Sabtu, 23 Juli 2011

Celoteh

I
Sedari pagi aku mengunjungimu, kala itu hatimu lara karena cintamu terhempas. Kau mengadu padaku tentang nestapamu. Di bawah pohon beringin depan rumahmu, kau memaksaku memasuki hidupmu, dan kumasuki dengan deburan perasaan. Atas dasar: aku sayang padamu.

Dan kau pun mulai tersenyum di senja itu. Entah kalau malam. Tapi yang jelas, senyummu telah berhasil membuatku bahagia.

Dalam bahagiaku, kuceritai kau tiap malam, tentang butir-butir mutiara yang dihasilkan dari tangis para peri. Juga pepatah suku Inca, tak kan ada pelangi dalam jiwa tanpa linang air mata. Aku belum tahu, apakah kau tersenyum penuh mendengar ceritaku, atau hanya senyuman agar hadirku di hidupmu tak kurasakan sebagai sebuah kesia-siaan.

Dan memang, akhirnya dapat kurasa bahwa apa yang kuperbuat, tidaklah sia-sia (mungkin perasaanku saja). Dapat dengan jelas kutangkap tawamu memenuhi hari-hariku, hingga terkadang berlebihan. Tapi tak apa. Aku rela untuk menampung tawamu.

Namun harimu kembali tenggelam bersama prasangka. Ketika aku paksakan diri untuk memilih sebuah jalan yang mungkin telah ditentukan. Dan kita baru sadar, sesungguhnya kita tak pernah bersama.

II

Bahkan sebelum subuh, aku merasa mataharimu sudah mulai bersinar dulu. Dan mungkin akulah orang yang paling banyak menerima sinarmu....

24 April 2011 jam 18:16

Tidak ada komentar: