Jumat, 04 Maret 2011

Meng-Kuli-kan Diri


Hari ini aku ikut kerja tetanggaku sebagai kuli. Membangun trotoar sepanjang jalan Darmo. Lumayan sakit memang, tetapi pengangguran lebih sakit. Hidup menganggur adalah istilah lain dari parasit. Tiap hari mencecap darah dan tulang orang-orang terdekat. Hingga orang-orang itu sedikit demi sedikit mulai muak. Dan pada akhirnya, penghinaan akan mempecundangi persaudaraan atau persahabatan, entah penghinaan itu secara diam-diam atau terang-terangan.
Itulah yang yang sejatinya aku alami. Teori bahwa meminta bantuan pada manusia akan dihinakan oleh manusia terbukti. Entah itu saudara atau sahabat. Tentu tidak semuanya. Ada beberapa kawan yang mengetahui bagaimana temannya dalam kesusahan sehingga ia memahami dan secara tulus mengulurkan tangan. Untuk yang ini, aku menaruh rasa hormatku setinggi-tingginya. Tapi yang lebih banyak adalah mencibiri. Seperti sampah! Atau terkadang ada juga yang hanya menyindir, meskipun begitu, kau tahu, sangat menyakitkan. Hingga tanpa sadar dendam pun perlahan mulai bertimbulan.

Dan karena tak ingin rasa sakitku berlarut-larut, aku putuskan untuk menempuh jalan yang bagi sebagian orang dianggap sedikit gila ini. Sambil melupakan suatu dendam akibat hinaan yang sejatinya memang pantas aku terima.

Yach, di trotoar ini aku belajar satu hal dari para kuli. Mereka orang susah memang. Tapi bukan berarti mereka tidak bahagia. Ada segi-segi kebahagiaan yang tak kasat mata bagi orang-orang yang merasa dirinya berada di atas menara gading. Ada kebahagiaan model “lain” yang hanya mereka yang dapat merasakannya. Kau boleh bilang, ini hanyalah pembenaran atas jalan hidupku sendiri yang kini menyandang predikat kuli. Tak apa. Tapi aku yakin, jika kau sendiri merasakan bagaimana menjadi seorang kuli, kau tak perlu meratapi hidupmu yang sudah bersahabat dengan penderitaan. Kau tak perlu mempercepat seutas tali menggantung lehermu.

27 juli 2010

Tidak ada komentar: