Selasa, 09 Agustus 2011

Mencari (1)


Bagian I
Kemarin aku terbang. Menyeberangi bukit ungu dan samudera biru. Mencari sesuatu yang aku sendiri tak begitu tahu. Sesuatu yang katanya bening bagai embun. Sesuatu yang memancarkan cahaya kedamaian abadi. Sesuatu yang tak begitu jelas bagi hati para pendengki. Dan memang, sesuatu itu sangat kabur dari pandangan mataku. Tapi aku tetap mencari.

Di tengah jalan kutemukan mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Merah! Darah para korban kekejaman perang manusia. Darah parah pejuang. Dan darah orang-orang yang terlupakan oleh zaman, atau sengaja dilupakan setelah digenosida.

Bau anyir itu masih terasa pekat dalam hidungku. Bau yang mengisyaratkan darah-darah manusia yang butuh aktualisasi diri. Tapi saying, aku hanya sekejap lewat tempat ini sehingga tak bisa kuceritakan padamu tentang detailnya. Mungkin ada pula mayat-mayat yang dikubur hidup-hidup akibat perbedaan pandangan hidup maupun ideologi. Manusia memang masih terbiasa bantai-membantai tiada habis-habisnya.

Dan aku pergi seiring matahari mulai tenggelam. Menyisakan rona jingga kemerahan seolah turut bersimpati atas berbagai tragedi yang pernah terjadi dalam sejarah manusia bumi.

Aku melintasi laut. Kulihat istana mutiara di sana. Kulihat sinar-sinar jernih putih memancar. Inikah yang aku cari?
Aku mendekati pintu istana itu. Aku mengintip kedalamannya.

Dan kulihat peri-peri bertebangan kesana kemari. Entah mencari apa.
....

Tidak ada komentar: