Selasa, 19 Juli 2011

Cuplikan Diary 17 Juli 2011

[...]
***
Semalem hujan. Jakarta memang langitnya mudah ambrol. Padahal di Jogja dan Kampungku sono kekeringan. Ya, mungkin memang berbeda.
Waktu cari2 gorengan—disuruh Pak Boim—ada yang aneh di tiap masjid yang kulalui. Rame pengajian. Sampai aku pulang, aku baru ingat, kalau malam itu nisfu sya’ban. Pantas aja.
Hari ini harusnya aku puasa. Tapi lapar—semalem gak sahur. Jadi, ya sarapan. Siang ini aja makan lagi. Haduh, takut gendut aku—seperti teman2 disini. Mereka gendut2—pertanda hidupnya mapan. Aku berani bertaruh bahwa mereka rata2 sudah tak idealis lagi—kalau dulu pernah idealis. Mereka pasti sangat pragmatis. Aku juga takut terpengaruh situasi yang seperti ini. Aku harus bisa untuk tidak terhanyut.
***
Harlah NU ke-85
NU peringati Harlahnya yang ke-85 di GBK. Bikin macet sekitar senayan. 30 ribu Banser dikerahkan sebagai keamanan. Yang hadir: 150 ribuan. Presiden juga hadir, meski dalam sambutannya banyak Nahdliyyin yang keluar Stadion. Gak betah. Mungkin gerah.
Banyak komentar di Twitter. Dari Zuhairi Mitsrawi: Sayang, Ketua Umum PBNU dalam pidatonya tidak menyinggung soal bahaya korupsi di republik ini. Sbaiknya HarlahNU tdk mengundang Presiden, dn dilaksanakan scr swadaya, sehingga betul2 menjadi perayaan bagi warga NU. Moqsith: Kenapa petinggi NU yg pidato di Harlah NU lebih banyak menyapa pemerintah, dan sangat minim menyapa warga NU yang datang ke acara.
Aku setuju dengan mereka berdua. :-)
***
Weekend besuk rencana mau ke Wahid Institute menemui Savic. Mabes FPPI, ketemu Ferry lepek, Aziz Boy, Toto dan Suryo.

Tidak ada komentar: