Selasa, 09 Agustus 2011
Untuk Seorang Sahabat
Aku ingin menyampaikan satu hal padamu, jika kau berkenan tentu.
Aku yakin kau pasti percaya bahwa realitas berawal dari sabda. Dari firman Tuhan: Kun! Fayakun. Adalah! Maka baru ada. Itu yang tertera dalam kitab suci kita.
Dan aku ingin mencoba meniru terhadap apa yang ada dalam kitab suci itu. Mula-mula, kukatakan padamu bahwa aku ingin kau tetap menjadi sahabatku. Selama prinsip kita tak pernah bertentangan. Jika ternyata nanti aku dan kau tak mampu lagi mempertahankan persahabatan ini, tak apalah. Yang jelas aku sudah berusaha untuk tetap mempertahankan keinginanku. Memang sangat sulit. Tapi kita tak boleh pesimis, karena pesimis tak lebih dari sikap takabur mendahului takdir.
Dikatakan bahwa manusia tanpa prinsip adalah sehina-hinanya manusia. Kukira banyak orang yang setuju dengan perkataan itu. Manusia tanpa prinsip akan terus-menerus terombang-ambing gelombang hidup dari kanan maupun kiri. Aku tak bilang padamu bahwa orang yang netral (mungkin?) sepertimu tak punya prinsip. Prinsip setiap orang tentu berbeda. Dan masing-masing orang tak bisa seenaknya menjatuhkan vonis secara gegabah hanya kelihatannya bertentangan dengan prinsip yang mereka anut.
Ah, kawan, tentu tak usahlah kukatakan padamu perihal nilai-nilai religi yang sebaiknya kita anut selama ini. Aku mengerti, kau lebih pandai dariku dalam reliji, kau juga lebih dewasa. Tapi, lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengungkapkan padamu bahwa kehidupan selalu berubah. Lebih-lebih yang namanya hati alias qalb—yang artinya sendiri molak-malik—dalam tenggang waktu sedetik pun ia bisa cepat berubah haluan. Maka, hati-hatilah. Orang tak selamanya di atas angin, tak selamanya pula dalam kubangan lumpur. Setiap orang punya masa kejayaan masing-masing. Dan jika kau sedang di atas angin, janganlah kau lupa, dengan apa dan bagaimana selama ini kau memanjat. Juga, janganlah kau cepat-cepat simpulkan perbuatan seseorang terhadapmu. Bisa jadi, orang yang kau anggap perfect di matamu, ia tak lebih dari buaya di belakangmu. Suudzon memang tak baik, tapi curiga itu perlu. Karena: dalam setiap kesucian, selalu ada kerapuhan di dalamnya.
Maaf jika kau anggap aku mengguruimu. Seharusnya, kaulah yang berhak memberi nasihat padaku. Karena bagiku, kau lebih bijaksana dari aku. Seperti yang pernah kuungkapkan padamu dulu bahwa dengan kebijaksanaanmu, kau bisa bedakan antara yang canda dan yang bukan. Dan kali ini, aku memang tidak bercanda.
Akhirnya, dalam hati aku selalu berdo’a agar kita diberi kebijaksanaan oleh Tuhan yang kuasa untuk saling menjadikan guru pada setiap pengalaman yang kita lalui, juga pada setiap sahabat. Amin. Wassalam….
Surabaya, 6 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar