Jumat, 04 Maret 2011

“Di-bawah Pohon Rindang”


Malam itu, setelah dari mana-mana….
Aku berhentikan langkahku di DPR (dibawah pohon rindang). Dan pergi ke arah selatan. Ke tepi lapangan sebelah selatan. Duduk sendiri di situ. Tepatnya di huruf “E” dalam “BONEK” dari rerumputan yang dipangkasi membentuk relief. Menghadap arah utara. Memunggungi gedung Pascasarjana. Melihat luasnya lapangan. Deretan pepohonan. Lalu masjid dan menaranya. Dan gedung Jawa Pos yang megah.

Seperti sepi. Sepi benar. Atau mungkin hatiku yang tengah melayang.

Di bawah abadi ketenangan langit, keteduhan sinar rembulan, semilir sepoi ini membelai hatiku. Menyeretku ke suatu masa yang pernah kulalui di tempat ini bersamamu.

Ada banyak kenangan yang tak pernah terlupa.
Rerumputan yang segar ini, dulu aku bersamamu selalu tak pernah lekang menginjakinya. Juga pepohonan yang rimbun ini, menjadi saksi hidup yang bisu dari beragam aktifitasku denganmu mulai dari hal yang paling bahagia, hingga hal yang seolah mengharuskanku menitikkan air mata.

Aku tersenyum. Tersenyum sendiri—entah senyum apa. Aku teringat ketika kita bergerombol di sini. Berdiskusi, bercandaria, makan bersama, ngrujak bareng, merayakan ultahku atau ultahmu, hingga hal-hal yang tak perlu aku ceritakan di sini. Aku seolah kembali melihatmu yang menurutku setengah sinting. Entah kenapa. Mungkin aku sendiri yang paling sinting. Tapi hal ini tak usah dipikirkan, apalagi diperdebatkan. Semuanya saling memahami. Bahwa memang beginilah hidup. Beginilah realita.

Aku sendiri sesungguhnya sangat mencintai kenyataan, betapa pun pahitnya. Dan saat ini, aku mencoba merasakan tiap lekuk hidupku, dengan sesungguhnya, dengan sepenuhnya.

Aku tarik nafas panjang-panjang. Dan merebahkan tubuh ini beralaskan rerumputan.
Kudengar celotehmu. Kurasai ketulusan sentuhanmu.

Sepoi semakin kencang. Aku kedinginan. Tapi belum kuhiraukan. Karena aku belum meninggalkan jejak. Baiklah, kuambil kertas. Kutuliskan dua-tiga baris kata-kata. Dan kutinggalkan. Tepat di kepala huruf “E”. Jika besuk engkau ke tempat ini, kau akan temukan jejakku. Orang yang mungkin bagimu tidak terlalu penting, tapi ingin selalu mengenangmu.

Kawanku, di sini aku bicara dengan hati—benar-benar dengan hati. Bukan dengan kata-kata tak jelas seperti sebelumnya.

Opik
22 June 2010

Tidak ada komentar: