Setelah sekian tahun berlalu, aku baru mengerti tentang betapa egoisnya aku. Padahal ada banyak orang-orang yang antre di belakangku, dan aku hanya menyia-nyiakan waktuku belaka dengan bermain-main kesana dan kemari tanpa tujuan yang pasti. Tapi janji terlanjur kuucap, vonis terlanjur aku tulis. Aku tak bisa serta-merta mengundurkan langkahku dari apa yang aku jalankan untuk menyeberangi jembatan ini.
Mungkin inilah berkah yang sekaligus kutukan. Ketika tawa dan tangis berduyun-duyun meminta ruang untuk aku uangkapkan bersamaan. Dan ruangku hanya satu yang penuh sesak oleh perasaan-perasaan lain yang entah darimana datangnya. Dan kesemuanya tak pernah aku mengerti karena mereka datang tanpa permisi; aku sendiri tak pernah mau tahu apa dan siapa sesungguhnya mereka.
Aku tak begitu mengerti mengapa aku tak kunjung tahu apa yang sebenarnya sedang aku lakukan untuk diriku. Aku selalu terlambat tahu. Tapi apa yang kutulis kini telah menjadi prasasti yang butuh untuk kuselesaikan, bukan untuk kutinggalkan, meski aku tahu hal itu sungguh memakan waktu. Dan mereka yang sebenarnya antre di belakangku banyak yang tak sabar menunggu hingga ada beberapa yang putus asa dengan mengakhiri hidupnya sendiri. Oh Tuhan, dosa apa lagi yang harus aku tanggung demi membayar nyawa mereka yang melayang akibat waktu yang aku sia-siakan.
Jurang yang aku lewati menjadi lebar kembali ketika aku menyatakan untuk menyeberang ulang jembatan lain yang aku bangun. Sementara jembatan lama telah rusak oleh kekejaman hujan, petir, panas, dan oleh ulahku sendiri. Maka biarlah, biarlah aku tanggung semua konsekuensiku sebagai kutukan atas sesuatu yang telah aku lakukan demi memanjakan egoku sendiri. Biarlah aku sendiri yang menanggung beban ini. Entah sebenarnya aku mampu atau tidak, itu urusan lain.
Malam ini begitu dingin; aku membujur kaku saat membayangkan begitu rumitnya kehidupan. Tanah-tanah yang kosong yang dulu belum pernah aku singgahi, kini menyeretku untuk kumasuki; seolah ia rela untuk aku injak-injak tengkuknya. Aku seketika menjadi buas saat mencium aroma tanah itu seperti anjing mencium aroma darah. Dan memang benar, tanah itu kini penuh dengan darah. Darah yang mengalir dari airmata orang-orang lemah yang dulu aku injak-injak. Kemudian darah itu menggumpal seolah ingin membalas dendam padaku. Aku berlari sekeras-kerasnya, tapi darah itu terlanjur masuk lewat setiap pori-poriku dan menguasai seluruh syaraf dan nadiku.
Dan kini, jembatan itu mulai tak tampak lagi tujuannya. Kabut-kabut gelap menyeruak dalam setiap ruang yang aku tatap. Dan waktu yang semakin terlihat keriput kini mengeluarkan taringnya yang selama ini tak pernah kuketahui ternyata ia sangat menakutkan. Aku gemetar. Ingin kuceburkan diriku dari jembatan itu, tapi sekali lagi janji terlanjur aku ucap; vonis terlanjur aku tulis. Aku tak ingin melukai mereka untuk yang kesekian kalinya.
Sleman, 12 Oktober 2010
Taufiq
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar