Selasa, 09 Agustus 2011
Menghitung Gerbong Kereta
(untuk sahabatku yang unik)
Aku teringat seorang teman yang berhobby aneh: menghitung gerbong kereta yang melintas di depannya. Geli rasanya. Tapi ya mau gimana lagi. Wong sudah hobby.
Dan kalau dipikir-pikir, asik juga ternyata. Apalagi sekarang ini musimnya tabrakan antar kereta api (maaf, bukan asik--mengerikan). Menghitung gerbong, rasanya seperti menghitung berapa lama lagi kita masih diberi kesempatan untuk tinggal di dunia. Semacam ihtisab--evaluasi diri. Bahwa sudah berapa umur yang kita sia-siakan. Berapa banyak kemempatan yang kita abaikan. Berapa banyak dosa dan amal baik yang kita perbuat.
Tiba-tiba aku membayangkan temanku tadi. Ia duduk di pinggir rel menghadap senja. Ia sibuk dengan tasnya yang entah berisi apa. Dan kereta melintas di depannya. Ia menyambut kereta itu seperti menyambut kekasihnya yang lama tak bersua. Ia hitung tiap gerbong. Satu. Dua.... Sepuluh. Sebelas. Dua belas.... MasyaAllah, kereta itu lewat begitu saja. Tanpa jejak. Tanpa mengucap satu kata pun. Tapi temanku mengerti. Ya, ia selalu mengerti bahasa kereta.
Mungkin, ada sesuatu yang misterius dalam hobby itu. Mungkin ia merasa hanyut dalam setiap gerbong yang melintas. Mungkin ia sedang mencari serpih kenangan yang terserak. Memang serba mungkin. Hingga aku sendiri tak mampu menerka.
Aku sendiri pernah seperti dia. Tapi itu dulu. Kini aku lebih suka menumpanginya langsung. Barangkali hingga hari ini ada sekitar 10 jenis kereta yang pernah aku tumpangi. Dan ketika kuajak temanku itu untuk naik saja, ia tak mau. Ia lebih suka jadi penghitung saja. Mungkin suatu saat, katanya.
Aku memang senang bepergian. Ke mana saja asal daerah baru. Sering aku bingung saat ditanya untuk apa aku pergi. Runyam. Mungkin aku pergi untuk mencari sesuatu . Mungkin untuk meninggalkan sesuatu--sesuatu yang getir yang tak ingin kusaksikan lagi di depan mataku. Bisa juga untuk dua-duanya. Atau malah tidak dua-duanya, yaitu pergi untuk "pergi" itu sendiri.
Kini aku sedang menyusuri rel--salah satu "cabang-lazim" hobiku. Banyak kereta yang melintas. Tapi aku malas menghitung gerbong-gerbongnya. Aku tak ingin melihat "serpih-jiwa"ku hanyut terbawa ketempat semela dimana aku mulai berpijak. Sebuah ketakutan yang seharusnya tak perlu. Tapi mengapa ia ada?
Memandang kereta, bagiku, mirip memandang masa lalu. Dan masa lalu itu tak pernah benar-benar hilang dari memori meski aku sekuat tenaga mengingkari. Bagaimanapun, ia sudah menjadi bagian hidupku.
Mungkin temanku yang suka menghitung gerbong itu tahu.
Depok, Tanpa Tanggal
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar