(Melengkapi Tulisan Sebelumnya)
Pemilwa UIN Suka kali ini kembali rusuh. Puncaknya saat salah satu mahasiswa menjadi korban. Kepalanya bocor. Entah karena jatuh atau kena bacok. Yang jelas saat dia protes tentang pelanggaran yang terjadi dalam proses Pemilwa, ia terlibat adu mulut. Lalu dikejar-kejar. Dikeroyok. Dan darah pun mengalir dari kepalanya.
Dalam sejarahnya, Pemilwa UIN Suka memang selalu panas. Paling tidak, tensi tiap golongan yang ingin menguasai kampus naik, dan meledak.
Pemilwa 2005
Kejadian paling parah selama ini adalah Pemilwa tahun 2005. Di mana bentrokan antar golongan tak terhindarkan. Yaitu antara golongan yang tergabung dalam Koalisi Untuk Perubahan (KUP), dengan Koalisi Bintang Sembilan (KBS).
KUP tidak terima terhadap kebijakan KPU saat itu yang hanya meloloskan calon pasangan tunggal dari KBS. Sementara pasangan calon lain tidak diloloskan.
Awalnya mereka protes pada KPU secara damai. Namun, KPU tetap bergeming. KPU menganggap bahwa pelolosan calon pasangan tunggal itu sudah sesuai prosedur.
Menanggapi kebijakan KPU yang dirasa janggal itu, Partai Solidaritas IAIN (PSI) yang merupakan partai tertua di UIN Suka, mengundurkan diri dari kancah Pemilwa sebagai bentuk protes kekecewaannya. PSI menuding KPU telah meciderai demokrasi sekaligus mengkhianati mahasiswa. Pemilwa 2005 tidak layak untuk diikuti.
Protes KUP berlanjut. Demonstrasi digelar di depan Gedung Rektorat, dengan tuntutan agar Rektorat membubarkan KPU dan membentuk kembali KPU baru yang lepas dari “bau-bau bendera golongan.” Namun, Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) menjawab bahwa Rektorat tidak ingin mencampuri independensi mahasiswa. Agenda Pemilwa pun tetap dilanjutkan.
Hingga tibalah hari “H” pemilihan presiden, yang memang hanya dari pasangan tunggal. Namun, protes KUP tidak berhenti. Pada hari itu KUP menggelar demonstrasi kembali. Parahnya, KUP merebut kotak suara yang ada di beberapa Fakultas, kemudian menghambur-hamburkan surat suara itu di jalanan.
Pihak KPU tidak terima. Ketika KUP mau menyerbu kotak suara di Fakultas Ushuludin, KPU yang saat itu memang didominasi oleh aktivis PMII, melawan KUP. Maka terjadilah bentrokan massal. Batu, botol-botol dan kursi-kursi, melayang. Satpam tak mampu melerai. Hingga polisi lah yang turun tangan.
Pasca bentrokan tersebut, pada malam hari, kantor Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA dirusak. Kaca-kaca dipecahi. Motor dihancurkan. Para wartawannya diancam agar jangan menerbitkan berita tentang Pemilwa dalam Newsletter-nya: SliLit Arena, kalau tidak mau dibunuh. Maka setelah itu, terbitlah SliLit dengan hanya dua lembar Kertas kosong. Halaman depan hanya diisi Kru Redaksi dan tulisan: “Lembar Putih Ini Menandakan Kelamnya Demokrasi di UIN Suka.” Itu saja.
Pengrusakan tersebut, diduga karena selama itu Arena memang selalu mengkritisi Pemerintahan Mahasiswa. Pemberitaan yang memang panas bagi telinga mereka yang kursi kekuasaannya digoyang.
Situasi saat itu memang benar-benar mencekam. Demokrasi pecah berkeping-keping.
Begitu pula halnya dengan Pemilwa tahun 2007 dan 2009. Kekisruhan kembali terjadi. Namun pada kedua Pemilwa tersebut, masih tergolong damai.
Pemilwa 2011
Pemilwa kali ini kembali geger dengan memakan korban Hammanur (sering dipanggil Hamka), aktivis HMI, yang bocor kepalanya yang kemudian dia dibawa ke rumah sakit Bethesda. Entah apa penyebabnya. Menurut beberapa media Kompas Jogja, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Detik.com dan LPM Arena, ia dibacok. Tapi bukti-bukti yang kuat belum ditemukan, semisal bukti forensik atau bukti visual. Media-media yang memberitakan pembacokan itu, hanya mengungkapkan omongan pihak ketiga dan keberapa. Ini sangat disayangkan. Karena pemberitaan itu, jika tidak benar, tentu akan sangat merugikan almamater UIN Sunan Kalijaga sebagai Kampus Islam.
Namun, jika menelaah tentang proses berjalannya Pemilwa, memang terasa janggal. Tetapi, kejanggalan itu sudah tidak mengherankan lagi. Semisal kejanggalan awal saat Mendagri membuka pendaftaran partai yang dengan persyaratan sangat memberatkan organisasi minoritas. Sampai pada mahasiswa yang mencoblos dua kali di TPS.
Demokratisasi di UIN memang benar-benar tai kucing. Ibarat cermin, demokrasi yang ada saat ini telah pecah berkali-kali, berkeping-keping, hancur lebur. Entah sampai kapan.
Jakarta, 2011
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar