Gerimis menuntunku pulang. Kaki melangkah tiap tapak dengan amat berat. Seolah meratapi tiap inci jalan yang aku lalui, air mataku berderai. Tuhan, mengapa kau jadikan alamku semelankolis ini?
Ibu menungguku. Mungkin dengan rindu segunung. Atau dengan rasa jengah penuh. Aku pasrah. Aku belajar menerima dan menghadapi kenyataan dengan segala keberanian yang tersisa.
Sejatinya bukan kelalaianku, kalau aku boleh membela. Nasib dan zaman pun tak perlu dicaci dan dikambing hitamkan. Tapi mau apa? Kenyataan telah memojokkan, mempersalahkanku. Dan aku memang harus hadapi. tanpa harus meratapi.
Hujan terlampau deras. Dan jiwaku luluh dalam pelukannya. Remuk! Bolehkan aku kembali? Meminta malamku yang dulu kau janjikan lewat dongengmu?
Duka terkadang menjadi abu. Gersang. Memilih diri menyingkir dari sentuhan embun, gerimis dan hujan. Tapi dukaku tak boleh selamanya menggersang. Ia harus kululuhkan dengan sisa-sisa gerimismu yang kini masih di negeri dongeng. Akan kubentuk ia menjadi monumen. Dan kuberi nama: kebahagiaan.
Ratapan tangisku dulu, hendak aku tenggelamkan dalam lautanmu. Doakan aku bisa. Doakan aku tabah. Doakan aku kuat. Doakan aku rela.
Dan aku pergi menemuimu. Membawa segudang lara yang kupendam. Untuk kujadikan senyuman termanis yang pernah aku perbuat. Dengan air mata.
Aku pulang. Pulang. Pulang....
Jogja, 07 Feb 2011
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar