Mulanya tentang senja yang kemilau kemerahan. Lalu, “Hidup itu pilihan, dan pilihanku besahabat denganmu adalah pilihan yang tepat.” Itu katamu tempo hari, dengan simbol senyuman. Aku tak mengerti sesungguhnya apa yang kau sampaikan padaku. Tapi, aku mencoba menafsir katamu, dengan segenap ilmu yang kupunya.
Ilmu dalam pergaulan yang aku miliki memang teramat minm. Maklum, aku bukan orang yang pandai bergaul. Jiwa introvert dan inferior kompleksku seakan menghambatku untuk bergaul terlampau jauh dan luas. Aku lebih penyendiri. Tapi aku merasa berhak menafsir kata-katamu itu.
Kata-katamu kumaknai, bahwa kau mengungkapkan sesuatu dengan sadar, dan terikat oleh ruang dan waktu. Aku meragukan kata itu untuk selanjutnya. Mungkin makna kata itu akan cepat berubah setelah sekian waktu dan peristiwa yang kita alami bersama. Entah akan berubah lebih baik atau lebih buruk. Ya, siapa tahu. Ada sebagian manusia yang cepat sekali berubah. Dan kamu barangkali satu dari sekian itu. Meski dalam hal prinsipal, kau tetap bersikukuh terhadap prinsipmu. Aku pun dalam hal ini seperti engkau. Barangkali lebih parah. Tapi, apa toh arti semua itu.
Bersahabat, bagiku adalah suatu hal termulia yang pernah aku lihat. Kita disuruh Tuhan untuk bersahabat terhadap sesama, kukira bukanlah suatu perintah yang main-main. Kita manusia, hendaknya menganggap sesama manusia itu saudara. Jika ada yang tidak kita sukai dengan sebagian kita, entah bertentangan prinsip atau apa, lalu kita jadikan musuh, seharusnya tidak demikian. Sesama manusia tak berhak untuk saling memusuhi. Meski terkadang harus bersebrangan sehingga konflik pun tak bisa dihindari.
Dengan bersahabat, orang akan merasa bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi kejamnya dunia ini. Secara individu, manusia memang kecil. Berat rata-rata 60 kilogram, tinggi 160 cm. Bukankah itu hal yang kecil jika kita bandingkan dengan semesta yang kita naungi?
Ah, barangkali karena itulah, secara sadar, kita memerlukan sahabat. Dan perkataanmu yang memilihku sebagai sahabatmu, kumaknai sebuah iktikad baikmu yang harus aku terima dengan segenap jiwa dan kesadaranku. Jika ternyata kata-kata itu meluber karena sikap dan perilaku kita bertentangan, biarlah kata-katamu itu menjadi saksi, bahwa kita memang pernah beriktikad baik.
Hidup memang seperti senja. Ia indah, tapi fana. Sebentar, setelah senja, malam yang begitu gelap, kelam, akan dibentangkan oleh waktu secara pasti. Aku tak tahu apakah persahabatan kita akan mengalami gelapnya malam. Kalaupun iya, tak apa. Akan ada fajar di ujung sana yang akan kita alami. Semoga kehidupan kita ke depan menjadi lebih baik.
Aku, yang ingin menafsir semua ini, secara sadar menimang ucapmu untuk kujadikan dasar, bukan monumen mati. Aku sangat berbahagia ketika melihat ataupun hanya membayangkan senyummu.
Kutunggu kau diujung senja, di bawah jembatan Lempuyangan. Jogja.
15 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar