Selasa, 09 Agustus 2011

Melukis dan Mematung. Haram???


Dulu aku suka sekali menggambar. Entah tumbuhan, entah gunung, sungai, laut, kuda, ayam dan tak luput juga manusia. Nah, waktu aku sedang asyik-asyiknya menggambar kuda, tiba-tiba aku dikagetkan seseorang yang menepuk punggungku.

“Haram!” katanya.


“Kau mau menandingi ciptaan Tuhan?” Timpalnya lagi dengan ganas. Aku pun diam. Aku tahu ia seniorku sekaligus ustadzku dalam pondok pesantren. Aku tak mungkin membantah. Tapi, dalam hati aku bertanya-tanya, apakah benar menggambar itu dilarang Tuhan? Belum sempat kutanyakan pada pengurus itu, rupanya ia langsung mengkhotbahiku.


“Kamu tahu kalau nabi kita melarang keras untuk menggambar makhluk bernyawa?” 


Aku diam.


“Dalam hadits shohih Muslim, dikatakan bahwa nabi pernah berkata ‘orang yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah seorang pelukis.’ Ingat, pelukis itu sama dengan pematung, sama-sama menandingi Allah dalam menciptakan makhluk bernyawa. Mereka itu, nanti akan dipaksa untuk menghidupkan lukisan atau patungnya. Kalau tidak bisa, mereka disiksa, dicambuk, dirantai, dibakar.


Kamu mau!” nadanya keras, menyeramkan.

Aku tetap diam. Bulu kudukku merinding. Iih, kejam amat Allah itu. Takut disaingi pula, begitu pikirku.


Dan setelah itu, praktis aku tak pernah lagi menggambar, apalagi menggambar makhluk bernyawa. Aku jadi takut disiksa Allah, seperti yang ada dalam hadits itu.


Seminggu kemudian, ketika aku iseng-iseng membaca buku kumpulan hadits, aku dikejutkan lagi oleh hadits yang berbunyi begini “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung.” Wah, benar juga ya apa kata seniorku itu, gumamku. Tapi, apa benar, Islam melarang menggambar?


Pertanyaan itu cukup menggangguku. Dan, jika mengingat khotbah-khotbah kiaiku, aku, sebagai muslim, harus mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Alqur’an dan Hadits. Dan aku sebisa mungkin untuk melaksanakan ajaran Qur’an-Hadits itu. Tetapi, mengapa hanya menggambar saja dilarang?


Hingga suatu hari, aku membaca sejarah-sejarah yang berkaitan tentang peradaban Islam, juga sejarah-sejarah bangsa Arab. Mulai karya orang-orang Indonesia sendiri; karya ilmuwan timur tengah, seperti Mohammad Arkoun; hingga karya terjemahan orang-orang Barat; Karens Amstrong, misalnya. Dan di situ, aku baru mengerti tentang tradisi dan budaya bangsa Arab, yang tentunya, sedikit banyak, berpengaruh terhadap ajaran-ajaran Islam. Ini suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Misalnya, dalam Alquran, mengapa Alqur’an itu turun secara berangsur-angsur, mengapa harus ada kejadian-kejadian dulu yang mendahului turunnya sebuah ayat. Mengapa harus ada asbabun nuzul dalam Al-qur’an dan asbabul wurud dalam hadits?


Bolehlah, orang-orang berapologi, bahwa Tuhan telah merancang semuanya. Oke! Tetapi, apakah aku harus mengikuti ajaran-ajaran yang turun di padang pasir dengan ciri khasnya itu, sementara aku sendiri lahir dan menempati daerah sejuk bernama Indonesia?


O ya, lupa. Kembali ke topik. Aku membaca sejarah Arab pra-islam, atau sering disebut sejarah Arab jahiliyah. Dan dari situ, kuketahui bahwa, dalam ranah budaya Arab jahiliyah, perupaan dalam bentuk patung tak bisa dipisahkan dengan media penyembahan. Hampir setiap ada patung, kalau tak boleh mengatakan semuanya, merupakan tempat penyembahan. Sedangkan Islam turun ke ranah kehidupan untuk menghancurkan segala media kemusyrikan di seluruh permukaan bumi, dengan atau tanpa kekerasan. Dan, menyembah patung adalah syirik. Maka, wajib dihancurkan.


Patung, di masa itu, bukanlah untuk sebuah kreasi seni, seperti yang kita jumpai sekarang di jalan-jalan dan museum-museum di seluruh Indonesia. Maka, wajar saja kalau waktu itu diharamkan. Namun sekarang, apakah masih relevan pelarangan membuat patung yang tujuannya seni? Ya, masih jadi polemik.


Akan tetapi, jika kita mencari pembenaran tentang seni dalam ajaran Islam, aku yakin, sia-sia belaka. Lha, Islam lahirnya di Arab kok. Sedangkan jazirah Arab sendiri tidak berpotensi untuk berseni. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan peradaban Mesir kuno, Euphrat, Mekong, Gangga dan, apalagi Romawi-Yunani. Ya, dalam hal apapun. Baik itu seni lukis, seni bangunan, atau pun seni musik, kecuali seni sastra. Memang, bangsa Arab, lumayan terkenal dalam hal sastra. Bahkan, dalam ceritanya, jika ada syair-syair yang terunggul dan terindah akan diabadikan dengan tulisan emas dan digantungkan di dinding Ka’bah. Maka, kemudian terkenal dengan sebutan *al-mu’allaqat* (syair-syair yang digantungkan).


Namun, itu pun tak lepas dari perdebatan lagi. Hal, ini tertera jelas dalam karya Thaha Husain yang berjudul *Fi al-Syi’ir al-Jahily,* yang mengatakan bahwa syair-syair jahiliyah yang terkenal itu sebetulnya hanyalah *intihad* alias bohong. Syair-syair itu sebenarnya bukan berasal dari zaman Jahiliyah. Itu hanyalah propaganda orang-orang Arab yang tujuannya memuji dan mengunggulkan kebesaran bangsanya.


So, jika zaman itu, Islam melarang praktik perupaan yang berupa pelukisan dan pematungan, itu sudah sesuai. Karena, pelukisan dan pematungan dalam ranah peradaban bangsa Arab jahiliyah lebih dekat dengan praktik dan media kemusyrikan daripada kesenian. Maka, jika zaman sekarang, kita banyak menemukan patung-patung dan gambar-gambar, asalkan bukan untuk media kemusyrikan, bagiku sendiri tidak apa-apa alias TIDAK HARAM!!!
 

28 January 2010

Tidak ada komentar: