Selasa, 09 Agustus 2011

Mempertanyakan Kodrat Perempuan


Mulanya bapak kita, Adam, kesepian di surga. Surga yang bermacam kenikmatan tumpah-ruah itu ia rasa kurang lengkap. Ia sangat menderita. Ia membutuhkan seorang teman. Ia pun meminta pada Allah. Dan Allah pun menuruti permintaannya. Tapi Allah tidak menciptakan manusia lagi dengan tanah, melainkan dari bagian tubuh Adam sendiri: tulang rusuk. Dan jadilah perempuan.

Begitulah agama mengajarkan kita tentang permulaan perempuan. Perempuan lahir bukan dari tanah, sebagaimana Adam, laki-laki; melainkan dari bagian tubuh laki-laki. Perempuan lahir di dunia bukan secara merdeka, tetapi tersebab oleh kebutuhan laki-laki dalam melengkapi hidupnya. Dan itulah kodrat perempuan, pendamping laki-laki, pelengkap kebutuhan laki-laki. Dan bahkan di dalam hadits Nabi, dijelaskan bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalihah. Yup, perempuan hanyalah sebuah perhiasan!

Agama-agama hadir dunia selalu dibawa oleh seorang rasul yang kesemuanya laki-laki. Aku belum pernah mendengar seorang rasul perempuan. Kecuali siti Maryam, itupun hanya nabi, bukan rasul; dan kenabiannya pun masih diperdebatkan oleh para ulama, yang kebetulan semuanya laki-laki. Betapa dunia ini seolah dikuasai laki-laki. Dan itu seolah dibenarkan Tuhan sejak dari akar doktrin yang diajarkannya. Dan barang siapa yang mengingkari doktrin itu akan dianggap sesat, murtad, dan beragam statemen “miring” lainnya. Sungguh kasihan mereka.

Aku seorang laki-laki. Seorang yang lahir di dunia yang juga turut menikmati hak “lebih” yang dianugerahkan Tuhan padaku. Aku tidak tahu bagaimana perempuan merasakan “kodratnya” itu. Apakah perempuan di dunia ini akan menerima “kodratnya” yang lahir hanya sebagai pelengkap laki-laki, sebagai penghias. Sungguh aku tidak tahu. Yang aku tahu, andai laki-laki diperlakukan seperti itu, dan aku bagian dari laki-laki, maka sudah dapat dipastikan bahwa aku tidak akan terima. Aku bahkan akan mengingkari ajaran Tuhan jika dalam ajarannya ternyata diskriminatif. Tapi itu hanya andaian, bukan kenyataan. Karena kenyataannya aku laki-laki, yang turut menikmati hal lebih yang Tuhan kasihkan.

Karena itulah, aku menganggap, bahwa perempuan yang mau berfikir kritis, tidak akan menerima kodratnya seperti apa yang telah diajarkan oleh agama. Tetapi, seperti kita ketahui, agama rupanya menjadi benteng yang sulit dirobohkan. Itu tak lain karena agama, bagaimanapun, sudah tertancap dalam-dalam, di dalam hati kita, termasuk perempuan. Maka, akhirnya perempuan terpaksa menerima kodratnya seperti apa yang diajarkan Tuhan lewat agama-agama. Karena ia takut terhadap Tuhan jika ia mengingkari kodratnya.

Itu hanya menurutku belaka. Mungkin aku yang kurang memahami ajaran-ajaran Tuhan, sehingga aku harus belajar lagi, atau memang kenyataannya seperti itu. Kasihlah aku suatu analisa, suatu argumen, suatu dalil dan doktrin; bahwa apa yang aku katakan dan rasakan selama ini adalah sebuah kekeliruan. Jika memang argumenmu, dalilmu, analisismu, masuk akal warasku dan menyentuh hatiku; aku akan mengikutimu.

Wallahu A’lam bi-al-Shawab.

Ahmad Taufiq
Surabaya, 29 Mei 2010

Tidak ada komentar: