Senin, 08 Agustus 2011

Mon chéri

Mon chéri, aku ingin mengajakmu pergi di malam yang gelisah ini. Tapi jangan impikan jalan ini kan selalu indah. Duri-duri jalanan yang akan kita masih berserakan. Sedangkan ujung jalan ini masih samar.

Aku tak melarangmu tersenyum. Atau tawa sumbangmu yang menghiasi hari-hari getir ini. Marilah kita bersama-sama menyadari, bahwa senyum-tawa kita memang sumbang. Tapi tetap saja dibutuhkan. Agar hidup lebih bermakna.

Mon chéri, aku ingat saat kau memintaku menulis puisi untukmu. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Puisi butuh sekian kata-kata, dan kata-kataku telah luber ke pangkuanmu. Namun aku kan mengajakmu membangun puisi kita. Puisi yang dibangun tidak dengan sekedar kata-kata, tapi dengan cinta yang didalamnya termaktub kejujuran dan kesetiaan.

Mon chéri, aku tulis coretan ini bukan dengan jariku sendiri, tapi hakikatnya bayangmulah yang menggerakkan. Ah, tidakkah kau sadar bahwa jurang rinduku tak pernah tertutup semenjak detik ketika kau lambaikan tanganmu di tengah kerumunan itu?
Je t'aime Je t'aime Je t'aime....


Jakarta, dalam pelukan puisi kehidupan
Taufiq

Tidak ada komentar: