Ini bukan soal sepele, karena obyeknya bukan barang sepele. Siapa bilang al-Qur’an sepele? Karena bagaimanapun, al-Qur’an telah mampu menjadi corong peradaban umat Islam di seantero zaman. Al-Qur’an mampu mengubah budaya jahiliah menjadi budaya Islamis Humanis. Tak heran jika ada yang bilang bahwa al-Qur’an adalah semata-mata “produk budaya” banyak sekali yang tidak terima.
Akan tetapi, tulisan ini bukan bertujuan untuk mendukung atau menghujat yang mengatakan al-Qur’an sebagai produk budaya atau sebaliknya. Terlalu lemah rasanya analisis penulis untuk mengutak-atik hal itu secara mendetail. Karena itulah, tulisan ini tak lebih dari analisis amatiran yang berusaha sekuat-tenaga untuk ikut dalam kancah perdebatan. Dan karena mulanya tujuan penulis hanya seperti itu, maka ya beginilah jadinya.
Muntaj Tsaqafi
Mulanya adalah statemen dari Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir yang mengatakan bahwa al-Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafi). Artinya, teks al-Quran, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun.
Budaya, menurut antropolog tersohor di Indonesia, Koentjaraningrat, mempunyai tujuh unsur yang sifatnya universal. Dan bahasa adalah unsur utamanya. Maka jika al-Qur’an yang turun dari langit (tanzil) itu memakai bahasa manusia—dalam kasus ini bahasa Arab—logikanya sudah pasti terpengaruh oleh budaya setempat.
Sejak permulaan al-Qur’an turun ke alam manusia, ia sudah berpindah maqam, dari yang ahistoris menjadi historis. Dari yang tanzil menjadi takwil. Sekalipun al-Quran bersumber dari Ilahi, namun hakikatnya al-Quran termanusiawikan karena berada di dalam ruang dan waktu tertentu.
Tentu terlalu naïf jika kita hanya menyebut al-Qur’an sebagai “produk budaya” tanpa mengakui bahwa al-Qur’an juga memproduksi budaya. Lagipula, al-Qur’an yang turun pada masyarakat Arab jahiliyah itu bukan serta-merta kelanjutan dari budaya setempat. Al-Qur’an, dalam prosesnya, selalu berhadapan dengan budaya setempat. Maka tak heran jika ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu bukan produk budaya, tetapi produsen budaya.
Muntij Lil-Tsaqafah
Karena al-Qur’an, beribu-ribu tafsir hadir. Mulai yang berbahasa Arab hingga Jawa (Assalamu alaikum Mbah Bisri Mustofa). Mulai dari Ibnu Katsir hingga Al-Mishbah (Permisi Bapak Quraish Shihab). Sampai-sampai grammar bahasa Arab alias Nahwu pun lahir karena bertujuan untuk memahami isi Al-Qur’an.
Selain itu, banyak sekali ilmu-ilmu yang lahir atau terinspirasi dari al-Qur’an, baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Semua itu menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah muntij lil-tsaqafah atau produsen budaya dan bukan malah muntaj tsaqafi alias produk budaya.
Ada dua argumen kuat yang mendasari hal tersebut. Pertama, jika al-Qur’an adalah produk budaya, mengapa ia bukan merupakan kelanjutan dari budaya Arab jahiliyah, melainkan ajaran-ajaran al-Qur’an itu kenyataannya banyak yang bertentangan? Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’an bukan produk budaya, karena datangnya al-Qur’an malah berhasil merombak budaya. Kedua, umat muslim seantero dunia menjadikan al-Qur’an sebagai way of life. Dan ini tentu sangat berpengaruh pada perkembangan peradaban. Seperti keterangan diatas, bahwa beribu-ribu teks keilmuan lahir di dunia masih berputar-putar pada sekeliling al-Qur’an. Katakanlah, tajwid, nahwu, tafsir dan sebagainya. Karenanya kehebohan itulah seolah-olah menjadi tak mungkin jika hanya produk budaya mampu berperan seperti itu. Yang mampu tak lain tak bukan ya Tuhan itu sendiri.
Akan tetapi dua argumen di atas masih memiliki kelemahan. Pertama, apakah produk budaya harus semata-mata kelanjutan dari budaya sebelumnya? Kedua, ada tokoh besar dunia yang dengan pikirannya mampu mengubah budaya sekian juta umat manusia. Contohnya, Karl Mark, pendiri ideologi komunis. Apakah produk pemikiran Karl Mark akan dianggap juga sebagai wahyu Tuhan karena kebesaran pengaruhnya, toh padahal Karl Mark sendiri dengan heboh menghujat agama?
Lalu jawabannya apa? Embuh!
Pandangan Penulis
Tuhan itu ahistoris. Tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan manusia sifatnya historis. Tak luput dari dimensi ruang dan waktu. Karena itu, jika Tuhan ingin menyapa, menunjukkan, mengarahkan dan membimbing manusia; tentu Dia akan menggunakan instrumen-instrumen yang dapat dipahami manusia. Salah satu instrumen itu adalah budaya yang di dalamnya bahasa termasuk komponen utama.
Al-Qur’an adalah firman Tuhan, kalamulLah, the word of God, atau verbum Dei. Dan firman Tuhan sifatnya ahistoris, sedangkan sesuatu yang ahistoris tak dapat dipahami manusia yang historis. Oleh karenanya, jika kebetulan di abad tujuh masehi yang mendapat petunjuk dari al-Qur’an adalah orang Arab, maka sudah sudah tentu al-Qur’an memakai bahasa Arab abad itu, bukan Indonesia atau Inggris modern seperti saat ini.
Dari situ saja sudah ketahuan, bahwa ada semacam proses ¬trade-off antara Tuhan dan manusia. Al-Qur’an yang belum diucapkan manusia, masih ahistoris. Sedangkan al-Qur’an yang sudah diucapkan manusia akan bersifat historis, tak dapat lepas dari budaya.
Sudah. Sudah. Intinya begini: substansi al-Qur’an bukanlah produk budaya, sedangkan bentuknya, pengucapannya, bahasanya, adalah produk budaya.
Penulis tak mempersoalkan atau menyanggah al-Qur’an sebagai muntij lil-tsaqafah atau produsen budaya. Karena sudah jelas dan gamblang bahwa al-Qur’an sangat berpengaruh dan mampu menjadi salah satu pilar akan lahirnya budaya-budaya berikutnya. Sampai sekarang!
Surabaya, 26 Mei 2010
Ahmad Taufeeq
Referensi:
1. Mafhum al-Nash: Dirasah fi `Ulum al-Qur'an, Beirut: al-Markaz al-Thaqafi al-Arabi, 1994, edisi II
2. Naqd al-Khitab al-Dini, Kairo: Sina li al-Nashr, 1992, edisi I
3. Harian Jawa Pos pada hari minggu 5 September 2004
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar