Rabu, 27 Juli 2011

Quo Vadis KMPD? (1)


Mau kemana KMPD? Saya rasa pertanyaan ini perlu dilontarkan kembali ditengah kebingungan warga KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi) sendiri dan masyarakat tempat bersinggung. Sebagai warga KMPD, saya kurang tahu tentang asal-usulnya. Ia seolah-olah ada dengan sendirinya tanpa asal-usul yang jelas. Ketika saya tanyakan kepada pendahulu, jawabnya juga kurang memuaskan, karena dia sendiri juga kurang tahu. Tahu-tahu, saya sudah menjadi warga KMPD dan ketika banyak orang tanya tentang KMPD saya kasih tahu suka-suka saya. Dan kata banyak warga KMPD: ya, seperti itulah KMPD.

Ini jelas membingungkan. Bagi diri saya pribadi, maupun bagi orang yang mau tahu tentangnya. Maka, di sini saya ingin membahas tentang organisasi yang tiba-tiba menjadikan saya gandrung itu. Sumbernya dari penceritaan kawan-kawan pendahulu, kawan-kawan yang masih aktif, orang-orang dulu yang pernah bersinggungan, baik sebagai kawan maupun lawan, dan dari beragam dokumentasi—yang sangat minim itu.

Tentu akan ada banyak kesalahan. Tapi kesalahan tersebut tentu bukan kesalahan saya pribadi, tapi kesalahan-kesalahan kawan-kawan pendahulu yang gagal memberi pengetahuan pada saya dan juga kesalahan-kesalahan kawan-kawan yang masih aktif sekarang. Ya, saya maafkan kesalahan kalian semua. (hahaha)

Ada dua pendekatan yang saya gunakan disini. Pertama KMPD secara structural. Kedua, KMPD secara kultural. Secara structural, KMPD sudah mengalami beberapa kali transformasi. Pada mulanya KMPD dilahirkan di tengah situasi Rezim Orba yang sangat mengekang nalar kritis. Persisnya pasca digulirkannya NKK/BKK (tahun 1980-an) oleh rezim. Peraturan tersebut membawa dampak pada macetnya gerakan mahasiswa, sehingga mahasiswa yang merasa gelisah, membentuk semacam perkumpulan diskusi-diskusi “klandestin” dengan nama-nama yang “aneh-aneh.” Seperti Kelompok Diskusi (KS) Palagan, Lingkaran, Menghitung Bintang, dan seterusnya. KS-KS itu lebih bisa diandalkan daripada Organisasi Mahasiswa Cipayungan (Pokoknya yang berada dalam naungan KNPI).

Dari KS-KS itulah kemudian lahir Komite-Komite aksi (KA) dengan tujuan agar apa yang didiskusikan selama ini tidak hanya sekedar onani pengetahuan, sementara kian hari pemerintah semakin sewenang-wenang. Dan KMPD adalah salah satu dari Komite Aksi yang berdomisili di sekitar IAIN Sunan Kalijaga. Karena komite aksi, maka wajar jika saat itu kerjaannya ya aksi terus. Bahkan tiap minggu bisa 10 kali saat itu.

Pasca Reformasi ’98, terbentuklah Front Perjuangan Pemuda Indonesia, sering disingkat FPPI. FPPI inilah yang kemudian dijadikan payung oleh banyak sekali KA-KA yang sifatnya local dan independen—dalam artian tidak berada di bawah naungan KNPI. KMPD pun, oleh banyak pengurusnya, diikutkan atau ditransformasikan ke dalam tubuh FPPI tersebut. Dan tentunya KMPD menjadi semacam “lokus” dari FPPI yang ada di IAIN Sunan Kalijaga. Proses transformasi itu ternyata bukan hal yang mudah. Banyak sekali anggotanya yang tidak mau di-FPPI-kan. Konflik pun terjadi. Hingga sekarang banyak alumni KMPD yang tetap tidak mau mengakui dirinya sebagai bagian dari FPPI. Barangkali karena FPPI itu “merah”. Sedangkan KMPD suka kiri sedikit hijau.

Setelah KMPD menjadi bagian dari FPPI, rupanya banyak pula perubahan yang ada di dalamnya. KMPD semakin merah. Sementara yang tidak setuju tadi memilih keluar dari KMPD dan menganggapnya disoriented. Ini mirip perpecahan Partai Sosialis Syahrir dan Musso dulu.
Selain hal di atas, secara structural pun berubah signifikan. Kepala Suku, sebagai pemimpin tertinggi KMPD, menjadi bawahan FPPI Kota yang berada di bawah Pimpinan Nasional FPPI.
Bersambung….

Taufiq,
Jakarta 27 July 2011

4 komentar:

Anonim mengatakan...

oh ya perlu juga menarik benang merah nafas semangat kmpd bung.......sampai dengan Sarekat Islam....gtu kayaknya akan lebih kaya jalan ceritanya

Opik mengatakan...

Oke, akan saja coba. Kalau bisa, kawan2 juga harus bantu, agar penjelasannya tidak ngawur dan hanya berdasarkan asumsi belaka.

(Opik)

Anonim mengatakan...

pik, ayolah yg ke-2 mana koq blum d update....

lidiastuti gulo mengatakan...

saya menunggu kelanjutanya