Selasa, 22 Maret 2011

Catatan Jalanan

Kereta yang kutumpangi kemarin, adalah kendaraan yang paling tidak manusiawi dari seluruh kendaraan yang ada. Tapi aku tetap setia menumpang. Tipisnya ongkos tak mengizinkan aku menumpang kendaraan lebih layak.
Empat belas jam, aku berdiri. Kadang duduk di tengah lalu-lalang pedagang asongan. Lalu-lalang pula mereka melangkahiku. Dan aku tak bisa menghindari.
Ketika dulu aku sempat bilang bahwa aku sangat mencintai realita, betapapun pahitnya; sepertinya perkataan itu gugur seketika. Saat hatiku menangis karena terpaksa tertindas, terjepit dalam keramaian kereta Jelata ini. Dan sesungguhnya aku tak bisa menerima.
Mengapa harus ada diskriminasi?
Aku ingin seperti mereka yang menumpang kereta bisnis atau ekonomi. Atau bahkan pesawat terbang. Tapi dari mana ongkos kudapat?
Aku muak dengan keadaan. Aku muak dengan kenyataan. Aku harus merubah semua. Terutama haluanku sendiri.
Ada banyak hal yang mesti manusia lakukan demi mempertahankan hidupnya. Dan aku satu dari sekian manusia yang masih takut mati. Entahlah. Di kereta yang tak manusiawi ini, aku masih ingin bertahan. Meski dalam pengap, dalam sesak….


14 Maret 2011

Tidak ada komentar: