Selasa, 19 Juli 2011

Cuplikan Diary 11 Juli 2011

Semalam ngopi di Warung Gendong—satu lokasi dengan Kebun Laras, sehingga teman2 tetap mengebutnya Kebun Laras (KL). Kami ngobrol ngalor-ngidul. Tentang organisasi kami, perjuangan kami, dst. Lalu datang Aziz dengan seorang cewek: Lathifah. Dia anak Cilacap—sama dengan Aziz—smester enam PBA. Dan kami berkenalan. Lalu bergurau.
Sebenarnya tujuan kami ngopi adalah agar bisa ngenet. Dan kami memang ngenet. Tujuan: mencari info lulusan anak-anak bimtes yang kami bantu dalam menghadapi ujian reguler 1 di UIN. Hasilnya kurang memuaskan. Kebanyakan mereka yang ambil jurusan “pasar” tidak lulus. Menurutku, selain jurusan2 tsb banyak peminat, juga mereka lemah dalam tes, terutama matematika. Aku yakin itu. Coz, ketika aku bantu mereka belajar MTK banyak yang tidak menguasai. Penjumlahan pecahan biasa—yang merupakan pelajaran anak SD—saja mereka kesulitan, apalagi yang lebih rumit.
Aziz pusing. Mumet gak jelas. Makin santai—memang pembawaannya seperti itu. Pablo, sama dengan makin. Aku paham mengapa Aziz sepusing itu. Mungkin hal ini berkaitan erat dengan reputasinya, atau ia memang merasa bertanggung jawab atas anak-anak yang ia bawa. Tapi kalau dipikir-pikir, itu berlebihan. Soalnya tugas kami hanya sebatas memberi apa yang terbaik yang mampu kami lakukan buat membantu mereka. Cukup. Pusing bukan tujuan dan kewajiban kami. Toh dengan pusing mereka yang tidakn lulus gak bakal berubah begitu saja menjadi lulus.
***
Hari sudah sore. Aku belum melakukan apa2 selain kebanyakan waktuku kuisi dengan tidur dan membaca buku. Melanjutkan kemarin: Epistemologi Kiri. Menurutku buku itu harusnya menarik. Tapi karena dalam pembahasannya kurang orisinel, jadi kaku dan jauh dari ide sebenarnya. Misalnya, ketika membahas Marx, bukan langsung lewat karya-karya Marx, tapi ada Franz M Suseno dst dst. Itukan menjadikan ide Marx sendiri terkikis atau bisa dikatakan jadi disalah tafsirkan. Aku jadi kesal.
Meskipun begitu, aku tetap tertarik dengan satu tokoh di dalamnya: Poulo Freire. Aku salut dengan perjuangan tokoh Amerika Latin ini. Seorang tokoh yang mengabdikan hidupnya buat pendidikan bagi kaum tertindas. Wajar, tahun-tahun itu USA memang sangat menghegemoni Amerika Latin.
Tentang critical pedagogy ia mengatakan: education is an act of love, and thus an acat of courage. It cannot fear the analysis of reality or, under pain of revealing itself as a farce, avoid creative discussion. Pokoknya begitulah.
Menurutku, pendidikan yang ada di Indonesia, mayoritas masih merupakan pendidikan “hitam-putih.” Dalam artian, pendidikan yang tidak mengindahkan dialog dan kesetaraan. Pokoknya yang namanya guru harus benar, dan murid harus menuruti apa kata guru. Kalau tidak, sering berujung pada nilai yang jeblok. Dan sialnya murid-murid itu kebanyakan masih menganggap nilai adalah segalanya.
Contoh yang paling telanjang—yang kutahu—terjadi di UIN. Banyak sekali teman-temanku yang takut kalau nilainya jatuh kalau ia membantah dosen—mesktipun dosen itu salah. Ini kan mental pengecut? Tapi aku juga harus memahami, bahwa mungkin mereka begitu karena tuntutan keluarga, atau tuntutan lain. Ya, wajar lah.  Di tengah masyarakat yang bergelimang kemiskinan dan banyak pengangguran, mereka ingin secara instan terentas dari kehidupan yang menurutnya menyesakkan itu. Ketakutan yang cukup berdasar tentu. Meskipun aku menolak!
***
Mendengarkan ceramah Cak Nun. Lumayan menenteramkan. Ia bahas tentang kemerdekaan dalam keterbatasan dst. Katanya: kita akan cepat jadi kuat jika kita dibatasi karena hari-harinya kita kreatif untuk menjebol tembok itu. Lain jika kita di lapangan. Kita lebih leluasa untuk lari. Aku cukup setuju. Tapi bagiku, sering-sering mendengarkan ceramah seperti itu melemahkan. Makanya, jarang-jarang saja lah. Terutama ketika kita sedang mumet.

***

[...]

Tidak ada komentar: