Sejak kecil saya hidup di sebuah desa yang bisa dikatakan agamis (baca: Islamis). Semua norma-norma masyarakat, jika ditelusuri secara mendalam, pasti ada sangkut-pautnya dengan yang namanya syari’at. Indoktrinasi ajaran Islam bertebaran di mana-mana. Baik di tempat pengajian, warung kopi, maupun—apalagi—tempat pendidikan.
Jangan bayangkan bahwa sekolahan saya yang di desa itu adalah sekolahan berstandar kurikulum pemerintah laiknya kebanyakan sekolahan di seluruh nusantara. Sekolahan saya menjadikan pelajaran agama sebagai pelajaran utama. Sedangkan kurikulum pemerintah hanyalah sampingan. Maka tidak heran, jika di sekolahan itu guru-guru yang mengajar adalah jebolan pondok pesantren.
Guru-guru saya selalu mengajarkan pada saya bahwa apa-apa yang bersangkut-paut dengan ajaran Islam, adalah sudah pasti—dan selalu—benar. Karenanya tak heran jika ada pelajaran umum, katakanlah sebagian yang ada dalam sains, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, sudah pasti salah dan tak tak usah diikuti. Kebenaran Islam bersifat universal, nyata dan abadi. Sementara kebenaran sains sifatnya relatif dan temporer alias sementara.
Saya pernah, dalam pelajaran tauhid, menanyakan pada guru saya tentang ke-Esa-an Tuhan. Katanya, orang tak boleh menanyakan ke-Esa-an Tuhan, karena dalam al-Qur’an sudah jelas bahwa Tuhan itu Esa. Orang yang meragukan ke-Esa-an Tuhan berarti kafir. Dan orang kafir masuk neraka selamanya. Akhirnya, pertanyaan kuhentikan karena saya takut masuk neraka. Apalagi katanya neraka itu panasnya di atas 6000°C melebihi panas matahari. Siapa tak takut, orang masih kecil.
Waktu itu saya menganggap bahwa suatu pertanyaan, muncul karena ketidak-tahuan atau keragu-raguan. Dan pertanyaan saya muncul dari keragu-raguan. Siapa tak ragu coba, Tuhan yang hanya satu menciptakan dan mengurusi segini banyak manusia, hewan, tumbuhan, setan, dan benda-benda lain, sendirian pula. Ayah saya saja hanya mampu mengurusi sepetak sawah dan dua ekor sapinya. Itu pun masih dibantu ibu. Akan tetapi, sejak kecil kami tidak boleh ragu. Kata guru saya, segala sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an, baik masuk akal atau tidak, kita wajib meyakini kebenarannya dan wajib mengamalkannya. Karena Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang kebenarannya mutlak. Tak dapat disangkal. Karena Al-Qur’an datangnya dari Tuhan, dan Tuhan tak mungkin bohong.
Dan ternyata proses indoktrinasi itu berjalan ampuh hingga seolah menyusup ke seluruh relung jiwa saya. Saya tak berani lagi menanyakan segala sesuatu perihal ajaran yang telah ditetapkan dalam kitab suci. Saya takut masuk neraka.
Akan tetapi, hal itu tak dapat berjalan lama. Keyakinan yang membuta tanpa dasar tak lain dari proses penipuan diri. Dan ternyata hati kecil saya tak dapat saya tipu. Saya masih punya pikiran waras. Saya masih punya nurani. Sementara fikiran dan nurani saya, tak mungkin seterusnya didekte karena keduanya seolah berlari tanpa kendali. Dan saya sendiri membiarkan keduanya dan buat apa harus mengekang?
Saya kecewa dengan Islam. Saya marah dengan guru-guru saya. Saya merasa bahwa selama ini dibohongi dengan kedok pahala-dosa dan surga-neraka. Dan kekecewaan dan kemarahan saya yang begitu besar itu tak mungkin lagi kubendung hingga suatu hari saya mendeklarasikan diri saya, bahwa saya tak percaya pada doktrin-doktrin dan dalil-dalil suci yang diajarkan oleh guru-guru saya. Jika dikatakan saya telah murtad, saya menerima dengan lapang dada, karena menurut saya, sangatlah wajar orang yang berada di dalam tempurung, selalu bilang bahwa apa yang berbeda diri yang ia yakini adalah salah besar. Saya tak pernah risih dikatakan murtad. Dan buat apa risih kalau memang kenyataannya saya murtad?
Sejak saat itu, saya tak lagi percaya pada agama, agama apapun. Dan saya mulai mendewakan ilmu pengetahuan. Nabi-nabi saya yang dulu berderet dari Adam sampai Muhammad, kini berganti dari Aristoteles sampai Karl Mark, Darwin, Stephen Hawking, dan seterusnya.
Setiap hari saya belajar sains, ilmu pengetahuan; bukan tetek-bengek tentang agama yang tak jelas juntrungnya. Dan ternyata, sains lebih logis. Lebih masuk di akal. Saya senang dengan itu semua, hingga saya menjadikan sains sebagai way of life saya. Maka tak heran jika segala hal yang tak masuk di akal, semena-mena akan saya tinggalkan dan kalau perlu saya caci-maki.
Hingga suatu hari saya mendapati sebuah perkataan saintis tersohor Albert Einstein yang mengatakan bahwa: agama tanpa ilmu lumpuh, ilmu tanpa agama buta (atau kebalik?). Saya tercengang, kaget, bercampur tak percaya. Dan semua itu menyuruh otak saya memproduksi suatu pertanyaan yang seperti dulu bermula dari keraguan: apa iya? Tapi pertanyaan itu saya redam. Saya tak mau kecewa untuk kedua kalinya.
Saya merambah mempelajari ajaran-ajaran Darwin dengan teori evolusinya. Karl Mark dengan komunismenya. Dan ideologi-ideologi lain di dunia ini. Tapi rupanya bukan malah menjadi jiwa saya senang dan tenteram, melainkan hati ini menjadi gundah gulana. Nurani kemanusiaan saya tersinggung. Bukan terhadap statemen Darwin tentang manusia dan kera yang katanya berasal dari nenek-moyang yang sama, tetapi rupanya ideologi-idelogi itu tak lebih kepalsuan-kepalsuan yang lahir dari orang-orang gila untuk membenarkan pembantaian atas sesama. Tak kurang berjuta-juta orang dibinasakan karena perbenturan pemikiran. Dan para ideologi seolah lari dari tanggung jawab. Karenanya, untuk kedua kalinya saya dikecewakan.
Akhirnya, dalam keadaan diri tanpa pegangan, saya kembali mempelajari agama saya yang dulu sempat saya caci-maki—meski dengan perspektif lain. Namun saya masih tetap mempelajari sains. Dan ternyata, dari situ kusimpulkan bahwa selama ini saya salah jalan dalam memahami agama. Saya percaya pada Tuhan bahwa Dia tak pernah memaksa manusia untuk menjadikan-Nya sandaran tanpa ada rasa ikhlas dan dengan fikiran waras. Saya merasa lebih bahagia karena agama yang dulu saya benci, kini seolah menjadi tambatan hati yang luka. Semua itu tak lain dari pada proses pencarian jati diri yang teramat runyam.
Saya kembali menerima Islam sebagai agama saya sepenuhnya. Tapi bukan berarti saya harus mengikuti tiap huruf tiap kata yang ada dalam kitab suci secara membuta. Saya perlu menafsirkan menurut hati nurani saya. Bagi saya, setiap ajaran tentu datang dengan suatu sebab tertentu, bukan berangkan dari kekosongan.
Turunnya al-qur’an karena ada peristiwa yang melatarbelakanginya. Dari situ saya beranggapan bahwa, suatu agama, akan dapat dijadikan pedoman hidup yang abadi, apabila agama itu mempunyai nilai-nilai yang tak pernah berubah sepanjang zaman, dan nilai itu mampu memenuhi kebutuhan manusia secara universal.
Dan nilai-nilai universal itu, dapat saya temukan dalam Islam. Jangan salahkan saya, jika saya tak lagi mau mengikuti hal-hal yang diajarkan nabi saya pada penduduk Madinah maupun Makkah abad tujuh masehi. Saya orang Indonesia abad duapuluh satu yang sudah tentu mempunyai kultur dan tantangan zaman yang berbeda dengan zaman nabi.
Dan nilai-nilai universal itu, dapat saya temukan dalam Islam. Jangan salahkan saya, jika saya tak lagi mau mengikuti hal-hal yang diajarkan nabi saya pada penduduk Madinah maupun Makkah abad tujuh masehi. Saya orang Indonesia abad duapuluh satu yang sudah tentu mempunyai kultur dan tantangan zaman yang berbeda dengan zaman nabi.
Maka, saya mengikuti nabi sebatas nilai-nilai universal yang ada dalam Islam-nya saja. Bukan mengikuti ajaran-ajaran partikular dan kontemporer yang diajarkan nabi dimasa lalu, di tanah yang belum sempat saya kunjungi. Ma’afkan saya, jika karena itu, Islam yang saya jalani belumlah layak disebut kaffah.
Sekali lagi, ma’afkan saya….
Ahmad Taufiq
Surabaya, 24 Mei 2010
NB: cerita di atas sedikit ditambah-tambahi, jangan percaya seratus persen.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar