula yang mengatakan bahwa dzikir “Anjinghu Akbar” itu merupakan sebuah dzikir perlawanan. Bukan melawan Tuhan tentu, tetapi melawan sebuah kenyataan bahwa agama yang seharusnya dijadikan way of life itu, kini hanya dijadikan topeng. Dan masyarakat luas tidak mengerti karena mereka tidak lagi berfikir kritis. Masyarakat hanya disuguhi doktrin. Sehingga masyarakat tidak lagi mau memikirkan apakah agama yang didoktrinkan padanya sudah benar-benar pantas dijadikan pegangan atau tidak.
Karena itulah, teriakan “Anjinghu Akbar” tersebut dianggap merupakan shock therapy, agar masyarakat mau memikir ulang, apakah yang ia jalani sudah benar-benar on the track. Tetapi, mungkin saja mahasiswa itu salah menempatkan waktu, karena kenyataannya masyarakat banyak yang tidak terima. Tetapi, suatu perubahan memang harus dimulai. Dan setiap permulaan perubahan selalu meminta tumbal dari pemula itu sendiri. Maka, jangan heran jika kau menjadi pemula dalam perubahan itu kaulah yang akan menjadi tumbalnya. Dan bukankah selamanya begitu?
Surabaya, 29 Mei 2010
Ahmad Taufiq
Apapun pendapatmu, aku menghargaimu asalkan pendapatmu memang benar-benar keluar dari nurani dan akal waras, bukan dari nafsu dan emosi belaka. Seorang hakim tak boleh memutuskan suatu perkara tatkala ia marah-marah, karena keputusannya sudah pasti tidak adil, tidak akan lurus. Mana mungkin bisa meluruskan sesuatu yang bengkok kalau dirinya sendiri sedang bengkok?
Bagaimanapun juga, apa yang disuarakan para mahasiswa itu bukanlah tanpa alasan. Entah alasannya itu terlalu naïf, atau terlalu konyol dengan hanya kesimpulan yang gegabah sekalipun. Akan tetapi saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa mahasiswa tersebut tidak bermaksud menghina Tuhan, menghina Allah dengan menyamakannya dengan anjing.
Mungkin ia menganggap, “Tuhan” maupun “Anjing” hanyalah sebuah nama. Keduanya hanyalah simbol, hanyalah bahasa. Dan bahasa tak lain dari bentukan budaya manusia. Karenanya, jika simbol dimain-mainkan, bukan berarti menyinggung esensi, substansi, atau yang disematkan simbol atasnya.
Terlalu naïf memang, jika teriakannya akan “Anjinghu Akbar” itu benar-benar atas tendensi seperti ini. Atas tendensi: hanyalah sebuah nama. Padahal mereka juga akan sangat marah jika ayah dan ibunya dihina, disamakan dengan anjing misalnya. Padahal ayah dan ibunya juga sebuah nama.
Simbol memang bukanlah substansi, bukanlah realita. Tetapi simbol bukanlah sesuatu yang lahir tanpa didasari realita. Dan itulah yang diterima masyarakat hingga saat ini. Maka jika sesuatu terjadi pada simbol tersebut, sudah pasti menurut masyarakat yang menyepakati adanya simbol itu, akan dianggap pula terjadi pada realita. Jika kau menyinggung nama “Tuhan” maka menurut anggapan masyarakat, kau pun sudah menyinggung Tuhan itu sendiri. Dan karena Tuhan terlanjur dimuliakan, kau pun dianggap menodai kemuliaannya. Dan itulah yang membuat sakit hati masyarakat. Kecuali jika kau hidup sendiri, tidak berada di tengah-tengah masyarakat.
Ada pula yang mengatakan bahwa dzikir “Anjinghu Akbar” itu merupakan sebuah dzikir perlawanan. Bukan melawan Tuhan tentu, tetapi melawan sebuah kenyataan bahwa agama yang seharusnya dijadikan way of life itu, kini hanya dijadikan topeng. Dan masyarakat luas tidak mengerti karena mereka tidak lagi berfikir kritis. Masyarakat hanya disuguhi doktrin. Sehingga masyarakat tidak lagi mau memikirkan apakah agama yang didoktrinkan padanya sudah benar-benar pantas dijadikan pegangan atau tidak.
Karena itulah, teriakan “Anjinghu Akbar” tersebut dianggap merupakan shock therapy, agar masyarakat mau memikir ulang, apakah yang ia jalani sudah benar-benar on the track. Tetapi, mungkin saja mahasiswa itu salah menempatkan waktu, karena kenyataannya masyarakat banyak yang tidak terima. Tetapi, suatu perubahan memang harus dimulai. Dan setiap permulaan perubahan selalu meminta tumbal dari pemula itu sendiri. Maka, jangan heran jika kau menjadi pemula dalam perubahan itu kaulah yang akan menjadi tumbalnya. Dan bukankah selamanya begitu?
Surabaya, 29 Mei 2010
Ahmad Taufiq
.jpg)
3 komentar:
Saya Berkata: "Ahmad Taufiq = Anjing Asghar!"
Bagaimana anda menyikapinya ?
Saya sebagai muslim waras dengan kadar emosional yang cukup normal, akan marah dengan kemarahan yang mungkin anda tidak ingin melihatnya dan mengalaminya dari orang lain.
Hendaknya kalian bertaubat dari pemikiran kufur ala liberalis, karena agama ini menghendaki keteraturan, bukan ketidakberadaban, kelancangan, ketidaksenonohan, dan kebodohan; seperti yang dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa kafir tersebut.
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (at-Taubah: 65-66)
Hmmm...
Enak ya main tuding kafir-kafiran. Kok Anda gak ngaca itu lho? Coba deh Mas, jangan langsung main JUDGE, tapi pahami emosi anak muda yang tak karuan fikirnya ini. Jika Anda begitu "seram" menampilkan Islam, orang2 akan lari. Wajar kalau selama ini yang melekat dalam agama Islam itu ajaran teror.
Tapi, makasih deh, dah mau komen di blog ini.
Sy punya temen sekampus yg mengaku kenal dengan pelaku anjinghu akbar itu, dan berdasarkan kabar dr teman sy, dia bilang bhw pelaku anjinghu akbar itu skrg sudah bertaubat dan sekarang mengajar tahfiz di Cililin. Wallohu a'lam semoga kabar itu benar...
Posting Komentar