Catatan ini lahir dari perut rembulan
dengan jerit sendu mengaduh
atas tikai
antara lirih panggilan Tuhan dan hingar-bingar nafsu
… dan hiruk pikuk manusia-manusia kota
di sebuah taman
dengan jerit sendu mengaduh
atas tikai
antara lirih panggilan Tuhan dan hingar-bingar nafsu
… dan hiruk pikuk manusia-manusia kota
di sebuah taman
semu
dan ia hanya bisa mengintip dibalik rerantingan
sepi
dan luka
ketika nurani meredup dengan mata menutup
dan sinar-sinar yang tak lagi meneduh
ada deru laut yang tak lagi terdengar
ada lonceng humanisme yang parau berdebu
sendirian, menuju liang maut
ada dayu lantunan azan yang koar-koar tak bermakna
“tapi tak usah kau risih kawan, bukankah itu biasa?”
ah, jagad…jagad….
kapan kau menutup usiamu
dan mengubur catatan ini dalam perutmu
agar tak terlalu lama merekam jejakku?
(Di salah satu kursi taman, ketika sinar rembulan tak lagi berani menerangi manusia dengan cahaya teduhnya, melainkan hanya mengintip malu di balik rerantingan pohon-pohon kota. Kulihat wajahnya tersenyum menitikkan air mata. Membuatku tak kuasa melihat diriku sendiri).
Opik
Surabaya, 17 June 2010

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar